--- On Mon, 7/5/10, Nanang Heriyanto <[email protected]> wrote:
From: Nanang Heriyanto <[email protected]>
Subject: { PESISIR } isi tabung gas elpiji (LPG)
To:
Date: Monday, July 5, 2010, 6:50 PM
Tahukah anda?
Setelah terjadi konversi energi, dimana, tadinya masyarakat memakai minyak
tanah dan sekarang dialihkan untuk memakai gas elpiji, dengan mengurangi minyak
tanah di pasaran.
bahwa untuk setiap tabung gas elpiji 3kg
jika masyarakat menganggap bahwa isi gas habis, krn saat menyalakan kompor
tidak ada gas yg keluar shg kompor tidak dapat menyala.
Sebenarnya dalam tabung gas tersebut patut diduga masih tersisa sekitar 0,2 -
0,4 kg gas elpiji. Tapi kemungkinan memang gas elpiji dengan jumlah itu didalam
tabung sdh kekurangan tekanan sehingga tidak dapat mengeluarkan/ menyalurkan
gas dari
tabung melalui pipa/selang kekompor. akibatnya kompor tidak menyala.
Dan masyarakat awam menganggap bahwa gas elpiji habis, dan membeli lagi/
menukar tabung yang dianggap kosong tadi dg
tabung lain yg berisi gas elpiji 3kg. dan membayar harga dg sejumlah uang
untuk gas elpiji sebanyak 3kg
maka jika terjadi demikian, tabung itu gas yang dianggap kosong tadi jika diisi
oleh pertamina/pangkalan , sebenarnya dalam tabung dg kapasitas 3kg tadi,
secara logika cukup diisi gas elpiji sebanyak 2,6 - 2,8 kg agar memenuhi tabung
yg berisi 3kg
Jadi ada peluang, bahwa dalam setiap pembelian gas elpiji sebanyak 3kg,
konsumen (masyarakat) dirugikan minimal 0,2kg (dengan harga elpiji 3kg yg
bersubsidi Rp.4000, maka kerugian adalah 0,2kg x Rp.4000 = Rp.800
untuk pemakaian normal (rumah tangga) gas elpiji 3kg itu dalam seminggu harus
membeli 2 kali (kerugian minimal konsumen = Rp.800 x 2 = Rp.1600 per minggu)
Jumlah pemakai elpiji 3kg diperkirakan minimal 3 juta
kerugian minimal masyarakat = 3 juta x Rp. 1600 = Rp 4,8 milyar per minggu
dalam 1 tahun Rp. 4,8 milyar x 52 minggu = Rp 249,6 milyar
(perhitungan ini belum menghitung banyaknya pemakai/konsumen elpiji yang
seminggu ternyata bisa sampai 3 kali membeli elpiji 3kg, seperti pedagang
makanan, keluarga aktif dll)
bahwa untuk setiap tabung elpiji 12 kg
jika masyarakat awam menganggap bahwa gas didalam tabung habis, sebenarnya
patut diduga didalam tabung masih tersisa sekitar 0,3 - 0,6 kg gas elpiji. tapi
kemungkinan karena dengan jumlah sekian dalam tabung, gas elpiji sudah tidak
mempunyai daya tekanan yang cukup kuat untuk keluar/ menyalurkan gas dari
tabung keluar/ melalui selang menuju kompor, dan masyarakat/konsumen terbiasa
menyebut bahwa gas elpiji dalam tabungnya habis.
berapa kerugian masyarakat/konsumen untuk elpiji 12 kg per tahun, dengan jumlah
perkiraan konsumen gas elpiji 12kg minimal adalah 200ribu ?
Untuk itu:
Perlu adanya pengujian dan penelitian baik oleh aparat pemerintah, lembaga
konsumen dllJika dalam
pengujian itu terbukti adanya kerugian konsumen, perlu dipikirkan adanya
stasiun pengisian gas elpiji atau pengisian gas elpiji keliling, sehingga
masyarakat bisa membeli gas dengan sistem seperti pembelian pada bahan bakar
minyak. jadi masyarakat saat membeli bisa tahu takaran yang masuk dalam tabung
gasnya. Juga selain itu bagi masyarakat yang kurang mampu langsung membeli
sejumlah 3kg bisa membeli sesua kemampuannya, misal hanya mengisi 1kg dsbJika
pengujian itu terbukti ada kerugian dari konsumen, patut diperiksa, kemana
larinya uang tersebut, dan kemana sisa gas dari pangkalan/pertamina itu dijual
dan bagaimana pertanggungjawaban keuangannya selama bertahun2 terdahulu? Karena
dalam bahasa para penyalur gas, ada istilah membeli gas kentut dg harga lebih
murah untuk dijual lagi pada konsumen, yang patut diduga berasal dari sisa gas
yang harusnya dinikmati oleh konsumenBelum lagi penikmatan subsidi uang negara
dari gas elpiji 3kg,
jika ternyata pengujian secara obyektif, yang dijual kepada masyarakat
ternyata berkurang jumlahnya dari jumlah yang dianggarkan oleh subsidi dalam
APBN. berarti patut diduga bahwa selain ada penipuan pada uang masyarakat juga
kebocoran subsidi atau pencurian uang negara.
[Non-text portions of this message have been removed]