saya pribadi manusia memang tempat kesalahan, karena itu terjadinya fluktuasi keimanan adalah hal wajar, apalagi Allah mudah membolak-balik hati yg dikehendaki-NYA. Selama ini yg saya lakukan adalah berusaha unt slalu ada progress ke arah positif di sertai mohon perlindungan dan pertolongan Allah. Dan saya rasa untuk secara penuh dekat suatu hal yg sulit, kecuali org2 yg memang Allah kehendaki, bagi org awam spt saya, mengurangi kadar saja sdh bagus, sbg contoh, jika dahulu kita takut tdk bisa mkn, seiring waktu dan berproses kadar kecemasan itu berkuurang, itu sdh suatu rahmat,yg saya hayati,manusia di bumi sdh pada fungsi masing2, karena itu kita hanya bisa secara maksimal berussaha mengenal Allah melalui jalur yg disediakan dan secara maksimal.. Selanjutnya pasrahkan pada Allah, apakah kita dikenal ato tidak....
On Mon Aug 30th, 2010 8:13 PM ICT Mujiarto Karuk wrote: > > > > >MENGENAL ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA > > > > > >Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah >menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. QS. >Al-Baqarah [2] : 21. > > > >Tak kenal maka tak >sayang, demikian bunyi pepatah, banyak orang mengaku mengenal Allah Subhanahu >Wa Ta’ala, tapi mereka tidak cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, buktinya, >mereka banyak melanggar perintah dan larangan Allah. Sebabnya, ternyata mereka >tidak mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebenarnya. > > > >Sekilas, membahas persoalan bagaimana mengenal Allah Subhanahu >Wa Ta’ala bukan sesuatu yang asing, bahkan mungkin ada yang mengatakan untuk >apa hal yang demikian itu dibahas ?, Bukankah kita semua telah mengetahui dan >mengenal pencipta kita ?, Bukankah kita telah mengakui itu semua ? > > > >Kalau mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebatas di masjid, di >majelis dzikir, atau di majelis ilmu atau mengenal-Nya ketika tersandung batu, >ketika mendengar kematian, atau ketika mendapatkan musibah dan mendapatkan >kesenangan, barangkali akan terlontar pertanyaan demikian. > > > >Yang dimaksud dalam pembahasan ini yaitu mengenal Allah >Subhanahu Wa Ta’ala yang akan membuahkan rasa takut kepada-Nya, tawakal, >berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan hanya kepada-Nya. Sehingga kita >bisa mewujudkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa yang dilarang >oleh-Nya. > > > >Yang akan >menenteramkan hati ketika orang-orang mengalami gundah-gulana dalam hidup, >mendapatkan rasa aman ketika orang-orang dirundung rasa takut dan akan berani >menghadapi segala macam problema hidup. > > > >Faktanya, banyak yang >mengaku mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetapi mereka selalu bermaksiat >kepada-Nya siang dan malam. Lalu apa manfaat kita mengenal Allah kalau >keadaannya demikian ?, Dan apa artinya kita mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala >sementara kita melanggar perintah dan larangan-Nya ? > > > >Maka dari itu mari kita sama sama mengoreksi pada diri kita >masing masing dengan membabaca dan menghayati pembahasan tentang masalah ini, >agar kita mengerti hakikat mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan bisa memetik >buahnya dalam wujud amal. > > > >Mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala ada empat cara yaitu : > >ü Mengenal >wujud Allah, > >ü mengenal >Rububiyah Allah, > >ü mengenal >Uluhiyah Allah, > >ü dan >mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah. > > > >Keempat cara ini telah disebutkan Allah di dalam Al Qur’an dan >di dalam As Sunnah baik global maupun terperinci. > > > >Ibnul Qoyyim dalam kitab Al Fawaid hal 29, mengatakan: >“Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengajak hamba-Nya untuk mengenal diri-Nya di dalam >Al Qur’an dengan dua cara yaitu : > > > >Pertama, melihat >segala perbuatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan yang kedua, melihat dan >merenungi serta menggali tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala >seperti dalam firman-Nya :Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi >dan pergantian siang dan malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi >orang-orang yang memiliki akal. (QS. Al- Imran [3] : >190) > > > >Juga dalam firman-Nya yang lain: > > > >Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi >dan pergantian malam dan siang, serta bahtera yang berjalan di lautan yang >bermanfaat bagi manusia. (QS. Al-Baqarah [2] : >164) > > > >1. MENGENAL WUJUD ALLAH. > > > >Yaitu beriman bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu ada. Dan adanya Allah telah >diakui oleh >fitrah, akal, panca indera manusia, dan ditetapkan pula oleh syari’at. > > > >Ketika seseorang melihat makhluk ciptaan Allah yang berbeda-beda >bentuk, warna, jenis dan sebagainya, akal akan menyimpulkan adanya semuanya itu >tentu ada yang mengadakannya dan tidak mungkin ada dengan sendirinya. > > > >Dan >panca indera kita mengakui adanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala di mana kita >melihat ada orang yang berdoa, menyeru Allah dan meminta sesuatu, lalu Allah >mengabulkannya. Adapun tentang pengakuan fitrah telah disebutkan oleh Allah >Subhanahu >Wa Ta’ala di dalam Al Qur’an > > > > >Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu >mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil >kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? >Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan >yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami >(bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan), atau >agar kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya orang-orang tua kami telah >mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan >yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena >perbuatan orang-orang yang sesat dahulu ? (QS. Al A’raf [7] : >172 - 173) > > > >Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa fitrah >seseorang mengakui adanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan juga menunjukkan, bahwa >manusia dengan fitrahnya mengenal Rabbnya. Adapun bukti syari’at, kita >menyakini bahwa syari’at Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang dibawa para Rasul yang >mengandung maslahat bagi seluruh makhluk, menunjukkan bahwa syari’at itu datang >dari sisi Dzat yang Maha Bijaksana. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah >Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin hal 41-45) > > > >2. MENGENAL RUBUBIYAH ALLAH > > > >Rububiyah Allah adalah mengesakan Allah dalam tiga perkara >yaitu penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya. (Lihat Syarah >Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin hal 14) > > > >Maknanya, menyakini bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan, >menghidupkan, mematikan, memberi rizki, mendatangkan segala mamfaat dan menolak >segala mudharat. Dzat yang mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik hukum dan >selainnya dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah. > > > >Dari >sini, seorang mukmin harus meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang menandingi >Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam hal ini. Allah mengatakan : > > > > Katakanlah >! Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya >segala >sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun >yang setara dengan-Nya. (QS. >Al-Ikhlash [112] : 1-4) > > > >Maka ketika seseorang meyakini bahwa selain Allah Subhanahu Wa >Ta’ala ada yang memiliki kemampuan untuk melakukan seperti di atas, berarti >orang tersebut telah mendzalimi Allah dan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya. > > > >Dalam masalah rububiyah Allah, sebagian orang kafir jahiliyah >tidak mengingkarinya sedikitpun dan mereka meyakini bahwa yang mampu melakukan >demikian hanyalah Allah semata. Mereka tidak menyakini bahwa apa yang selama >ini mereka sembah dan agungkan mampu melakukan hal yang demikian itu. > > > >Lalu >apa tujuan mereka menyembah Tuhan yang banyak itu ? Apakah mereka tidak >mengetahui jikalau ‘tuhan-tuhan’ mereka itu tidak bisa berbuat apa-apa ? Dan >apa yang mereka inginkan dari sesembahan itu ? > > > >Allah telah menceritakan di dalam Al Qur’an bahwa mereka >memiliki dua tujuan. > > > >Pertama, >mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya sebagaimana firman >Allah : > > > >Ingatlah, >hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang >mengambil pelindung selain Allah (berkata): Kami tidak menyembah mereka >melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. >Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka >berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang >pendusta dan sangat ingkar. (Az Zumar [39] : 3 ) > > > >Kedua, agar mereka >memberikan syafa’at (pembelaan ) di sisi Allah. Allah berfirman : > > > > > >Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang >tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) >kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada >kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada >Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di >bumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan >(itu). (QS. Yunus [10] : >18, Lihat kitab Kasyfusy Syubuhat karya Syaikh Muhammad >bin Abdul Wahab) > > > >Keyakinan sebagian orang kafir terhadap tauhid rububiyah Allah >telah dijelaskan Allah dalam beberapa firman-Nya : > > > >Dan >sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan >mereka, niscaya mereka menjawab: "Allah", maka bagaimanakah mereka >dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?, (QS. >Az-Zukhruf [43] : 87) > >Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: >"Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan >bulan?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", maka betapakah >mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). (QS. >Al-Ankabut [29] : 61) > > >Dan >sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan >air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" >Tentu mereka akan menjawab: "Allah". >Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka >tidak memahami (nya). (QS. Al-Ankabut [29] : 63) > > > >Demikianlah Allah menjelaskan tentang keyakinan mereka terhadap >tauhid Rububiyah Allah. Keyakinan mereka yang demikian itu tidak menyebabkan >mereka masuk ke dalam Islam dan menyebabkan halalnya darah dan harta mereka >sehingga Rasulullah mengumumkan peperangan melawan mereka. > > > >Makanya, jika kita melihat kenyataan yang terjadi di >tengah-tengah kaum muslimin, kita sadari betapa besar kerusakan akidah yang >melanda saudara-saudara kita. Banyak yang masih menyakini bahwa selain Allah, >ada yang mampu menolak mudharat dan mendatangkan mamfa’at, meluluskan dalam >ujian, memberikan keberhasilan dalam usaha, dan menyembuhkan penyakit. >Sehingga, mereka harus berbondong-bondong meminta-minta di kuburan orang-orang >shalih, atau kuburan para wali, atau di tempat-tempat keramat. > > > >Mereka harus pula mendatangi para dukun, tukang ramal, dan >tukang tenung atau dengan istilah sekarang paranormal. Semua perbuatan dan >keyakinan ini, merupakan keyakinan yang rusak dan bentuk kesyirikan kepada >Allah. > > > >Ringkasnya, tidak ada yang bisa memberi rizki, menyembuhkan >segala macam penyakit, menolak segala macam marabahaya, memberikan segala macam >manfaat, membahagiakan, menyengsarakan, menjadikan seseorang miskin dan kaya, >yang menghidupkan, yang mematikan, yang meluluskan seseorang dari segala macam >ujian, yang menaikkan dan menurunkan pangkat dan jabatan seseorang, kecuali >Allah. Semuanya ini menuntut kita agar hanya meminta kepada Allah semata dan >tidak kepada selain-Nya. > > > > > > > >3. MENGENAL ULUHIYAH ALLAH > > > >Uluhiyah >Allah adalah mengesakan segala bentuk peribadatan bagi Allah, seperti berdo’a, >meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta, dan selainnya >dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah Shallallahu >‘Alaihi Wasallam. > > > >Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain Allah termasuk >perbuatan dzalim yang besar di sisi-Nya yang sering diistilahkan dengan syirik >kepada Allah. Allah berfirman di dalam Al Qur’an : > > > >Hanya kepada-Mu ya >Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allah kami meminta. (QS. >Al Fatihah [1] : 5) > > > >Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah membimbing >Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dengan sabda beliau : > > > >“Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada Allah dan >apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah.” (HR. >Tirmidzi) > > > >Allah berfirman : > > > > >Dan sembahlah Allah >dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun (QS. >An-Nisa [4] : 36) > > > >Allah berfirman : > > > >Hai sekalian >manusia sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang >sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. >Al Baqarah [21] : 21) > > > >Dengan ayat-ayat dan hadits di atas, Allah dan Rasul-Nya telah >jelas mengingatkan tentang tidak bolehnya seseorang untuk memberikan >peribadatan sedikitpun kepada selain Allah karena semuanya itu hanyalah milik >Allah semata. > > > >Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah >berfirman kepada ahli neraka yang paling ringan adzabnya. ‘Kalau seandainya >kamu memiliki dunia dan apa yang ada di dalamnya dan sepertinya lagi, apakah >kamu akan menebus dirimu? Dia menjawab ya. Allah berfirman: ‘Sungguh Aku telah >menginginkan darimu lebih rendah dari ini dan ketika kamu berada di tulang >rusuknya Adam tetapi kamu enggan kecuali terus menyekutukan-Ku.” ( HR. >Muslim dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu ) > > > >Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Allah >berfirman dalam hadits qudsi: Saya tidak butuh kepada sekutu-sekutu, maka >barang siapa yang melakukan satu amalan dan dia menyekutukan Aku dengan >selain-Ku maka Aku akan membiarkannya dan sekutunya. (HR. Muslim dari Abu >Hurairah Radhiallahu ‘Anhu ) > > > >Contoh konkrit penyimpangan uluhiyah Allah di antaranya ketika >seseorang mengalami musibah di mana ia berharap bisa terlepas dari musibah >tersebut. Lalu orang tersebut datang ke makam seorang wali, atau kepada seorang >dukun, atau ke tempat keramat atau ke tempat lainnya. > > > >Ia >meminta di tempat itu agar penghuni tempat tersebut atau sang dukun, bisa >melepaskannya >dari musibah yang menimpanya. Ia begitu berharap dan takut jika tidak terpenuhi >keinginannya. Ia pun mempersembahkan sesembelihan bahkan bernadzar, berjanji >akan beri’tikaf di tempat tersebut jika terlepas dari musibah seperti keluar >dari lilitan hutang. > > > >Ibnul Qoyyim mengatakan: Kesyirikan adalah penghancur tauhid >rububiyah dan pelecehan terhadap tauhid uluhiyyah, dan berburuk sangka terhadap >Allah. > > > >4. MENGENAL NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH > > > >Maksudnya, kita beriman bahwa Allah memiliki nama-nama yang Dia >telah menamakan diri-Nya dan yang telah dinamakan oleh Rasul-Nya. Dan beriman >bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang tinggi yang telah Dia sifati diri-Nya dan >yang telah disifati oleh Rasul-Nya. Allah memiliki nama-nama yang mulia dan >sifat yang tinggi berdasarkan firman Allah : > > > >Dan Allah memiliki >nama-nama yang baik. (Qs. >Al A’raf [7] : 186) > >“Dan Allah >memiliki permisalan yang tinggi.” (QS. An Nahl [16] : >60) > > > >Dalam hal ini, kita harus beriman kepada nama-nama dan >sifat-sifat Allah sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya dan tidak >menyelewengkannya sedikitpun. Imam Syafi’i meletakkan kaidah dasar ketika >berbicara tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagai berikut: “Aku >beriman kepada Allah dan apa-apa yang datang dari Allah dan sesuai dengan apa >yang dimaukan oleh Allah. Aku beriman kepada Rasulullah dan apa-apa yang datang >dari Rasulullah sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Rasulullah” (Lihat >Kitab Syarah Lum’atul I’tiqad Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin hal 36) > > > >Ketika berbicara tentang sifat-sifat dan nama-nama Allah yang >menyimpang dari yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka kita telah >berbicara tentang Allah tampa dasar ilmu. Tentu yang demikian itu diharamkan >dan dibenci dalam agama. Allah berfirman : > > > >Katakanlah: ‘Tuhanku >hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang >tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tampa alasan yang benar, >(mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan >hujjah (keterangan) untuk itu dan (mengharamkan) kalian berbicara tentang Allah >tampa dasar ilmu. (QS. Al A’raf [7] : 33) > > > > >Dan janganlah kamu >mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya >pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan >jawabnya. (QS. Al Isra [17] : 36) > > > >Wahai saudaraku mari kita masuk dan >melaksanakan serta mengerjakan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana >yang telah digariskan melalui Agama yang diridhoi Nya yakni Agama Islam, dengan >keseluruhan dan seutuhnya sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah [2] : >208. > > >Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara >keseluruhannya, dan janganlah >kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata >bagimu. > > > > > >Wallahu ‘alam > > > >Wassalamualaikum >Warohmatullohi Wabarokatuh > > > > > >Mujiarto KarukSumber http://abulfudhail.com/?cat=9 > > >Penulis : Ustadz >Abu Usamah bin Rawiyah an Nawawi > > > > >[Non-text portions of this message have been removed] >
