Kami teruskan. Semoga bermanfaat...

_______________________________________
From: On Behalf Of WIYOSO HADI
Sent: Thursday, October 16, 2008 2:02
To: [EMAIL PROTECTED] 
Subject: FW: Syukur Nikmat (Takdir Baik-Buruk Manusia)

Alhamdulillah, Hatur nuhun atas kutipan hikmah-hikmah "Mensyukuri Nikmat Allah"
ya, sebagaimana saya tulis dalam diary saya berapa hari lalu:

"...Bagi mereka yang telah mencapai maqom muslim sejati
yaitu berserah diri lahir-batin (bukan sekedar lahiriahnya saja),
menyikapi segala ujian hidup dengan bersyukur dan bersyukur selalu

Bersyukur bukan sekedar pasrah (nrimo) menerima dengan pasif ujian hidup
tapi bersyukur adalah selalu yakin dan berprasangka baik bahwa dibalik segala 
kejadian baik-buruk ada hikmahnya,
dan karena keyakinan dan prasangka baiknya itu, Allah ta'ala memudahkannya 
untuk menemukan hikmah-hikmah tersembunyi
sehingga membuat sang hamba semakin bersyukur selalu dalam batin, lisan, dan 
tindakan-tindakannya sehari-hari, yaitu dengan:
Lebih mendekatkan diri kepada-Nya dan Lebih hidup bermanfaat dan Bermakna bagi 
dirinya dan orang lain.

jadi Syukur bukanlah apa yang sekedar terucap dalam lisan
tapi adalah: Rasa Yakin, Prasangka Baik, dan Rasa Terima Kasih Tiada Habis 
kepada Allah;
Syukur adalah rasa Suka Cita besar dalam dada dan mendalam di hati karena sadar 
(menyadari) bahwa:
Allah ta'ala telah dan selalu memberi lebih banyak dari apa yang telah dan bisa 
ia (kita) berikan kepada Allah.

Semakin banyak dan "ïkhlas" kita bersyukur,
semakin banyak nikmat karunia Allah yang kita terima

Nikmat Karunia Allah tidak terletak pada seberapa banyak yang kita dapatkan, 
miliki dan/atau perlihatkan
tapi pada seberapa banyak yang kita syukuri, ikhlaskan (untuk 
didermakan/amalkan), dan rasakan."
(copy paste dari Catatan Harian pribadi saya Membuka Hati tgl. 6 Oktober 08).

Baraka Allah..

Yos.

________________________________________
From: Abdurrauf Kurniadi
Sent: Thursday, September 25, 2008
Subject: Re: Hikmah Paku (Takdir Baik-Buruk Manusia)

BERSYUKUR
Mawlana Syaikh Muhammad Nazim Al-Haqqani QS
diambil dari buku Mercy Oceans Book 2

Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS berkata bahwa di dunia ini 
terdapat berbagai kemungkinan, mulai dari kebaikan sampai keburukan, bisa jadi 
kaya atau miskin, sehat atau sakit, seorang yang menetapkan hukum atau seorang 
narapidana.  Jika sesuatu yang tidak kalian sukai terjadi pada dirimu, kalian 
harus berpikir bahwa sesuatu yang lebih buruk bisa terjadi.  Syaikh Saadi 
Shirazi QS berkata bahwa ada seseorang yang mengeluh karena tidak mempunyai 
sepatu, sampai dia melihat seseorang yang tidak berkaki, akhirnya dia melupakan 
sepatunya.  Hal ini menimbulkan perasaan lega dan damai dalam hati kita.  
Lihatlah pada dirimu, kalian bisa menemukan harta karun, tangan dan jemari.  
Ini adalah perilaku yang baik terhadap Tuhanmu.

Begitu banyak orang yang bertanya, mengapa Allah SWT membiarkan ada orang yang 
lahir tanpa tangan atau mata atau pikiran yang sehat.  Allah SWT menciptakan 
mereka untuk menunjukkan kepada yang lain.  “Wahai semuanya, kalian harus 
melihat pada dirimu sendiri bahwa kalian telah mempunyai segalanya, dengan 
demikian kalian harus bersyukur.”  Siapa pun yang mempunyai cacat dalam 
tubuhnya, Allah SWT akan memberi ganjaran yang lebih dibandingkan kita.  Bagi 
seorang tuna netra yang sabar, Dia akan memberi mereka 12.000 keindahan Surga.  
Jika orang-orang melihat Surga tersebut, mungkin mereka semua akan berdoa agar 
mereka semua menjadi tuna netra saja.

Seseorang mendatangi Rasulullah SAW, dia bertubuh bungkuk dan bermata juling, 
tubuhnya berliku-liku dan jelek.  Dia berkata, “Wahai Rasulullah SAW, Aku tidak 
akan melakukan shalat lebih dari 5 kali sehari, Aku tidak akan berpuasa selain 
di bulan Ramadhan.”  Saat itu beliau menjadi marah.  Lalu Jibril AS datang dan 
memberikan pesan bahwa Allah SWT tidak suka keluhan semacam ini.  “Tanyakan 
kepadanya apakah dia akan senang bila di hari Kiamat nanti dia akan mempunyai 
bentuk tubuh malaikat yang terindah?”  Beliau bertanya dan orang itu menjawab, 
“Aku puas.”

Grandsyaikh ‘Abdul Khaliq al-Ghujduwani QS suatu ketika sedang berjalan menuju 
masjid, tiba-tiba ada yang menumpahkan suatu cairan yang kotor dari atas, 
membuat pakaian putihnya menjadi kuning.  Padahal dia akan melakukan shalat 
Jumat.  Murid-muridnya bergegas mengejar orang itu untuk bertanggung jawab, 
tetapi beliau mencegahnya.  Beliau berkata, “Aku bersyukur.  Aku lebih pantas 
mendapatkan api, tetapi yang datang hanya air kotor.”  Beliau mengutus muridnya 
untuk memimpin shalat Jumat, dan untuk menghindari perselisihan dengan 
istrinya, beliau bukannya pulang ke rumah tetapi malah pergi ke sungai dan 
mandi sampai matahari tenggelam.


----- Original Message ----
From: WIYOSO HADI
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, September 25, 2008
Subject: RE: Hikmah Paku (Takdir Baik-Buruk Manusia)

Salam Pak Dasrul :-)

A'uudzu billahi minasy syaithonir rojiim
BismillahirRahmanirRahiim

Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim
"sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."
(QS. at-Tin (95): 4)

Sebagian besar ulama menafsirkan bahwa ayat itu menegaskan bahwa manusia itu 
diciptakan dalam  bentuk yang paling sempurna. Pakar bahasa Al-Qur'an, 
Ar-Raghib Al-Asfahani, menyebutkan bahwa kata 'taqwiim' pada ayat tsb merupakan 
isyarat tentang keistimewaan manusia dibanding binatang, yaitu dengan 
dikaruniainya akal, pemahaman, dan bentuk fisik yang tegak dan lurus. Jadi 
'ahsani taqwiim' berarti bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya. (Aam 
Amiruddin, Tafsir Al-Qur'an Kontemporer)

Pertanyaan sekarang, mengapa ada orang terlahir cacat? Atau mengutip 
pertanyanaan Pak Dasrul di bawah: "Kalau orang dilahirkan cacat, miskin dan 
tidak punya kelebihan intelek, hanya bisa jadi pengemis itu sebenarnya cerminan 
apa? Apa alasan dan tujuan Allah dalam penciptaan seperti itu?"

Hikmah dari ayat "sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang 
sebaik-baiknya" adalah bahwa Allah Swt. telah menciptakan manusia Adam (Nabi 
Adam as) dalam bentuk yang sebaik-baiknya baik dari segi fisik, mental, 
intelektual maupun spiritual. Artinya apa? Artinya pada hakikatnya kita semua 
ini berasal dari bibit manusia yang bagus, yaitu Nabi Adam 'alayhi as-salam. 
Bagi Saudara/i yang tidak mengimani bahwa kita adalah keturunan Nabi Adam 
'alayhi as-salam boleh stop baca di sini :-).

Hingga tidaklah mengherankan bila ada dari kita-kita ini, anak manusia, ada 
yang terlahir dengan bakat kelebihan khusus di atas rata2 manusia biasa, apa 
itu dari segi sisi fisik, mental, intelektual dan/atau spiritual karena ya pada 
hakikatnya kita-kita semua ini mewarisi bibit "unggul" (ahsani takwiim) Nabi 
Adam 'alayhi as-salam dengan kadar/porsi berbeda-beda. Lalu mengapa, tanya Pak 
Dasrul, "Ada orang terlahir cacat, miskin, lemah akal?" Untuk cacat dan lemah 
akal itu bisa karena faktor genetik, kurang nutrisi saat sang ibu mengandung, 
dan faktor-faktor x lainnya bukan karena Kehendak Allah semata, atau dalam 
bahasa e-mail saya terdahulu:

"Tiada Takdir terjadi tanpa Kehendak Awal Sang Esa (Allah) dan ikhtiar (usaha) 
akhir sang hamba (makhluk)."
Maksudnya walau setiap Takdir telah dikadarkan/ditakarkan oleh Allah ta'ala, 
tapi kadar/takaran Takdir mana yang terjadi pada akhirnya berpulang pula kepada 
usaha (ikhtiar) manusia itu sendiri." ...Allah tidak mengubah keadaan sesuatu 
kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..." 
(QS. ar-Ra'd (13) : 11)”

Bahkan: "Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia 
kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh). (QS. 
ar-Ra'd (13) : 39). Tapi itu semua "juga" ditentukan oleh "faktor" 
ikhtiar/usaha kita, alias "Tiada Takdir terjadi tanpa Kehendak Awal Sang Esa 
(Allah) dan ikhtiar (usaha) akhir sang hamba."

Nah kembali kepada firman Allah Swt: "Laqad khalaqnal insaana fii ahsani 
taqwiim" ("sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang 
sebaik-baiknya.") Maka Hikmahnya adalah suatu kabar gembira buat kita 
"manusia", khsusnya bagi Saudara2 kita yang terlahir dengan kekurangan fisik 
dan intelektual atau dilahirkan dalam keluarga yang "kurang" secara ekonomi. 
Mengapa? Karena "dalam bentuk apa pun" dan "di keluarga mana pun" kita 
dilahirkan, kita semua tetap adalah keturunan Nabi Adam 'alayhi as-salam, yang 
karena itu mewarisi "potensi-potensi" bibit unggul Nabi Adam 'alayhi as-salam 
dengan kadar/porsi yang berbeda-beda. Tinggal pilihan kita mau atau tidak 
mencari, mengasah dan mengaktualisasikan "warisan" potensi-potensi unggul 
tersebut dan mengubah nasib hidup menjadi lebih bermakna dan bahagia. Atau 
dalam bahasa email terdahulu:

Allah Swt. telah menciptakan manusia (Bapak kita Adam a.s. dan keturunannya) 
dalam bentuk yang sebaik-baiknya
Bila ia (keturunan Nabi Adam a.s.) memiliki kekurangan di sisi fisik, ia 
dikaruniai potensi kelebihan intelektual dan/atau spiritual
Bila ia (keturunan Nabi Adam a.s.) memiliki kekurangan di sisi intelektual, ia 
dikaruniai potensi kelebihan fisik dan/atau spiritual
Bila ia (keturunan Nabi Adam a.s.) memiliki kekurangan di sisi spiritual, ia 
dikarunai potensi kelebihan fisik dan/atau intelektual
Tinggal pilihannya mau menyesali keadaan dirinya, atau:
Mau "mencari", menyadari, mengasah dan mengaktualisikan potensinya:
Dan menambah keberuntungan, mengubah nasib hidupnya

Maka bila dalam hidup ini kita temui orang-orang yang dikaruniai bakat khusus 
secara fisik, mental, intelektual ataupun spiritual "walau" beliau-beliau itu 
bukan “siapa-siapa”, bukan berasal dari keluarga ulama/cendekiawan terpandang, 
punya cacat fisik, bukan jagoan, bukan jawara, bukan professor, bukan ustadz, 
syaikh, ahli tafsir kitab-kitab suci bahkan atheis sekalipun "janganlah heran" 
karena mereka itu sebagaimana kita juga adalah "keturunan Nabi Adam 'alayhi as 
salam" yang mulia sehinga juga mewarisi "potensi-potensi bibit unggul" atau 
dalam bahasa Qur'an: "ahsani taqwiim" (bentuk yang sebaik-baiknya") dari 
Beliau: Nabi Adam 'alayhi as-salam. Bedanya sebagian dari kita menyadari 
(disadarkan Allah) akan potensi-potensi tersembunyinya (warisan potensi bibit 
unggul Nabi Adam a.s.) itu dan mau mengasah dan mengaktualisasikannya.

Allah ta'ala memberi ujian hidup untuk mendekatkan hamba-hamba-Nya kepada-Nya. 
Dan saat ujian2 hidup itu bisa membuat sang hamba dekat kepada-NYA, pada saat 
itu Allah ta'ala akan menunjukkan "potensi-potensi" tersembunyinya dan 
bagaimana mengembangkannya. Dan bila ia mau mengasah dan mengaktualisasikannya 
maka melalui itu, ia bisa mengubah garis hidupnya menjadi baik. Dan sungguh 
adalah suatu yang sangatlah mudah bagi Allah untuk membalik nasib seseorang 
asal orang itu juga "betul-betul" mau berusaha untuk mengubah nasibnya sendiri. 
Allah ta'ala (dapat) menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang 
Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh). (QS. 
ar-Ra'd (13) : 39).

Sekian dan mohon maaf atas segala kekurangan.

yos

________________________________________
From: Dasrul Djasli
Sent: Tuesday, September 16, 2008
To: WIYOSO HADI
Subject: RE: Hikmah Paku

Mas mau tanya,
Kalau orang dilahirkan cacat, miskin dan tidak punya kelebihan intelek, hanya 
bisa jadi pengemis, itu sebenarnya cerminan apa? Apa alasan dan tujuan Allah 
dalam penciptaan seperti itu.
Salam,
Dasrul.

From: WIYOSO HADI
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Tue, 16 Sep 2008
Subject: RE: Hikmah Paku

Trims Mas Risto :-)

Allah Swt. telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya
Bila ia memiliki kekurangan di sisi fisik, ia dikaruniai potensi kelebihan 
intelektual dan/atau spiritual
Bila ia memiliki kekurangan di sisi intelektual, ia dikaruniai potensi 
kelebihan fisik dan/atau spiritual
Bila ia memiliki kekurangan di sisi spiritual, ia dikarunai potensi kelebihan 
fisik dan/atau intelektual
Tinggal pilihannya mau menyesali keadaan dirinya, atau:
Mau "mencari", menyadari, mengasah dan mengaktualisikan potensinya:
Dan menambah keberuntungan, mengubah nasib hidupnya

"Tiada takdir terjadi tanpa Kehendak Awal Sang Esa dan Ikhtiar Akhir sang hamba"

Bila kita menyadari hikmah dibalik hikmah-hikmah di atas dengan hati yang ikhlas
maka:

Kita akan lebih menyayangi siapa saja
Kita akan lebih menghargai siapa saja
Kita akan lebih rendah hati kepada siapa
Kita akan lebih bisa banyak belajar dari siapa saja

Bahkan kepada mereka yang kurang beruntung dari pada kita;
Bahkan kepada mereka yang kurang bermoral daripada kita;
kurang beradab daripada kita; kurang tercerahkan daripada kita
baik dari sisi tutur kata maupun dari perilaku mereka;
Mengapa?

Karena kita telah diajarkan melalui keadaan-keadaan mereka itu sebuah Hikmah:
Bahwa kita belum mengamalkan dengan baik tugas dan tanggungjawab sosial kita:
"Saling nasehat-menasehati dengan santun, arif dan sabar."
Itulah makna hadits: "Saudaramu adalah cerminmu"
Keluargamu adalah cerminmu
Anak-anakmu adalah cerminmu
Masyarakatmu adalah cerminmu
Pemimpinmu adalah cerminmu
Bangsamu adalah cerminmu
Duniamu adalah cerminmu

Perbaikilah diri kita sebelum perbaiki yang lain
Bersihkan hati kita sebelum bersihkan yang lain
Dan semua langkah ke depan akan lebih mudah.
'Insya Allah.

Amien.

yos


From: RISTO ANDOGO
Sent: Tuesday, September 16


Hikmah Paku

Sebuah pakupun akan menghadapi masalah pada tubuhnya bila tidak tepat 
menempatkan diri. Bila ia terletak di tanah basah, suatu saat ia akan berkarat, 
tidak memiliki guna, terinjak, bahkan mungkin suatu saat akan terkubur bersama 
karat yang menyelimutinya. Tapi bila kita bisa menempatkannya di tempat yang 
tepat, kita tancapkan pada sebuah dinding, walaupun ia berkarat, paku itu 
berguna bagi manusia. Sebagai penyangga, tempat gantungan, atau sebagai penyatu 
berbagai benda.

Begitu pula kehidupan manusia. Bila kita tidak tepat menempatkan diri kita, 
tidak sadar siapa diri kita, tidak tahu untuk apa kita di dunia, kita hanyalah 
seonggok jasad hidup yang terlunta-lunta. Bila kita tidak memanfaatkan potensi 
yang ada, selalu memandang negatif setiap peristiwa, membiarkan diri berlumur 
dosa, bahkan tidak tahu dengan Sang Pencipta, kita adalah makhluk hidup yang 
tidak berguna. Kemudian hidup ini pun terasa berat untuk kita lalui.

Masalah dan cobaan adalah bunga kehidupan orang-orang beriman. Kembalilah 
kepada Allah bila kita menghadapinya agar kita tenang. Lihat, apakah kita sudah 
tepat menempatkan diri. Jangan menjadi paku yang terletak di tanah basah. Tapi 
jadilah paku yang dapat menyangga kehidupan manusia. Walaupun kecil, tanpa paku 
itu sebuah bangunan besar tidak akan pernah berdiri.

[Dikutip dari suaraSUARA: http://groups.yahoo.com/group/suarasuara/ ]






PH PRO
Indonesia


      
___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

********************
Situs untuk Jual Beli Barang
untuk keluar dari mailing list ini silahkan kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED] Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kolom/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kolom/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke