Saya pernah mengikuti sebuah seminar yang diselenggarakan 
universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, mengenai bioetika dalam 
Islam. Dalam acara pembukaan, hanya ketua panitia yang 
mengucapkan assalamu alaikum. Selanjutnya, termasuk Rektor 
tidak lagi mengucapkan assalamu alaikum dan hanya membaca 
basmallah.
Kalau di Indonesia ucapan assalamu alaikum dijadikan issu 
penting untuk menilai keislaman seorang pembicara. Dan para 
birokrat pun melengkapi ritus itu menjadi "assalamu 
alaikum, salam sejahtera, dan selamat pagi bagi semua". 
Kita biasa mementingkan ritus daripada isi.
KM

----Original Message----
From: [email protected]
Date: 28/08/2010 11:53 
To: "kmnu2000"<[email protected]>
Subj: [ppiindia] Gus Dur dan Kontroversi &quot;Asslamu&#39;
alaikum&quot; (Kesaksian Ahmad Tohari)

Bagaimana asal-muasal kontroversi bahwa Gus Dur yang 
dituduh ingin mengganti "Assalamu'alakum" dengan selamat 
pagi? berikut kesakian Ahmad Tohari.

Kula Ndherek, Gus

Oleh Ahmad Tohari

ADALAH Edy Yurnaedi almarhum. Suatu siang, pada 1987, 
wartawan Majalah Amanah itu bergegas masuk ke ruang redaksi 
di Jalan Kramat VI Jakarta. Dengan wajah gembira dia 
meminta beberapa redaktur, di antaranya saya, mendengarkan 
laporannya. Dia baru selesai mewancarai KH Abdurrahman 
Wahid di Kantor PBNU. Topik wawancaranya adalah pluralitas 
internal umat Islam Indonesia.

Maka rekaman wawancara pun diputar. Intinya, Gus Dur 
mengatakan, kemajemukan di dalam masyarakat muslim di 
Indonesia sudah menjadi kenyataan sejak berabad lalu. 
Meskipun sebagian besar umat Islam Indonesia menganut 
Mazhab Syafi’i namun ada juga yang mengambil mazhab lain. 
Bahkan penganut Islam Syi’ah, Ahmadiyah, abangan pun ada. 
Menurut Gus Dur tingkat penghayatan umat pun amat 
bervariasi dari yang hanya berkhitan dan bersyahadat waktu 
menikah sampai yang bertingkat kiai. Namun, ujar Gus Dur 
kemajemukan itu harus tetap terikat dalam ukhuwah islamiyah 
atau ikatan persaudaraan Islam. Artinya, sesama umat Islam 
yang berbeda aliran maupun tingkatan pemahaman seharusnya 
saling menyambung rasa saling hormat.

Gus Dur sangat tidak suka terhadap istilah Islam KTP atau 
Islam abangan. Baginya, semua orang yang sudah bersyahadat 
dan berkelakuan baik ya muslim. Mereka yang ketika bertamu 
masih memberi salam dengan ucapan kula nuwun (Jawa), punten 
(Sunda) atau selamat pagi, ya muslim karena syahadatnya.

” Kalau begitu Gus, ucapan assalamu alaikum bisa diganti 
dengan selamat pagi?”  tanya Edy Yurnaedi.
” Ya bagaimana kalau petani atau orang-orang lugu itu 
bisanya bilang kula nuwun, punten atau selamat pagi? Mereka 
kan belum terbiasa mengucapkan kalimat dalam bahasa Arab 
kayak kamu?” 

Itulah inti pendapat Gus Dur dalam wawancara dengan Edy 
Yurnaedi. Edy mengusulkan wawancara itu dimuat dalam 
Majalah Amanah edisi depan dengan penekanan bahwa Gus Dur 
menganjurkan mengganti assalamu alaikum dengan selamat 
pagi. Alasannya cukup konyol. Menurut Edy, Majalah Amanah 
yang kala itu baru berumur satu tahun harus membuat 
gebrakan dalam rangka menarik perhatian pasar. ” Kan nanti 
Gus Dur akan membantah. Dan bantahan itu kita muat pada 
edisi berikut. Nah, jadi malah ramai kan? Ini cuma taktik 
pasar kok,”  Edy ngotot.

Drs H Kafrawi Ridwan MA yang waktu itu jadi pemimpin 
redaksi lebih suka mengambil sikap momong kepada yang muda. 
Maka usul Edy ditawarkan kepada rapat. Tentu ada yang pro 
dan kontra. Celakanya lebih banyak yang pro. Mereka 
beralasan seperti Edy, cuma taktik pemasaran, dan Gus Dur 
mereka yakini akan membantah.

Dan terbitlah edisi assalamu alaikum itu. Benar saja, 
masyarakat riuh. Gus Dur menuai kecaman. Oplah majalah 
terdongkrak. Dan Edy melanjutkan aksinya dengan 
mewawancarai kembali Gus Dur. Diharapkan Gus Dur akan 
membantah bahwa dia telah menganjurkan mengganti assalamu 
alaikum dengan selamat pagi. Tapi Edy amat terkejut ketika 
Gus Dur dengan enteng menjawab, buat apa membantah. ” 
Biarin, gitu aja kok repot.” 

Edy pulang ke kantor dengan wajah lesu. Oleh pemimpin 
redaksi dia dianggap telah gagal menyukseskan strategi 
pemasaran. Memang, oplah naik tetapi makan korban berupa 
terjadinya fitnah di tengah masyarakat. Secara pribadi saya 
pernah minta Gus Dur berbuat sesuatu untuk menghentikan 
fitnah yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Tapi dasar Gus 
Dur. Dia tetap pada pendirian akan membiarkan fitnah itu 
berhenti sendiri.

Sayang fitnah itu ternyata berumur panjang. Setelah Gus 
Dur wafat kemarin masih terdengar suara penyiar yang 
mengatakan Gus Dur pernah ingin mengganti assalamu alaikum 
dengan selamat pagi. Maafkan kami para wartawan dan redaksi 
Majalah Amanah yang telah bermain api yang ternyata 
membakar kami sendiri. Gus Dur sendiri tetap berjiwa besar, 
tetap bersahabat, meskipun banyak yang terpaksa salah 
faham. Gus Dur tidak pernah mengusulkan mengganti assalamu 
alaikum dengan selamat pagi. Untuk hal ini saya akan 
menjadi saksi bagi Gus Dur.

Dia, dengan kebesaran jiwa hanya ingin mengajak siapa pun 
untuk menghargai sesama muslim yang bisanya mengucap salam 
dengan kula nuwun, punten, atau selamat pagi. Ini adalah 
sikap dasar Gus Dur yang menyintai semua muslim dari yang 
hanya bermodal khitan sampai yang bergelar kyai. Bahkan 
ukhuwwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan) yang 
berkembang dari iman membuat Gus Dur memiliki rasa cinta 
kepada siapa saja, tak pandang ras, agama, maupun status 
sosial. Sugeng tindak, Gus, insya Allah kula ndherek.

http://suaramerdeka.com/v1/index.
php/read/cetak/2010/01/02/93511/Kula.Ndherek..Gus

Ila hadlrati sayyidina al-musthafa Muhammad saw, wa ila 
ruhi kh. Abdurrahman Wahid, alfatiha....






[Non-text portions of this message have been removed]




Kirim email ke