[Jawa Pos - Jum'at, 03 September 2010]

Tawaduk Harus, Takabur Boleh

Oleh: Moh. Mahfud M.D



Ada anak bertanya pada bapaknya

Buat apa berlapar-lapar puasa, ...

Lapar mengajarmu rendah hati selalu


ITULAH potongan syair lagu karya Trio Bimbo yang berjudul Anak Bertanya pada
Bapaknya. Lagu itu begitu populer sejak 1970-an karena selalu dikumandangkan
secara meluas, terutama pada hari-hari keagamaaan bagi umat Islam di
Indonesia. Seperti halnya lagu Tuhan, lagu Anak Bertanya pada Bapaknya
setiap hari-hari besar Islam dinyanyikan, tidak hanya oleh Trio Bimbo,
tetapi juga oleh penyanyi-penyanyi lain yang membawakan dengan begitu syahdu
dan menyentuh kalbu, dengan berbagai aransemen musik. Lebih-lebih pada bulan
puasa seperti sekarang ini.


Sengaja saya ambil potongan syair yang mengatakan bahwa beribadah puasa itu
berguna untuk mengajarkan kita selalu rendah hati. Tentu, karena tulisan ini
dibuat untuk rubrik khusus di bulan puasa.


Istilah rendah hati adalah terjemahan dari kata dalam bahasa Arab, yakni
tawadhu' yang dilawankan dengan kata takabbur yang berarti tinggi hati
(sombong). Islam mengajarkan agar kita selalu tawaduk dan menjauhkan diri
dari sikap takabur. Syair lagu Trio Bimbo tersebut secara harafiah bukanlah
bunyi ayat Alquran atau hadits Nabi. Tetapi, ia merupakan salah satu ajaran
penting yang dapat di-istinbath (digali) dari Quran maupun hadits Nabi.
Yakni, ajaran agar selalu berusaha tawaduk dan menjauhi takabur dalam hidup
ini.


Kesadaran untuk hidup dengan tawaduk ini penting karena banyak di antara
kita yang lupa diri dan menjadi sombong atau takabur karena sedikit
kelebihan yang kita miliki. Menurut Bimbo, berpuasa merupakan metode untuk
belajar hidup dengan tawaduk. Dengan berpuasa, kita bisa belajar berempati
atau ikut merasakan penderitaan orang-orang yang sering lapar karena fakir
dan miskin. Maka, menjadi tidak tepat apabila di siang hari kita berpuasa,
tetapi setelah magrib dan saat bersahur kita bermewah-mewah dengan biaya
menu makan yang jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan saat tidak
berpuasa.


Dengan berpuasa, kita dapat belajar untuk tidak merasa paling pandai karena
di atas orang yang pandai selalu ada orang lain yang lebih pandai. Maka,
menjadi tidak tepat apabila ibadah puasa ini tidak membangkitkan kesadaran
bahwa betapa tinggi pendidikan dan banyak gelar yang dimiliki oleh
seseorang, sebenarnya ilmu yang dimilikinya sangatlah sedikit jika
dibandingkan dengan jagat raya ilmu yang diciptakan oleh Allah. Di dalam
cerita-cerita silat Asmaraman S. Kho Ping Hoo, sering diungkapkan bahwa ''di
atas langit masih ada langit''. Kalau menurut Quran, semakin tinggi ilmu
seseorang, semakin kuat tingkat keimanannya, dan bukan semakin sombong.


Begitu juga, dengan berpuasa, kita dapat mempertajam nurani kita untuk tidak
bersikap sewenang-wenang, menghina orang lain, dan sok paling berkuasa
karena sebenarnya apa pun yang kita miliki dan setinggi apa pun jabatan kita
di tengah-tengah masyarakat hanyalah titipan yang sewaktu-waktu bisa diambil
oleh penitipnya (Allah) tanpa bisa dihalangi dengan apa pun.


Tawaduk adalah salah satu prinsip dasar dalam ajaran Islam dalam bidang
akhlak. Orang yang akhlaknya bagus pastilah akan selalu bersikap tawaduk dan
tak akan pernah merendahkan orang lain, tak akan pernah merasa paling pandai
dari orang-orang lain, dan tak akan pernah bersikap sewenang-wenang terhadap
orang lain karena kedudukan atau jabatannya. Bahkan, orang yang tawaduk akan
lebih merendah jika ada orang yang merendahkan hati kepadanya. Saya pernah
mau mencium tangan seorang kiai besar sebagai rasa hormat ala tradisi
pesantren karena kealiman dan kharismanya. Tetapi, sang kiai besar itu
justru lebih dulu memeluk saya karena tak mau tangannya saya cium.


Bagi orang Islam, bersikap tawaduk itu adalah keharusan. Sedangkan bersikap
takabur adalah larangan. Tetapi, bolehkah kalau sekali-sekali kita bersikap
takabur? Baik di dalam Alquran maupun di dalam hadits sahih tidak ada
pembolehan takabur. Namun, ada pendapat yang masuk akal untuk mengatakan
bahwa sebenarnya dalam keadaan tertentu takabur itu boleh dilakukan, yakni,
dalam keadaan kita menghadapi orang takabur yang sulit disadarkan.


Terhadap orang yang selalu takabur itu kita dibolehkan sekali-sekali
bersikap takabur sebatas bertujuan menghentikan ketakaburannya agar menjadi
tawaduk. Terhadap orang yang selalu merasa paling pandai, kita boleh
mengatakan bahwa kita lebih pandai. Terhadap orang yang selalu merasa paling
hebat, kita dapat mengatakan bahwa kita lebih hebat. Terhadap orang yang
selalu merasa paling kuat dan berkuasa, kita boleh mengatakan bahwa kita
lebih kuat dan mempunyai kekuasaan yang tak kalah besar.


Di dalam kitab al-Ta'liem al-Mutaallim ada dalil yang bukan berasal dari
Quran maupun hadits sahih, tetapi lebih merupakan kata-kata mutiara islami
tentang kebolehan bersikap takabur karena keadaan atau alasan-alasan seperti
itu. Dalil itu berbunyi, ''Barang siapa yang bersikap tawaduk terhadap orang
yang tawaduk, maka orang itu mendapat pahala seperti bersedekah, dan barang
siapa bersikap takabur terhadap orang yang selalu takabur, maka orang itu
mendapat pahala seperti bersedekah,'' (man tawaadha'a mutawaadhi' fahuwa
shadaqah, wa man takabbara mutakabbir fahuwa shadaqah). Dengan demikian,
tawaduk itu ''wajib'', sedangkan takabur itu ''boleh'' asalkan dimaksudkan
untuk menghentikan ketakaburan orang lain.


Di negeri ini sekarang banyak orang takabur karena merasa paling pandai
sehingga merasa dirinyalah yang paling benar pendapatnya. Di negeri ini
tidak sedikit juga orang takabur karena kedudukan dan kekuasaan jabatannya
sehingga merasa boleh melakukan apa saja terhadap orang lain. Dengan niat
menghentikan ketakaburan orang lain, sambil beristighfar, boleh saja
sekali-sekali kita bersikap takabur terhadap orang-orang yang seperti itu.


Dalam hal demikian, kita boleh berkata, ''Saya lebih menguasasi ilmu ini
daripada kamu,'' atau ''Saya juga mempunnyai kekuasaan untuk menghentikan
kesewenang-wenanganmu.'' Sekali lagi, takabur seperti itu hanya boleh
sekali-sekali dilakukan asalkan dimaksudkan untuk menghentikan ketakaburan
orang lain.(*)


Moh. Mahfud M.D., Ketua Mahkamah Konstitusi RI


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke