semoga bermanfaat...

________________________________________
Dari: WIYOSO HADI
Kepada: [EMAIL PROTECTED]
Terkirim: Kamis, 13 November, 2008 12:47 


Alhamdulillah tks Pak Hadi

Ini lah indahnya SUARA :-)

Di sini...
para hamba-Nya saling berbagi Keindahan dan Keagungan Ilahi
sesuai pemahaman, persepsi, perasaan, kesadaran, keyakinan, keimanan 
masing-masing

Ini lah bagian karunia Allah Ar-Rahmaan yang patut disyukuri
bukan untuk saling menghakimi,
bukan untuk saling mengukur
siapa yang lebih jauh dari Dia yang Benar, siapa yang lebih dimusuhi oleh Dia 
yang Kasih
...bukan untuk saling tunjuk
siapa yang lebih dekat kepada DIA yang Sejati..

Ini lah SUARA...
melalui gerak-diam-karya-suara ciptaan-ciptaan, kita lebih mengenal Dia
melalui Dia, kita lebih bisa mengasihi dan menghargai ciptaan-ciptaan-Nya yang 
beragam

Salam
yos

Suara Hati, Jakarta, ba'da sholat zhuhur, 13 Nov. 2008


--- On Wed, 11/12/08, Abdul Hadi WM <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Date: Wednesday, November 12, 2008, 10:42 AM

Dramawan Indonesia terkemuka Arifien C. Noer menulis dalam lakonnya Dalam 
Bayangan Tuhan,  antara lain seperti berikut:

                  Biarkan Tuhan bicara
                  Dengarkan Tuhan bicara
                  Gunung bergerak perlahan
                  Hutan meranggas kerontang
                  Sungai mampat di hulu dan muara
                  Biarkan Tuhan bicara
                  Dengarkan Tuhan bicara
Drama tersebut sangat apokaliptik, ditulis pada tahun 1980an, berisi kritik 
terhadap kapitalisme liberal. Sajak yang dikutip dinyanyikan oleh sekelompok 
orang tertindas, yang kemanusiaannya dinafikan dan lingkungan hidupnya dirusak 
semena-mena sebagaimana kebudayaan, kearifan, agama, dan tradisi 
intelektualnya, sementara kekayaan tanah airnya digarong. Sambil membawa hasil 
garongannya, si penggarong itu berteriak: "Sialan, lu teroris ya?"
Bandingkan sajak Arifien C. Nor tsab dengan puisi Khalil Gibran:
                   Kusua mimpimu di ladang-ladang
                   Kujumpa keagungan-Mu di lembah-lembah
                   Kutemukan kehendak-Nya pada batu-batuan
                   Dan diam kekal-Mu yang dalam serta rahasia-Mu di gua-gua
                   Kaulah keabadian dan bibirnya
                   Tali senar gitar abad-abad dan jemari yang memetiknya
                   Gagasan tentang hidup dan perlambang-perlamba ngnya
Makna "kun faya kun" tersirat dalam bait sajak tersebut, yang dalam bahasa 
aslinya Arab tentu jauh lebih indah. Danarto dalam cerpen sufistiknya 
"Asmaradana" (1971)  menyelipkan sajak berikut:
                    Sementara waktu tumbuh terus
                    Kembang-kembang silih berghanti mekar dan layu
                    Karnaval awan bersama hujan dan panas
                    Sonya ruri sunyi sepi, hidupmu sendiri
                    Apa yang kaunanti, tinggalkan zirah besimu
                    Lihatlah aku yang mencintaimu, bersih seperti bongkahan es

________________________________
Dari: WIYOSO HADI
Terkirim: Senin, 10 November, 2008 4:09:34


Alhamdulillah, temuan para ilmuwan tentang realitas Hologram Alam Semesta ini, 
bila dibaca dengan jujur, obyektif dan seksama :-) 'insya Allah 'senafas' :-) 
pula dengan "hikmah-hikmah" kutipan-kutipan firman Allah berikut ini:

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau... 
(Al-An'aam: 32); Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada 
yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan 
dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia 
mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak 
sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata 
(Lohmahfuz). ..Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa 
yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang 
hari untuk disempurnakan umur (mu) yang telah ditentukan... (Al-An'aam: 59-60); 
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala 
penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Al-An'aam: 
103); Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha 
Mengetahui segala sesuatu. ...Dia
 bersama kamu di mana saja kamu berada... (Al-Hadiid: 3-4). ...Dan kehidupan 
dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al-Hadiid: 20). Tiada 
suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri 
melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya... 
(Kami jelaskan ini kepadamu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang 
luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang 
diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi 
membanggakan diri. (Al-Hadiid: 22-23).

Selain itu, temuan ilmiah ini, boleh dikatakan juga merupakan suatu "penjelasan 
yang lebih membumi" :-) dari "sebagian" apa yang pernah saya tulis dan 
maksudkan dalam Catatan Harian Membuka Hati, tiga tahun silam, (maaf halaman 
berapa lupa :-) yaitu:

Bismillahir-Rahmaanir-Rahiim..

Tak ada yang benar-benar kosong
tak ada yang benar-benar padat
Dalam kekosongan ada kepadatan
dalam kepadatan ada kekosongan

Dalam bathin ada zhaahir
dalam zhaahir ada bathin
Dalam keseluruhan ada bagian
dalam bagian ada keseluruhan

Keseluruhan Dzat-NYA bathin
bagian Sifat-Sifat-NYA zhaahir
Diamlah dalam dzikir
dzikirlah dalam diam

dan geraklah dalam dzikir
dzikirlah dalam gerak
hingga alami...

saat diam dalam gerak
dan gerak dalam diam
saat kontemplasi dalam kreasi
dan kreasi dalam kontemplasi

saat kesatuan dalam keragaman
dan keragaman dalam kesatuan
saat awwal tak lain akhir
dan akhir tak lain awwal

dan saat ada jadi tiada
dan tiada jadi ada
maka saat itu...

diri kan terliputi Hakikat Muhammad
dan melaluinya tersingkaplah ....
Diri Sejati.

(Selasa, 12 Jumadil Akhir 1426H, 19 Juli 2005)

salam,

PS.
Mohon maaf bila email-email Saudara/i Bapak/Ibu belum atau tidak sempat saya 
balas, tapi 'insya Allah sebagian besar akan saya buka dan baca walaupun tidak 
sempat membalasnya. Kata senior, rekan kerja sekantor dan sahabat baik saya mas 
Budiono, saya perlu meng-hire sekretaris khusus untuk jawab e-mail :), tapi 
nampaknya dalam waktu dekat belum :-) jadi mohon maklum dan pengertiannya :) 
terima kasih, jabat erat, senyum hangat, yos.


--- In SUARA, [EMAIL PROTECTED] wrote:

Temuan ilmiah para saintis modern bahwa alam semesta sebagai hologram 'senafas' 
dengan kutipan dua suara hati ini:

"Whatever exists in the entire universe, it is also in your own heart. You have 
to gain the ability to see it. People cannot describe me. No matter in which 
words or in which terms they present me, I am the opposite of what they say. I 
feel, I hear, I speak, but I do not exist." - Abul-Hasan 'Ali al-Kharqani -

"Makhluk bukan Allah, makhluk juga bukan bayangan Allah, makhluk wujud bayangan 
dalam Kesadaran Allah, makhluk ada karena dihidupkan dalam Kesadaran-Nya, 
makhluk binasa karena dimatikan dalam Kesadaran-Nya, diri-diri bukan apa-apa 
kecuali bayangan dalam refleksi Diri Sejati Allah. Allah tidak bergerak, tidak 
pula diam, Allah beraktivitas dalam Kesadaran-Nya Yang Esa, Mahasuci Allah, 
tiada tidur, tiada lelah, memelihara semuanya dalam Kesadaran-NYA. - Wiyoso 
Hadi, Catatan Harian Membuka Hati, halaman 171, 172 -

--- On Sun, 11/9/08, Yusuf Ahmad Shiddiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Date: Sunday, November 9, 2008, 12:19 PM

Your journey is towards your homeland. Remember you are traveling from the 
world of appearances to the world of Reality.
-'Abd'l-Khaliq Ghijuduwani

Consciousness and the New Physics:
http://twm.co.nz/consc_phys.htm
Reality and Consciousness:
http://twm.co.nz/prussell.htm
Science proves mind's power over matter
http://twm.co.nz/teleg_PK.htm
Translated to Bahasa Indonesia taken from:
http://www.rense.com/general69/holoff.htm

Alam Semesta sebagai Hologram
Buku: Michael Talbot - The Holographic Universe

Pada tahun 1982 terjadi suatu peristiwa yang menarik. Di Universitas Paris, 
Aspect bersama timnya menemukan bahwa dalam lingkungan tertentu 
partikel-partikel subatomik, seperti elektron, mampu berkomunikasi dengan 
seketika satu sama lain tanpa tergantung pada jarak yang memisahkan mereka. 
Tidak ada bedanya apakah mereka terpisah 10 kaki atau 10 milyar km satu sama 
lain. Entah bagaimana, tampaknya setiap partikel selalu tahu apa yang dilakukan 
oleh partikel lain. Masalah yang ditampilkan oleh temuan ini adalah bahwa hal 
itu melanggar prinsip Einstein yang telah lama dipegang, yakni bahwa tidak ada 
komunikasi yang mampu berjalan lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Oleh 
karena berjalan melebihi kecepatan cahaya berarti menembus dinding waktu, maka 
prospek yang menakutkan ini menyebabkan sementara ilmuwan fisika mencoba 
menyusun teori yang dapat menjelaskan temuan Aspect. Namun hal itu juga 
mengilhami sementara ilmuwan lain untuk menyusun teori yang lebih
 radikal lagi.

Pakar fisika teoretik dari Universitas London, David Bohm, misalnya, yakin 
bahwa temuan Aspect menyiratkan bahwa realitas obyektif itu tidak ada; bahwa 
sekalipun tampaknya pejal [solid], alam semesta ini pada dasarnya merupakan 
khayalan, suatu hologram raksasa yang terperinci secara sempurna. Untuk 
memahami mengapa Bohm sampai membuat pernyataan yang mengejutkan ini, 
pertama-tama kita harus memahami sedikit tentang hologram. Sebuah hologram 
adalah suatu potret tiga dimensional yang dibuat dengan sinar laser. Untuk 
membuat hologram, obyek yang akan difoto mula-mula disinari dengan suatu sinar 
laser. Lalu sinar laser kedua yang dipantulkan dari sinar pertama ditujukan 
pula kepada obyek tersebut, dan pola interferensi yang terjadi (bidang tempat 
kedua sinar laser itu bercampur) direkam dalam sebuah pelat foto. Ketika pelat 
itu dicuci, gambar terlihat sebagai pusaran-pusaran garis-garis terang dan 
gelap. Tetapi ketika foto itu disoroti oleh sebuah sinar
 laser lagi, muncullah gambar tiga dimensional dari obyek semula di situ. Sifat 
tiga dimensi dari gambar seperti itu bukan satu-satunya sifat yang menarik dari 
hologram. Jika hologram sebuah bunga mawar dibelah dua dan disoroti oleh sebuah 
sinar laser, masing-masing belahan itu ternyata masih mengandung gambar mawar 
itu secara lengkap (tetapi lebih kecil). Bahkan, jika belahan itu dibelah lagi, 
masing-masing potongan foto itu ternyata selalu mengandung gambar semula yang 
lengkap sekalipun lebih kecil. Berbeda dengan foto yang biasa, setiap bagian 
sebuah hologram mengandung semua informasi yang ada pada hologram secara 
keseluruhan.

Sifat "keseluruhan di dalam setiap bagian" dari sebuah hologram, memberikan 
kepada kita suatu cara pemahaman yang sama sekali baru terhadap organisasi dan 
order. Selama sebagian besar sejarahnya, sains Barat bekerja di bawah prinsip 
yang bias, yakni bahwa cara terbaik untuk memahami fenomena fisikal --baik 
seekor katak atau sebuah atom-- adalah dengan memotong-motongnya dan meneliti 
bagian- bagiannya. Sebuah hologram mengajarkan bahwa beberapa hal dari alam 
semesta ini mungkin tidak akan terungkap dengan pendekatan itu. Jika kita 
mencoba menguraikan sesuatu yang tersusun secara holografik, kita tidak akan 
mendapatkan bagian-bagian yang membentuknya, melainkan kita akan mendapatkan 
keutuhan yang lebih kecil.

Pencerahan ini menuntun Bohm untuk memahami secara lain temuan Aspect. Bohm 
yakin bahwa alasan mengapa partikel-partikel subatomik mampu berhubungan satu 
sama lain tanpa terpengaruh oleh jarak yang memisahkan mereka adalah bukan 
karena mereka mengirimkan isyarat misterius bolak-balik di antara satu sama 
lain, melainkan oleh karena keterpisahan mereka adalah ilusi. Bohm berkilah, 
bahwa pada suatu tingkat realitas yang lebih dalam, partikel-partikel seperti 
itu bukanlah entitas-entitas individual, melainkan merupakan perpanjangan 
[extension] dari sesuatu yang Esa dan Fundamental.

Agar khalayak lebih mudah membayangkan apa yang dimaksudkannya, Bohm memberikan 
ilustrasi berikut: Bayangkan sebuah akuarium yang mengandung seekor ikan. 
Bayangkan juga bahwa Anda tidak dapat melihat akuarium itu secara langsung, dan 
bahwa pengetahuan Anda tentang akuarium itu beserta apa yang terkandung di 
dalamnya datang dari dua kamera televisi: yang sebuah ditujukan ke sisi depan 
akuarium, dan yang lain ditujukan ke sisinya. Ketika Anda menatap kedua layar 
televisi, Anda mungkin menganggap bahwa ikan yang ada pada masing-masing layar 
itu adalah dua ikan yang berbeda. Bagaimana pun juga, karena kedua kamera 
diarahkan dengan sudut yang berbeda, masing-masing gambar ikan itu sedikit 
berbeda satu sama lain. Tetapi sementara Anda terus memandang kedua ikan itu, 
akhirnya Anda akan menyadari bahwa ada hubungan tertentu di antara kedua ikan 
itu. Kalau yang satu berbelok, yang lain juga membuat gerakan yang berbeda tapi 
sesuai; jika yang satu menghadap
 kamera, yang lain menghadap ke suatu sisi. Jika Anda tidak menyadari seluruh 
situasinya, Anda mungkin menyimpulkan bahwa kedua ikan itu saling berkomunikasi 
secara seketika, tetapi jelas bukan demikian halnya. Menurut Bohm, inilah 
sesungguhnya yang terjadi di antara partikel-partikel subatomik dalam 
eksperimen Aspect itu. Menurut Bohm, hubungan yang tampaknya "lebih cepat dari 
cahaya" di antara partikel-partikel subatomik sesungguhnya mengatakan kepada 
kita bahwa ada suatu tingkat realitas yang lebih dalam, yang selama ini tidak 
kita kenal, suatu dimensi yang lebih rumit di luar dimensi kita, dimensi yang 
beranalogi dengan akuarium itu. Tambahnya, kita memandang obyek-obyek seperti 
partikel-partikel subatomik sebagai terpisah satu sama lain oleh karena kita 
hanya memandang satu bagian dari realitas sesungguhnya.

Partikel-partikel seperti itu bukanlah "bagian-bagian" yang terpisah, melainkan 
faset-faset dari suatu kesatuan (keesaan) yang lebih dalam dan lebih mendasar, 
yang pada akhirnya bersifat holografik dan tak terbagi-bagi seperti gambar 
mawar di atas. Dan oleh karena segala sesuatu dalam realitas fisikal terdiri 
dari apa yang disebut "eidolon-eidolon" ini, maka alam semesta itu sendiri 
adalah suatu proyeksi, suatu hologram. Di samping hakekatnya yang seperti 
bayangan, alam semesta itu memiliki sifat-sifat lain yang cukup mengejutkan. 
Jika keterpisahan yang tampak di antara partikel-partikel subatomik itu ilusif, 
itu berarti pada suatu tingkat realitas yang lebih dalam segala sesuatu di alam 
semesta ini saling berhubungan secara tak terbatas.

Elektron-elektron di dalam atom karbon dalam otak manusia berhubungan dengan 
partikel-partikel subatomik yang membentuk setiap ikan salem yang berenang, 
setiap jantung yang berdenyut, dan setiap bintang yang berkilauan di angkasa. 
Segala sesuatu meresapi segala sesuatu; dan sekalipun sifat manusia selalu 
mencoba memilah-milah, mengkotak-kotakkan dan membagi-bagi berbagai fenomena di 
alam semesta, semua pengkotakan itu mau tidak mau adalah artifisial, dan 
segenap alam semesta ini pada akhirnya merupakan suatu jaringan tanpa jahitan.

Di dalam sebuah alam semesta yang holografik, bahkan waktu dan ruang tidak 
dapat lagi dipandang sebagai sesuatu yang fundamental. Oleh karena 
konsep-konsep seperti "lokasi" runtuh di dalam suatu alam semesta yang di situ 
tidak ada lagi sesuatu yang terpisah dari yang lain, maka waktu dan ruang tiga 
dimensional --seperti gambar-gambar ikan pada layar-layar TV di atas-- harus 
dipandang sebagai proyeksi dari order yang lebih dalam lagi. Pada tingkatan 
yang lebih dalam, realitas merupakan semacam superhologram yang di situ masa 
lampau, masa kini, dan masa depan semua ada (berlangsung) secara serentak. Ini 
mengisyaratkan bawah dengan peralatan yang tepat mungkin di masa depan orang 
bisa menjangkau ke tingkatan realitas superholografik itu dan mengambil 
adegan-adegan dari masa lampau yang terlupakan.

Apakah ada lagi yang terkandung dalam superhologram itu merupakan pertanyaan 
terbuka. Bila diterima --dalam diskusi ini-- bahwa superhologram itu merupakan 
matriks yang melahirkan segala sesuatu dalam alam semesta kita, 
setidak-tidaknya ia mengandung setiap partikel subatomik yang pernah ada dan 
akan ada --- setiap konfigurasi materi dan energi yang mungkin, dari butiran 
salju sampai quasar, dari ikan paus biru sampai sinar gamma. Itu bisa dilihat 
sebagai gudang kosmik dari "segala yang ada".

Sekalipun Bohm mengakui bahwa kita tidak mempunyai cara untuk mengetahui apa 
lagi yang tersembunyi di dalam superhologram itu, ia juga mengatakan bahwa kita 
tidak mempunyai alasan bahwa superhologram itu tidak mengandung apa-apa lagi. 
Atau, seperti dinyatakannya, mungkin tingkat realitas superholografik itu 
"sekadar satu tingkatan", yang di luarnya terletak "perkembangan lebih lanjut 
yang tak terbatas".

Bohm bukanlah satu-satunya peneliti yang menemukan bukti-bukti bahwa alam 
semesta ini merupakan hologram. Dengan bekerja secara independen di bidang 
penelitian otak, pakar neurofisiologi Karl Pribram dari Universitas Stanford, 
juga menerima sifat holografik dari realitas. Pribram tertarik kepada model 
holografik oleh teka-teki bagaimana dan di mana ingatan tersimpan di dalam 
otak. Selama puluhan tahun berbagai penelitian menunjukkan bahwa alih-alih 
tersimpan dalam suatu lokasi tertentu, ingatan tersebar di seluruh bagian otak.

Dalam serangkaian penelitian yang bersejarah pada tahun 1920-an, ilmuwan otak 
Karl Lashley menemukan bahwa tidak peduli bagian mana dari otak tikus yang 
diambilnya, ia tidak dapat menghilangkan ingatan untuk melakukan tugas-tugas 
rumit yang pernah dipelajari tikus itu sebelum dioperasi. Masalahnya ialah 
tidak seorang pun dapat menjelaskan mekanisme ponyimpanan ingatan yang bersifat 
"semua di dalam setiap bagian" yang aneh ini. Lalu pada tahun 1960-an Pribram 
membaca konsep holografi dan menyadari bahwa ia telah menemukan penjelasan yang 
telah lama dicari-cari oleh para ilmuwan otak. Pribram yakin bahwa ingatan 
terekam bukan di dalam neuron-neuron (sel-sel otak), melainkan di dalam 
pola-pola impuls saraf yang merambah seluruh otak, seperti pola-pola 
interferensi sinar laser yang merambah seluruh wilayah pelat film yang 
mengandung suatu gambar holografik. Dengan kata lain, Pribram yakin bahwa otak 
itu sendiri merupakan sebuah hologram.

Teori Pribram juga menjelaskan bagaimana otak manusia dapat menyimpan begitu 
banyak ingatan dalam ruang yang begitu kecil. Pernah diperkirakan bahwa otak 
manusia mempunyai kapasitas mengingat sekitar 10 milyar bit informasi selama 
masa hidup manusia rata-rata (atau kira-kira sebanyak informasi yang terkandung 
dalam lima set Encyclopaedia Britannica). Demikian pula telah ditemukan bahwa 
di samping sifat-sifatnya yang lain, hologram mempunyai kapasitas untuk 
menyimpan informasi --- hanya dengan mengubah sudut kedua sinar laser itu jatuh 
pada permukaan pelat film, dimungkinkan untuk merekam banyak gambar berbeda 
pada permukaan yang sama. Telah dibuktikan bahwa satu sentimeter kubik pelat 
film dapat menyimpan sebanyak 10 milyar bit informasi.

Kemampuan mengagumkan dari manusia untuk mengambil informasi yang diperlukan 
dari gudang ingatan yang amat besar itu dapat lebih dipahami jika otak 
berfungsi menurut prinsip-prinsip holografik. Jika seorang teman minta Anda 
mengatakan apa yang terlintas dalam pikiran ketika ia menyebut "zebra", Anda 
tidak perlu tertatih-tatih melakukan sorting dan mencari dalam suatu file 
alfabetis raksasa dalam otak untuk sampai kepada suatu jawaban. Alih-alih, 
berbagai asosiasi seperti "bergaris-garis", "macam kuda", dan "binatang dari 
Afrika" semua muncul di kepala Anda dengan seketika. Sesungguhnya, salah satu 
hal paling mengherankan tentang proses berpikir manusia adalah bahwa setiap 
butir informasi tampaknya dengan seketika berkorelasi- silang dengan setiap 
butir informasi lain– ini merupakan sifat intrinsik dari hologram. Oleh 
karena setiap bagian dari hologram saling berhubungan secara tak terbatas satu 
sama lain, ini barangkali merupakan contoh terbaik
 dari alam tentang suatu sistem yang saling berkorelasi.

Penyimpanan ingatan bukan satu-satunya teka-teki neurofisiologis yang lebih 
dapat dijelaskan dengan model otak holografik Pribram. Teka-teki lain adalah 
bagaimana otak mampu menerjemahkan serbuan frekuensi-frekuensi yang diterimanya 
melalui pancaindra (frekuensi cahaya, frekuensi suara, dan sebagainya) menjadi 
dunia konkrit dari persepsi manusia. Merekam dan menguraikan kembali frekuensi 
adalah sifat terunggul dari sebuah hologram. Seperti hologram berfungsi sebagai 
semacam lensa, alat yang menerjemahkan frekuensi-frekuensi kabur yang tak 
berarti menjadi suatu gambar yang koheren, Pribram yakin bahwa otak juga 
merupakan sebuah lensa yang menggunakan prinsip-prinsip holografik untuk secara 
matematis mengubah frekuensi-frekuensi yang diterimanya melalui pancaindra 
menjadi persepsi di dalam batin kita. Sejumlah bukti yang mengesankan 
mengisyaratkan bahwa otak menggunakan prinsip-prinsip holografik untuk 
menjalankan fungsinya. Sesungguhnya, teori Pribram
 makin diterima di kalangan pakar neurofisiologi.

Peneliti Argentina-Italia, Hugo Zucarelli, baru-baru ini memperluas model 
holografik ke dalam fenomena akustik. Menghadapi teka-teki bahwa manusia dapat 
menetapkan sumber suara tanpa menggerakkan kepalanya, bahkan jika mereka hanya 
memiliki pendengaran pada satu telinga saja, Zucarelli menemukan 
prinsip-prinsip holografik dapat menjelaskan kemampuan ini. Zucarelli juga 
mengembangkan teknologi suara holofonik, suatu teknik perekaman yang mampu 
mereproduksi suasana akustik dengan realisme yang mengagumkan. Keyakinan 
Pribram bahwa otak kita secara matematis membangun realitas "keras" dengan 
mengandalkan diri pada masukan dari suatu domain frekuensi juga telah mendapat 
dukungan sejumlah eksperimen. Telah ditemukan bahwa masing-masing indra kita 
peka terhadap suatu bentangan frekuensi yang jauh lebih lebar daripada yang 
dianggap orang sebelum ini. Misalnya, para peneliti telah menemukan bahwa 
sistem penglihatan kita peka terhadap frekuensi suara, bahwa indra
 penciuman kita sebagian bergantung pada apa yang sekarang dinamakan "frekuensi 
osmik", dan bahkan sel-sel tubuh kita peka terhadap suatu bentangan luas 
frekuensi. Temuan-temuan seperti itu menandakan bahwa hanya di dalam domain 
kesadaran holografik saja frekuensi-frekuensi seperti itu dipilah-pilah dan 
dibagi-bagi menjadi persepsi konvensional.

Tetapi aspek yang paling membingungkan dari model otak holografik Pribram 
adalah apa yang terjadi apabila model itu dipadukan dengan teori Bohm. Oleh 
karena, bila kekonkritan alam semesta ini hanyalah realitas sekunder dan bahwa 
apa yang ada "di luar sana" sesungguhnya hanyalah kekaburan frekuensi 
holografik, dan jika otak juga sebuah hologram dan hanya memilih beberapa saja 
dari frekuensi-frekuensi yang kabur dan secara matematis mengubahnya menjadi 
persepsi sensorik, apa jadinya dengan realitas yang obyektif?

Secara sederhana, realias obyektif itu tidak ada lagi. Seperti telah lama 
dinyatakan oleh agama-agama dari Timur, dunia materi ini adalah Maya, suatu 
ilusi, dan sekalipun kita mungkin berpikir bahwa kita ini makhluk fisikal yang 
bergerak di dalam dunia fisikal, ini juga suatu ilusi. Kita ini sebenarnya 
adalah "pesawat penerima" yang mengambang melalui suatu lautan frekuensi 
kaleidoskopik, dan apa yang kita ambil dari lautan ini dan terjemahkan menjadi 
realitas fisikal hanyalah satu channel saja dari sekian banyak yang diambil 
dari superhologram itu. Gambaran realitas yang baru dan mengejutkan ini, yakni 
sintesis antara pandangan Bohm dan Pribram, dinamakan paradigma holografik, dan 
sekalipun banyak ilmuwan memandangnya secara skeptik, paradigma itu 
menggairahkan sementara ilmuwan lain.

Suatu lingkungan kecil ilmuwan --yang jumlahnya makin bertambah-- percaya bahwa 
paradigma itu merupakan model realitas yang paling akurat yang pernah dicapai 
sains. Lebih dari itu, sementara kalangan percaya bahwa itu dapat memecahkan 
beberapa misteri yang selama ini belum dapat dijelaskan oleh sains, dan bahkan 
dapat menegakkan hal-hal paranormal sebagai bagian dari alam. Banyak peneliti, 
termasuk Bohm dan Pribram, mencatat bahwa banyak fenomena para-psikologis 
menjadi lebih dapat dipahami dalam kerangka paradigma holografik. Dalam suatu 
alam semesta yang di situ otak individu sesungguhnya adalah bagian yang tak 
terbagi dari hologram yang lebih besar dan segala sesuatu saling berhubungan 
secara tak terbatas, maka telepati mungkin tidak lebih dari sekadar mengakses 
tingkat holografik itu.

Jelas itu jauh lebih mudah dapat memahami bagaimana informasi dapat berpindah 
dari batin individu A kepada batin individu B yang berjauhan, dan memahami 
sejumlah teka-teki yang belum terpecahkan dalam psikologi. Khususnya, Grof 
merasa bahwa paradigma holografik menawarkan model untuk memahami banyak 
fenomena membingungkan yang dialami orang dalam keadaan "kesadaran yang 
berubah" [altered states of consciousness]. Pada tahun 1950-an, ketika 
melakukan penelitian terhadap anggapan bahwa LSD adalah alat penyembuhan 
psikoterapi, Grof mempunyai seorang pasien wanita yang tiba-tiba merasa yakin 
bahwa dia mempunyai identitas seekor reptil betina prasejarah. Selama 
halusinasinya, dia tidak hanya menguraikan secara amat mendetail tentang 
bagaimana rasanya terperangkap dalam wujud seperti itu, melainkan juga 
mengatakan bahwa bagian anatomi binatang jantan adalah sepetak sisik berwarna 
pada sisi kepalanya. Yang mengejutkan Grof ialah bahwa, sekalipun wanita itu
 sebelumnya tidak mempunyai pengetahuan tentang hal-hal itu, suatu percakapan 
dengan seorang ahli zoologi belakangan menguatkan bahwa pada beberapa spesies 
reptilia tertentu bagian-bagian berwarna dari kepala memainkan peran penting 
untuk membangkitkan birahi.

Pengalaman wanita itu bukan sesuatu yang unik. Selama penelitiannya, Grof 
bertemu dengan pasien-pasien yang mengalami regresi dan mengenali dirinya 
sebagai salah satu spesies dalam deretan evolusi. Tambahan pula, ia mendapati 
bahwa pengalaman-pengalaman seperti itu sering kali mengandung informasi 
zoologis yang jarang diketahui yang belakangan ternyata akurat. Regresi ke 
dalam dunia binatang bukanlah satu-satunya fenomena psikologis yang menjadi 
teka-teki yang ditemukan Grof. Ia juga mempunyai pasien-pasien yang tampak 
dapat memasuki alam bawah sadar kolektif atau rasial. Orang-orang yang tidak 
terdidik tiba-tiba memberikan gambaran yang terperinci tentang praktek 
penguburan Zoroaster dan adegan-adegan dari mitologi Hindu. Jenis pengalaman 
yang lain adalah orang-orang yang memberikan uraian yang meyakinkan tentang 
perjalanan di luar tubuh, atau melihat sekilas masa depan yang akan terjadi, 
atau regresi ke dalam inkarnasi dalam salah satu kehidupan
 lampau.

Dalam riset-riset lebih lanjut, Grof menemukan bentangan fenomena yang sama 
muncul dalam sesi-sesi terapi yang tidak menggunakan obat-obatan [psikotropika] 
. Oleh karena unsur yang sama dalam pengalaman-pengalam an seperti itu 
tampaknya adalah diatasinya kesadaran individu yang biasanya dibatasi oleh ego 
dan/atau dibatasi oleh ruang dan waktu, Grof menyebut fenomena itu sebagai 
"pengalaman transpersonal", dan pada akhir tahun 1960-an ia membantu mendirikan 
cabang psikologi yang disebut "psikologi transpersonal" yang sepenuhnya 
mengkaji pengalaman-pengalaman seperti itu.

Sekalipun perhimpunan yang didirikan oleh Grof, Perhimpunan Psikologi 
Transpersonal [Association of Transpersonal Psychology], menghimpun sekelompok 
profesional yang jumlahnya semakin bertambah, dan telah menjadi cabang 
psikologi yang terhormat [di kalangan sains], selama bertahun-tahun Grof maupun 
rekan-rekannya tidak dapat memberikan suatu mekanisme yang dapat menjelaskan 
berbagai fenomena psikologis aneh yang mereka saksikan. Tetapi semua itu 
berubah dengan lahirnya paradigma holografik. Sebagaimana dicatat Grof 
baru-baru ini, jika batin memang bagian dari suatu kontinuum, suatu labirin 
yang berhubungan bukan hanya dengan setiap batin lain yang ada dan yang pernah 
ada, melainkan berhubungan pula dengan setiap atom, organisme, dan wilayah di 
dalam ruang dan waktu yang luas itu sendiri, maka fakta bahwa batin 
kadang-kadang bisa menjelajah ke dalam labirin itu dan mengalami hal-hal 
transpersonal tidak lagi tampak begitu aneh.

Paradigma holografik juga mempunyai implikasi bagi sains-sains "keras" seperti 
biologi. Keith Floyd, seorang psikolog di Virginia Intermont College, 
mengatakan bahwa jika realitas yang konkrit tidak lebih dari sekadar ilusi 
holografik, maka tidak benar lagi pernyataan yang mengklaim bahwa otak 
menghasilkan kesadaran. Alih-alih, justru kesadaranlah yang menciptakan 
perwujudan dari otak — termasuk juga tubuh dan segala sesuatu di sekitar kita 
yang kita tafsirkan sebagai fisikal. Pembalikan cara melihat struktur-struktur 
biologis seperti itu menyebabkan para peneliti mengatakan bahwa ilmu kedokteran 
dan pemahaman kita mengenai proses penyembuhan juga dapat mengalami 
transformasi berkat paradigma holografik ini. Jika struktur yang tampaknya 
fisikal dari badan ini tidak lain daripada proyeksi holografik dari kesadaran, 
maka jelas bahwa masing-masing dari kita jauh lebih bertanggung- jawab bagi 
kesehatan diri kita daripada yang dinyatakan oleh
 pengetahuan kedokteran masa kini. Apa yang sekarang kita lihat sebagai 
penyembuhan penyakit yang bersifat "mukjizat" mungkin sesungguhnya disebabkan 
oleh perubahan-perubahan dalam kesadaran yang pada gilirannya mempengaruhi 
perubahan-perubahan dalam hologram badan jasmani. Demikian pula, teknik-teknik 
penyembuhan baru yang kontroversial, seperti visualisasi, mungkin berhasil baik 
oleh karena dalam domain pikiran yang holografik gambar-gambar pada akhirnya 
sama nyatanya dengan "realitas".

Bahkan berbagai visiun dan pengalaman yang menyangkut realitas yang "tidak 
biasa" dapat dijelaskan dengan paradigma holografik. Dalam bukunya "Gifts of 
Unknown Things", pakar biologi Lyall Watson menceritakan pertemuannya dengan 
seorang dukun perempuan Indonesia yang, dengan melakuan semacam tarian ritual, 
mampu melenyapkan sekumpulan pepohonan. Watson mengisahkan, sementara ia dan 
seorang pengamat lain terus memandang perempuan itu dengan takjub, ia membuat 
pepohonan itu muncul kembali, lalu melenyapkannya dan memunculkannya lagi 
beberapa kali berturut-turut. Sekalipun pemahaman saintifik masa kini tidak 
mampu menjelaskan peristiwa-peristiwa seperti itu, berbagai pengalaman seperti 
ini menjadi lebih mungkin jika realitas "keras" tidak lebih dari sekadar 
proyeksi holografik. Mungkin kita sepakat tentang apa yang "ada" atau "tidak 
ada" oleh karena apa yang disebut "realitas konsensus" itu dirumuskan dan 
disahkan di tingkat bawah sadar manusia, yang di
 situ semua batin saling berhubungan tanpa terbatas. Jika ini benar, maka ini 
adalah implikasi paling dalam dari paradigma holografik, oleh karena hal itu 
berarti bahwa pengalaman-pengalaman sebagaimana dialami oleh Watson adalah 
tidak lazim hanya oleh karena kita tidak memprogram batin kita dengan 
kepercayaan- kepercayaan yang membuatnya lazim. Di dalam alam semesta yang 
holografik, tidak ada batas bagaimana kita dapat mengubah bahan-bahan realitas.

Yang kita lihat sebagai 'realitas' hanyalah sebuah kanvas yang menunggu kita 
gambari dengan gambar apa pun yang kita inginkan. Segala sesuatu adalah 
mungkin, mulai dari melengkungkan sendok dengan kekuatan batin sampai 
peristiwa-peristiwa fantastik yang dialami oleh Castaneda selama pertemuannya 
dengan dukun Indian bangsa Yaqui, Don Juan, oleh karena sihir adalah hak asasi 
kita, tidak lebih dan tidak kurang adikodratinya daripada kemampuan kita 
menghasilkan realitas yang kita inginkan ketika kita bermimpi. Sesungguhnya, 
bahkan paham-paham kita yang paling mendasar tentang realitas patut 
dipertanyakan, oleh karena di dalam alam semesta holografik, sebagaimana 
ditunjukkan oleh Pribram, bahkan perisitiwa yang terjadi secara acak [random] 
harus dilihat sebagai berdasarkan prinsip holografik dan oleh karena itu 
bersifat determined.

'Sinkronisitas' atau peristiwa-peristiwa kebetulan yang bermanfaat, tiba-tiba 
masuk akal, dan segala sesuatu dalam realitas harus dilihat sebagai metafora, 
oleh karena bahkan peristiwa yang paling kacau mengungkapkan suatu simetri 
tertentu yang mendasarinya. Apakah paradigma holografik Bohm dan Pribram akan 
diterima oleh sains atau tenggelam begitu saja masih akan kita lihat, tetapi 
pada saat ini agaknya dapat dikatakan bahwa paradigma itu telah berpengaruh 
terhadap pemikiran sejumlah ilmuwan. Dan bahkan jika kelak terbukti bahwa model 
holografik tidak memberikan penjelasan terbaik bagi komunikasi seketika yang 
tampaknya berlangsung bolak-balik di antara partikel-partikel subatomik, 
setidak-tidaknya, sebagaimana dinyatakan oleh Basil Hiley, seorang pakar fisika 
di Birbeck College di London, temuan Aspect "menunjukkan bahwa kita harus siap 
mempertimbangkan paham-paham baru yang radikal mengenai realitas."

[Dikutip dari suaraSUARA: http://groups.yahoo.com/group/suarasuara/ ]






PH PRO
Indonesia


      
___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

********************
Situs untuk Jual Beli Barang
untuk keluar dari mailing list ini silahkan kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED] Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kolom/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kolom/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke