Assalamualaikum
Warohmatullohi Wabarokatuh
Bissmillahirrohmaanirrohiim
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا
تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى
وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ
وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ
اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُورًا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa,
karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan
tetangga
yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, QS.
An-Nisa [4] : 36.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي
خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ
وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang
telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan
istrinya;
dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang
banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu
saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim.
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. QS. An-Nisa [4] : 1.
وَعَنْ
اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه
وسلم قَالَ: ( مِنْ اسْتَعَاذَكُمْ بِاَللَّهِ فَأَعِيذُوهُ, وَمَنْ سَأَلَكُمْ
بِاَللَّهِ فَأَعْطُوهُ, وَمَنْ أَتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ, فَإِنْ
لَمْ تَجِدُوا, فَادْعُوا لَهُ ) أَخْرَجَهُ اَلْبَيْهَقِيُّ
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa
Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa meminta
perlindugan kepadamu dengan nama Allah, lindungilah dia; barangsiapa meminta
sesuatu kepadamu dengan nama Allah, berilah dia; barangsiapa berbuat baik
kepadamu, balaslah dia, jika engkau tidak mampu, berdoalah untuknya." Riwayat
Baihaqi.
Silaturrahim merupakan salah satu ajaran dalam
Islam akan tetapi masih banyak diantara kita yang belum memahami hakikat dan
faidah-faidah silaturahim. Shilah artinya Hubungan atau menghubungkan sedangkan
ar-Rahm berasal dari Rahima-Yarhamu-Rahmun / Rahmatan yang berarti lembut dan
kasih sayang.
Taraahamal-Qaumu artinya kaum itu saling berkasih
sayang. Taraahama 'Alayhi berarti mendo'akan seseorang agar mendapat rahmat.
Sehingga dengan pengertian ini seseorang dikatakan telah menjalin silaturrahim
apabila ia telah menjalin hubungan kasih sayang dalam kebaikan bukan dalam dosa
dan kema'siatan.
Selain itu kata ar-Rahm atau ar-Rahim juga mempunyai arti peranakan (rahim)
atau kekerabatan yang masih ada pertalian darah (persaudaraan). Inilah keunikan
Bahasa Arab, Satu kata saja sudah dapat menjelaskan definisinya sendiri tanpa
bantuan kata-kata lain.
Dengan demikian shilaturrahim secara bahasa adalah
menjalin hubungan kasih sayang dengan saudara dan kerabat yang masih ada
hubungan darah (senasab). Seseorang tidak dapat dikatakan menjalin hubungan
silaturrahim bila ia berkasih sayang dengan orang lain sementara saudara dan
kerabatnya dia jadikan musuh.
Islam dalam hal ini mengajarkan kepada kita tentang
skala prioritas, yaitu dahulukanlah keluarga dan kaum kerabatmu baru kemudian
orang lain. Hubungan baik dengan orang lain jangan sampai merusak hubungan
kekeluargaan. Hubungan kasih sayang dengan istri jangan sampai merusak hubungan
kita dengan orang tua dan saudara.
Peliharalah Tali Silaturrahim, maksudnya peliharalah hubungan kekeluargaan.
Jangan sampai kita lupa dengan nasab kita, orang tua kita, saudara-saudara kita
dan kerabat-kerabat kita. Setelah itu baru peliharalah hubungan kasih sayang
dengan orang-orang mu`min sebagaimana dengan saudara sendiri.
وَعَنْ
أَنَسٍ رضي الله عنه عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( وَاَلَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ - أَوْ لِأَخِيهِ-
مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Anas bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi
wa Sallam bersabda: "Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah
seorang hamba (dikatakan) beriman sehingga ia mencintai tetangganya sebagaimana
ia mencintai dirinya sendiri." Muttafaq
Alaihi.
Anjuran menjalin Silaturrahim adalah anjuran untuk tidak melupakan nasab dan
hubungan kekerabatan. Satu-satunya bangsa yang paling hebat dalam menjalankan
silaturrahmi adalah bangsa Arab. Mengapa? Karena mereka tidak lupa nenek moyang
mereka. Makanya mereka selalu mengaitkan nama mereka dengan bapak, dan
kakek-kakek mereka ke atas. Oleh karena itu dalam nama mereka pasti ada istilah
bin atau Ibnu yang artinya anak.
Nabi kita Muhammad Saw mengetahui nasabnya sampai beberapa generasi sebelumnya.
Nasab beliau adalah Muhammad bin 'Abdullah bin 'Abdul-Muthalib bin Hasyim bin
Abdul- Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin
Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin
Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan.
Bukan hanya Nabi yang seperti itu, hampir seluruh orang-orang Arab mengetahui
nasabnya masing-masing sampai beberapa generasi sebelumnya. Hubungan
kekeluargaan dan persaudaraan diantara mereka sangat kuat. Allah menjadikan
mereka sebagai contoh untuk diteladani. Lalu bagaimana dengan bangsa-bangsa
lain dan bangsa kita yang kebanyakan mengetahui hanya sampai kakek dan buyut.
Akibat pengetahuan nasab yang terbatas ini maka efeknya sangat memprihatinkan.
Diantaranya tidak mengetahui saudaranya yang jauh, menganggap bahwa dirinya
tidak punya saudara, tidak mendapat bantuan dan pertolongan bila dirinya
mengalami kesengsaraan, tidak punya tempat untuk mengadu dan meminta
pertolongan kecuali orang lain. Akhirnya ujung-ujungnya timbullah kemiskinan,
anak gelandangan, dan lain sebagainya. Padahal seandainya mereka mengetahui
nasab mereka siapa tahu bahwa direktur perusahaan disamping gubuknya adalah
saudaranya dari buyut kakeknya.
Inilah salah satu hikmah perintah bersilaturrahmi. Bersilaturrahmi atau
menjalin hubungan kasih sayang yang kuat diantara saudara dan keluarga pihak
kakek dan nenek ke atas. Kalau bisa kita menghafalnya sebagaimana bangsa Arab
menghafal nasab-nasab mereka baik dari pihak bapak maupun dari pihak ibu.
Allah dalam al-Qur`an secara spesifik memerintahkan umat Islam untuk menjalin
hubungan silaturrahim sebagai mana tersebut
dalam QS. An-Nisa [4] ayat 1 tersebut diatas.
Dari Miqdam ra bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:
إنَّ اللهَ يُوْصِيْكُمْ
بِأُمَّهَاتِكُمْ إنَّ اللهَ يُوْصِيْكُمْ بِأبآئِكُمْ إنَّ اللهَ يُوْصِيْكُمْ
بِالْأَقْرَبِ فَالْأقْرَبِ
Sesungguhnya Allah berwasiat agar kalian berbuat baik
kepada ibu-ibumu, sesungguhnya Allah berwasiat agar berbuat baik kepada
bapak-bapakmu dan sesungguhnya Allah berwasiat kepada kamu agar berbuat baik
kepada sanak kerabatmu (Silsilah Hadits Shahih;
al-Albani)
Menyambung hubungan kekerabatan adalah wajib dan memutuskannya merupakan dosa
besar. Dari Jubair bin Muth'im bahwa Nabi Saw bersabda:
وَعَنْ
جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه
وسلم ( لَا يَدْخُلُ اَلْجَنَّةَ قَاطِعٌ ) يَعْنِي قَاطِعَ رَحِمٍ
مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Jubair Ibnu Muth'im Radliyallaahu
'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak
akan masuk surga seorang pemutus, yaitu pemutus tali kekerabatan." Muttafaq
Alaihi.
Silaturrahim tidak hanya bagi saudara sedarah (senasab) tapi juga saudara
seiman. Allah Swt memerintahkan agar kita menyambung hubungan baik dengan orang
tua, saudara, kaum kerabat, dan orang-orang mu`min yang lain. Namun dalam
hubungan silaturrahim yang diutamakan adalah sanak famili yang masih ada
hubungan darah (senasab) baru kemudian orang-orang beriman yang tidak ada
hubungan darah dengan kita. Karena mereka-lah yang lebih dekat hubungannya
dengan kita.
Begitu juga apabila kita meminta bantuan maka yang lebih layak kita minta
adalah sanak famili kita, baru kemudian orang lain. Karena mereka dan kita
sama-sama punya hak dan kewajiban untuk saling tolong-menolong.
Di dalam Islam anjuran berinfak ditujukan kepada kaum kerabat kita yang miskin
dulu baru kepada orang lain. Allah berfirman :
النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ
أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُولُو الأرْحَامِ بَعْضُهُمْ
أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلا
أَنْ تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ
مَسْطُورًا
Nabi
itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri
dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai
hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab
Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu
mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu
telah tertulis di dalam Kitab (Allah). QS. Al-Ahzab [33] : 6.
Apabila manusia memutuskan apa-apa yang
diperintahkan oleh Allah untuk dihubungkan. Maka ikatan sosial masyarakat akan
hancur berantakan, kerusakan menyebar di setiap tempat, permusuhan terjadi
dimana-mana, sifat egoisme muncul kepermukaan. Sehingga setiap individu
masyarakat menjalani hidup tanpa petunjuk, seorang tetangga tidak mengetahui
hak tetangganya, seorang faqir merasakan penderitaan dan kelaparan sendirian
karena tidak ada yang peduli.
Dan jangan sampai kita memutuskan tali silaturrahim hanya karena gara-gara
pekerjaan dan jabatan. Silaturrahim lebih tinggi nilainya dari itu semua. Allah
berfirman :
فَهَلْ عَسَيْتُمْ
إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
Maka
apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan
memutuskan hubungan kekeluargaan (silaturrahim) ? QS. Muhammad [47] : 22
Kiat-Kiat Mempererat Hubungan Silaturrahim
1. Mendahulukan
Sanak-Famili yang terdekat dalam segala kebaikan, terutama orang tua. Orang tua
adalah kerabat terdekat yang mempunyai jasa tidak terhingga dan kasih sayang
yang besar sehingga seorang anak wajib mencintai, menghormati dan berbuat baik
kepada kedua orang tuanya walaupun keduanya musyrik. Kedua orangtuanya berhak
mendapat perlakuan baik di dunia namun bukan mengikuti kesyirikannya. Apabila
mereka faqir maka kewajiban kitalah yang membantunya pertama kali. Kemudian
saudara-saudara kita seperti paman dan bibi baru setelah itu orang lain yang
seiman.
2. Mengingat Kebaikan Sanak-Famili
kita, tanpanya mungkin kita tidak akan berarti.
3. Menghafal
Nasab dan seluruh nama-nama saudara kita, dari mulai kakek dan nenek ke atas
sampai kepada keturunan-keturunan mereka. Untuk hal ini sebaiknya kita membuat
diagram silsilah keluarga agar dapat diingat oleh generasi berikutnya supaya
mereka tetap melanjutkan tali silaturrahim setelah kita tiada (meninggal).
4. Jangan
menyakiti, menzhalimi dan berbuat buruk kepada sanak-famili kita. Sebaiknya
kita-lah yang menjadi solusi untuk memecahkan segala permasalahan mereka.
Sesungguhnya orang-orang yang selalu menjaga tali silaturrahim akan diberkahi
oleh Allah dalam usahanya, rizki dan umurnya. Dari Anas bin Malik berkata bahwa
Rasulullah Saw bersabda :
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم
( مَنْ أََحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ, وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي
أَثَرِهِ, فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ ) أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu
bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa
ingin dilapangkan rizqinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menghubungkan
tali kekerabatan." Riwayat
Bukhari.
Dari dasar
seklumit artikel diatas wahai saudaraku mari kita teguhkan hubungan
silaturahim, walau hanya sekedar saling memberi nasehat menasehati melalui
email yang telah kita lakukan dan kita kerjakan selama ini, dan bagi saudara
saudaraku sekalian yang telah banyak memberi nasehat dan menasehati bagi kami
sekeluarga, bersama ini izinkan kami mengucapkan terima kasih yang tak
terhingga, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala membalas dengan balasan yang lebih
baik serta berlipat ganda juga nasehat yang selama kita kita terima dan kita
berikan bagi saudara saudara kita dapat bermanfaat bagi kita semua dan Semoga
kita dapat sama sama selamat baik dunia sampai akhirat, dan “SELAMAT IDHUL
FITRI 1431 H” Taqoballahu Minna Wa Minkum Semoga Allah
menerima ibadah kita semua.
Aamiin Yarobbal
Alamiin,
Wassalamualaikum
Warohmatullohi Wabarokatuh
Mujiarto Karuk
Sumber :
Ensiklopedia Islam
[Non-text portions of this message have been removed]