Dari sebelah:

From:  Irfan Syauqi Beik <[email protected]> 
Date: Sun, 30 May 2010 15:00:46 +0800 (SGT)
To: Irfan Beik<[email protected]>
Subject: Fw: Just sharıng - Gaza Tidak Membutuhkanmu

--- On Sun, 5/30/10, Santi Soekanto <[email protected]> wrote:

From: Santi Soekanto 
<[email protected]>
Subject: Just sharıng - Gaza Tidak 
Membutuhkanmu
To: [email protected]
Date: Sunday, May 30, 2010, 1:44 AM


Gaza Tidak Membutuhkanmu!                      
 
Di atas M/S Mavi Marmara, di Laut Tengah, 180 mil dari 
Pantai Gaza.
Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak kapal ini berhenti 
bergerak karena sejumlah alasan, terutama menanti datangnya sebuah lagi 
kapal dari Irlandia dan datangnya sejumlah anggota parlemen beberapa 
negara Eropa yang akan ikut dalam kafilah Freedom Flotilla menuju Gaza. Kami 
masih menanti, 
masih tidak pasti, sementara berita berbagai ancaman Israel 
berseliweran. 
Ada banyak cara untuk melewatkan waktu – banyak di antara 
kami yang membaca Al-Quran, berzikir atau membaca. Ada yang sibuk 
mengadakan halaqah. Beyza Akturk dari Turki mengadakan kelas kursus bahasa Arab 
untuk 
peserta Muslimah Turki. Senan Mohammed dari Kuwait mengundang seorang 
ahli hadist, Dr Usama Al-Kandari, untuk memberikan kelas Hadits Arbain 
an-Nawawiyah secara singkat dan berjanji bahwa para peserta akan 
mendapat sertifikat. 
Wartawan sibuk sendiri, para aktivis – terutama veteran 
perjalanan-perjalanan ke Gaza sebelumnya – mondar-mandir; ada yang 
petantang-petenteng memasuki ruang media sambil menyatakan bahwa dia 
“tangan kanan” seorang politisi Inggris yang pernah menjadi motor salah satu 
konvoi ke 
Gaza.
 
Activism
Ada begitu banyak activism, heroism…Bahkan ada 
seorang peserta kafilah yangmengenakan T-Shirt yang di bagian dadanya 
bertuliskan “Heroes of Islam” alias “Para Pahlawan Islam.” Di sinilah terasa 
sungguh 
betapa pentingnya menjaga integritas niat agar selalu lurus karena Allah 
Ta’ala. 
Yang wartawan sering merasa hebat dan powerful karena mendapat perlakuan khusus 
berupa akses komunikasi dengan dunia 
luar sementara para peserta lain tidak. Yang berposisi penting di negeri asal, 
misalnya anggota parlemen atau pengusaha, mungkin merasa diri 
penting karena sumbangan material yang besar terhadap Gaza. 
Kalau dibiarkan riya’ akan menyelusup, na’udzubillahi 
min dzaalik, dan semua kerja keras ini bukan saja akan kehilangan 
makna bagaikan buih air laut yang terhempas ke pantai, tapi bahkan 
menjadi lebih hina karena menjadi sumber amarah Allah Ta’ala.
 
Mengerem
Dari waktu ke waktu, ketika kesibukan dan kegelisahan 
memikirkan pekejaan menyita kesempatan untuk duduk merenung dan 
tafakkur, sungguh perlu bagiku untuk mengerem dan mengingatkan diri 
sendiri. Apa yang kau lakukan Santi? Untuk apa kau lakukan ini Santi? 
Tidakkah seharusnya kau berlindung kepada Allah dari ketidak-ikhlasan 
dan riya’? Kau pernah berada dalam situasi ketika orang menganggapmu 
berharga, ucapanmu patut didengar, hanya karena posisimu di sebuah 
penerbitan? And where did that lead you? Had that situation led you 
to Allah, to Allah’s blessing and pleasure, or had all those times 
brought you Allah’s anger and displeasure?
Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di 
sini, Subhanallah, sungguh banyak orang yang jauh lebih layak 
dihargai oleh seisi dunia di  sini. Mulai dari Presiden IHH Fahmi Bulent 
Yildirim sampai seorang Muslimah muda pendiam dan shalihah yang tidak 
banyak berbicara selain sibuk membantu agar kawan-kawannya mendapat 
sarapan, makan siang dan malam pada waktunya… Dari para ‘ulama terkemuka di 
atas kapal ini, sampai beberapa pria ikhlas yang tanpa banyak bicara sibuk 
membersihkan bekas puntung rokok sejumlah perokok ndableg.
Kalau  hanya sekedar penghargaan manusia yang 
kubutuhkan di sini, Subhanallah, di tempat ini juga ada 
orang-orang terkenal yang petantang-petenteng karena ketenaran mereka. 
Semua berteriak, “Untuk Gaza!” namun siapakah di antara 
mereka yang teriakannya memenangkan ridha Allah? Hanya Allah yang tahu.
 
Gaza Tak Butuh Aku
Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa 
Al-Quds tidak membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina 
tidak membutuhkan aku.
Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan 
pertolongan Allah. Gaza hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan 
Allah. Bila Allah mau, sungguh mudah bagiNya untuk saat ini juga, detik 
ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh 
Palestina.
Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah 
yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami 
ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak – betapa pun sedikitnya – 
menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds. 
Sungguh mudah menjeritkan slogan-slogan, Bir ruh, bid 
dam, nafdika ya Aqsha… Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza!
Namun sungguh sulit memelihara kesamaan antara seruan lisan dengan seruan hati.
 
Cara Allah Mengingatkan 
Aku berusaha mengingatkan diriku selalu. Namun Allah selalu punya cara terbaik 
untuk mengingatkan aku. 
Pagi ini aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri 
sekedarnya – karena tak mungkin mandi di tempat dengan air terbatas 
seperti ini, betapa pun gerah dan bau asemnya tubuhku. 
Begitu masuk ke salah satu bilik, ternyata toilet jongkok 
yang dioperasikan dengan sistem vacuum seperti di pesawat itu dalam 
keadaan mampheeeeet karena ada dua potongan kuning 
coklaaat…menyumbat lubangnya! Apa yang harus kulakukan? Masih ada satu 
bilik dengan toilet yang berfungsi, namun kalau kulakukan itu, alangkah 
tak bertanggung-jawabnya aku rasanya? Kalau aku mengajarkan kepada 
anak-anak bahwa apa pun yang kita lakukan untuk membantu mereka yang fii 
sabilillah akan dihitung sebagai amal fii sabilillah, 
maka bukankah sekarang waktunya aku melaksanakan apa yang kuceramahkan?
Entah berapa kali kutekan tombol flush, tak berhasil. 
Kotoran itu ndableg bertahan di situ. Kukosongkan sebuah 
keranjang sampah dan kuisi dengan  air sebanyak mungkin – sesuatu yang 
sebenarnya terlarang karena semua peserta kafilah sudah diperingatkan 
untuk menghemat air – lalu kusiramkan ke toilet.
Masih ndableg.
Kucoba lagi menyiram…
Masih ndableg.
Tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan tanganku 
sendiri…
Kubungkus tanganku dengan tas plastik. Kupencet sekali lagi tombol flush. 
Sambil sedikit melengos dan menahan nafas, 
kudorong tangan kiriku ke lubang toilet…
Blus! 
Si kotoran ndableg itu pun hilang disedot pipa entah kemana…
Lebih dari 10 menit kemudian kupakai untuk membersihkan 
diriku sebaik mungkin sebelum kembali ke ruang perempuan, namun tetap 
saja aku merasa tak bersih. Bukan di badan, mungkin, tapi di pikiranku, 
di jiwaku. 
Ada peringatan Allah di dalam kejadian tadi – agar aku 
berendah-hati, agar aku ingat bahwa sehebat dan sepenting apa pun 
tampaknya tugas dan pekerjaanku, bila kulakukan tanpa keikhlasan, maka 
tak ada artinya atau bahkan lebih hina daripada mendorong kotoran ndableg tadi. 
Allahumaj’alni minat tawwabiin…
Allahumaj’alni minal mutatahirin…
Allahumaj’alni min ibadikas-salihin…
 
29 Mei 2010, 22:20
Santi Soekanto
Ibu rumah tangga dan wartawan yang ikut dalam kafilah Freedom Flotilla to Gaza 
Mei 2010.
 

-- 
Allah be with the patient...



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke