Minggu lalu, saya jalan-jalan ke Pasar Johar (Semarang). Rencananya, aku hendak
membeli batik untuk ibuku di kampung halaman. Ketika tiba di sana aku terkejut
sekali. Yang kujumpai malah batik "made in China".
Masuknya batik buatan Cina yang membanjiri Jakarta bukanlah berita baru. Tetapi
kenyataan masuknya batik Cina ke sentra penjualan batik lokal baru saya ketahui
saat itu. Air mata saya menetes hari itu. Jika batik Cina sudah sampai ke Pasar
Johor, lalu bagaimana dengan pasar-pasar lain. Bagaimana dengan nasib pengrajin
kecil?
"Produk tekstil Cina ini berusaha meniru budaya tradisional asli Indonesia,"
kata Ketua Paguyuban Pencinta Batik Indonesia Bokor Kencono, Diah Wijaya Dewi.
Dampak membanjirnya batik asal China ini sudah dirasakan pengusaha batik yang
biasa memasukkan produknya ke pasar tradisional. "Salah satu pengusaha batik
cap asal Pekalongan sudah ditolak produknya untuk masuk ke Pasar Johar karena
para pedagang sudah memasok batik asal China ini," ujar wanita yang kerap
dipanggil Dewi Tunjung ini.
Suhartini, penjual batik di Pasar Johar mengakui, mendatangkan batik Cina sejak
Febuari dan langsung menyetop penjualan batik asal Pekalongan dan Solo.
"Soalnya bahannya lebih bagus, lebih murah, lebih laku dan ketika dicuci tidak
luntur" katanya.
Potret di atas adalah salah satu gambaran permasalahan perlindungan budaya di
tanah air. Cerita ini menambah daftar budaya indonesia yang diklaim oleh negara
lain, seperti Batik Adidas, Sambal Balido, Tempe, Lakon Ilagaligo, Ukiran
Jepara, Kopi Toraja, Kopi Aceh, Reog Ponorogo, Lagu Rasa Sayang Sayange,
Kerajinan Perak Bali dan lain sebagainya. Saya sadar bahwa diam tidak akan
memberikan penyelesaian. Kita harus bangkit dan melakukan sesuatu.
Kemarin saya mendengar tentang upaya perjuangan yang dilakukan IACI
<www.budaya-indonesia.org>. Saya tertarik dengan ide gerakan tersebut. Beberapa
kali saya melakukan korespondensi via email ke IACI. Saya merekomendasikan
kepada teman-teman untuk mendukung perjuangan tersebut. Secara garis besar, ada
tiga bentuk partisipasi yang dapat kita lakukan.
Pertama, mendukung upaya perlindungan budaya Indonesia secara hukum. Kepada
rekan-rekan setanah air yang memiliki kepedulian (baik bantuian ide, tenaga
maupun donasi) di bagian ini, harap menggubungi IACI di email: <[EMAIL
PROTECTED]>
Kedua, mendukung proses pendataan kekayaan budaya Indonesia. Perlindungan hukum
tanpa data yang baik tidak akan bekerja secara optimal. Jadi, jika temen-temen
memiliki koleksi gambar, lagu atau video tentang budaya Indonesia, mohon upload
ke situs PERPUSTAKAAN DIGITAL BUDAYA INDONESIA, dengan alamat
<www.budaya-indonesia.org>. Jika Anda memiliki kesulitan untuk mengupload data,
silahkan menggubungi IACI di email: <[EMAIL PROTECTED]>
Ketiga, melakukan kampanye secara online. Saya memohon bantuan rekan-rekan
untuk mendukung perjuangan ini di dunia maya. Misalnya dengan menyebarkan pesan
ini ke email ke teman, mailing-list, situs, atau blog, yang Anda miliki. Mari
kita selamatkan budaya Indonesia mulai dari komputer kita sendiri.
- Ayu Nata Pradnyawati
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
********************
Situs untuk Jual Beli Barang
untuk keluar dari mailing list ini silahkan kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED] Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kolom/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kolom/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/