Dari sebelah:


Oleh: Zamhasari J. Naimah

PADA masa kerajaan Romawi (27 
BC – 1453 AD) yang menganut agama Kristen itu berkuasa, orang-orang Yahudi yang 
berada di Timur Tengah banyak yang pindah ke Amerika dan Eropa. 
Kepindahan orang-orang Yahudi itu dikarenakan oleh rasa ketidaksukaan 
orang-orang Romawi yang beragama Kristen terhadap orang-orang Israel 
yang beragama Yahudi. Peristiwa itu terus berlangsung hingga kawasan 
Timur Tengah dikuasai oleh Pemerintahan Islam Kerajaan Turki Utsmani 
(1299–1923).

Pada saat Timur Tengah ini dikuasai oleh Kerajaan 
Utsmani, para pemimpin Islam kala itu memberikan jaminan kepada 
orang-orang Israel yang beragama Yahudi tersebut untuk menetap di 
wilayah kepemimpinan Islam. Dan jaminan itu juga turut membuka peluang 
bagi orang-orang Israel yang berada di negara-negara Eropa dan Amerika 
untuk kembali lagi ke Timur Tengah, terutama ke wilayah Palestina. 
Kepulangan mereka ini tentu saja sangat wajar karena memang Timur Tengah ini 
adalah tanah tumpah darah mereka juga. Faktor lain yang membuat 
orang-orang Israel banyak yang "pulang kampung" dari Eropa ke Palestina 
adalah karena penguasa Jerman kala itu Adolf Hitler melakukan pembunuhan secara 
besar-besaran kepada seluruh bangsa yang berdarah Israel.

Memang, sejak masa Nabiullah Musa Alaihissalam, orang-orang Israel (Bani 
Israel) ini dikenal sebagai bangsa yang banyak tanya (Melayu: nyenyel). 
Selain itu, bangsa Israel juga dikenal sebagai bangsa yang lihai 
bersilat lidah dan mengadu-domba (konspirasi). Bahkan Rasulullah SAW 
sendiri pernah mengingatkan supaya berhati-hatilah bila membuat 
perjanjian dengan orang-orang Israel, karena memang orang-orang Israel 
ini pintar bersilat lidah dan mengadu-domba. Keberadaan orang-orang 
Israel yang ada di Eropa tersebut juga banyak yang menimbulkan masalah. 
Dan ini memang sesuai dengan naluri Israel itu sendiri, naluri 
konspirasi. Kembalinya orang-orang Israel dari Eropa ke Timur Tengah itu juga 
menciptakan permasalahan baru. Lagi-lagi, memang begitulah adanya 
Israel, yaitu suka mencari-cari masalah. Terbukti, pada saat jumlah 
orang-orang Israel yang berada di tanah Palestina sudah cukup banyak, 
maka muncul pulalah hasrat mereka untuk memiliki wilayah khusus yang 
sah. Dan mereka, dengan segala cara berusaha sekuat mungkin untuk 
merealisasikan hasratnya itu.

Peluang pembentukan negara Israel 
semakin terbuka mana kala kerajaan Islam Turki Utsmani mengakhiri 
sejarahnya di Timur Tengah. Bersamaan dengan runtuhnya kerajaan Islam 
itu, wilayah Timur Tengah dikuasai oleh negara-negara besar seperti 
Amerika, Inggris dan Perancis, dimana pada waktu itu wilayah Syiria dan 
Lebanon sekarang berada dalam cengkaraman Prancis, sedangkan Palestina 
dan wilayah Arab lainnya berada dalam genggaman Inggris. Hal itu tentu 
saja mempengaruhi segala kebijakan dan peraturan yang berlaku di 
Palestina yang mengharuskan untuk tunduk kepada selera dan keinginan 
Inggris.

Inggris, sebagai mana Amerika dan Prancis yang bernafsu 
besar untuk menguasai Timur Tengah akan melakukan apa saja demi 
tercapainya keinginan mereka.Perlu untuk digarisbawahi bahwa Inggris, 
Prancis dan Amerika bersatu padu untuk menguasai wilayah yang 
mayoritasnya berpenduduk Islam itu. Disini, bangsa Romawi yang dulu 
beragama Kristen sangat benci dan memusuhi orang-orang Israel yang 
beragama Yahudi berubah menjadi "teman akrab" untuk memusuhi orang-orang Islam, 
dengan satu tujuan utama: menguasai Timur Tengah.

Orang-orang Israel yang berada di Amerika dan Eropa banyak yang memegang 
peranan 
penting dalam pemerintahan, sehingga keberadaan mereka ini tentu saja 
akan mempengaruhi kebijakan negara yang bersangkutan, seperti di 
Amerika, misalnya. Dalam rangka memuluskan "perjalanan" mereka untuk 
menguasai Timur Tengah ini, akhirnya Amerika dan Eropa, khususnya 
Inggris mengabulkan permohonan orang-orang Isarel untuk memperoleh 
wilayah khusus di tengah-tengah negara yang mayoritas berpenduduk Muslim itu. 
Pembentukan negara Isarel ini benar-benar mendapat dukungan penuh 
dari Amerika dan negara-negara Eropa terutama Inggris. Dan dengan 
bantuan Amerika dan Inggris pula, maka lahirlah negara Israel 
berdasarkan Resolusi PBB No.181 (Rencana Pembagian Palestina) tanggal 29 
Nopember 1947.

Berdasarkan Resolusi PBB No. 181 tersebut, maka 
Palestina dibagi menjadi (1) Negara Israel yang meliputi 56.47% wilayah 
kekuasaan Palestina (termasuk wilayah Yerussalem) dengan jumlah penduduk 
498.000 jiwa orang Yahudi dan 325.000 jiwa orang Arab. (2) Negara Arab 
yang meliputi 43.53% wilayah Palestina dengan jumlah penduduk 807.000 
jiwa penduduk tetap Arab dan 10.000 jiwa penduduk tetap Yahudi. (3) 
Wilayah tanggung jawab internasional di Yerussalem, dimana jumlah 
penduduknya ada 100.000 jiwa orang Yahudi dan 105.000 jiwa orang Arab.

Rebutan Negara-Negara Besar

Ada banyak faktor yang membuat kawasan Timur Tengah ini menjadi rebutan 
bangsa-bangsa besar seperti Amerika, Inggris dan Prancis. Kawasan Timur Tengah, 
sebagai mana yang kita ketahui, 
adalah sebuah kawasan yang memiliki beberapa keistimewaan. Pertama, 
Timur Tengah adalah kawasan yang kaya minyak. Minyak adalah darah bagi 
sebuah negara teknologi. Tanpa minyak, negara teknologi akan mati. Dan 
minyak ini pulalah yang menjadi faktor sangat penting sehingga 
negara-negara industri seperti Amerika, Perancis, Inggris menjadi 
tergila-gila untuk menguasai kawasan ini dengan segala cara walau 
mengorbankan nyawa orang-orang yang tak berdosa sekalipun.

Kedua, Timur Tengah adalah wilayah yang menjadi "jembatan strategis" untuk 
menghubungkan ke tiga benua: Asia, Afrika, Eropa. Nah, negara-negara 
Eropa yang sangat bergantung kepada minyak, tentu saja menjadikan laut 
Timur Tengah tersebut sebagai jalan pintas untuk mengangkut minyak dari 
Timur Tengah itu ke benua Eropa. Sebab, pengangkuan minyak itu dilakukan via 
laut dan tidak mungkin untuk diangkut via darat ataupun udara. 
Ketiga, Timur Tengah adalah negeri dimana diturunkannya tiga agama 
besar, yaitu Yahudi, Nasrani (Kristen) dan Islam. Faktor agama ini juga 
membuat orang-orang Yahudi merasa memiliki terhadap wilayah Timur 
Tengah, khususnya Palestina.

Faktor Perangsang Amerika Serikat

Keterlibatan Amerika untuk menguasai Timur Tengah ini baru mulai terlihat 
secara 
terang-terangan setelah Perang Dunia II (1941-1945). Diantara faktor 
yang mendorong Amerika untuk menguasai Timur Tengah ini antara lain: 
Pertama, untuk menguasai minyak yang berlimpah ruah di Timur Tengah, 
terutama di kawasan Arab Saudi dan Irak. Sebagaimana yang saya sebut di 
awal tadi, minyak ini merupakan darah bagi negara teknologi, seperti 
Amerika. Mutu dan kualitas minyak yang terbaik akan digunakan untuk 
pesawat terbang, sisanya barulah digunakan untuk menghidupkan kompor dan sepeda 
motor.

Kedua, untuk mempermudah memantau gerak-gerik 
negara-negara yang ada di Asia, Afrika dan Eropa. Dengan menguasai Timur Tengah 
maka Amerika akan memiliki akses yang cukup luas untuk 
mengontrol perkembangan yang terjadi di tiga benua itu secara lebih 
dekat. Bila sekiranya ada gerak-gerik negara-negara di tiga benua itu 
yang mengancam kepentingan Amerika, maka Amerika akan lebih mudah dan 
cepat untuk mengatasi dan mengantisipasinya.

Ketiga, mengamankan 
Israel. Israel ini adalah "anak emas" Amerika, dan Amerika akan 
melakukan apa saja demi terpenuhi kepentingan Israel tersebut. Hal ini 
bisa terjadi karena memang orang-orang Yahudi di Amerika banyak yang 
memegang posisi penting di lembaga pemerintahan dan 
perusahaan-perusahaan raksasa di Amerika juga banyak yang dikendalikan 
oleh orang-orang Yahudi. Lembaga seperti AIPAC (The American Israel Public 
Affairs Committee) di 
Amerika juga memainkan peranan yang cukup besar dalam mengendalikan 
kebijakan luar negeri Amerika terutama yang menyangkut kepentingan 
Israel.

Keempat, mengantisipasi perkembangan komunisme di Timur 
Tengah yang disebarluaskan oleh Uni Soviet, saingan Amerika. Komunisme 
mengajarkan prinsip ekonomi sosialis, dimana setiap individu masyarakat 
memiliki hak penuh terhadap hasil kekayaannya tanpa perlu dikontrol oleh 
pemerintah. Tentu saja, ajaran ini memberikan kesempatan yang sangat 
besar kepada masyarakat Timur Tengah untuk mengembangkan usaha mereka 
dan pada saat yang sama hal tersebut akan mengancam kepetingan Amerika 
di Timur Tengah, sebab bila Timur Tengah dilepas begitu saja untuk 
mengendalikan ekonominya, maka Uni Soviet sudah bisa dipastikan akan 
memperoleh suplai minyak dari Timur Tengah lebih besar.

Pada masa Perang Dingin (1946-1991), yaitu perang yang tidak menggunakan 
senjata 
secara langsung, tapi munculnya ketegangan antara dua negara adi kuasa, 
Uni Soviet di Timur dan Amerika di Barat karena berbeda pandangan 
terhadap ekonomi, politik dan ideologi, Uni Soviet secara tidak langsung telah 
menanamkan ideologi komunisme di Timur Tengah. Duta Besar Amerika di Uni Soviet 
kala itu, tepatnya pada tahun 1952, George F. Kennan 
melihat secara langsung proses penyebaran ideologi komunisme di Timur 
Tengah itu. Dan untuk menghalangi penyebaran ideologi komunisme ini, 
George F. Kennan akhirnya memperkenalkan suatu kebijakan yang bertujuan 
untuk membendung pengaruh Uni Soviet ini di Timur Tengah yang disebut 
dengan "Containment Policy."

Akhirul kalam, saya kira cukup sampai disini dulu sepenggal kisah mengenai 
Timur Tengah, terutama antara Arab dan Israel. Insya Allah, 
persoalan-persoalan tentang Mengapa Tidak Ada Kemerdekaan Bagi 
Palestina? dan Bilakah Timur Tengah Akan Damai? akan saya diskusikan 
lagi dilain waktu. Persoalan Timur Tengah ini memang rumit, dan tidak 
cukup 3-4 halaman untuk menuliskan kisah-kisah yang bergejolak di tanah 
kelahiran para Nabi ini.[]

Zamhasari J. Naimah, alumnus Pondok 
Pesantren Darul Hikmah (PPDH) Pekanbaru. Mahasiswa Ilmu Politik di 
Aligarh Muslim University, India.

diambil dari blog   http://e-tafakkur.blogspot.com/



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke