Terusan lain dari Milist Suara Hati/SUARA... 
semoga bermanfaat...

________________________________________
Dari: WIYOSO HADI
Kepada: [EMAIL PROTECTED]
Terkirim: Senin, 10 November, 2008 04:09 


Alhamdulillah, temuan para ilmuwan tentang realitas Hologram Alam Semesta ini, 
bila dibaca dengan jujur, obyektif dan seksama :-) 'insya Allah 'senafas' :-) 
pula dengan "hikmah-hikmah" kutipan-kutipan firman Allah berikut ini:

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau... 
(Al-An'aam: 32); Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada 
yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan 
dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia 
mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak 
sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata 
(Lohmahfuz). ..Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa 
yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang 
hari untuk disempurnakan umur (mu) yang telah ditentukan... (Al-An'aam: 59-60); 
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala 
penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Al-An'aam: 
103); Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha 
Mengetahui segala sesuatu. ...Dia
 bersama kamu di mana saja kamu berada... (Al-Hadiid: 3-4). ...Dan kehidupan 
dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al-Hadiid: 20). Tiada 
suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri 
melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya... 
(Kami jelaskan ini kepadamu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang 
luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang 
diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi 
membanggakan diri. (Al-Hadiid: 22-23).

Selain itu, temuan ilmiah ini, boleh dikatakan juga merupakan suatu "penjelasan 
yang lebih membumi" :-) dari "sebagian" apa yang pernah saya tulis dan 
maksudkan dalam Catatan Harian Membuka Hati, tiga tahun silam, (maaf halaman 
berapa lupa :-) yaitu:

Bismillahir-Rahmaanir-Rahiim..

Tak ada yang benar-benar kosong
tak ada yang benar-benar padat
Dalam kekosongan ada kepadatan
dalam kepadatan ada kekosongan

Dalam bathin ada zhaahir
dalam zhaahir ada bathin
Dalam keseluruhan ada bagian
dalam bagian ada keseluruhan

Keseluruhan Dzat-NYA bathin
bagian Sifat-Sifat-NYA zhaahir
Diamlah dalam dzikir
dzikirlah dalam diam

dan geraklah dalam dzikir
dzikirlah dalam gerak
hingga alami...

saat diam dalam gerak
dan gerak dalam diam
saat kontemplasi dalam kreasi
dan kreasi dalam kontemplasi

saat kesatuan dalam keragaman
dan keragaman dalam kesatuan
saat awwal tak lain akhir
dan akhir tak lain awwal

dan saat ada jadi tiada
dan tiada jadi ada
maka saat itu...

diri kan terliputi Hakikat Muhammad
dan melaluinya tersingkaplah ....
Diri Sejati.

(Selasa, 12 Jumadil Akhir 1426H, 19 Juli 2005)

salam,

PS.
Mohon maaf bila email-email Saudara/i Bapak/Ibu belum atau tidak sempat saya 
balas, tapi 'insya Allah sebagian besar akan saya buka dan baca walaupun tidak 
sempat membalasnya. Kata senior, rekan kerja sekantor dan sahabat baik saya mas 
Budiono, saya perlu meng-hire sekretaris khusus untuk jawab e-mail :), tapi 
nampaknya dalam waktu dekat belum :-) jadi mohon maklum dan pengertiannya :) 
terima kasih, jabat erat, senyum hangat, yos.


--- In SUARA, [EMAIL PROTECTED] wrote:

Temuan ilmiah para saintis modern bahwa alam semesta sebagai hologram 'senafas' 
dengan kutipan dua suara hati ini:

"Whatever exists in the entire universe, it is also in your own heart. You have 
to gain the ability to see it. People cannot describe me. No matter in which 
words or in which terms they present me, I am the opposite of what they say. I 
feel, I hear, I speak, but I do not exist." - Abul-Hasan 'Ali al-Kharqani -

"Makhluk bukan Allah, makhluk juga bukan bayangan Allah, makhluk wujud bayangan 
dalam Kesadaran Allah, makhluk ada karena dihidupkan dalam Kesadaran-Nya, 
makhluk binasa karena dimatikan dalam Kesadaran-Nya, diri-diri bukan apa-apa 
kecuali bayangan dalam refleksi Diri Sejati Allah. Allah tidak bergerak, tidak 
pula diam, Allah beraktivitas dalam Kesadaran-Nya Yang Esa, Mahasuci Allah, 
tiada tidur, tiada lelah, memelihara semuanya dalam Kesadaran-NYA. - Wiyoso 
Hadi, Catatan Harian Membuka Hati, halaman 171, 172 -

--- On Sun, 11/9/08, Yusuf Ahmad Shiddiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Date: Sunday, November 9, 2008, 12:19 PM

Your journey is towards your homeland. Remember you are traveling from the 
world of appearances to the world of Reality.
-'Abd'l-Khaliq Ghijuduwani

Consciousness and the New Physics:
http://twm.co.nz/consc_phys.htm
Reality and Consciousness:
http://twm.co.nz/prussell.htm
Science proves mind's power over matter
http://twm.co.nz/teleg_PK.htm
Translated to Bahasa Indonesia taken from:
http://www.rense.com/general69/holoff.htm

Alam Semesta sebagai Hologram
Buku: Michael Talbot - The Holographic Universe

Pada tahun 1982 terjadi suatu peristiwa yang menarik. Di Universitas Paris, 
Aspect bersama timnya menemukan bahwa dalam lingkungan tertentu 
partikel-partikel subatomik, seperti elektron, mampu berkomunikasi dengan 
seketika satu sama lain tanpa tergantung pada jarak yang memisahkan mereka. 
Tidak ada bedanya apakah mereka terpisah 10 kaki atau 10 milyar km satu sama 
lain. Entah bagaimana, tampaknya setiap partikel selalu tahu apa yang dilakukan 
oleh partikel lain. Masalah yang ditampilkan oleh temuan ini adalah bahwa hal 
itu melanggar prinsip Einstein yang telah lama dipegang, yakni bahwa tidak ada 
komunikasi yang mampu berjalan lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Oleh 
karena berjalan melebihi kecepatan cahaya berarti menembus dinding waktu, maka 
prospek yang menakutkan ini menyebabkan sementara ilmuwan fisika mencoba 
menyusun teori yang dapat menjelaskan temuan Aspect. Namun hal itu juga 
mengilhami sementara ilmuwan lain untuk menyusun teori yang lebih
 radikal lagi.

Pakar fisika teoretik dari Universitas London, David Bohm, misalnya, yakin 
bahwa temuan Aspect menyiratkan bahwa realitas obyektif itu tidak ada; bahwa 
sekalipun tampaknya pejal [solid], alam semesta ini pada dasarnya merupakan 
khayalan, suatu hologram raksasa yang terperinci secara sempurna. Untuk 
memahami mengapa Bohm sampai membuat pernyataan yang mengejutkan ini, 
pertama-tama kita harus memahami sedikit tentang hologram. Sebuah hologram 
adalah suatu potret tiga dimensional yang dibuat dengan sinar laser. Untuk 
membuat hologram, obyek yang akan difoto mula-mula disinari dengan suatu sinar 
laser. Lalu sinar laser kedua yang dipantulkan dari sinar pertama ditujukan 
pula kepada obyek tersebut, dan pola interferensi yang terjadi (bidang tempat 
kedua sinar laser itu bercampur) direkam dalam sebuah pelat foto. Ketika pelat 
itu dicuci, gambar terlihat sebagai pusaran-pusaran garis-garis terang dan 
gelap. Tetapi ketika foto itu disoroti oleh sebuah sinar
 laser lagi, muncullah gambar tiga dimensional dari obyek semula di situ. Sifat 
tiga dimensi dari gambar seperti itu bukan satu-satunya sifat yang menarik dari 
hologram. Jika hologram sebuah bunga mawar dibelah dua dan disoroti oleh sebuah 
sinar laser, masing-masing belahan itu ternyata masih mengandung gambar mawar 
itu secara lengkap (tetapi lebih kecil). Bahkan, jika belahan itu dibelah lagi, 
masing-masing potongan foto itu ternyata selalu mengandung gambar semula yang 
lengkap sekalipun lebih kecil. Berbeda dengan foto yang biasa, setiap bagian 
sebuah hologram mengandung semua informasi yang ada pada hologram secara 
keseluruhan.

Sifat "keseluruhan di dalam setiap bagian" dari sebuah hologram, memberikan 
kepada kita suatu cara pemahaman yang sama sekali baru terhadap organisasi dan 
order. Selama sebagian besar sejarahnya, sains Barat bekerja di bawah prinsip 
yang bias, yakni bahwa cara terbaik untuk memahami fenomena fisikal --baik 
seekor katak atau sebuah atom-- adalah dengan memotong-motongnya dan meneliti 
bagian- bagiannya. Sebuah hologram mengajarkan bahwa beberapa hal dari alam 
semesta ini mungkin tidak akan terungkap dengan pendekatan itu. Jika kita 
mencoba menguraikan sesuatu yang tersusun secara holografik, kita tidak akan 
mendapatkan bagian-bagian yang membentuknya, melainkan kita akan mendapatkan 
keutuhan yang lebih kecil.

Pencerahan ini menuntun Bohm untuk memahami secara lain temuan Aspect. Bohm 
yakin bahwa alasan mengapa partikel-partikel subatomik mampu berhubungan satu 
sama lain tanpa terpengaruh oleh jarak yang memisahkan mereka adalah bukan 
karena mereka mengirimkan isyarat misterius bolak-balik di antara satu sama 
lain, melainkan oleh karena keterpisahan mereka adalah ilusi. Bohm berkilah, 
bahwa pada suatu tingkat realitas yang lebih dalam, partikel-partikel seperti 
itu bukanlah entitas-entitas individual, melainkan merupakan perpanjangan 
[extension] dari sesuatu yang Esa dan Fundamental.

Agar khalayak lebih mudah membayangkan apa yang dimaksudkannya, Bohm memberikan 
ilustrasi berikut: Bayangkan sebuah akuarium yang mengandung seekor ikan. 
Bayangkan juga bahwa Anda tidak dapat melihat akuarium itu secara langsung, dan 
bahwa pengetahuan Anda tentang akuarium itu beserta apa yang terkandung di 
dalamnya datang dari dua kamera televisi: yang sebuah ditujukan ke sisi depan 
akuarium, dan yang lain ditujukan ke sisinya. Ketika Anda menatap kedua layar 
televisi, Anda mungkin menganggap bahwa ikan yang ada pada masing-masing layar 
itu adalah dua ikan yang berbeda. Bagaimana pun juga, karena kedua kamera 
diarahkan dengan sudut yang berbeda, masing-masing gambar ikan itu sedikit 
berbeda satu sama lain. Tetapi sementara Anda terus memandang kedua ikan itu, 
akhirnya Anda akan menyadari bahwa ada hubungan tertentu di antara kedua ikan 
itu. Kalau yang satu berbelok, yang lain juga membuat gerakan yang berbeda tapi 
sesuai; jika yang satu menghadap
 kamera, yang lain menghadap ke suatu sisi. Jika Anda tidak menyadari seluruh 
situasinya, Anda mungkin menyimpulkan bahwa kedua ikan itu saling berkomunikasi 
secara seketika, tetapi jelas bukan demikian halnya. Menurut Bohm, inilah 
sesungguhnya yang terjadi di antara partikel-partikel subatomik dalam 
eksperimen Aspect itu. Menurut Bohm, hubungan yang tampaknya "lebih cepat dari 
cahaya" di antara partikel-partikel subatomik sesungguhnya mengatakan kepada 
kita bahwa ada suatu tingkat realitas yang lebih dalam, yang selama ini tidak 
kita kenal, suatu dimensi yang lebih rumit di luar dimensi kita, dimensi yang 
beranalogi dengan akuarium itu. Tambahnya, kita memandang obyek-obyek seperti 
partikel-partikel subatomik sebagai terpisah satu sama lain oleh karena kita 
hanya memandang satu bagian dari realitas sesungguhnya.

Partikel-partikel seperti itu bukanlah "bagian-bagian" yang terpisah, melainkan 
faset-faset dari suatu kesatuan (keesaan) yang lebih dalam dan lebih mendasar, 
yang pada akhirnya bersifat holografik dan tak terbagi-bagi seperti gambar 
mawar di atas. Dan oleh karena segala sesuatu dalam realitas fisikal terdiri 
dari apa yang disebut "eidolon-eidolon" ini, maka alam semesta itu sendiri 
adalah suatu proyeksi, suatu hologram. Di samping hakekatnya yang seperti 
bayangan, alam semesta itu memiliki sifat-sifat lain yang cukup mengejutkan. 
Jika keterpisahan yang tampak di antara partikel-partikel subatomik itu ilusif, 
itu berarti pada suatu tingkat realitas yang lebih dalam segala sesuatu di alam 
semesta ini saling berhubungan secara tak terbatas.

Elektron-elektron di dalam atom karbon dalam otak manusia berhubungan dengan 
partikel-partikel subatomik yang membentuk setiap ikan salem yang berenang, 
setiap jantung yang berdenyut, dan setiap bintang yang berkilauan di angkasa. 
Segala sesuatu meresapi segala sesuatu; dan sekalipun sifat manusia selalu 
mencoba memilah-milah, mengkotak-kotakkan dan membagi-bagi berbagai fenomena di 
alam semesta, semua pengkotakan itu mau tidak mau adalah artifisial, dan 
segenap alam semesta ini pada akhirnya merupakan suatu jaringan tanpa jahitan.

Di dalam sebuah alam semesta yang holografik, bahkan waktu dan ruang tidak 
dapat lagi dipandang sebagai sesuatu yang fundamental. Oleh karena 
konsep-konsep seperti "lokasi" runtuh di dalam suatu alam semesta yang di situ 
tidak ada lagi sesuatu yang terpisah dari yang lain, maka waktu dan ruang tiga 
dimensional --seperti gambar-gambar ikan pada layar-layar TV di atas-- harus 
dipandang sebagai proyeksi dari order yang lebih dalam lagi. Pada tingkatan 
yang lebih dalam, realitas merupakan semacam superhologram yang di situ masa 
lampau, masa kini, dan masa depan semua ada (berlangsung) secara serentak. Ini 
mengisyaratkan bawah dengan peralatan yang tepat mungkin di masa depan orang 
bisa menjangkau ke tingkatan realitas superholografik itu dan mengambil 
adegan-adegan dari masa lampau yang terlupakan.

Apakah ada lagi yang terkandung dalam superhologram itu merupakan pertanyaan 
terbuka. Bila diterima --dalam diskusi ini-- bahwa superhologram itu merupakan 
matriks yang melahirkan segala sesuatu dalam alam semesta kita, 
setidak-tidaknya ia mengandung setiap partikel subatomik yang pernah ada dan 
akan ada --- setiap konfigurasi materi dan energi yang mungkin, dari butiran 
salju sampai quasar, dari ikan paus biru sampai sinar gamma. Itu bisa dilihat 
sebagai gudang kosmik dari "segala yang ada".

Sekalipun Bohm mengakui bahwa kita tidak mempunyai cara untuk mengetahui apa 
lagi yang tersembunyi di dalam superhologram itu, ia juga mengatakan bahwa kita 
tidak mempunyai alasan bahwa superhologram itu tidak mengandung apa-apa lagi. 
Atau, seperti dinyatakannya, mungkin tingkat realitas superholografik itu 
"sekadar satu tingkatan", yang di luarnya terletak "perkembangan lebih lanjut 
yang tak terbatas".

Bohm bukanlah satu-satunya peneliti yang menemukan bukti-bukti bahwa alam 
semesta ini merupakan hologram. Dengan bekerja secara independen di bidang 
penelitian otak, pakar neurofisiologi Karl Pribram dari Universitas Stanford, 
juga menerima sifat holografik dari realitas. Pribram tertarik kepada model 
holografik oleh teka-teki bagaimana dan di mana ingatan tersimpan di dalam 
otak. Selama puluhan tahun berbagai penelitian menunjukkan bahwa alih-alih 
tersimpan dalam suatu lokasi tertentu, ingatan tersebar di seluruh bagian otak.

Dalam serangkaian penelitian yang bersejarah pada tahun 1920-an, ilmuwan otak 
Karl Lashley menemukan bahwa tidak peduli bagian mana dari otak tikus yang 
diambilnya, ia tidak dapat menghilangkan ingatan untuk melakukan tugas-tugas 
rumit yang pernah dipelajari tikus itu sebelum dioperasi. Masalahnya ialah 
tidak seorang pun dapat menjelaskan mekanisme ponyimpanan ingatan yang bersifat 
"semua di dalam setiap bagian" yang aneh ini. Lalu pada tahun 1960-an Pribram 
membaca konsep holografi dan menyadari bahwa ia telah menemukan penjelasan yang 
telah lama dicari-cari oleh para ilmuwan otak. Pribram yakin bahwa ingatan 
terekam bukan di dalam neuron-neuron (sel-sel otak), melainkan di dalam 
pola-pola impuls saraf yang merambah seluruh otak, seperti pola-pola 
interferensi sinar laser yang merambah seluruh wilayah pelat film yang 
mengandung suatu gambar holografik. Dengan kata lain, Pribram yakin bahwa otak 
itu sendiri merupakan sebuah hologram.

Teori Pribram juga menjelaskan bagaimana otak manusia dapat menyimpan begitu 
banyak ingatan dalam ruang yang begitu kecil. Pernah diperkirakan bahwa otak 
manusia mempunyai kapasitas mengingat sekitar 10 milyar bit informasi selama 
masa hidup manusia rata-rata (atau kira-kira sebanyak informasi yang terkandung 
dalam lima set Encyclopaedia Britannica). Demikian pula telah ditemukan bahwa 
di samping sifat-sifatnya yang lain, hologram mempunyai kapasitas untuk 
menyimpan informasi --- hanya dengan mengubah sudut kedua sinar laser itu jatuh 
pada permukaan pelat film, dimungkinkan untuk merekam banyak gambar berbeda 
pada permukaan yang sama. Telah dibuktikan bahwa satu sentimeter kubik pelat 
film dapat menyimpan sebanyak 10 milyar bit informasi.

Kemampuan mengagumkan dari manusia untuk mengambil informasi yang diperlukan 
dari gudang ingatan yang amat besar itu dapat lebih dipahami jika otak 
berfungsi menurut prinsip-prinsip holografik. Jika seorang teman minta Anda 
mengatakan apa yang terlintas dalam pikiran ketika ia menyebut "zebra", Anda 
tidak perlu tertatih-tatih melakukan sorting dan mencari dalam suatu file 
alfabetis raksasa dalam otak untuk sampai kepada suatu jawaban. Alih-alih, 
berbagai asosiasi seperti "bergaris-garis", "macam kuda", dan "binatang dari 
Afrika" semua muncul di kepala Anda dengan seketika. Sesungguhnya, salah satu 
hal paling mengherankan tentang proses berpikir manusia adalah bahwa setiap 
butir informasi tampaknya dengan seketika berkorelasi- silang dengan setiap 
butir informasi lain– ini merupakan sifat intrinsik dari hologram. Oleh karena 
setiap bagian dari hologram saling berhubungan secara tak terbatas satu sama 
lain, ini barangkali merupakan contoh terbaik dari
 alam tentang suatu sistem yang saling berkorelasi.

Penyimpanan ingatan bukan satu-satunya teka-teki neurofisiologis yang lebih 
dapat dijelaskan dengan model otak holografik Pribram. Teka-teki lain adalah 
bagaimana otak mampu menerjemahkan serbuan frekuensi-frekuensi yang diterimanya 
melalui pancaindra (frekuensi cahaya, frekuensi suara, dan sebagainya) menjadi 
dunia konkrit dari persepsi manusia. Merekam dan menguraikan kembali frekuensi 
adalah sifat terunggul dari sebuah hologram. Seperti hologram berfungsi sebagai 
semacam lensa, alat yang menerjemahkan frekuensi-frekuensi kabur yang tak 
berarti menjadi suatu gambar yang koheren, Pribram yakin bahwa otak juga 
merupakan sebuah lensa yang menggunakan prinsip-prinsip holografik untuk secara 
matematis mengubah frekuensi-frekuensi yang diterimanya melalui pancaindra 
menjadi persepsi di dalam batin kita. Sejumlah bukti yang mengesankan 
mengisyaratkan bahwa otak menggunakan prinsip-prinsip holografik untuk 
menjalankan fungsinya. Sesungguhnya, teori Pribram
 makin diterima di kalangan pakar neurofisiologi.

Peneliti Argentina-Italia, Hugo Zucarelli, baru-baru ini memperluas model 
holografik ke dalam fenomena akustik. Menghadapi teka-teki bahwa manusia dapat 
menetapkan sumber suara tanpa menggerakkan kepalanya, bahkan jika mereka hanya 
memiliki pendengaran pada satu telinga saja, Zucarelli menemukan 
prinsip-prinsip holografik dapat menjelaskan kemampuan ini. Zucarelli juga 
mengembangkan teknologi suara holofonik, suatu teknik perekaman yang mampu 
mereproduksi suasana akustik dengan realisme yang mengagumkan. Keyakinan 
Pribram bahwa otak kita secara matematis membangun realitas "keras" dengan 
mengandalkan diri pada masukan dari suatu domain frekuensi juga telah mendapat 
dukungan sejumlah eksperimen. Telah ditemukan bahwa masing-masing indra kita 
peka terhadap suatu bentangan frekuensi yang jauh lebih lebar daripada yang 
dianggap orang sebelum ini. Misalnya, para peneliti telah menemukan bahwa 
sistem penglihatan kita peka terhadap frekuensi suara, bahwa indra
 penciuman kita sebagian bergantung pada apa yang sekarang dinamakan "frekuensi 
osmik", dan bahkan sel-sel tubuh kita peka terhadap suatu bentangan luas 
frekuensi. Temuan-temuan seperti itu menandakan bahwa hanya di dalam domain 
kesadaran holografik saja frekuensi-frekuensi seperti itu dipilah-pilah dan 
dibagi-bagi menjadi persepsi konvensional.

Tetapi aspek yang paling membingungkan dari model otak holografik Pribram 
adalah apa yang terjadi apabila model itu dipadukan dengan teori Bohm. Oleh 
karena, bila kekonkritan alam semesta ini hanyalah realitas sekunder dan bahwa 
apa yang ada "di luar sana" sesungguhnya hanyalah kekaburan frekuensi 
holografik, dan jika otak juga sebuah hologram dan hanya memilih beberapa saja 
dari frekuensi-frekuensi yang kabur dan secara matematis mengubahnya menjadi 
persepsi sensorik, apa jadinya dengan realitas yang obyektif?

Secara sederhana, realias obyektif itu tidak ada lagi. Seperti telah lama 
dinyatakan oleh agama-agama dari Timur, dunia materi ini adalah Maya, suatu 
ilusi, dan sekalipun kita mungkin berpikir bahwa kita ini makhluk fisikal yang 
bergerak di dalam dunia fisikal, ini juga suatu ilusi. Kita ini sebenarnya 
adalah "pesawat penerima" yang mengambang melalui suatu lautan frekuensi 
kaleidoskopik, dan apa yang kita ambil dari lautan ini dan terjemahkan menjadi 
realitas fisikal hanyalah satu channel saja dari sekian banyak yang diambil 
dari superhologram itu. Gambaran realitas yang baru dan mengejutkan ini, yakni 
sintesis antara pandangan Bohm dan Pribram, dinamakan paradigma holografik, dan 
sekalipun banyak ilmuwan memandangnya secara skeptik, paradigma itu 
menggairahkan sementara ilmuwan lain.

Suatu lingkungan kecil ilmuwan --yang jumlahnya makin bertambah-- percaya bahwa 
paradigma itu merupakan model realitas yang paling akurat yang pernah dicapai 
sains. Lebih dari itu, sementara kalangan percaya bahwa itu dapat memecahkan 
beberapa misteri yang selama ini belum dapat dijelaskan oleh sains, dan bahkan 
dapat menegakkan hal-hal paranormal sebagai bagian dari alam. Banyak peneliti, 
termasuk Bohm dan Pribram, mencatat bahwa banyak fenomena para-psikologis 
menjadi lebih dapat dipahami dalam kerangka paradigma holografik. Dalam suatu 
alam semesta yang di situ otak individu sesungguhnya adalah bagian yang tak 
terbagi dari hologram yang lebih besar dan segala sesuatu saling berhubungan 
secara tak terbatas, maka telepati mungkin tidak lebih dari sekadar mengakses 
tingkat holografik itu.

Jelas itu jauh lebih mudah dapat memahami bagaimana informasi dapat berpindah 
dari batin individu A kepada batin individu B yang berjauhan, dan memahami 
sejumlah teka-teki yang belum terpecahkan dalam psikologi. Khususnya, Grof 
merasa bahwa paradigma holografik menawarkan model untuk memahami banyak 
fenomena membingungkan yang dialami orang dalam keadaan "kesadaran yang 
berubah" [altered states of consciousness]. Pada tahun 1950-an, ketika 
melakukan penelitian terhadap anggapan bahwa LSD adalah alat penyembuhan 
psikoterapi, Grof mempunyai seorang pasien wanita yang tiba-tiba merasa yakin 
bahwa dia mempunyai identitas seekor reptil betina prasejarah. Selama 
halusinasinya, dia tidak hanya menguraikan secara amat mendetail tentang 
bagaimana rasanya terperangkap dalam wujud seperti itu, melainkan juga 
mengatakan bahwa bagian anatomi binatang jantan adalah sepetak sisik berwarna 
pada sisi kepalanya. Yang mengejutkan Grof ialah bahwa, sekalipun wanita itu
 sebelumnya tidak mempunyai pengetahuan tentang hal-hal itu, suatu percakapan 
dengan seorang ahli zoologi belakangan menguatkan bahwa pada beberapa spesies 
reptilia tertentu bagian-bagian berwarna dari kepala memainkan peran penting 
untuk membangkitkan birahi.

Pengalaman wanita itu bukan sesuatu yang unik. Selama penelitiannya, Grof 
bertemu dengan pasien-pasien yang mengalami regresi dan mengenali dirinya 
sebagai salah satu spesies dalam deretan evolusi. Tambahan pula, ia mendapati 
bahwa pengalaman-pengalaman seperti itu sering kali mengandung informasi 
zoologis yang jarang diketahui yang belakangan ternyata akurat. Regresi ke 
dalam dunia binatang bukanlah satu-satunya fenomena psikologis yang menjadi 
teka-teki yang ditemukan Grof. Ia juga mempunyai pasien-pasien yang tampak 
dapat memasuki alam bawah sadar kolektif atau rasial. Orang-orang yang tidak 
terdidik tiba-tiba memberikan gambaran yang terperinci tentang praktek 
penguburan Zoroaster dan adegan-adegan dari mitologi Hindu. Jenis pengalaman 
yang lain adalah orang-orang yang memberikan uraian yang meyakinkan tentang 
perjalanan di luar tubuh, atau melihat sekilas masa depan yang akan terjadi, 
atau regresi ke dalam inkarnasi dalam salah satu kehidupan
 lampau.

Dalam riset-riset lebih lanjut, Grof menemukan bentangan fenomena yang sama 
muncul dalam sesi-sesi terapi yang tidak menggunakan obat-obatan [psikotropika] 
. Oleh karena unsur yang sama dalam pengalaman-pengalam an seperti itu 
tampaknya adalah diatasinya kesadaran individu yang biasanya dibatasi oleh ego 
dan/atau dibatasi oleh ruang dan waktu, Grof menyebut fenomena itu sebagai 
"pengalaman transpersonal", dan pada akhir tahun 1960-an ia membantu mendirikan 
cabang psikologi yang disebut "psikologi transpersonal" yang sepenuhnya 
mengkaji pengalaman-pengalaman seperti itu.

Sekalipun perhimpunan yang didirikan oleh Grof, Perhimpunan Psikologi 
Transpersonal [Association of Transpersonal Psychology], menghimpun sekelompok 
profesional yang jumlahnya semakin bertambah, dan telah menjadi cabang 
psikologi yang terhormat [di kalangan sains], selama bertahun-tahun Grof maupun 
rekan-rekannya tidak dapat memberikan suatu mekanisme yang dapat menjelaskan 
berbagai fenomena psikologis aneh yang mereka saksikan. Tetapi semua itu 
berubah dengan lahirnya paradigma holografik. Sebagaimana dicatat Grof 
baru-baru ini, jika batin memang bagian dari suatu kontinuum, suatu labirin 
yang berhubungan bukan hanya dengan setiap batin lain yang ada dan yang pernah 
ada, melainkan berhubungan pula dengan setiap atom, organisme, dan wilayah di 
dalam ruang dan waktu yang luas itu sendiri, maka fakta bahwa batin 
kadang-kadang bisa menjelajah ke dalam labirin itu dan mengalami hal-hal 
transpersonal tidak lagi tampak begitu aneh.

Paradigma holografik juga mempunyai implikasi bagi sains-sains "keras" seperti 
biologi. Keith Floyd, seorang psikolog di Virginia Intermont College, 
mengatakan bahwa jika realitas yang konkrit tidak lebih dari sekadar ilusi 
holografik, maka tidak benar lagi pernyataan yang mengklaim bahwa otak 
menghasilkan kesadaran. Alih-alih, justru kesadaranlah yang menciptakan 
perwujudan dari otak — termasuk juga tubuh dan segala sesuatu di sekitar kita 
yang kita tafsirkan sebagai fisikal. Pembalikan cara melihat struktur-struktur 
biologis seperti itu menyebabkan para peneliti mengatakan bahwa ilmu kedokteran 
dan pemahaman kita mengenai proses penyembuhan juga dapat mengalami 
transformasi berkat paradigma holografik ini. Jika struktur yang tampaknya 
fisikal dari badan ini tidak lain daripada proyeksi holografik dari kesadaran, 
maka jelas bahwa masing-masing dari kita jauh lebih bertanggung- jawab bagi 
kesehatan diri kita daripada yang dinyatakan oleh pengetahuan
 kedokteran masa kini. Apa yang sekarang kita lihat sebagai penyembuhan 
penyakit yang bersifat "mukjizat" mungkin sesungguhnya disebabkan oleh 
perubahan-perubahan dalam kesadaran yang pada gilirannya mempengaruhi 
perubahan-perubahan dalam hologram badan jasmani. Demikian pula, teknik-teknik 
penyembuhan baru yang kontroversial, seperti visualisasi, mungkin berhasil baik 
oleh karena dalam domain pikiran yang holografik gambar-gambar pada akhirnya 
sama nyatanya dengan "realitas".

Bahkan berbagai visiun dan pengalaman yang menyangkut realitas yang "tidak 
biasa" dapat dijelaskan dengan paradigma holografik. Dalam bukunya "Gifts of 
Unknown Things", pakar biologi Lyall Watson menceritakan pertemuannya dengan 
seorang dukun perempuan Indonesia yang, dengan melakuan semacam tarian ritual, 
mampu melenyapkan sekumpulan pepohonan. Watson mengisahkan, sementara ia dan 
seorang pengamat lain terus memandang perempuan itu dengan takjub, ia membuat 
pepohonan itu muncul kembali, lalu melenyapkannya dan memunculkannya lagi 
beberapa kali berturut-turut. Sekalipun pemahaman saintifik masa kini tidak 
mampu menjelaskan peristiwa-peristiwa seperti itu, berbagai pengalaman seperti 
ini menjadi lebih mungkin jika realitas "keras" tidak lebih dari sekadar 
proyeksi holografik. Mungkin kita sepakat tentang apa yang "ada" atau "tidak 
ada" oleh karena apa yang disebut "realitas konsensus" itu dirumuskan dan 
disahkan di tingkat bawah sadar manusia, yang di
 situ semua batin saling berhubungan tanpa terbatas. Jika ini benar, maka ini 
adalah implikasi paling dalam dari paradigma holografik, oleh karena hal itu 
berarti bahwa pengalaman-pengalaman sebagaimana dialami oleh Watson adalah 
tidak lazim hanya oleh karena kita tidak memprogram batin kita dengan 
kepercayaan- kepercayaan yang membuatnya lazim. Di dalam alam semesta yang 
holografik, tidak ada batas bagaimana kita dapat mengubah bahan-bahan realitas.

Yang kita lihat sebagai 'realitas' hanyalah sebuah kanvas yang menunggu kita 
gambari dengan gambar apa pun yang kita inginkan. Segala sesuatu adalah 
mungkin, mulai dari melengkungkan sendok dengan kekuatan batin sampai 
peristiwa-peristiwa fantastik yang dialami oleh Castaneda selama pertemuannya 
dengan dukun Indian bangsa Yaqui, Don Juan, oleh karena sihir adalah hak asasi 
kita, tidak lebih dan tidak kurang adikodratinya daripada kemampuan kita 
menghasilkan realitas yang kita inginkan ketika kita bermimpi. Sesungguhnya, 
bahkan paham-paham kita yang paling mendasar tentang realitas patut 
dipertanyakan, oleh karena di dalam alam semesta holografik, sebagaimana 
ditunjukkan oleh Pribram, bahkan perisitiwa yang terjadi secara acak [random] 
harus dilihat sebagai berdasarkan prinsip holografik dan oleh karena itu 
bersifat determined.

'Sinkronisitas' atau peristiwa-peristiwa kebetulan yang bermanfaat, tiba-tiba 
masuk akal, dan segala sesuatu dalam realitas harus dilihat sebagai metafora, 
oleh karena bahkan peristiwa yang paling kacau mengungkapkan suatu simetri 
tertentu yang mendasarinya. Apakah paradigma holografik Bohm dan Pribram akan 
diterima oleh sains atau tenggelam begitu saja masih akan kita lihat, tetapi 
pada saat ini agaknya dapat dikatakan bahwa paradigma itu telah berpengaruh 
terhadap pemikiran sejumlah ilmuwan. Dan bahkan jika kelak terbukti bahwa model 
holografik tidak memberikan penjelasan terbaik bagi komunikasi seketika yang 
tampaknya berlangsung bolak-balik di antara partikel-partikel subatomik, 
setidak-tidaknya, sebagaimana dinyatakan oleh Basil Hiley, seorang pakar fisika 
di Birbeck College di London, temuan Aspect "menunjukkan bahwa kita harus siap 
mempertimbangkan paham-paham baru yang radikal mengenai realitas."


HOLOGRAPHIC UNIVERSE AND TIME
Ahmed Baki

Time is never something as we consider it, for we understand 'time' depending 
on our way of observation and perception capability. 'Time' is shaped 
(sculpted) in our minds based on a way we, the humans observe the universe, and 
it is a product of our five senses perception. However in fact, it is only the 
eternal, undivided, "universal one whole moment" that exists, and that "one 
moment" is considered as "time (passages)" in the presence of an observer, the 
humans, from a perspective associated with the restricted area of perception.

The discovery of "hologram principle" has made it easy for us to understand 
that the entire information possessed by one limitless and eternal being that 
is the origin of universe and has a WHOLENESS, is contained holographically in 
every atom of existence as a whole. It is that every piece of the universe 
contains (enfolds) all the information possessed by the whole, for the universe 
is structured like a hologram. Despite our five senses tell that the universe 
is composed of independently existing units, and despite the apparent 
separateness of all things in our physical level of existence, the hologram 
principle shows that everything that comes into sight in the universe stems 
from a wholeness and the entire universe is made up by that basic undivided, 
unbroken ONENESS.

In like manner, every event and every formation that we have observed in the 
past or will observe in future, that is the entire past and entire future in 
another way of saying, are contained within the holographic structure of the 
universe nontimely and nonlocally as an undivided "information". Accordingly, 
each individual observer taking part in the universe can reach that 
holographically- designed- information at the extent its perceptive capability 
allows to access. Because of the reason that there is neither a limit and thus 
nor a center determined for the "wholeness of information", the whole 
information that appears as universe to our senses, is nonlocally open and 
presented as a whole to any point where an observer stands. This means that 
each smallest region of space and time is open to an information in which the 
entire past and entire future is undividedly complete one and whole. However, 
an observer can only access that information at the
 level its capacity allows to access, which determines one's space and time 
conception. It is therefore that, the information observed in the world of our 
senses is a product of our perception and is there from only one perspective. 
The observer himself is also nothing other than the unfoldment of nonlocal 
information from within its standpoint.

For the fact that all happenings and formations in our world wholly existed as 
a holographic information within "one undivided cosmic moment", all our 
experiences are in a state of "completion" at such a dimension. They have 
entirely been accomplished, and all is nothing more than a complete 
information. This means the whole universe is destined already and our RELATIVE 
future is foregone at some other conception of time. It is that, everything 
that happens in the world of our senses (in our universe) has totally taken 
place and already been accomplished at the sight of "one universal moment". 
There is a dimension where everything has already finished up and it is 
self-contained as a whole information.

Yet, the individual observers limited by their perception, can only access into 
and be aware of that nonlocal "information" at the level of their perspectives. 
Therefore, we, as humans are able to observe only one level of that 
holographically- designed- information, and it is that information that makes 
up 'our world' totally we live in. All of the existence that we have been 
perceiving at our present state is simply one panorama of information received 
from within a limitless being and it is there in front of our eyes (is real 
from our perspective) as 'our universe' as a product of limited capability of 
our sensory means. As a result of that, we comprehend the unique 'cosmic 
moment' shaped and represented in terms of years, months and days fully based 
on our way of conception. If we were to perceive the holographic universe from 
a different perspective of a higher level, our conception of time would 
completely alter and our 'actual lifetimes' in this
 world would most likely represent not longer than a few seconds of such a 
dimension. Because, 'our worldly lifetimes' cover just a particular domain of 
the holographic structure of universe, and such a domain is maybe nothing more 
than a drop of water in an ocean if compared to the 'cosmic moment'. So, we 
live in time passages as established on a conception as we sculpted the cosmic 
moment in our minds according to our way of perception. Another conception of 
time from a different perspective will never liken our current conception of 
time from our actual state. As a matter of fact, if compared to the theoretic 
"cosmic year" that persists since the birth of "our physical universe" with a 
big-bang, a human lifetime in our actual dimension do not scale more than a few 
seconds experienced in the whole history year of time...

If we realize a leap in our consciousness to a higher realm, that is, if our 
consciousness comes to interact with an information from a perspective of a 
higher level, in other words, if an information from such a dimension is 
revealed through ourselves, our current life dimension in this world will 
represent nothing more than an ILLUSION to us. Reckoned in terms of a galactic 
time dimension even, our lifetimes with all our memories in this world will be 
remembered like a DREAM of a sleep. And we may have a leap in consciousness 
only if we become aware of our essential role at the sight of the basic Essence 
of universe, that is, at the sight of the universal ONENESS, to be NOTHING more 
than nothing in Its dream, we might then suddenly experience the awareness that 
it is all an ILLUSION experienced. Everything that took place in an 
observational process are understood only in terms of the interaction of 
information with the observer, and they are simply
 signs and samples drawn out at a perspective of a limitless holographic 
universe. We have been viewing a realm of total information interacted with 
ourselves as our actual lifetimes and looking at the rest in accordance with 
that.

With respect to the 'One Cosmic Moment' and at Its sight, everything dwells in 
a holographically- designed- information within ITSELF and all times are 
foregone. That means all times have already been KNOWN undividedly within 
Oneness Itself. Because, the universe and everything without exception dwells 
in His knowledge. We, too, are nothing more than individual images made from 
and formed within His knowledge. Yet, considering the "consciousness" we have, 
the entire information is undividedly open to us as a whole. Through a leap in 
our consciousness toward the essence of being, our essence can attain the 
wholeness of information enclosed in the Universal Oneness...l It is that, the 
ONE will be revealing and observing Its own knowledge, by means of ourselves in 
Its presence. This is the ultimate case even now at all states and is the 
truth. Because, it is just one "Whole Being" and one "Undivided Moment" alone 
that is under consideration at that
 dimension. In addition, the holographic universe is nothing other than the 
qualities that the "Eternal Moment", or in other words the "Holder of 
Information" possessed within Itself, and the expression of those qualities 
exhibited to Itself from within Itself...

This fact has been mentioned as "all the universes are originally illusion and 
everything has taken place and already been completed within the knowledge of 
Allah". These universes mentioned are nothing other than the realms of 
information designed holographically... Everything, every answer and every 
experience are actually available in an unfragmented universal holographic 
information, but it is the TIME itself that will SHOW them all to us when due...

Sept. 30, 1990 - Ankara, Turkey
(This essay was published in October 1994 issue of a Turkish Science And Tech 
Magazine named ULTRA and in July 1995 issue of Turkish Popular Science 
Magazine.)


--- On Sat, 11/8/08, [EMAIL PROTECTED] wrote:
Date: Saturday, November 8, 2008, 6:13 PM

Dibalik cahaya ada kekosongan,
dibalik kekosongan ada cahaya
cahaya menghadirkan kekosongan,
kekosongan menghadirkan cahaya

KUN: KAF dan NUN
KAF tersembunyi
NUN menampakkan diri...

kekosongan tersembunyi
cahaya menampakkan diri
kun fa yakuun terciptalah semesta
-Catatan Harian Membuka Hati, halaman 173-


Mencoba Memahami Jalan Pemikiran Allah
Awwal Dzul Hijjah 1423H ( penulis: Wiyoso Hadi )

Sejak manusia mulai mempertanyakan dasar-dasar pertimbangan Allah dalam 
menentukan segala sesuatu mulai dari awal penciptaan Dunia ini hingga akhir 
hari Kiamat nanti, semenjak itu pula hingga kini manusia-manusia yang 
berkeingintahuan besar berusaha terus menerus berpikir dan merenung untuk 
mencoba memahami jalan pemikiran Allah. Di dunia Islam pasca Nabi, usaha itu 
telah coba dirintis oleh para Ahli Hikmah seperti Abu Yusuf Ya'qub ibn Ishaq 
al-Kindi, Abu Nashr Al-Farabi, Ikhwan al-Shafa, Abu Ali ibn Sina, Abu Hamid 
al-Ghozali, Abu al-Walid ibn Ahmad ibn Rusyd, Yahya Suhrawardi, Muhyiddin ibn 
al-Arabi, Maulana Jalaluddin Rumi dan Muhammad Iqbal.

Walau ada berapa kesamaan pandangan dengan kesembilan tokoh Ahli Hikmah plus 
kelompok cendekiawan Basrah Ikhwan Al-Shafa diatas, ada juga 
pandangan-pandangan penulis yang berbeda dengan tokoh-tokoh pembaharu masa 
silam tersebut. Bagi yang telah mendalami Sejarah Budaya Filsafat Islam 'insya 
Allah tidak akan memiliki kesulitan untuk menangkap perbedaan-perbedaan 
pandangan penulis dengan tokoh-tokoh cendekiawan diatas. Namun bagi yang belum 
pernah bersentuhan dengan Budaya Filsafat dan Sains Islam dapat membaca bukunya 
C.A Qadir tentang Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam atau bukunya Karen 
Armstrong tentang Sejarah Tuhan yang keduanya sudah diterjemahkan kedalam 
bahasa Indonesia agar dapat menangkap perbedaan-perbedaan itu.

Pandangan penulis tentang Jalan Pemikiran Allah, berapa diantaranya adalah sbb.:
1. Alam Semesta berserta isinya tercipta dalam visualisasi Pikiran Allah. 
Ibarat sederhananya seperti seorang penulis saat mencipta sebuah dunia karangan 
yang dibatasi ruang (tempat), cahaya (gambaran cerita), dan waktu (masa 
berlangsungnya kisah) dalam pikirannya, demikian pula Allah tapi dalam skala 
mahabesar dan mahasempurna mencipta Dunia kita ini dalam pikiran-Nya. Hal ini 
berarti bahwa Realitas Sejati hanyalah ALLAH sedangkan entitas selain ALLAH 
adalah maya.
2. Kemahasempurnaan dunia ciptaan Allah dilandasi pengetahuan bahwa Allah SWT 
sebelum menciptakan dunia dalam visualisasi pikiran-Nya telah menetapkan aturan 
yang sempurna yang mengkoridori seluruh proses evolusi Alam Semesta mulai 
penciptaan hingga kehancuran (hari kiamat)-nya. Dasar aturan yang sempurna 
untuk mengkoridori tersebut – di dalam Al-Qur'an, kita kenal termaktub dalam 
Lauh Mahfuzh dan terwujud dalam Sunatullah. Hal ini secara sederhana dapat 
diibaratkan dengan seorang Pelukis ketika hendak melukis, ia terlebih dulu 
menetapkan dalam hati-pikirannya "yang terjaga" (identik dengan istilah arab: 
"mahfuzh") bahwa apapun yang akan dilukiskannya haruslah beraliran naturalisme 
tidak abstrak atau kubisme misalnya. Maka dengan standar "mahfuzh" tersebut, si 
pelukis mulai melukis apasaja asalkan masih dalam koridor aliran naturalisme.
3. Mirip seperti saat jiwa ingin berangan tentang Laut misalnya, maka keinginan 
itu diterjemahkan dalam kode-kode perintah otak sehingga otak dapat 
memvisualisasikan Laut sesuai keinginan Jiwa.. Maka Allah SWT ketika 
berkehendak menciptakan Dunia dalam Alam Pikiran-Nya, kode-kode perintah yang 
dipakai adalah "kun". bagi yang sempat belajar sejarah bahasa Semit (yaitu 
induk dari bahasa Foenisia, Aramea, Ibrani, Syiria, Kaldea dan Arab) mungkin 
tahu bahwa dua huruf pembentuk kata KUN yaitu "Kaf" dan "Nun" mewakili kualitas 
Genap (oleh "K") dan kualitas Ganjil (oleh "N"). Dengan kata lain perintah
"KUN" oleh Allah SWT merupakan kesatuan kualitas Ganjil & Genap; identik dengan 
kesatuan kualitas Ying & Yang; atau dalam ilmu genetika identik dengan kualitas 
X & Y; atau dalam puisi saya berjudul Sabda Cahaya Kalbu identik dengan 
kualitas LA & YA; sedang dalam dunia modern komputer identik dengan Bahasa 
Program Binari 0 (Kosong) dan 1 (Satu).
4. Bagaimana cara kode-kode perintah ALLAH "KUN" (yang disimbolkan dengan K dan 
N) mewujud Dunia, adalah sebagaimana –ibarat sederhananya– Program Komputer 0 
dan 1 " berkerja padu & berkembang" mewujudkan DUNIA MAYA yang "hidup", 
"berpikir" dan "bergerak" di dalam layar komputer.
5. Karena Alam Semesta kita ini tercipta dan berevolusi mengikuti aturan yang 
sangat terpola; yaitu sederhananya seperti mengikuti kinerja berpikir komputer, 
maka segala kemungkinan yang mungkin terjadi di Dunia kita ini pada dasarnya 
dapat diprediksikan sebelumnya. Dus, karena seluruh kemungkinan sebab-akibat di 
Dunia ini dapat diprediksikan maka Hukum Alam Semesta atau Sunatullah selaras 
dengan Hukum Probabilitas.
6. Teori bahwa dalam Alam Semesta berlaku Hukum Probabilitas telah dikemukakan 
oleh ahli fisika nuklir Werner Heisenberg yang dengan dasar penemuannya 
tersebut mengilhami para saintis mengembangkan teori Mekanik Kuantum. Bedanya, 
Heisenberg menarik kesimpulannya berdasarkan perhitungan rumit fisika; maka 
metodologi penulis mendapakan kesimpulan tersebut adalah berdasarkan 
visualisasi ilham yang kemudian visualisasi tersebut penulis analisis lebih 
lanjut menggunakan rasio dan logika sederhana dengan mengacu kepada teori-teori 
Hukum Alam yang tersirat dalam ayat-ayat suci Al-Qur'an.
7. Visi point 6 diatas memperlihatkan pula pada penulis bahwa Allah SWT 
mengetahui hal-hal yang umum maupun yang khusus tapi bersamaan itu pula Allah 
memberi kebebasan kepada manusia untuk memilih. Penjelasan sederhananya: Ketika 
di suatu sore penulis, WH, mendengar suara adzan berkumandang maka ALLAH 
sungguh Maha-Mengetahui bahwa Probabilitas atau kemungkinan WH menyegerakan 
sholat adalah 23,789% (misalnya) sedangkan kemungkinan WH menunda sholat adalah 
76,211% walau demikian Allah SWT memberi kebebasan mutlak kepada WH untuk 
memilih apakah segera sholat atau sebaliknya menunda sholat. Sehingga Point 7 
ini membantah teori Aristoteles, al-Farabi dan ibn Sina bahwa Ilmu Tuhan hanya 
sebatas pada hal-hal yang umum.
8. Karena di dunia ini berlaku Hukum Probabilitas yang mengikuti deret ukur 
(Perkalian) bukan deret hitung (penjumlahan) maka adalah bijaksana bila 
seseorang dihadapkan pada pilihan berbuat baik atau berbuat buruk untuk memilih 
berbuat baik. Mengapa? Karena sekecil apapun amal kebaikan kita akan secara 
berlipat-lipat (baca: secara drastis) meningkatkan kesempatan kita mendapatkan 
Rahmat Allah sebaliknya sekecil apapun dosa kita akan secara berlipat-lipat 
pula mendekatkan kita kelak kepada Api Kemurkaan-Nya.
9. Pada akhirnya tapi belum yang terakhir, poin 1 hingga 8 menyiratkan betapa 
Allah Mahasabar lagi Maha Memegang Janji. Mengapa? Karena Dunia Alam Semesta 
ini termasuk kita didalamnya dengan segala intrik-intriknya berada dalam 
Visualisi Pemikiran ALLAH. Maka andaikan ALLAH tidak sabar melihat 
pembangkangan yang terjadi dalam Visualiasi Pemikiran-Nya, tentu ALLAH 
menghapuskan/ melenyapkan/meniadakan Visualiasi Pemikiran-Nya saat ini dalam 
sekejap mata atau bahkan lebih cepat dari itu; dan menggantinya dengan 
mencipta/membangun/ mengembangkan Visualiasi Pemikiran (baca: Alam Dunia) yang 
baru dan diisi mahluk-mahluk yang lebih taat kepada-Nya. Tapi hal itu tidak 
dilakukan oleh Allah karena Allah Mahasabar lagi teguh berpegang janji pada 
Ketentuan/Ketetapan Pikiran-Nya yang dibuat-Nya sebelum Alam Semesta ini 
diciptakan dan termaktub dalam Lauh Mahfuzh. Sungguh Mahasuci ALLAH dengan 
segala rencana dan pemikiran-Nya.
-Catatan Harian Membuka Hati, halaman 27-33-


--- On Fri, 11/7/08, hudan_ibnul_ iman wrote:
Selalulah bersikap syareat-haqekat

Al-Qur'an yang diturunkan kepada umat manusia pada dasarnya memiliki dua sifat 
pengajaran, yaitu ajaran untuk urusan dunia dan ajaran untuk urusan akherat. 
Urusan dunia berkaitan dengan Hukum Syareat, dan urusan akherat dikaitkan 
dengan Hukum Haqekat. Maka  di kehidupan ini hukum syareat dan haqekat adalah 
saling berdampingan, jika salah satunya tidak ada atau tidak dianggap maka 
timpanglah kehidupan, dalam hal ini kehidupan manusia itu sendiri.

Dalam diri manusia Hukum Syareat dipahami oleh akal, sedangkan hukum haqekat 
dipahami oleh hati. Karena itu Allah selalu mengingatkan/mengajarkan kepada 
manusia untuk senantiasa dzikir dan tafakur. Dzikir adalah mengingat yaitu 
Allah sedangkan tafakur adalah merenungkan/ memperhatikan/ meneliti ciptaanNya. 
Karena itu tidak ada tafakur Allah karena Allah tidak dapat direnungkan/ 
diperhatikan/diteliti/ dipertanyakan, jika ditanyakan hanya dijawab dengan 
bahwa Allah itu dekat. Demikian pula dengan Hukum Syareat masih memungkinkan 
untuk direnungkan/ diperhatikan/ diteliti/ dipertanyakan alias bersifat 
fleksibel, sedangkan hukum Haqekat bersifat mutlak. Dengan tafakur alam 
semesta, semakin dalam pengetahuannya, semakin rinci penemuannya, maka akan 
semakin membuat manusia itu semakin merasa tinggi-angkuh atau semakin merasa 
rendah-hina. Karena itu perlunya tafakur harus selalu didampingi dzikir (ingat) 
Allah, sehingga manusia itu akan mengembalikan segala
 sesuatunya kepada Hukum Haqekat yaitu segala sesuatu berasal-kembali kepada 
Allah yang Al-Adzim, itulah sebab mengapa dzikrullah adalah sebagai obat yang 
paling mujarab dari berbagai penyakit, karena Sumber penyakit sebagian besar 
berasal dari tafakur yang salah, pemikiran yang salah-kalut- stress, was-was, 
khawatir.

Segala permasalahan di dunia jika dikembalikan kepada akal niscaya akan 
stack-stress- error, sebaliknya jika dikembalikan ke hati segala yang tidak 
mungkin menjadi mungkin. Misal: coba anda masukkan segala teori dunia seperti 
perhitungan rumus-rumus fisika dan bayangkan berapa luas bumi yang kita pijak 
ini kedalam akal, pasti pembuluh2 darah otak anda akan pecah alias strook. 
Sekarang coba masukkan segala alam semesta ini kedalam hati anda, pasti anda 
dapat memandang bahwa alam semesta itu hanya seluas genggaman tangan bahkan 
lebih kecil bahkan semakin sirna. Itulah hati, itulah hukum Haqekat yang
bersifat mutlak.

Oleh karena itu, marilah senantiasa menyandingkan syareat dengan haqekat, bila 
sedang berjalan tafakur tiap kaki yang melangkah, lalu ingat (dzikir) bahwa 
Allah lah yang menggerakkan kaki, dan sebagainya, itulah maksud dari ayat Allah 
dzikran-kasiran yaitu Dzikir dengan jumlah yang banyak. Bukan artinya jumlah 
bilangan bacaan dzikirnya yang banyak, akan tetapi dzikir yang memiliki nilai 
yang banyak/luas. Misal dzikir sekedar 1 kali mengucap Allah tanpa tafakur 
hanya akan bernilai 1, bila sambil tafakur maka 1 kali dzikir nilainya 
sebanyak/seluas apa yang sedang ia tafakurkan.

Rahasia Kekuatan
Alam semesta ini diciptakan untuk umat manusia. Tapi siapakah manusia yang 
mampu mengendalikan kemudian memanfaatkan alam semesta ini. Jawabannya adalah 
Manusia yang mampu mengendalikan kemudian memanfaatkan dirinya sendiri, 
singkatnya manusia yang berserah diri. Karena hanya dengan berserah diri 
kekuatan/ kemampuan itu bisa terwujud. Karena itu Ajaran Allah sesungguhnya 
adalah ajaran berserah diri yang dinamakan Al-Islam. Kalau disebut Islam saja, 
berserah diri itu bersifat jamak/luas, karena itu disebut Al-Islam yaitu 
bersifat khusus/tertentu, maka makna Al-Islam adalah berserah diri yang khusus/ 
tertentu. Itulah sebab ajaran Islam itu untuk seluruh umat manusia karena 
ajaran Islam adalah fitrah manusia.

Mari buktikan benarkah berserah diri itu adalah rahasia kekuatan.
Secara teori sikap berserah diri akan memposisikan diri pada posisi netral 
(nol). Segala sesuatu bila diposisikan netral akan mudah bergerak, berubah, 
berkembang dan bermigrasi. Misal sebuah mobil yang melaju kedepan tidak mungkin 
bisa melaju mundur tanpa melalui titik netral alias berhenti walau hanya 
sekejab. Dalam peyaluran energi seperti tenaga dalam atau listrik tidak mungkin 
tercapai jika tidak melalui titik netral. Demikian pula para ahli sufi 
mengalirkan segala macam ilmu-ilmu pengetahuan yang luas dan dalam karena telah 
mampu menetralisir dirinya atau bersikap berserah diri, karena hanya dengan 
sikap netral saja ilmu itu dapat mengalir.

Nol = Netral = berserah diri = Islam = fitrah manusia = Sunnatullah.
Barangsiapa mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya.
Jika tak mampu mengenal diri, carilah guru yang ahli mengenal diri, carilah 
guru yang mengenal Tuhannya, carilah waliyan muryida (Al-Kahfi.18: 17).

Dalam teori fisika Quantum, dikatakan bila sesuatu massa memiliki kecepatan 
yang sama dengan kecepatan cahaya, maka waktu akan berhenti atas massa 
tersebut, sedangkan wujud massa tersebut menjadi hilang karena telah membaur 
dengan unsur alam semesta, dan ia dapat berada di berbagai tempat dalam satu 
waktu. Sampai saai ini belum ada suatu alatpun yang mampu bergerak dengan 
kecepatan cahaya.

Kecepatan Cahaya = waktu berhenti = nol = netral = berserah diri
Pendapat saya bila manusia yang mampu berserah diri dengan sebenar-benarnya, 
maka ia sedang bergerak dengan kecepatan cahaya, karena ia dalam posisi netral 
= nol = waktu berhenti. Bukti pertama adalah Isra' Mi'raj nya Nabi Muhammad SAW 
dalam waktu yang singkat, tempat tidur beliau masih terasa hangat. Beliu adalah 
hamba Allah yang berserah diri. Sedangkan lainnya telah dibuktikan oleh para 
waliyullah (waliyan mursyida (Al- Kahfi.18: 17)) yang dirinya mampu berada di 
berbagai tempat pada waktu yang sama, mampu menembus lapis-lapis langit dan 
bumi.

Wallahu a'lam.
Iman Prasojo. 



[Dikutip dari suaraSUARA: http://groups.yahoo.com/group/suarasuara/ ]






PH PRO
Indonesia


      
___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

********************
Situs untuk Jual Beli Barang
untuk keluar dari mailing list ini silahkan kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED] Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kolom/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kolom/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke