31 Desember 2009

Berpulangnya sang Penakluk

Oleh: Hasyim Asy’ari



ABDURRAHMAN Wahid yang dikenal dengan sebutan Gus Dur wafat, dipanggil
berpulang ke hadirat Sang Khalik pada bakda maghrib malam, Kamis 14 Muharram
1431 H, tanggal 30 Desember 2009. Guru Bangsa penyemai demokrasi dan
penganjur Islam moderat-toleran di Tanah Air itu wafat pada usia 69 tahun.


Siapa sesungguhnya Gus Dur? Abdurrahman Addakhil, Abdurrahman ”sang
penakluk” adalah nama seorang tokoh Islam masa Umaiyyah yang pernah
menaklukkan Spanyol pada masa keemasan Islam. Nama inilah yang diberikan
oleh Kiai Wahid Hasyim kepada putra sulungnya, yang kemudian akrab disapa
dengan nama Abdurrahman Wahid alias mengenal Gus Dur.


Bagi orang yang tidak begitu Gus Dur mungkin akan terkecoh kontroversinya.
Jangankan orang luar NU, banyak orang NU pusing atas perilaku Gus Dur.
Misalnya, Gus Dur terlibat sebagai anggota dewan juri Festival Film
Indonesia (FFI), menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta, kejeliannya sebagai
pengamat sepak bola, menolak masuk ICMI malah membentuk Forum Demokrasi,
menerima sumbangan dari SDSB, tuduhan-tuduhannya kepada berbagai pihak yang
dianggapnya sebagai biang sejumlah kerusuhan beberapa waktu lalu, dan tentu
saja gagasannya mengganti ”assalamu’alaikum” menjadi ”selamat pagi”.


Gara-gara gagasan itu, Kiai As’ad Syamsul Arifin, Rais Aam NU dan pengasuh
pesantren Salafiyah as-Syafi’iyah Situbondo, menyatakan mufarraqah
(berpisah) dengan kepengurusan NU selama Gus Dur masih menjadi Ketua
Tanfidziyah NU. Setidaknya tercatat dua kiai senior ”ditaklukkan” dan
selanjutnya terpental dari kepengurusan Syuriyah PBNU selama kepengurusan
Gus Dur, yaitu Kiai As’ad Syamsul Arifin dan Kiai Alie Yafi.


Gagasan Gus Dur yang terkesan melampaui kebiasaan orang NU ini, membuat
Fachry Ali menjuluki Gus Dur sebagai ”orang asing di tengah NU”. Bagi orang
NU, perilaku Gus Dur di luar kebiasaan orang kebanyakan sering dimaafkan
begitu saja dengan menisbatkannya sebagai wali.


Gus Dur menempuh pendidikan Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di
Yogyakarta, tahun 1953-1956. Dia tinggal di rumah KH Junaid, seorang Kiai
Muhamadiyah dan anggota Majelis Tarjih Muhamadiyah. Oleh guru bahasa
Inggrisnya yang anggota Gerwani (sayap perempuan PKI), Gus Dur muda
diperkenalkan literatur-literatur serius berbahasa Inggris, seperti What is
tobe Done? karya Lenin, Captain’s Doughter karya Turgenev, dan Das Capital
karya Karl Marx. Betapa pada usia yang relatif muda, Gus Dur telah
berkenalan dengan sumber bacaan yang belum tentu dapat dipahami oleh orang
dewasa.


Kritik Soeharto Sebagaimana kebanyakan orang NU, Gus Dur menghabiskan banyak
waktu belajar di berbagai pesantren. Pondok Pesantren Tegalrejo Magelang di
bawah bimbingan Kiai Chudlori, selama tiga tahun sejak 1956, adalah tempat
Gus Dur mengawali pengembaraannya di pesantren.


Tahun 1964-1966 ia melanjutkan studinya pada Department of  Higher Islamic
and Arabic Studies di Universitas al-Azhar Kairo, Mesir. Kondisi belajar
yang tidak kondusif bagi Gus Dur, membawanya menghabiskan waktu dengan
mengikuti kegiatan di luar kampus, membaca di berbagai perpustakaan, seperti
perpustakaan nasional Dar al-Kutub, dan perpustakaan American University
Library. Selama di Mesir, ia melakukan kontak dengan syaikh dan cendekiawan
terkemuka, seperti Zaki Naguib Mahmoud, Soheir al-Qalamawi dan Syauqi Dief.


Yang tak kalah menariknya dia menyempatkan diri menikmati konser musik,
nonton film-film Perancis dan tentu saja sepak bola. Selepas dari Kairo, Gus
Dur belajar di Fakultas Sastra Universitas Baghdad, Irak sampai 1970.
Menurut KH Machfudz Ridlwan, kawan satu kamar Gus Dur di Bahgdad dan kini
pengasuh pesantren Edi Mancoro, Gedangan Kabupaten Semarang, Gus Dur sering
membawa pulang setumpuk buku untuk dibaca di luar jam-jam kuliahnya.


Kendati di perantauan, Gus Dur sering mengirimi surat bernada kritik kepada
Soeharto. Solichah Wahid selalu dipanggil Soeharto untuk memberi nasehat
kepada anaknya agar tidak terlalu nakal.


Gus Dur dikenal mampu berkomunikasi dengan komunitas NU sampai di level
paling bawah melalui pengajian-pengajian tradisional, mampu bermain wacana
ilmiah dengan kalangan intelektual perkotaan, dan dapat menjalin komunikasi
secara intens dengan dunia internasional. Bahkan beberapa kalangan di NU
meyakini Gus Dur mampu berkomunikasi dengan para ahli kubur.


Gus Dur telah berkenalan dengan berbagai wacana yang mungkin asing di
lingkungan NU, seperti Das Capital karya Marx, dan telah bermain politik
pada level tinggi sejak usia muda, kendati hanya lewat surat.


Karena itu, tidak mengherankan bila Greg Barton dalam disertasinya tentang
Gagasan Islam Liberal di Indonesia menyebut latar belakang pendidikan dan
pergaulannya yang terbuka itu membawa Gus Dur sebagai pemikir paling liberal
yang tidak tertandingi oleh pemikir sekaliber Nurcholish Madjid sekalipun.


Dan tidak mengejutkan bila menjelang dan pascakejatuhan Soeharto, Gus Dur
yang sering kali bolak-balik melakukan lobi dengan pihak Soeharto. Pada
tahun 1999 Gus Dur dicalonkan dan dipilih oleh MPR sebagai Presiden RI
keempat. Salah satu alasan utama pencalonan Gus Dur oleh Poros Tengah
—terutama Fraksi Reformasi— adalah rendahnya tingkat resistensi terhadap Gus
Dur, ketimbang dua calon lainnya, Habibie dan Megawati.


Satu kelebihan Gus Dur dibanding tokoh politik lainnya di negeri ini adalah
pergaulannya yang luas, melampaui komunitasnya sendiri, dan keterbukaan
sikapnya. Gus Dur sering memainkan berbagai peran pada berbagai kondisi.
Dalam teori perilaku politik, posisi Gus Dur ”key role”, pemeran kunci.
Artinya, sikap keterbukaan Gus Dur terhadap kawan dan lawan politiknya,
menjadikannya sebagai tempat bertemunya berbagai persoalan politik.


Sejak kemelut Mei 1998, sudah tidak terhitung lagi berbagai kelompok dan
tokoh politik bertemu dengan Gus Dur. Mulai dari Prabowo hingga Wiranto, di
mana keduanya dikesankan berada pada faksi yang berseberangan di tubuh
militer. Gus Dur pula yang memungkinkan bertemunya Amien Rais dan Megawati,
dua tokoh reformasi yang terkesan sulit bertemu. Gus Dur juga memfasilitasi
bertemunya berbagai gagasan pascapemilu 1999 antara para pendukung Habibie
di tubuh Golkar, pendukung Megawati di PDI Perjuangan, dan kalangan Poros
Tengah. Semua itu menjadikan Ciganjur, desa di kawasan Jakarta Selatan,
menjadi salah satu tempat terpenting dalam pengambilan keputusan politik,
selain Cendana, Patra Kuningan, Cikeas dan Istana Merdeka.


Peran Kunci Dengan demikian, secara tidak langsung Gus Dur dapat mengetahui
peta kekuatan politik di antara para pesaing politik. Pada titik inilah Gus
Dur dapat memainkan peran kunci, apakah para pemain politik akan dibawa
kepada konflik yang menajam, atau akan digiringnya kepada rekonsiliasi.
Sejauh ini, nampaknya jalan rekonsiliasi yang selalu ditempuhnya. Hal ini
terlihat ketika gejala saling menghadap-hadapkan antara dirinya dengan kubu
Megawati dalam pencalonan presiden 1999 semakin menajam, dihadapinya dengan
santai sembari ziarah bersama dengan Megawati ke makam Bung Karno di Blitar
dan makam Hasyim Asy’ari di Jombang.


Memang peta politik pascapemilu 1999, terutama pada level pemilihan
presiden, nampaknya Gus Dur sedang membangun budaya politik baru di kalangan
elite politik negeri ini, yaitu politik tidak selalu dimainkan dengan zero
sum game. Politik tidak lagi menjadi politik bila masing-masing kekuatan
yang bermain saling meniadakan pesaing politiknya, sampai-sampai tidak ada
lagi pihak yang berperan sebagai pesaing politik.


Salah satu kenangan kita kepada Gus Dur saat menjadi Presiden adalah
diresmikannya Kong Hu Cu sebagai salah satu agama resmi di Indonesia. Kita
akrab dengan selorohnya ”gitu aja kok repot”, sebuah kesan begitu ringan
saat merespon masalah yang dihadapinya. Tanpa beban berat Gus Dur
memberhentikan Wiranto dari jabatan Menkopolkam saat itu. Begitu juga tanpa
canggung-canggung Gus Dur memberi predikat ”anak taman kanak-kanak” bagi
anggota DPR hasil Pemilu 1999. Itu semua yang kemudian berujung pada
dilengserkannya Gus Dur dari kursi kepresidenan pada tahun 2001, hanya 2
tahun dari pelantikannya.


Keberanian Gus Dur dalam berpikir dan bertindak itu bukan tanpa sebab.
Nurcholish Madjid dalam sebuah seminar menjelang Muktamar NU 1994 menuturkan
mengapa Gus Dur begitu berani bahkan cenderung nekad. Gus Dur berdalih bahwa
dalam garis keluarga ayahanda, anak laki-laki cenderung mati muda, termasuk
ayahanda Kiai Wahid Hasyim dan paman-pamannya. Itulah nampaknya yang
mendorong Gus Dur berani dalam tindakan dan pemikiran, persis seperti sajak
Chairil Anwar, ”sekali berarti, sudah itu mati”.


Akhirnya, kita semua dapat belajar dari sikap keterbukaan dan keberanian
politik Gus Dur. Keberanian menebar benih-benih perbedaan yang sedang
disemai Gus Dur untuk menumbuhkembangkan demokrasi dan Islam moderat-toleran
di taman sari Indonesia.


Selamat jalan Gus Dur. Teriring doa, semoga Gus Dur husnul khatimah, amal
shalehnya diterima Allah dan mendapat maghfirah Allah.


Penulis adalah staf pengajar Fakultas Hukum Undip Semarang


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke