Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr
yang sampai sekarang sudah dikunjungi  lebih dari   638   240    kali



 = = = =   = = =   = = =

Monumen dan patung Bung Karno
di Surabaya dan Jakarta

Berikut di bawah ini disajikan berita-berita tentang didirikannya Monumen
Kelahiran Bung Karno di Surabaya, yang dikutip dari beberapa sumber.
Peristiwa yang diungkap dalam berita itu merupakan hal yang penting bagi
pelurusan sejarah Bung Karno. Juga mempunyai arti tersendiri, ketika  negara
dan bangsa kita sedang dalam situasi yang tidak menentu, dalam keadaan
terpuruk, dan ruwet atau kacau di berbagai bidang seperti sekarang ini.
Berita-berita tersebut adalah sebagai berikut :
Surabaya Bangun Monumen Kelahiran Bung Karno
Minggu, 29 Agustus 2010

TEMPO Interaktif, Surabaya - Pemerintah Kota Surabaya membangun monumen
kelahiran Bung Karno di Jalan Pandean IV/40, Kelurahan Peneleh, Kecamatan
Genteng, Surabaya. Peletakan batu pertama pembangunan monumen tersebut
dilakukan oleh Wali Kota Surabaya, Bambang Dwi Hartono, Minggu (29/8).

Ketua panitia acara pembangunan monumen Bung Karno, Peter A Rohi mengatakan
monumen itu untuk menandakan tempat kelahiran Soekarno. Rencananya, monumen
tersebut akan diresmikan pada 6 Juni 2012 mendatang. "Kami hanya membuat
tugu kecil sebagai penanda, sebab tempatnya sempit dan tak memungkinkan
untuk membuat monumen yang besar," kata Peter.

Peter menambahkan, pembangunan monumen Bung Karno itu juga dimaksudkan untuk
meluruskan anggapan yang menyebutkan bahwa presiden pertama Indonesia
tersebut lahir di Blitar, Jawa Timur. Padahal dalam penelusuran sejarah,
kata Peter, Bung Karno dilahirkan di kampung Pandean. "Kami ingin meluruskan
sejarah," ujar Peter.

Berdasarkan penelusuran yang dia lakukan, ayah Sokarno, R Soekeni
Sosrodiharjo yang juga seorang guru, dipindah dari Singaraja, Bali ke
Sekolah Sulung Surabaya pada akhir 1900. Pada saat itu istri Soekeni, Nyoman
Rai Srimben tengah hamil tua. "Dipastikan Bung Karno lahir di Surabaya,"
imbuh Peter.

Selain itu, ujar Peter, putra-putri Bung Karno juga membenarkan bahwa
ayahnya lahir di Kota Pahlawan. Sebab suatu ketika Guruh Soekarnoputra
pernah menyatakan pada Bambang Dwi Hartono bahwa ayahnya lahir di kampung di
tepi Kali Mas itu. "Banyak referensi yang menyatakan Bapak lahir di Blitar,
itu keliru," kata Bambang menirukan Guruh.

Menurut Peter, biaya pembangunan monumen itu berasal dari urunan para
pecinta dan pengagum Bung Karno. Peter sebenarnya sempat meminta bantuan
dana kepada sejumlah pengusaha namun tidak mendapat respon. "Akhirnya kami
urunan, dan terwujudlah monumen ini," kata Peter yang juga wartawan senior.

Sebelum peletakan batu pertama, acara itu didahului dengan seminar bertema
"Soekarno dan Surabaya" di Balai Pemuda, Sabtu sore kemarin. Seminar itu
mendatangkan pembicara Dr Yuke Ardhiati, Dr Nurinwa Hendrowinoto, Dr Tjuk
Kasturi Sukiadi dan Bambang Budjono.

* * *
Luruskan Sejarah Kelahiran Soekarno

Minggu, 29 Agustus 2010
SURABAYA, KOMPAS.com--Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono akan mengirim
surat ke Sekretaris Negara (Sekneg) terkait pelurusan sejarah tempat
kelahiran proklamator RI Soekarno (Bung Karno) yang berasal dari Surabaya
dan bukan dari Blitar.
"Kami akan mengirim surat ke Sekneg terkait itu," kata Bambang di acara
Seminar Pelurusan Sejarah Tempat Kelahiran Bung Karno yang digelar di Balai
Pemuda Surabaya, Sabtu.


Bahkan dalam pidato Bung Karno, lanjut dia, dikatakan Bung Karno sendiri
mengaku sebagai warga Surabaya. Namun, lanjut dia, sejarah tersebut
diputarbalikkan, sehingga seolah-olah Bung Karno lahir di Blitar.
Menurut dia, gambaran menghargai kepahlawan di Indonesia hingga saat ini
masih kurang.

* * *

"Bung Karno Arek Suroboyo"
Sabtu, 28 Agustus 2010
Surabaya (ANTARA News) - "Banyak di antara kita yang tidak mengetahui bahwa
semangat perjuangan dan jiwa seni Sang Pemimpin Besar Revolusi Indonesia,
Soekarno (Bung Karno) adalah juga `Arek Suroboyo` (pemuda asal Kota
Surabaya)," kata Peneliti dan pengajar di Universitas Trisakti Jakarta, Yuke
Ardhiati.

Yuke mengatakan bahwa setiap bulan Juni dan Agustus, hampir dapat dipastikan
"ruh Soekarno" hadir di bumi Indonesia.

"Bulan Juni menjadi bulan khusus baginya (hari kelahirannya), bulan Agustus
adalah bulan diproklamasikan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia," katanya di
acara Seminar Pelurusan Sejarah Tempat Kelahiran Bung Karno yang digelar di
Balai Pemuda Surabaya, Sabtu.

Menurut dia, si Arek Suroboyo itu telah lama "Kondur Sowan ing Ngarsaning
Gusti Allah" (berpulang ke Rahmatullah atau wafat, red), namun suaranya yang
menggelegar di setiap kesempatan menyapa rakyatnya, masih selalu bergema
menggaungkan resonansi di setiap sudut hati.

Eksplorasi Yuke untuk mengungkapkan semangat "Arek Suroboyo" yang terpantul
dari jiwa Soekarno, diterapkan dalam teori arketipe tentang konsep diri dari
gagasan Carl Gustav Jung.

Arketipe, sebagai refleksi sifat dominan dari karakteristik manusia. Dalam
diri Soekarno tertanam gabung dari berbagai arketipe yaitu "mother", "hero"
dan "mona" berpadu sekaligus.

"Soekarno memiliki sifat menyerupai rahim ibu. Sebagai penyedia sebuah
kehadiran, ada semangat patriotik. Namun sekaligus memiliki daya pesona yang
luar biasa dari dirinya," paparnya.

Pengalaman dan kebiasaan Soekarno sejak usia muda, kata dia, dijelaskan
dalam lima hal, yakni timangan (kekudangan orang tua), kecintaan terhadap
unsur air, menolak nuansa kolonialisme, cinta romantisme terhadap negara,
citra kemegahan budaya Jawa Kuno.

"Dan terakhir pemuda berjiwa patriot," katanya.

Dalam semua penulisan biografi Soekarno sebelum tahun 1970, semuanya menulis
Bung Karno lahir di Surabaya.

Akhir tahun 1900, R.Soekani Sosrodiharjo (ayahanda Soekarno)
dipindahtugaskan dari Singaraja Bali sebagai guru sekolah rakyat Sulung,
Surabaya.

Di Surabaya itulah istrinya, Nyoman Rai Srimben melahirkan seorang putera
yang diberi nama Kusno yang kemudian menjadi Soekarno pada 6 Juni 1901.





Demikianlah berita-berita yang diambil dari beberapa  sumber.

Di bawah berikut ini adalah sekadar berbagai tanggapan mengenai
berita-berita tersebut di atas :



--  Dilihat dari berbagai segi dan sudut pandang,  pembangunan monumen
kelahiran Bung Karno di Surabaya ini merupakan peristiwa yang penting.
Sebab, selama ini masih sedikit sekali monumen atau peninggalan-peninggalan
bersejarah tentang kehidupan dan perjuangan Bung Karno yang bisa dijadikan
oleh rakyat untuk mengenang pemimpin besar bangsa kita itu beserta gagasan
agungnya dan ajaran-ajaran revolusionernya.



Memang, sudah banyak kalangan dalam masyarakat yang mengenal  museum dan
makam Bung Karno di Blitar,  yang tiap harinya sepanjang tahun dikunjungi
banyak orang, bahkan seringkali sampai ribuan orang.



Walaupun tempat pembuangannya di Endeh (Flores) , dan bekas tempat
tinggalnya di Bengkulu juga menjadi perhatian banyak orang, namun masih
banyak peninggalan sejarah hidup Bung Karno lainnya yang  patut sekali
dikenang dan dihormati oleh para pencintanya atau pengagumnya, termasuk
masyarakat luas lainnya.



Didirikannya monumen kelahiran Bung Karno di Surabaya adalah penting bukan
saja karena kota ini merupakan tempat lahir Bung Karno melainkan juga karena
di kota inilah ia mulai dalam usia muda belia belajar politik dan mengenal
Marxisme atau sosialisme dari pemimpin besar gerakan Islam Haji Oemar Said
Tjokroaminoto.



Jadi, Surabaya adalah tempat beriwayat bagi Bung Karno selagi masih muda
belia, seperti halnya kota Bandung, sebelum ia dibuang oleh pemerintah
kolonial Belanda ke Endeh dan Bengkulu.



Didirikannya monumen kelahiran Bung Karno di Surabaya baru-baru ini menambah
sarana bagi banyak orang untuk mengenang kembali jasa-jasa besar tokoh agung
Pemimpin Besar Revolusi (PBR) Bung Karno, yang merupakan  salah satu dari
tokoh-tokoh yang menjadikan Surabaya sebagai Kota Pahlawan



Karena itu, didirikannya monumen kelahiran Bung Karno di Kota Pahlawan
(Surabaya) ini bisa mempunyai arti simbolis, yang  menjadikan satunya tokoh
Pemimpin Besar Revolusi ini (Bung Karno) dengan kota yang melahirkan Hari
Pahlawan 10 November.



Pembangunan monumen di Surabaya ini menyusul peristiwa penting lainnya
beberapa minggu sebelumnya, yaitu didirikannya patung besar Bung Karno
(lebih dari 9 meter)  di kampus Universitas Bung Karno di Jakarta, yang
menarik perhatian banyak orang.



Pembangunan monumen di Surabaya dan didirikannya patung besar di Universitas
Bung Karno mengindikasikan bahwa opini publik terhadap Bung Karno, yang
pernah lebih dari 32 tahun diracuni oleh Orde Baru, sudah mulai berobah
sedikit demi sedikit.



Mengingat situasi di Indonesia dewasa ini, yang betul-betul sudah terlalu
sakit parah dan payah dengan segala macam kerusakan moral yang menimbulkan
bermacam-ragam kejahatan (antara lain korupsi dan pelanggaran hukum,
kongkalikong dengan neo-liberalisme) maka opini yang pro-ajaran-ajaran Bung
Karno adalah penting untuk bangsa kita.



Untuk itu, banyaknya sarana untuk mengenal kebesaran sejarah perjuangan Bung
Karno  dan ajaran-ajaran revolusionernya – yang bisa berupa buku-buku,
kaset-kaset berisi pidato-pidatonya, lagu-lagu, foto-foto bersejarahnya,
monumen atau patung-patungnya  --  perlu diperbanyak di mana-mana oleh
inisiatif masyarakat, seperti yang dilakukan  oleh berbagai kalangan di
Surabaya atau di Universitas Bung Karno di Jakarta.



Tersebarnya  secara seluas mungkin ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno
adalah salah satu di antara unsur-unsur penting dan juga investasi utama
dalam usaha bersama untuk membangun kekuatan besar yang bisa mendorong
revolusi rakyat sesuai dengan gagasan-gagasan Pemimpin Besar Revolusi Bung
Karno, dalam situasi dan kondisi sekarang.



Penyebaran ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno seluas mungkin dan sebanyak
mungkin adalah tugas utama bagi seluruh kekuatan demokratis di Indonesia,
yang menginginkan adanya perubahan besar-besaran dan fundamental di negeri
kita, demi kepentingan rakyat, terutama rakyat miskin.



Paris, 31 Agustus 2010



  1.. Umar Said


* * *


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke