Kayaknya, memang susah urusan dengan Pemda yang
'ndablek' kayak gini. Lagi lagi bukti, bahwa memilih
pejabat dengan yang 'katanya pilih yg ada kumis' dan
'pilih yang sudah berpengalaman' - ternyata berbuah
sengsara. Bukannya makin mengerti suara rakyatnya,
malah semakin berusaha bikin sengsara.

Kondisi sudah susah, jalanan macet malah disalahkan ke
anak-anak kecil (anak sekolah) yang tidak berdosa.
Mereka jadi korban dihukum bangun lebih pagi.

Padahal kita tahu, berapa banyak pegawai Pemda dan PNS
di Jakarta yang biar jam kerjanya sudah siang, masih
juga mangkir dan telat ke kantornya. Mereka ini yang
bikin macet. Satu pegawai, bawa satu mobil. Belum
mobil petinggi Pemda, yang satu mobil dikawal beberapa
mobil dan motor. Bikin macet nggak karuan. 

Sekarang bukannya benahi diri sendiri malah anak kecil
yang dijadikan sasaran.

Kalau suara protes dari para orang tua dan anak murid
sudah tidak didengar, maka rakyat (masyarakat) boleh
bertindak. Diluar sudah sering didengar namanya
"People Power". 

Caranya yach mungkin dengan mulai menolak membayar
retribusi pajak daerah, tidak membayar pajak
kendaraan, biar Pemda tidak punya uang buat bayar gaji
karyawan Pemda. Akhirnya karyawan Pemda bakal
dikurangi dan buntutnya jalan jadi tidak begitu macet.

Kalau masih juga Pemda tidak mau mendengar suara
rakyat kecil, banyaklah berdoa, biar Tuhan sendiri
yang turun tangan 'memberkati' pejabat pejabat kita
yang 'hanya mau dengar suara rakyatnya' pada saat mau
menjelang Pilkada.


--- bimagroup <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Date: Thu, 27 Nov 2008 02:35:47 -0000
> From: "bimagroup" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Fwd:  nya ke Sekolah Lebih Pagi
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED], "Sunny" <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> 
> Refleksi: Ini bukti kerdinya kepandaian petinggi
> NKRI, bukan sistem
> transport kota diperbaiki  dan dimoderniasikan untuk
> kebaikan
> kebutuhan penduduk kota, tetapi sebaliknya penghuni
> kota diharuskan
> menyesuaikan diri dengan ketololan penguasa.
> 
>
http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=1215
> 
> 
> Sulitnya ke Sekolah Lebih Pagi
> 
> 
> SP/Alex Suban
> 
> 
> 
> Elizabeth mempersiapkan putranya, Adit menunggu bus
> antarjemput di
> Ciputat, Banten. Agar tiba tepat waktu di sekolahnya
> kawasan Kebayoran
> Baru, Jakarta Selatan, bus sekolah datang sekitar
> pukul 06.00 Wib.
> 
> Setiap Senin hingga Jumat, Suryani Waruwu harus
> bangun pukul 04.00
> WIB. Rutinitas seperti itu sudah dia jalani selama
> lima tahun lebih,
> termasuk pada hari guru tanggal 25 November ini.
> Meskipun bangun pukul
> 04.00 WIB dengan berbagai persiapan yang harus
> dilakukan, Suryani akan
> tiba di SMAK 3 Penabur Jakarta Pusat, tempatnya
> mengajar pukul 06.30
> WIB, sementara sekolah dimulai pukul 07.00 WIB. Itu
> pun jika jalan
> tidak macet.
> 
> Tak terbayangkan jika Pemprov DKI Jakarta menerapkan
> aturan masuk
> sekolah pukul 06.30 WIB. Jam berangkat harus lebih
> pagi lagi. Itu
> berarti jam bangun pagi juga harus makin pagi pula.
> Saat berangkat
> anak masih tidur, pulang mengajar anak sudah nyenyak
> terlelap.
> 
> Suryani (34) adalah guru SMAK 3 BPK Penabur Jakarta
> Pusat. Dia memang
> tak menampik sekolah tempatnya mengajar, kerap
> disebut sebagai biang
> kemacetan di Jl Gunung Sahari Raya. Setiap pagi,
> kendaraan orangtua
> murid berhenti di depan gerbang, memacetkan arus
> lalu lintas arah
> terminal Senen. Tetapi, dia berharap sekolah tidak
> "dikorbankan"
> sebagai solusi mengatasi kemacetan Jakarta.
> 
> "Setiap hari, saya dan suami harus bangun pukul
> empat pagi. Jika tidak
> macet, paling cepat, saya sampai di sekolah jam
> setengah tujuh. Tidak
> terbayang, jika jam masuk sekolah dimajukan, saya
> harus bangun jam
> berapa? Kendaraan umum pun masih jarang pada jam
> itu," keluh ibu dua
> anak ini.
> 
> Menurut Suri, gagasan memajukan jam masuk sekolah
> seharusnya melewati
> studi kelayakan dahulu. Apalagi kebijakan ini akan
> melibatkan banyak
> pihak dan berdampak luas. Solusi kemacetan DKI
> Jakarta semestinya
> diatasi dengan pembenahan sistem transportasi umum.
> 
> 
> Lain lagi, pendapat Ignas, siswi kelas II, SLTP
> Marsudirini di jalan
> Dewi Sartika, Jakarta Timur. Menjelang pukul 07.00
> WIB para murid SLTP
> Marsudirini, Jakarta Timur, datang dengan
> tergesa-gesa. Walaupun jam
> pelajaran mulai sekitar pukul 07.15 WIB, mereka
> harus bersiap-siap
> sejak awal.
> 
> "Tadi pagi, saya sampai kira-kira pukul 06.45. Sejak
> dulu, saya tidak
> pernah telat masuk sekolah. Kebetulan, di sini cukup
> ketat
> memberlakukan jam masuk sekolah," kata Ignas.
> 
> Walaupun tinggal di bilangan Kelapa Dua, Cimanggis,
> Depok, Ignas
> mengaku tidak pernah sekalipun terlambat. Setiap
> hari, dengan angkutan
> umum, dia mampu tiba di sekolah setengah jam sebelum
> pelajaran
> dimulai. Jarak belasan kilo dari Cimanggis hingga
> Cawang ditempuhnya
> setiap hari. Pulang dan pergi.
> 
> "Saya biasanya ke sekolah pakai angkutan umum.
> Berangkat pagi pukul
> 06.00 kurang. Kalau sedang beruntung bisa bareng
> Ayah. Tapi itu
> jarang, karena Ayah saya wiraswasta, nggak ada jam
> kantoran. Jadi,
> tidak tahu kapan ayah keluar untuk bisnis," ujar
> Ignas.
> 
> Agar bisa berangkat sebelum pukul 06.00 WIB, Ignas
> harus bangun
> sekitar pukul 05.30 WIB untuk mandi dan persiapan
> lainnya. Anak ini
> tidak bisa membayangkan, seandainya jam masuk
> sekolah dipercepat
> menjadi pukul 06.30 WIB.
> 
> "Pukul 06.00 saja, angkutan umum masih jarang.
> Sekalipun ada, sudah
> penuh. Kalau di Cimanggis, jam segitu masih sepi.
> Saya sudah dengar
> rencana pemerintah yang akan memajukan jam masuk
> sekolah. Kalau
> dimulai pukul 06.30, berarti kira-kira saya harus
> bangun pukul 05.00
> kurang. Kalau sudah begitu, saya pasti langganan
> terlambat, karena jam
> segitu saya masih tidur pulas," ucapnya.
> 
> 
> Orangtua Keberatan
> 
> Hal yang sama juga dikeluhkan Zaasira, orangtua
> murid, yang tinggal di
> daerah Villa Pertiwi, Depok. Anaknya Jofa, yang
> masih kelas II SD
> diharuskan masuk sekolah pukul 07.00 WIB, itu pun
> sering terlambat.
> Zaasira mengaku keberatan jika jam masuk Jofa
> dimajukan setengah jam.
> 
> "Anak saya bisa sering telat kalau dimajukan.
> Sekolah yang jauh dan
> jam tidur anak yang kurang sangat berpengaruh.
> Bisa-bisa tidur di
> kelas dia," kata Zaasira.
> 
> Sementara Kepala Sekolah SLTP Marsudirini, Hyacinta
> pun ketika ditemui
> menjelaskan hal yang sama. Hampir sebagian besar
> muridnya tinggal jauh
> dari sekolah. "Selama ini, kami memberlakukan jam
> masuk sekolah pukul
> 07.15, karena siswa kami banyak yang rumahnya jauh,
> seperti di Bekasi
> dan Depok. Tetapi, walaupun demikian para murid
> harus sudah datang
> lebih awal untuk melakukan doa bersama di kelas
> masing-masing," kata
> Hyacinta.
> 
> Kalau awal 2009 mendatang pemerintah mewajibkan
> seluruh sekolah yang
> ada di DKI masuk pukul 06.30 WIB, dipastikan akan
> banyak murid yang
> telat. Kondisi kemacetan jalan dan pola hidup mereka
> harus diubah.
> 
> "Mengubah pola hidup siswa sangat sulit. Itu
> menyangkut kebiasaan
> mereka dan orangtua. Bayangkan, jika mereka harus
> bangun pukul 05.00
> WIB. Lantas, jam berapa orangtua mereka harus bangun
> untuk menyiapkan
> sarapan? Saya takut dengan kebijakan itu yang
> tertekan bukan saja
> siswa, orangtua mereka pun ikut tertekan," tutur
> Hyacinta.
> 
> Keberatan juga dilontarkan Kepala Sekolah SMAK 3 BPK
> Penabur, Jakarta,
> Devi S Tanumihardja. Jam masuk sekolah yang
> dipercepat hanya akan
> mengubah jam macet. Selama infrastruktur tidak
> bertambah dan kendaraan
> makin banyak, antisipasi kemacetan akan sia-sia.
> 
> "Kebijakan pemerintah tersebut kurang relevan dengan
> hal yang selama
> ini dianggap biang kemacetan. Siswa dan guru akan
> terkena dampak yang
> luar biasa. Jam masuk sekolah pukul 06.45 WIB saja
> mereka sudah harus
> bangun pukul 05.00 pagi, apalagi bila masuk
> dipercepat," katanya
> ketika dihubungi SP.
> 
> Menurut Devi, pihak BPK penabur sudah berusaha
> mengurangi kemacetan di
> depan sekolah dengan mengimbau orang tua siswa tidak
> berlama-lama
> mengantar anak. Tetapi karena badan jalan yang
> demikian kecil dan
> volume kendaraan yang banyak tetap tidak bisa
> mengurangi kemacetan.
> [Yeremia Sukoyo
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
> 
> --- End forwarded message ---
> 
> 
> 


Pls CC or  reply to : [EMAIL PROTECTED]  

Pls Join : 
[EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/inti-net
 
LowonganNET - Informasi Lowongan Pekerjaan terbaru, Gratis via email
[EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/LowonganNet

Iklan Parahiyangan - [EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/iklan-parahiyangan

Batavia-news - Milis Berita dan Features.
[EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/batavia-news

Milis Republik-Mimpi - Ikutan diskusi seputar negeri impian
[EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/republik-mimpi

Milis Rakyat-Peduli - Anda peduli dgn masalah bangsa ini ?
[EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/rakyat-peduli

Great Business Opportunities.
Visit  http://www.balipetroleum.myffi.biz/

Visit Tionghoanet on the blog :
http://tionghoanet.blogspot.com/


      

------------------------------------

********************
Situs untuk Jual Beli Barang
untuk keluar dari mailing list ini silahkan kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED] Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kolom/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kolom/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke