Pidato SBY Cocok untuk Dubes Malaysia
Kamis, 2 September 2010 | 09:21 WIB

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidato mengenai  hubungan 
Indonesia-Malaysia usai berbuka puasa bersama prajurit dan  perwira TNI di 
Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu  (1/9/2010) petang. 

JAKARTA, KOMPAS.com —  Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) 
Ray Rangkuti  menyatakan, pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono soal konflik 
 
Indonesia dan Malaysia sangat mengecewakan masyakat.
Saya merasa yang berpidato bukan presiden  Indonesia, tapi duta besar Malaysia 
di Indonesia yang tengah memaparkan  alasan-alasan historis.  

--  Ray Rangkuti
"Kita semua menduga Pak SBY akan berpidato  sebagai pemimpin dari satu bangsa 
yang perasaan dan harga dirinya  terinjak-injak dan merasa dihina oleh 
perlakuan 
tidak sopan dari negeri  tetangga dari waktu ke waktu. Justru yang terjadi 
adalah sebaliknya,"  kata Ray Rangkuti, Jakarta, Kamis (2/9/2010).
Ray merasa apa yang  disampaikan Presiden SBY di hadapan petinggi TNI pada Rabu 
(1/9/2010)  malam bukanlah pidato sebagai Presiden Indonesia. Pidato itu lebih  
terlihat jika SBY adalah duta besar Malaysia di Indonesia.
Pidato  Presiden justru menceritakan bagaimana pentingnya ekonomi Malaysia bagi 
 
Indonesia dan harus diperlakukan dengan sopan meski Malaysia  memperlakukan hal 
yang sebaliknya kepada kedaulatan NKRI ini.
"Saya  merasa yang berpidato bukan presiden Indonesia, tapi duta besar  
Malaysia 
di Indonesia yang tengah memaparkan alasan-alasan historis,  ekonomis, politis, 
dan diplomatis mengapa Malaysia tetap penting bagi  Indonesia," tegas Ray.
Sangat disayangkan, lanjut Ray, pidato yang  lebih cocok dubes Malaysia itu 
justru disampaikan Presiden SBY di  hadapan petinggi TNI, Markas TNI Cilangkap, 
Jakarta. "Sejatinya, bunyi  pidato tersebut cukup dibacakan di kantor Kedutaan 
Besar Malaysia atau  paling jauh di kantor Kementerian Luar Negeri Indonesia," 
katanya.
Bagi Ray, apa yang disampaikan Presiden tak memberi jawaban atas sejumlah 
pertanyaan yang selama ini menanti jawaban tegas.
Misalnya,  mengapa ada barter petugas KKP dengan 7 pencuri ikan dari Malaysia,  
mengapa seolah-olah Presiden ragu bahwa tempat kejadian perkara tersebut  
benar-benar wilayah kedaulatan Indonesia. "Dengan sendirinya hal ini  
membiarkan 
Malaysia untuk kembali melakukan pengakuan bahwa tempat  perkara tersebut 
adalah 
wilayah sengketa," ujarnya.
Selain itu,  sangat disayangkan Presiden tidak meminta Pemerintah Malaysia yang 
 
selayaknya meminta maaf kepada rakyat Indonesia dan meminta kembali  tujuh 
nelayan Malaysia yang mencuri ikan di perairan Indonesia untuk  diproses hukum 
di Indonesia. "Khususnya meminta maaf kepada tiga petugas  KKP dari Indonesia," 
tandasnya. (Tribunnews/Abdul Qodir)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke