Catatan Agus Pambagio
Jagal Motor di Jalan Raya
Agus Pambagio

Jakarta - Setiap hari sejak Matahari menampakkan diri
di ufuk timur sampai menjelang tengah malam, 12 juta
warga DKI Jakarta dan Bodetabek berebut ruang sempit
di jalan raya demi akses menuju  kantor dan kembali
rumah atau dari pertemuan satu ke pertemuan lainnya
tepat waktu.  Berbagai kejadian akan kita temui atau
lihat di jalan raya yang semakin hari semakin padat
dan penuh emosi.

Kepanikan kita akan terlambat sampai di tempat tujuan
diperparah dengan semakin banyaknya pengendara sepeda
motor yang menyelinap di sekitar mobil atau trotoar
tempat kita berjalan layaknya pemilik jalan raya.
Sudah lima tahun belakangan ini sepeda motor menjadi
raja jalanan mengalahkan angkutan umum yang dulu
terkenal sebagai penguasa jalanan. Kecelakaan yang
sering melibatkan motor vs mobil sudah merupakan
kejadian biasa sehari-hari.

Yang mengkhawatirkan saya saat ini justru kecelakaan
motor vs motor terus meningkat. Hampir setiap hari
saya menyaksikan minimal 2 kai kecelakaan motor lawan
motor di jalan raya.

Sebagai pejalan kaki, saya sangat terganggu jika
sedang berjalan di trotoar di Jabodetabek yang sudah
semakin sempit  oleh pedagang kaki lima  dipenuhi pula
oleh pengendara motor yang semakin ugal-ugalan
mengambil jatah pejalan kaki di trotoar. Pengendara
motor sepertinya sangat tidak peduli dengan pejalan
kaki. Jalan raya sudah dipadatinya, trotoar pun
diambilnya pula. Dua tahun lalu naik motor memang bisa
mempersingkat waktu sampai ke tujuan tetapi saat ini
naik motor sama macetnya dengan naik mobil.

Mobil baret atau penyok kesenggol motor sudah
merupakan kejadian sehari-hari yang dialami pengendara
mobil dengan pasrah. Kalau menyenggol mobil pengendara
motor umumnya akan berlalu begitu saja tanpa berhenti
dan minta maaf, bahkan kalau kita klakson mereka
marah. Namun jika tersenggol mobil, pasti pengendara
mobil diminta berhenti dan diwajibkan harus mengganti
rugi.

Sopan santun di jalan raya memang sudah menguap. Jika
terjadi kecelakaan antara mobil dengan sepeda motor,
sudah dapat dipastikan mobilnya yang salah karena
pengendara atau  pemilik mobil dianggap lebih kaya
dari pengendara atau pemilik motor.  Mengapa  bisa 
demikian? Apakah hukum memang sudah tidak berlaku lagi
di jalan raya?

Antara Kepadatan dan Ketidakmampuan Aparat

DKI Jakarta dengan total panjang jalan 7.650 km dan
luas jalan 43 juta m2 telah dipadati oleh 3,5 juta
motor  atau 5,5 juta jika ditambah motor yang masuk
wilayah DKI Jakarta dari Bodetabek dan ditambah dengan
 2,5 juta mobil termasuk  bus kota atau 3,5 juta jika
ditambah  dari Bodetabek.

Dengan tingkat pertumbuhan ruas jalan yang hanya 1%
dibandingkan dengan pertumbuhan kendaraan bermotor
sebesar 11%, jelas tidak seimbang dan akibatnya dapat
kita lihat sendiri semakin hari jalanan di Jabodetabek
semakin padat.

Jalanan superpadat di Jabodetabek tidak saja karena
jumlah kendaraan yang sudah melebihi daya tampung
jalan tetapi juga disebabkan oleh ketidakdisiplinan
pengendara kendaraan bermotor, terutama pengendara
motor dan kendaraan umum. Pelanggaran rambu sudah
tidak terhitung.

Lihat saja di perempatan jalan, puluhan motor siap
start layaknya di jalur balap tanpa memperdulikan
lampu. Jika dari arah lain tidak ada kendaraan yang
lewat, dapat dipastikan barisan motor ini akan
menghambur melanggar lampu lalu lintas yang masih
menyala merah.

Banyaknya sepeda motor berjalan berlawanan arah,
melewati jembatan penyeberangan orang, masuk ke busway
baik berlawanan maupun searah,  memaksa berjalan
meskipun mobil atau motor di depannya sudah memberi
tanda akan berbelok dan sebagainya, merupakan
jenis-jenis pelanggaran yang dilakukan para pengendara
sepeda motor sehari-hari yang kita lihat.

Mereka sangat tidak perduli dengan orang lain yang
sama-sama pengguna jalan. Kalau kita ingatkan, mereka
akan marah dan menantang kita berkelahi. Minta ampun
dah!

Bisa dibayangkan jalan yang hanya tumbuh 1%/tahun
dipadati oleh kendaraan umum yang "ngetem", arogansi
pengendara sepeda motor dan kelakuan pengendara mobil
yang serobot kiri serobot kanan membuat kita warga
Jakarta pendek umur karena stres dan jagal massal  di
jalan raya.

Semua ini karena patut diduga 80% pengemudi dan
pengendara kendaraan bermotor di Jabodetabek
memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM)-nya dengan cara
membeli atau ujian kolektif. Sehingga mereka tidak
paham arti rambu dan peraturan lalu lintas. Bagaimana
bisa paham peraturan dan rambu lalu lintas kalau dapat
SIM-nya tanpa ujian.

Jadi jelas memang karena aparat perlu dana yang tidak
bisa diperoleh melalui anggaran belanja negara, maka
aparat menjadi kreatif untuk mendapatkan tambahan
dana. Mulai dari menyediakan pembuatan SIM massal,
pungli pelanggar lalu lintas, dan berbagai kegiatan
melanggar hukum lainnya. Bagaimana rakyat mau taat
kalau aparat dan negara lepas tangan atau pura-pura
tidak tahu?

Adakah Jalan Keluar?

Semua keruwetan di jalan raya seputar Jabodetabek
sebenarnya dapat diurai jika Pemda mau melakukan 
beberapa  langkah  strategis, berani dan gila! Seperti
apa  itu dan bagaimana caranya?

Pertama, proses pengambilan SIM harus diperketat
sehingga tidak lagi ada ujian SIM secara kolektif yang
biasanya dilakukan oleh mahasiswa atau organisasi
tertentu atau bahkan kursus mengemudi dengan alasan
kemudahan administrasi.

Dalam ujian kolektif biasanya tidak semua pemohon ikut
ujian tetapi semua pemohon akan dapat SIM. Bagaimana
mereka bisa kita harapkan paham berlalu lintas kalau
tidak pernah ikut ujian SIM atau bahkan baca buku
tentang rambu dan peraturan berlalu lintas? Ujian SIM
bagi warga negara harus dilakukan dengan benar dan
tidak semua peserta ujian harus lulus dan dapat SIM.

Kedua, pihak Kepolisian harus tegas karena tindakan
polisi menilang pelanggar lalu lintas dilindungi UU.
Kalau polisi takut pada pelanggar lalu lintas,
bagaimana  rakyat mau menghargai polisi?

Terkait dengan proses tilang memang ada baiknya
pemerintah pusat segera memikirkan bagaimana supaya
uang denda tilang tidak lagi masuk ke kas negara semua
sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)  tetapi
50% dapat masuk ke Kepolisian sehingga bisa digunakan
sebagai dana kesejahteraan polisi lalu lintas agar
bersemangat menegakkan hukum dengan tegas  tanpa
pungli.

Ketiga, Pemda harus membangun secara baik dan tuntas
sarana transportasi umum modern yang nyaman dan aman.
BRT (Bus Rapid Transport) atau busway sudah bagus
namun pengelolaan busway yang dilakukan Pemda DKI
masih sama dengan kalau mereka mengelola "oplet". Jadi
jangan heran kalau busway akan segera menjadi PPD
jilid II. Tanpa prasarana dan sarana angkutan umum
yang modern, baik dan terintegrasi jangan harap
pengguna kendaraan pribadi dan pengendara motor akan
berpindah ke busway.

Keempat, Pemda DKI harus berani dan segila Pemda di
Shanghai dan kota-kota lain yang sudah sejak tahun
2004 melarang motor masuk ke jalan-jalan protokol.
Tanpa ini semua, jagal motor di jalan raya DKI Jakarta
dan mungkin juga Bodetabek akan terus meningkat.

Beranikah Gubernur DKI menata jalanan di DKI Jakarta
agar tidak bertambah macet? Saya pribadi kok ragu
karena Gubernur kita saat ini sangat santun, pandai
dan berhati-hati. Maaf Bang Foke, kita perlu Anda
lebih tegas, berani dan nekat, demi Ibu Kota negara
tercinta ini nyaman dihuni dan membanggakan untuk
ditonjolkan di pergaulan global.

Saya tunggu kenekatan dan kegilaan Bang Foke mengatur
DKI Jakarta, khususnya jagal motor di jalan raya.

Agus Pambagio (Pemerhati Kebijakan Publik dan
Perlindungan Konsumen)


Pls CC or  reply to : [EMAIL PROTECTED]  

Pls Join : 
[EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/inti-net
 
LowonganNET - Informasi Lowongan Pekerjaan terbaru, Gratis via email
[EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/LowonganNet

Iklan Parahiyangan - [EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/iklan-parahiyangan

Batavia-news - Milis Berita dan Features.
[EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/batavia-news

Milis Republik-Mimpi - Ikutan diskusi seputar negeri impian
[EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/republik-mimpi

Milis Rakyat-Peduli - Anda peduli dgn masalah bangsa ini ?
[EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/rakyat-peduli

Great Business Opportunities.
Visit  http://www.balipetroleum.myffi.biz/

Visit Tionghoanet on the blog :
http://tionghoanet.blogspot.com/


      

------------------------------------

********************
Situs untuk Jual Beli Barang
untuk keluar dari mailing list ini silahkan kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED] Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kolom/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kolom/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke