NU Mazhab Revisionis
4 Mei 2010 12:21:08 | Share
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.gusmus.net/page.php?mod=
dinamis&sub=11&id=1151>  

 Oleh: Muhammad Soffa Ihsan

Masih terngiang-ngiang dalam benak saya saat silaturahmi ke rumah KH
Said Aqiel Siradj di Ciganjur beberapa tahun silam. Dia bilang,"Ibu saya
mengharapkan saya bisa menjadi ketum PBNU. Kalau jabatan menteri agama,
ibu saya malah tidak terlalu mendukung." 

Saat itu, memang lagi santer kalau kyai asal Cirebon ini diisukan akan
diangkat menjadi menteri agama di jajaran kabinet SBY. Ya, kata-kata
tersebut kini telah mewujud. Prof. Dr. KH Said Aqiel Siradj MA telah
terpilih menjadi ketua tanfidziyah PBNU bersama Dr KH Sahal Mahfudz
sebagai rais am hasil Muktamar NU ke-32 di Makasar yang barusan usai. 

Empat belas tahun belajar di Timur Tengah telah mengantarkan sosok Kang
Said sebagai salah satu intelektual muslim Indonesia dan tokoh lintas
agama. Capaian ini pernah dikomentari Dr. Hidayat Nur Wahid,"Said Aqiel
termasuk mahasiswa kutu buku. Semasa di Makkah, ia lebih sering
ditemukan di tempat-tempat ilmiah dan sulit menemukannya di forum-forum
gerakan/organisasi." Gus Dur juga pernah melontarkan kata-kata
kekaguman,"Dia doktor muda NU yang berfungsi sebagai kamus berjalan
dengan disertasi lebih dari 1000 referensi." 

Revisionis Aswaja 
Aswaja pada awal sejarahnya dipandang sebagai madzhab, yaitu sebagai
aliran Asy'ariyah dalam teologi dan menganut madzhab empat dalam fikih.
Seperangkat aturan dan norma yang ada dalam Asy'ariah dan empat madzhab
tersebut dijadikan referensi terutama ubudiyah dan cara pandang tata
kehidupan warga NU. 

Nah, gebrakan awal Kang Said ketika pulang ke tanah air adalah
menggulirkan wacana perlunya umat Islam Indonesia melakukan rekonstruksi
pemahaman Aswaja. Baginya, hal itu dipandang perlu mengingat selama ini
umat Islam Indonesia masih belum mampu mencairkan sekat-sekat pemahaman
keislaman. Hebatnya, kritik Aswaja yang dilakukannya dengan pendekatan
sejarah Islam ternyata membawa trend tersendiri di kalangan santri.
Booming Said Aqiel di pertengahan tahun 1990-an berhasil memaksa
komunitas pesantren untuk belajar sejarah Islam. Padahal, selama
berabad-abad, pesantren di Indonesia didominasi oleh kajian fikih dan
gramatika Arab. 

Gebrakan pemikirannya bahkan sempat menuai reaksi keras dari komunitas
kyai pesantren. Dia pernah "diadili" puluhan kyai dalam forum halaqah.
Kang Said juga pernah mendapatkan surat teguran dari kyai-kyai Jawa
Timur. Berbagai label juga sempat menghiasi lembar namanya; "agen
Syiah", "kafir", "agen Yahudi", "neo Mu'tazilah" dan lainnya. Bahkan
muncul juga usulan agar Universitas Umm al-Qura mencopot gelar
doktoralnya. Tanggapan Kang Said,"Apapun gelar yang diberikan, saya
tidak peduli. Jangankan gelar doktoral, gelar haji pun jika mau dicopot
akan saya berikan." 

Menurut Kang Said--sebagaimana terangkum dalam dua bukunya Ahlussunnah
Wal Jamaah Dalam Lintasan Sejarah dan Tasawuf Sebagai Kritik
Sosial--watak Aswaja akan selalu bisa beradaptasi dalam segala situasi
dan kondisi. Posisi tawassuth atau moderasi ini tentu bukanlah harga
mati. Jalan tengah ini bisa diibaratkan dengan titik tengah biji
kelereng yang bulat. Makin besar bulatannya, titik tengahnya pun kian
besar pula. Demikian pula, makin berkembang konsep moderasi tersebut,
makin berkembang pula daya jangkau dan potensinya mengikuti perkembangan
zaman. 

Inilah saatnya memaknai Aswaja sebagai manhaj taghayyur al-ijtima
(metode perubahan sosial). Ini berarti pola perubahan yang berdimensi
sosial-kemasyarakatan-kemanusiaan yang sesuai dengan nafas perjuangan
Rasulullah yang dilanjutkan para sahabat penerusnya sampai di era
kontemporer. 

Menurut Kang Said, Aswaja sebagai manhaj al-fikr adalah sebuah metode
berpikir yang "eklektik", yakni mencoba mencari titik temu dari sekian
perbedaan dengan pembacaan jeli, sampai melahirkan tawaran alternatif.
Pemikiran Aswaja ini akan selalu terbingkai dalam landasan tawassuth,
tawazun, ta'adul, amar ma'ruf nahi munkar, istiqamah dan tasamuh. 

NU yang Beradab 
Kendati belajar di Arab Saudi yang Wahabi, namun Kang Said justru
mengedepankan pemikiran yang toleran, akomodatif dan universalis. Ini
mengherankan bila dibanding kebanyakan mereka yang pernah belajar di
Arab Saudi dan kemudian menjadi "jurkam" Wahabi di tanah air. Apalagi,
saat ini di negeri kita tengah marak gerakan Wahabiyah yang begitu
militan menyebarkan pemahaman Islam yang tidak saja puritan, tapi bahkan
radikal. 

Mengelola NU memang bukan sekedar terpaku pada pemikiran. Ada bejibun
tuntutan agar NU mampu mewujudkan kemashlahatan yang lebih konkrit,
terutama menyangkut ekonomi. Belum lagi mengelola "syahwat politik"
warga NU yang masih membara sehingga perlunya menguatkan kembali khithah
1926. Kang Said memang sudah bertekad untuk tidak membawa NU ke ranah
politik. 

Tapi ingat! Justru berangkat dari landasan berfikir yang tepat akan
melahirkan praksis yang jitu pula. Tidak ada peradaban yang tidak
terlahir dari pemikiran. Berkali-kali Kang said menyatakan bahwa Islam
tidak sekedar akidah dan syariah, tapi juga tsaqafah dan hadharah
(peradaban). Dalam kata-katanya yang kerap diobrolkan pada saya,"Kita
ini "non muslim' dalam soal tsaqafah dan hadharah. Sedangkan orang Barat
"non muslim" dalam soal akidah dan syariah." Kang Said senantiasa
memimpikan agar umat Islam berperadaban, tidak hanya "berkelahi" dalam
soal akidah dan syariah. 

NU sebagai "teks/nash" merupakan fakta dinamis dan historis--meminjam
ungkapan Hassan Hanafi--mempunyai tudung nilai-nilai referensial yang
dihayati bersama oleh masyarakat (makhzun nafsi 'inda al-jamahir).
Kepemimpinan Kang Said kiranya bisa menancapkan pemikiran revisionis
Aswaja-nya untuk membawa NU ke manhaj al-harokah (praksis) dalam jihad
kebangsaan dan kerakyatan yang bersinar keberadaban. Semoga. (Tulisan
ini juga dimua di Majalah MataAir edisi 36 "Radikalisme Masuk Desa)

Penulis adalah Redaktur Pelaksana Majalah MataAir.

<blocked::http://www.epcos.com>  P Please consider the environment
before printing this e-mail or attachement(s)

_



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke