Dear all,
Ini ada cerita bagus yang bisa menjadi inspirasi buat kita semua:
By Stephanus
www.educareindonesia.wordpress.com
www.gabrielfrans.multiply.com
Lor 1 Blk 172A
Toa Payoh
Singapore
LENTERA JIWA
Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi
Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya
bahwa saya keluar bukan karena pecah kongsi dengan Surya Paloh, bukan karena
sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa
aneh pada posisi yang tinggi, dengan power yang luar biasa sebagai pimpinan
sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri. Dalam
perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit.
Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP
Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di
Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi,
ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV. Dalam satu
seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari
bergurau di depan ratusan hadirin
mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. Andy ibarat ikan di
dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan
tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar. Saya tidak tahu
apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang
sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca
sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.Bagi Anda yang belum baca, buku
ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang
sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju
di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina
dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari
keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai
kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis. Singkat cerita, suatu
hari keju habis. Kurcaci pertama
mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat
lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh
seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak
perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia
memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang
akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai
kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah
menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan
di tempat lama. Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali
kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna
menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau
berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas
waktu. Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada
dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang
luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari
labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari keju
itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti lentera jiwa
saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri. Maka
ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan Nugie,
hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan
Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya
ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang. Dalam perjalanan hidup
saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan
pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi
puncak di suatu perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan
pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidak
membuatnya bahagia. Dia merasa lentera jiwanya ada di ajang pertunjukkan
musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia
merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan.
Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.
Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan
banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang.
Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi apa, ada yang jujur
bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau ada yang
karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyak mengaku jurusan yang
mereka tekuni sekarang -- dan membuat mereka tidak bahagia -- adalah karena
mengikuti keinginan orangtua. Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29
dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani
mengambil keputusan besar dalam hidup mereka.
Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional,
yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan
menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat
dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak
di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. Saya sangat bahagia dengan
apa yang saya kerjakan saat ini, ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki
Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat. Juga ada Wahyu Aditya yang
sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang
yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit
bahkan membuka sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki
anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.Simak juga
bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan
jamu dan jabatan komisaris di
beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih
tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.
Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang
singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu
bagaimana cara mencapainya. Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini
bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu
bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. Bagi saya, bekerja itu
seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya, ujar Yon Koeswoyo, salah
satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone.
Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran
jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh
lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semua karena saya mencintai pekerjaan
saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya.
Hidup saya, katanya. Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya.
Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi.
Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.
"Life is what happens to you while you're busy making other plans"
It's been 18 years since I joined Volvo, a Swedish company. Working for them
has proven to be an interesting experience. Any project here takes 2 years to
be finalized, even if the idea is simple and brilliant. It's a rule.
Globalized processes have caused in us (all over the world) a general sense of
searching for immediate results.. Therefore, we have come to posses a need to
see immediate results. This contrasts greatly with the slow movements of the
Swedish. They, on the other hand, debate, debate, debate, hold x quantity of
meetings and work with a slowdown scheme. At the end, this always yields
better results. In other words: 1. Sweden has 2 million inhabitants. 2.
Stockholm has 500,000 people. 3. Volvo, Escania, Ericsson, Electrolux, are
some of its renowned companies. Volvo even supplies NASA. The first time I
was in Sweden, one of my colleagues picked me up at the hotel every morning.
It was September, bit cold and snowy. We
would arrive early at the company and he would park far away from the
entrance (2000 employees drive their car to work). The first day, I didn't
say anything, neither the second or third days. One morning I asked him, "Do
you have a fixed parking space? I've noticed we park far from the entrance
even when there are no other cars in the lot." To which he replied, "Since
we're here early we'll have time to walk, don't you think that whoever gets
in late will need a place closer to the door?" Imagine my face. Nowadays,
there's a movement in Europe named Slow Food. This movement establishes that
people should eat and drink slowly, with enough time to taste their food,
spend time with the family, friends, without rushing. Slow Food is against
its counterpart, Fast Food and what it stands for as a lifestyle. Slow Food is
the basis for a bigger movement called Slow Europe, as mentioned by Business
Week. Basically, the movement questions the
sense of "hurry" and "craziness" generated by globalization, fuelled by the
desire of "having in quantity" (life status) versus "having with quality",
"life quality" or the "quality of being". French people, even though they
work 35 hours per week, are more productive than Americans or British. Germans
have established 28.8 hour workweeks and have seen their productivity been
driven up by 20%.. This slow attitude has come to the notice of USA, the
pupils of the fast and "do it now" brigade. This no-rush attitude doesn't
represent doing less or having a lower productivity It means working and
doing things with greater quality, productivity, perfection, with attention to
detail and less stress. It means re-establishing family values, friends, free
and leisure time. Taking the "now", present and concrete, versus the
"global", undefined and anonymous. It means taking humans' essential values,
the simplicity of living. It stands for
a less coercive work environment, more happy, lighter and more productive
work place where humans enjoy doing what they know best how to do. It's time
to stop and think on how companies need to develop serious quality with
no-rush that will increase productivity and the quality of products and
services, without losing the essence. In the movie, 'Scent of a Woman',
there's a scene where Al Pacino asks a girl to dance and she replies, "I
can't, my boyfriend will be here any minute now". To which Al responds, "A
life is lived in an instant". Then they dance the tango. Many of us live our
lives running behind time, but we only reach it when we die of a heart attack
or in a car accident rushing to be on time. Others are so anxious to live for
the future that they forget to live the present, which is the only time that
truly exists. We all have equal time throughout the world. No one has more or
less. The difference lies in how each one of
us does with our time. We need to live each moment. As John Lennon said,
"Life is what happens to you while you're busy making other plans".
Congratulations for reading this email till the end of this message. There
are many who will have stopped in the middle so as not to waste time in this
"Globalized" world.
------------------------------------
********************
Situs untuk Jual Beli Barang
untuk keluar dari mailing list ini silahkan kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED] Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kolom/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kolom/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/