Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: [email protected] Date: Tue, 1 Jun 2010 11:01:03 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: KEGAGALAN AGAMA (3)
”GONG” SANG KHALIFAH Mayjend TNI (Purn) Saurip Kadi (3) Dewasa ini sulit sekali membedakan antara agama yang dikehendaki oleh Allah dengan agama yang dicetuskan oleh pengikut Rasul. Walau mereka fasik atau hafal Alkitab atau Al-Quran, tetapi apakah itu yang dikehendaki Allah? Mestinya masing-masing pelaku akan mencari sudah benarkah agama yang aku peluk. Bukan kata orang. Apakah ini betul-betul agama Rasul ataukah ini agama yang sudah dipecah-pecah oleh pengikut Rasuil, karena Allah sendiri mengisyaratkan bahwa agama yang ada itu hanya agama yang sudah dipecah belah oleh pengikut rasul sebagaimana tersurat dalam surat 23 Al-Mukminun ayat 53. “Kemudian mereka pengikut Rasul memecah belah agama itu menjadi beberapa pecahan yang mereka banggakan oleh pemeluk masing-masing”. Seharusnya agama itu adalah agama tauhid yaitu agama yang satu, dengan berkiblat kepada Allah semata dengan mengikuti rasul sebagaimana tercantum dalam Surat 23 Al-Mukminun ayat 52. “Sesungguhnya agama Tauhid ini adalah agama kamu semua agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu maka bertakwalah kepadaku”. Karena Islam adalah tunduk patuh, maka kita harus konsisten dengan ikrarnya kita sendiri, yaitu Takbiratul ikhram. Disitu setiap anak manusia berjjanji mengikrarkan diri untuk menyerahkan sesungguhnya sholat amal ibadah hidup dan mati hanya kepada Allah. Sholat disini berarti perilaku bukan ritual. sembahyang menghadap ke Ka'bah. Memang dalam Islam juga dikenal sholat dalam arti ritual tapi konteksnya bukan sebagai ajaran, kaidah atau norma yang dijamin mampu melahirkan peri laku terpuji sehingga bisa menghindari perbuatan jahat. Perilaku terpuji itu sendiri harus didasari oleh tuntunan rohulkudus atau al-quran yang telah ditiupkan kedalam dada manusia itu sendiri. Misalnya, ajaran Yesus tentang contoh-contoh mukjijat yang membuat orang buta dapat melihat, bisa menghidupkan orangmati, itu artinya bagaimana orang yang buta mata hatinya, bisa melihat kembali keindahan karena kasih sayang. Orang yang mati jiwanya karena kebekuan dan berbagai keduniawian akan bangkit kembali dalam hidup yang penuh kebahagiaan. Kalau semuanya berani merevolusi diri, mulai memperbaiki atas kelancangan sumpahnya sendiri, didandani, konsisten betul-betul, tidak mungkin agama saling menuding ini kafir halal darahnya, ini aliran sesat harus dibasmi, dll. Karena iman itu letaknya di perbuatan, di perilaku. Sebagaimana firman yang berbunyi “Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya mati” (Yakobus 2 ayat 14-26). Bahkan diperjelas dalam Injil 1 Yohanes 3 ayat 16-18 yang berbunyi: “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudara-saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap didalam dirinya. Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran”. Sebagaimana tersurat dalam Surat 4 Annisa ayat 3 yang berbunyi: “Dan jika kamu takut tidak bisa berbuat adil terhadap hak-hak perempuan yatim, bilamana kamu mengawininya, maka kawinilah wanita-wanita lain yang kamu senangi dua, tiga atau empat, Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. Dalam ayat tersebut tidak ada perintah dengan kata-kata “Hai laki-laki….” Dan tidak ada urusannya dengan jenis kelamin dan kawin mengawini. Ini urusan akhlak dan tauhid tentang hawa nafsu. Kawinilah dua, yaitu amarah (marah) dan lawamah (sabar), tiga yaitu muthmainah (ada orang susah maka disantuni), empat sofiah (ada keterpurukan bangsa maka ajaklah rakyat pada kebenaran), minimal satu yaitu rohulkudus (nur muhammad), yang selalu mengingatkan kepada perbuatan baik. Atau ”budak-budakmu”, Islam justru untuk menghapus perbudakan, maka budak dalam ayat ini menjadi cocok kalau diartikan sebagai semua hal yang menghambakan diri pada manusia, bisa kekayaan, pangkat, jabatan, keris, jimat, dll. sepanjang untuk melahirkan jiwa yang tenang. Al-Quran itu ada sebelum dunia ini ada. Sebagaimana tercantum dalam surat 75 ayat 16-19 yang intinya adalah “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca al-quran karena hendak cepat-cepat menguasainya (hafalan). Sesungguhnya, atas tanggungan Kami lah, mengumpulkannya di dadamu dan membuatmu pandai membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu, kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya”. Jelas, tugas khalifah di muka bumi ini adalah membumikan ajaran Allah. Ajaran Allah harus nyata. Harus bisa dirasakan manfaatnya di dunia ini, bukan hanya nanti di akhirat. Jangan terbalik. Kalau di dunia ini baik, maka akhirat tentu baik. Bukan sebaliknya, di dunia kacau kok melarikan diri dengan iming-iming seolah nanti di akhirat akan baik. Dalam surat 11 Huud ayat 93 dikatakan: ”Hai kaumku, berbuatlah kamu sesuai dengan cara kamu, Aku pun berbuat (dengan cara Ku), kelak kamu akan mengetahui siapa yang ditimpa azab yang menghinakan, siapa yang berdusta, dan tunggulah (apa yang bakal terjadi) sesungguhnya Aku pun menunggu bersama kamu”. Disini artinya, manusia harus bekerja, berkarya sesuai dengan kemampuannya, sejauh itu berdasar kepada tuntunan yang telah ditetapkan oleh Allah, dan yakin bahwa Allah juga bekerja bersama manusia. Cinta itu global, universal, Ibarat ”Gong”, yakni perangkat dari gamelan. Kalau “gong” sudah berbunyi maka dia bisa menyerap semua nada. Baik nada sumbang sekalipun akan terserap oleh bunyi “gong”. Sifat ini yang harus dimiliki oleh pemimpin. Yaitu cinta kasih. Kalau ada cinta kasih, maka semua nada-nada dunia baik yang sumbang maupun yang merdu akan bersatu terserap oleh energi gong tadi. Maka, yang ada adalah pancaran kesejukan cinta kasih yang mengayomi kehidupan. Dengan inilah kemelut bangsa ini bisa diselesaikan. Karena cinta kasih itu nyata, riil, bukan lagi di bibir saja. Bukan lagi ilusi. Cinta itu perwujudan. Dapat dirasakan rakyat. Fungsi “gong” juga adalah mengarahkan keseluruhan orkestra gamelan sehingga menjadi suatu karya yang harmonis, enak didengar, dan memberikan nuansa keterpaduan, keserempakan, arahnya jelas. Bangsa ini juga demikian perlu “gong” yang jelas mau dibawa kemana bangsa ini agar tercipta suatu tatanan yang harmonis. Akankah ”Gong” tersebut muncul di 2010 ini? Sangat masuk akal, karena berbagai ketidak selarasan kini dipertontonkan secara terbuka. Tinggal sikap pemimpin, mampukan ia menampilkan diri sebagai Gong, agar bangsa ini kembali harmonis, ataukan Tuhan sendiri yang akan menabuh Gong untuk melahirkan pemimpin baru yang mampu mewakili Tuhan (Kholifah) untuk mementaskan pagelaran baru dengan Dalang baru, Wayang baru dan Cerita (Lakon) yang baru pula. Wallahuallam bisawab. Powered by Telkomsel BlackBerry® ------------------------------------ ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [email protected] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
