Tiga Lembaga Asing Intervensi UU

Tiga lembaga yang berbasis di Amerika Serikat (AS) tercatat paling
banyak menjadi konsultan pemerintah dalam merancang 72 undang-undang
(UU) yang disinyalir Badan Intelijen Nasional (BIN) disusupi
kepentingan asing.


Ketiga lembaga tersebut adalah World Bank (Bank Dunia), International
Monetary Fund (IMF), dan United States Agency for International
Development (USAID). “Ketiganya terlibat sebagai konsultan, karena
memberikan pinjaman kepada pemerintah untuk sejumlah program di bidang
politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan rakyat.
Makanya, mereka bisa menyusupkan kepentingan asing dalam penyusunan UU
di bidang-bidang tersebut,” kata Anggota DPR dari FPDI-P Eva Kusuma
Sundari kepada SP di Jakarta, Jumat (27/8).


Menurut dia, Bank Dunia antara lain terlibat sebagai konsultan dalam
sejumlah program pemerintah di sektor pendidikan, kesehatan,
infrastruktur, pengelolaan sumber daya alam dan pembangunan berbasis
masyarakat. 


Keterlibatan Bank Dunia tersebut, membuat pemerintah mengubah sejumlah
UU antara lain UU Pendidikan Nasional (No 20 Tahun 2003), UU Kesehatan
(No 23 Tahun 1992), UU Kelistrikan No 20 Tahun 2002, dan UU Sumber Daya
Air (No 7 Tahun 2004).

Konsultasi Bank Dunia yang menyusup ke UU Pendidikan melahirkan program
bantuan operasional sekolah (BOS) yang dibiayai utang luar negeri,
begitu juga dengan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)
Mandiri. “Tapi pemerintah punya utang cukup besar ke Bank Dunia melalui
anak usahanya IBRD (International Bank for Reconstruction and
Development) dan IDA (International Development Association) untuk
membiayai program BOS dan PNPM Mandiri,” ujar Eva. 


Dari data yang dihimpun SP, pinjaman IBRD untuk Indonesia berjangka
waktu 20 tahun dengan masa tenggang (grace period) 5 tahun. Pada 2007,
Bank Dunia menginvestasikan US$ 1,16 miliar di Indonesia untuk 28
proyek di bidang infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan pembangunan
berbasis masyarakat lainnya, di mana US$ 771 juta dolar merupakan
pinjaman IBRD dan US$ 389 juta dolar pinjaman IDA. Untuk 2008-2010,
pinjaman dari IBRA untuk membiayai program BOS sekitar US$ 600 juta.

http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=23851




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke