Judul buku    : Habib PAlsu Tersandung Cinta
Penulis           : Ubay Baiquni
Penerbit         : Pinus Book 
              Publisher
Cetakan          : cetakan 1, Januari 
              2010 
Ukuran/hal   : 12 x 19 cm, 234 Hal
 
 
 
 
Ketika membaca novel “Habib Palsu Tersandung Cinta” yang ditulis Baiquni, 
ingatan saya jatuh ke tahun 2002-an saat masih berada di Pondok Pesantren 
Lirboyo, Kediri. Saya memiliki seorang teman bernama Djoko. Ia pernah 
mengguncang salah satu pesantren terbesar di Jawa Timur itu. Namun, nasibnya 
sungguh tragis. Sebulan lagi tamat sekolah pesantren, ia dipaksa meninggalkan 
pondok. Sebelum diusir, ia diarak keliling pondok, dihujani caci-maki ribuan 
santri, dipukuli sampai berdarah-darah hingga nyaris mati. 
 
Pasalnya, ia telah melakukan kesalahan, yang menurut ukuran pesantren, termasuk 
salah satu “dosa besar”: ia mengaku habib. Habib (di Jawa Timur disebut Ayik, 
di Jawa Barat Ayip. Keduanya berasal dari Syarif yang artinya Mulia/Yang Mulia) 
adalah sebutan untuk kerabat Nabi Muhammad SAW. Dalam budaya pesantren, habib 
menempati strata sosial paling tinggi. Habib berada di atas Gus, sebutan untuk 
keturunan kiai. Habib sangat dihormati, disegani, sekaligus ditakuti banyak 
orang. Tidak sedikit yang meyakini doanya maqbul, bebas “sensor” Tuhan, 
sehingga banyak yang meminta doa dan berkahnya. Segala kata-katanya dianggap 
doa. Karena itu, tidak sembarang orang berani menyinggung perasaannya, menghina 
apalagi sampai mencaci-maki, bisa-bisa kuwalat. 
 
Banyak yang meyakini, darah Nabi SAW yang mengaliri sekujur tubuh setiap habib 
membuatnya “kebal syariat” dan tidak mempan api neraka. Sehingga, apapun yang 
dilakukan habib, baik ataupun buruk, tidak ada yang berani menegur, 
mengingatkan, apalagi sampai memarahi. Mungkin, inilah yang marangsang Djoko 
mengaku sebagai habib.
 
Awalnya, Djoko meniti karir sebagai penjaga warung kiai (ndalem). Pertama kali 
saya mengenalnya, Djoko seorang pendiam, ramah, meski pelit membagi senyum. 
Dari sini tidak ada tanda-tanda aneh. Ia hidup layaknya santri biasa: pagi hari 
sekolah madrasah, siangnya musyawarah, agak sore ngaji ngapsai (memaknai) 
kitab, menjelang malam ia mendapat giliran menjaga warung, dan seterusnya.
 
Namun, saya sempat kehilangan dia. Biasanya, menjelang tengah malam sehabis 
sekolah, saya dan kawan-kawan cangkruan (nongkrong sambil ngobrol-ngobrol dan 
membawa sisa diskusi di kelas) di warung Djoko, sambil menikmati kopi 
Brontoseno, salah satu kopi kesukaan santri Lirboyo karena racikannya yang 
halus sehingga mudah dibuat cete (mengecat sebatang rokok dengan ampas kopi) 
untuk menambah cita-rasa rokok. Rasanya nikmat sekali. 
 
Satu tahun dia menghilang tak diketahui di mana rimbanya. Teman-temannya, 
termasuk saya, merasa kehilangan. Kepergiannya meninggalkan banyak cerita. Ada 
yang menyebut dia pindah pondok ke salah satu pesantren di Pasuruan. Ada lagi 
yang mengatakan bahwa dia kembali lagi ke habitat awalnya sebagai pedagang 
asongan di salah satu terminal di Sidoarjo. Juga ada yang bercerita bahwa dia 
bertapa di Gunung Lawu, meminta pesugihan. Namun, tidak satupun cerita-cerita 
tersebut yang menarik perhatianku. Satu-satunya keyakinan saya waktu itu, 
kondisi ekonominya yang buruk menyebabkan dia tak mampu meneruskan sekolahnya, 
apalagi untuk membeli kitab-kitab, dan membayar uang pondok.
 
Setahun kemudian Djoko datang lagi ke pondok dengan “bajunya” yang baru, gaya 
dan penampilan 300 persen berbeda. Ia suka bercerita, berdiskusi, dan  
obrolannya banyak dibumbuhi kata-kata Arab, seperti bahlul, harem, jama’ah, 
ahwal, qahwah, jid, dst. Ia tidak lagi menyebut “aku-awa’mu” (aku-kamu), 
melainkan “ane-ente”. Yang lebih mengagetkan banyak teman-temannya, menurut 
pengakuannya, ia seorang habib. Nama aselinya Muhammad bin Muhammad As-Segaf, 
salah satu marga habib paling bergengsi. Ia membuat pohon silsilah berukuran 
besar yang dipampang di biliknya. Banyak photo-photo habib berukuran besar 
menghiasi tembok kamarnya. Ia sering membawa orang-orang berhidung mancung dan 
berperawakan Arab ke pondok untuk dikenalkan kepada teman-temannya. 
 
Untuk meyakinkan bahwa ia betul-betul habib, keturunan Arab aseli, ia menyuntik 
silicon dihidungnya agar kelihatan mancung. Di HP-nya (waktu itu masih sangat 
jarang orang memilikiHP) banyak berjejer nomor-nomor telepon habaib (bentuk 
plural dari habib) dan Syrifah (sebutan untuk perempuan keturunan Nabi SAW). 
 
Semenjak itu namanya mulai harum dan dikenal banyak orang. Seperti halnya gus 
dan habib-habib, ia mulai mendapat perlakuan istimewa, previllage, ditempatkan 
di kamar khusus, disegani, dihormati, dan mulai disebut-sebut banyak santri, 
pengurus dan keamanan pondok. Ia mendapat dispensasi dan pengecualian untuk 
“melanggar” peraturan pondok, seperti membawa alat-alat elektronik, 
keluar-masuk komplek pondok tanpa izin, jarang masuk sekolah, dll. Meskipun 
demikian, ia tetap memilih menjadi ndalem, penjaga warung kiai, bahkan naik 
menjadi pimpinan warung. 
 
Di Pondok Pesantren Lirboyo, untuk pertama kalinya, Djoko mendirikan “Jamaah 
Habaib” (perkumpulan khusus habib) yang diketuai langsung oleh dirinya. 
Anggotanya para habaib yang ada di pondok tersebut. Tujuannya untuk melindungi 
kepentingan-kepentingan habaib. Setiap bulan mengadakan 
perkumpulan-perkumpulan. Sejak itu, eksistensinya semakin mantap dan diakui 
banyak santri
 
Suatu ketika, Djoko pernah bercerita kepada saya, bahwa dia pernah keliling 
silaturahim ke habib-habib yang ada di Jawa-Madura, sekaligus meminta 
barangkali punya anak perempuan yang mau dikawinkan dengannya. Bahkan, waktu 
itu saya sempat mendengar Djoko akan mengawini salah satu syarifah di 
Kaliwungu, Semarang. Namun, rencana perkawinan itu kandas di tengah jalan. 
Djoko sempat berseloroh, bahwa dia kehilangan selera terhadap 
perempuan-perempuan ahwal (bukan habib). Sehingga ia mencari syarifah yang 
cocok buat dirinya.
 
Menurut penuturan kawan saya, ceritanya begini: pada mulanya keluarga syarifah 
sudah menyetujui dan tinggal menentukan tanggal perkawinan. Hanya, untuk 
memastikan bahwa Djoko betul-betul keturunan habaib, pihak keluarga meminta 
Djoko menunjukkan asal-usul dan silsilah ke-habibannya. Djoko tidak keberatan. 
Ia segera menyerahkan secarik kertas bergambar pohon silsilah dari mulai Nabi 
Muhammad SAW sampai kepada dirinya. 
 
Seminggu kemudian, pihak keluarga mengaku pohon silsilah itu hilang dan meminta 
Djoko untuk memberikannya kembali. Djoko pun tidak keberatan. Namun, setelah 
dicocokkan antara pohon silsilah pertama dan kedua, ternyata banyak perbedaan. 
Akhirnya, keluarga habib itu ragu dan membatalkan rencana mengawinkan anak 
putrinya. Djoko kecewa dan sempat “stress” berat. Apalagi,  menurut 
pengakuannya, keduanya sudah cocok dan saling mencintai. Perbedaan kasta dan 
status sosial menyebabkan keduanya harus membunuh cintanya.
 
Dalam tradisi habaib, seorang syarifah harus kawin dengan jama’ah/alawiyyin 
(sesama habib), agar silsilahnya tidak terputus. Apabila syarifah kawin dengan 
“orang biasa” (ahwal), maka anak-keturunanya tidak diakui sebagai habib, 
melainkan akan menjadi orang biasa. Berbeda bagi laki-laki, nasabnya tidak akan 
terputus meskipun kawin dengan orang biasa (patriarchal). Anak-cucunya akan 
terus menjadi habib. 
 
“Penyamaran” habib Djoko terbongkar lantaran terjadi insiden kecil. Salah satu 
anggota Jamiyyah Habaib yang dibentuknya melanggar peraturan pondok dan hendak 
di ta’zir dengan disiram air kotor di hadapan banyak orang (biasanya di tengah 
lapangan dan ditonton ribuan santri). Sebagai ketua, ia merasa terkena beban 
moral dan bertanggung jawab melindungi anak buahnya. Djoko menyelamatkan anak 
buahnya dari tangan keamanan pondok. Di tengah-tengah kerumunan santri yang 
hendak menonton proses penta’ziran, Djoko  memaki-maki, mengumpat, dan memarahi 
keamanan pondok yang saat itu mau menta’zir anak buahnya. Lantaran takut 
kuwalat, saat itu juga “eksekusi” dibatalkan. 
 
Namun, persoalannya tidak berhenti sampai di situ. Justeru bermula dari 
kejadian itu, karena merasa “ditelanjangi” di hadapan banyak orang, kemanan 
pondok membuat panitia khusus (pansus) untuk menyelidiki ke-habiban Djoko. 
Mungkin, inilah pertamakalinya sepanjang sejarah seorang ahwal mencurigai dan 
melakukan penyelidikan terhadap keturunan seorang habib. Pertama-tama, 
mendatangi rumah Djoko dan menanyakan kepada orang tuanya apakah benar ia 
seorang habib. Ternyata, ayahnya adalah seorang pengamen “tiga senar” (gitar 
yang memiliki tiga senar). Bahkan, dia tidak tahu habib itu apa. 
 
Begitu diketahui Djoko bukan seorang habib, ia ditangkap dan diintrogasi 
keamanan pondok. Awalnya, meskipun di bawah tekanan, ancaman, bahkan bogem 
mentah keamanan pondok, Djoko tetap bersikukuh mengaku dirinya seorang habib. 
Bahkan, ia masih sempat nyupatani, menghina dan mengancam orang-orang yang 
mengintrogasinya. Namun, setelah orang tuanya dihadirkan, ia tidak bisa berkata 
apa-apa. Ia pasrah tubuhnya jadi bulan-bulanan santri yang  selama ini merasa 
telah ditipu dan dibohonginya.
 
***
 
Dalam novel “Habib Palsu Tersandung Cinta” Baiquni berhasil menceritakan kisah 
tersebut dengan sangat menarik. Meskipun tidak tunduk pada kejadian sebenarnya, 
Baiquni mengambil inspirasi sekaligus merekonstruksi cerita tersebut dengan 
gaya bertutur dan gaya berceritanya yang khas. Jalan ceritanya sederhana, 
mengalir, dan mudah diikuti, menjadi kekuatan tersendiri bagi novel perdananya 
ini. Baiquni juga berhasil membumbui cerita tersebut dengan imajinasinya, 
mendramatisasi plot-plot cerita tertentu, sehingga alur ceritanya tidak kaku 
dan saklek.
 
Novel ini bercerita tentang dunia pesantren, tradisinya, juga pernak-pernik 
yang hidup di dalamnya. Secara khusus, novel ini menceritakan salah satu 
tradisi pesantren berupa penghormatan, pengistimewaan, bahkan pada taraf 
tertentu “pemujaan” terhadap habaib. Penulisnya melihat celah dari tradisi itu 
yang menyebabkan terjadinya “penyalahgunaan” dari orang-orang tertentu untuk 
mendapatkan kekayaan, penghormatan, bahkan kekuasaan melalui “pemalsuan” habib. 
Ia menggambarkan melalui tokoh Haedar sebagai “orang biasa” yang kemudian 
berevolusi menjadi habib setelah dia melihat betapa seorang habib dihormati, 
ditakuti, dan diperlakukan istimewa. 
 
Kelebihan lain dari novel ini adalah, ia ditulis oleh “orang dalam” yang 
betul-betul merasakan aroma dan denyut nadi kehidupan pesantren. Sejak kecil 
Baiquni tumbuh dan dibesarkan dalam dunia santri, belajar dan menuntut ilmu 
dari pesantren satu ke pesantren lainnya. Ia merekam seluruh pengalamannya ke 
dalam novelnya ini. Sayangnya, dalam novel ini, Baiquni tidak menawarkan 
apa-apa, terlebih memberikan penilaian ataupun kritik terhadap tradisi 
pesantren berupa penghormatan berlebihan terhadap habib/gus.
 
Bahkan, terlihat dari judulnya saja, Baiquni terkesan lebih  mempertajam 
dikotomi habib/non-habib, menguggulkan habib dan terlalu mendiskreditkan 
non-habib. Singkatnya, novel ini terkesan rasis dan tendensius!  
 
Padahal, novel ini akan akan lebih menarik kalau Baiquni, misalnya, memberikan 
dan menawarkan semacam tesis baru terhadap makna habib. Semisal, jika selama 
ini diyakini bahwa habib adalah keturunan Nabi Muhammad SAW dari garis 
laki-laki, bukankan satu-satunya anak keturunan beliau yang berhasil melahirkan 
banyak keturunan adalah Fatimah?
 
Mungkin, bertolak dari sinilah, mengapa para ulama memberikan makna beragam 
terhadap habib. Syafii menyebut habib sebagai keturunan Hasyim dan Muthollib 
(Bani Hasyim dan Bani Muthollib). Pendapat lain mengatakan keturunan dan 
keluarga Nabi Muhammad SAW. Sementara yang lain (golongan ulama muhaqiqin) 
mengatakan seluruh umat Islam adalah “keluarga” Nabi SAW.
 
Harapan saya, Baiquni akan menulis lagi kelanjutan novel ini dengan lebih tajam 
dan mengigit. Kalau Dan Brown dalam “The Davinci Code” berhasil mengungkap 
rahasia di balik makna “Holy Grail” (cawan suci yang digunakan Yesus untuk 
meminum anggur) yang artinya istri Yesus alias Maria Magdalena. Dengan 
demikian, berarti  Yesus memiliki isteri dan keturunan, sehingga meruntuhkan 
tesis dan bangunan keyakinan Gereja selama ini. Maka, di novelnya yang baru, 
Ubay menawarkan tesis baru pada makna habib di luar atau bahkan menyempal dari 
makna kebanyakan. Apapun hasilnya, kita berharap semua orang mau 
mengapresiasinya, bukan menghakimi atau menghujatnya. Semoga!
 
Salam,
Jamaluddin Mohammad 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke