Etnik Tionghoa dan Diskriminasi Pahlawan Nasional
Minggu, 9 November 2008 - 15:39 wib

TAHUN ini pemerintah mengangkat tiga pahlawan nasional
baru, yakni Soetomo (Bung Tomo), M Natsir, dan KH
Abdul Halim. Sampai sekarang-- sejak pertama kali
dilakukan pengangkatan pahlawan nasional pada 1959--,
tidak pernah ada seorang pun etnik Tionghoa yang
meraih gelar paling terhormat ini.

Dalam beberapa kesempatan, sejarawan senior Taufik
Abdullah mengibaratkan sederetan pahlawan nasional itu
seperti "album foto keluarga". Tiap orang ingin
melihat pertama kali wajahnya sendiri dalam album
tersebut. Bila diperluas lagi, apakah dalam "album
foto bangsa" ada orang dekat kita atau berasal dari
etnik atau daerah yang sama dengan kita?

Mereka menjadi semacam "representasi" tokoh terpilih
yang berasal dari berbagai etnik, agama, dan golongan
di Indonesia. Sejak 1959 hingga sekarang, telah
diangkat lebih dari 100 pahlawan yang berasal dari
berbagai daerah di seluruh Indonesia. Pada 2004
misalnya, seniman yang mengarang lagu-lagu perjuangan,
Ismail Marzuki, masuk dalam daftar ini.

Walaupun mungkin tidak begitu dikenal masyarakat luas,
setahun sebelumnya Pong Tiku ikut bergabung. Ia adalah
pejuang dari Tanah Toraja yang berperang melawan
Belanda pada 1905-1907. Tampak deretan pahlawan
nasional itu bagaikan album perjuangan bangsa. Tiap
daerah berusaha memasukkan "foto" mereka ke dalam
album milik bersama ini.

Ternyata dalam daftar itu tidak terdapat seorang pun
pahlawan nasional yang berasal dari etnik Tionghoa.
Adanya "wakil" Tionghoa dalam album pahlawan bangsa
bukan semata-mata untuk kepentingan kalangan Tionghoa
itu sendiri, tetapi justru sangat penting bagi
masyarakat Indonesia keseluruhan yang bisa melihat
bahwa etnik Tionghoa itu sama dengan etnik lain di
Tanah Air, sama-sama berperan dalam meraih dan
mempertahankan kemerdekaan. Pada masa revolusi
1945-1949, mereka juga ikut berjuang mempertahankan
kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah John Lie.

Menembus Blokade Belanda

Buku suntingan Kusniyati Mochtar yang diberi pengantar
Ali Alatas (Memoar Pejuang Republika Indonesia seputar
?Zaman Singapura' 1945-1950, Gramedia Pustaka Utama,
1992) mengungkapkan secara panjang lebar peran John
Lie dalam menembus blokade Belanda setelah Indonesia
merdeka.

John Lie yang lahir di Manado, 9 Maret 1911 adalah
mualim pada kapal pelayaran niaga milik Belanda KPM
yang kemudian bergabung dengan Angkatan Laut RI. Pada
mulanya, ia bertugas di Cilacap dengan pangkat kelasi
kelas tiga. Di pelabuhan ini selama beberapa bulan ia
berhasil membersihkan ranjau yang ditanam Jepang untuk
menghadapi pasukan sekutu.

Selanjutnya ia ditugasi mengamankan pelayaran kapal
yang mengangkut komoditas ekspor Indonesia untuk
diperdagangkan di luar negeri dalam rangka mengisi kas
negara yang masih tipis waktu itu. Pada masa awal
(1947), ia membawa karet seberat 800 ton untuk
diserahkan kepada Kepala Perwakilan RI di Singapura,
Utoyo Ramelan.

Sejak itulah ia secara rutin melakukan operasi
menembus blokade Belanda. Karet atau hasil bumi lain
dibawa ke Singapura untuk dibarter dengan senjata.
Kemudian sejata tersebut diserahkan kepada pejabat
republik yang ada di Sumatera seperti Bupati Riau
sebagai sarana perjuangan melawan tentara Belanda.
Untuk keperluan operasi ini John Lie memiliki kapal
kecil cepat yang dinamakan The Outlaw.

Mempertahankan Keutuhan Negara

Pada awal 1950, ketika berada di Bangkok, John Lie
dipanggil pulang ke Surabaya oleh KSAL Subiyakto dan
ditugasi sebagai komandan kapal perang Rajawali. Pada
1950 Soumokil memproklamasikan Republik Maluku Selatan
(RMS). Upaya damai dilakukan pemerintah dengan
mengirim Dr Leimena, tetapi tidak membuahkan hasil.

Pada 1 Mei 1950, dilakukan blokade di perairan Ambon
antara lain oleh kapal korvet RI Rajawali yang
dipimpin Mayor John Lie. Karena terkepung, pasukan RMS
merampas harta benda dan makanan dari penduduk. Maka
penduduk mendekati kapal perang ALI dan meminta
bantuan.

Kapal RI Rajawali sempat mengungsikan 4.200 penduduk
yang ingin pindah karena diintimidasi pasukan RMS.
Tahap berikutnya adalah penumpasan pemberontak RMS.
Pendaratan pasukan ALRI yang antara lain menggunakan
RI Rajawali dilakukan pada 13 dan 21 Juli di tiga
tempat, yakni Pulau Buru, Pulau Seram, dan Pulau Piru.
John Lie juga memimpin kapal Rawajali dalam melakukan
pendaratan di Ambon September 1950.

Pada 28 April 1956, John Lie menikah dengan seorang
pendeta Margareth Angkuw di Jakarta. Tampaknya
pengabdian kepada negara telah banyak menyita waktu
John Lie sehingga ia baru menikah pada usia 45 tahun.
Pada masa berikut, ia aktif dalam penumpasan PRRI dan
Permesta pada 1958. Dalam penumpasan PRRI (Pemerintah
Revolusioner Republik Indonesia), Letnan Kolonel John
Lie memimpin Amphibious TaskForce17 yang terdiri atas
6 kapal perang dan satu batalion KKO.

Kapal- kapal itu membombardir Kota Padang dan kemudian
pasukan KKO melakukan pendaratan. Dalam penumpasan
Permesta (Perjuangan Semesta) John Lie memimpin
Amphibious Task 25 yang terdiri atas 17 kapal perang
dan satu batalion KKO. John Lie yang dikenal juga
dengan nama Jahya Daniel Dharma tetap berdinas pada
Angkatan Laut, terakhir dengan pangkat laksamana muda.
Selanjutnya ia bergerak dalam bidang sosial dan
keagamaan sampai akhir hayatnya.

Jasa John Lie

Dalam majalah Life yang terbit di Amerika Serikat 26
September 1949, ditampilkan laporan Roy Rowan berjudul
"Guns and Bibles, Are Smuggled to Indonesia". Pada
halaman depan artikel itu terpampang pose John Lie di
buritan kapalnya sedang memegang Alkitab "before a
smuggling trip" pada perairan yang diblokade Belanda.
Istilah smuggling atau penyelundupan itu jelas tidak
tepat dari perspektif Indonesia. Ungkapan yang lebih
pas adalah "menembus blokade Belanda".

Di dalam majalah Life itu, terdapat foto Wakil
Presiden M Hatta yang sempat mengunjungi John Lie
sebelum berunding dengan pihak Belanda.Tidak
disebutkan secara persis, tetapi mengingat tanggal
penerbitan majalah Life itu adalah 26 September 1949,
kemungkinan ini dilakukan dalam perjalanan Hatta
sebelum menghadiri KMB di negeri Belanda.

Hubungan John Lie dan Bung Hatta sekeluarga tetap erat
sampai akhir hayat. Menjelang 17 Agustus 1988 John Lie
mengirimkan karangan bunga atas ulang tahun Bung Hatta
(12 Agustus) dan ulang tahun kemerdekaan RI (17
Agustus). Pada 19 Agustus 1988, Rahmi Hatta
mengucapkan terima kasih atas perhatian John Lie dan
menyampaikan,"Kami sekeluarga juga tak lupa atas
jasa-jasa John Lie dalam perjuangan membela Tanah Air
kita tercinta dan atas keberanian membela hak kita."

Perjuangan John Lie tidak sesaat, tetapi
berkesinambungan. John Lie telah berjasa membela
kemerdekaan dengan menyabung nyawa menembus blokade
Belanda. Selanjutnya ia tetap berjuang menjaga
keutuhan NKRI dengan memadamkan berbagai pemberontakan
pada era 1950-an.

Pada hari tuanya ia bergerak pada bidang
kemasyarakatan melalui kegiatan sosial dan keagamaan.
Delapan hari kemudian (27 Agustus 1988) setelah
menerima surat dari Rahmi Hatta, John Lie berangkat
menembus blokade keduniaan memenuhi panggilan Yang
Maha Kuasa. Rest in Peace. (*)

Asvi Warman Adam,
Sejarawan LIPI


Pls CC or  reply to : [EMAIL PROTECTED]  

Pls Join : 
[EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/inti-net
 
LowonganNET - Informasi Lowongan Pekerjaan terbaru, Gratis via email
[EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/LowonganNet

Iklan Parahiyangan - [EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/iklan-parahiyangan

Batavia-news - Milis Berita dan Features.
[EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/batavia-news

Milis Republik-Mimpi - Ikutan diskusi seputar negeri impian
[EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/republik-mimpi

Milis Rakyat-Peduli - Anda peduli dgn masalah bangsa ini ?
[EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/rakyat-peduli

Great Business Opportunities.
Visit  http://www.balipetroleum.myffi.biz/

Visit Tionghoanet on the blog :
http://tionghoanet.blogspot.com/


      

------------------------------------

********************
Situs untuk Jual Beli Barang
untuk keluar dari mailing list ini silahkan kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED] Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kolom/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kolom/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke