Rekan-rekan milis yth,

Kebetulan saya sedang membuat semacam program komunikasi bagi Yayasan
Sekolah 2000, guna mengkampanyekan penggunaan Internet untuk tujuan yang
"sehat" dan "halal". Saat ini saya sedang menyusun rancangan program
tersebut. Latar-belakang program tersebut saya sertakan dalam e-mail ini,
untuk dapat dikaji bersama. Berhubung latar-belakang tidak boleh terlalu
banyak, mudah-mudahan yang saya sertakan di sini bisa memberikan gambaran
umum tentang kondisi Internet di Indonesia, ditilik dari sudut pandang
potensi dampak sosio-kultur secara umum. Mudah-mudahan pula, latar-belakang
ini juga dapat menjawab pertanyaan yang tercantum dalam subject e-mail ini.

Mudah-mudahan bermanfaat.

-dbu-
Pekerja TI Biasa


=====
Program Komunikasi
Kampanye Anti-Pornografi di Internet

Latar Belakang

Penyebaran Internet di Indonesia efektif dimulai pada tahun 1996 dengan
dibukanya Internet Service Provider (ISP) pertama di Indonesia, yaitu
IndoNet Jakarta. Serentak Internet menjadi lebih dikenal sebagai sebuah
media bisnis dan terus dikembangkan dan ditingkatkan dalam paradigma
komersial. Baru pada tahun 2000, Internet mulai dikenalkan kepada sektor
pendidikan, melalui program Sekolah 2000 yang dirintis oleh Asosiasi
Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bekerjasama dengan komunitas
pendidikan.

Namun, dalam rentang waktu tahun 1996 sampai dengan tahun 2000 tersebut,
masyarakat umum kurang mendapatkan informasi yang komprehensif mengenai
seluk-beluk Internet. Peningkatan penetrasi Internet, baik melalui sektor
rumah-tangga maupun warung internet (warnet), masih mengacu kepada pola-pola
kuantitatif yang berpatokan pada jumlah. Contohnya adalah ketika Tim
Koordinasi Telematika Indonesia (TKTI) pada bulan Juli 2001 bersama dengan
Kadin dan Asosiasi Warnet Indonesia (Awari) dan Asosiasi Pengusaha Wartel
Indonesia (APWI) meluncurkan program "500 ribu Warnet/Wartel" di seluruh
Indonesia, tanpa adanya kajian terhadap dampak sosio-kultur sebelumnya.

Semua pembicara dan nara sumber pada acara peluncuran program tersebut lebih
banyak mengedepankan aspek keuntungan bisnis dan kuantitatif belaka. Untung
saja, program tersebut tidak jadi dijalankan karena tidak mendapatkan
bantuan dana dari pihak Jepang. Pola-pola tersebut hingga kini masih
berlanjut. Walhasil, dewasa ini peningkatan penetrasi Internet di Indonesia
tidak dibarengi dengan peningkatan mutu dan pemahaman tentang Internet itu
sendiri. Ibarat memberikan suatu tools tanpa disertakan manual book.

Bagi masyarakat umum, Internet kemudian menjadi suatu hal yang tabu, negatif
dan sarat dengan muatan pornografi. Hal tersebut terbukti dengan banyak
dilansirnya berbagai informasi tentang pornografi di Internet oleh media
massa umum, tetapi sangat sedikit yang berkeinginan memberitakan Internet
dari sudut pandang pendidikan. Pornografi memang hal yang laku dijual oleh
sebuah media massa, selain kriminalitas. Internet, sebagai sebuah media
baru, membawa hal-hal segar tentang pornografi. Sebutlah semisal cybersex
dan situs porno. Hal-hal tersebutlah yang justru lebih banyak disorot oleh
media massa umum, ketimbang hal-hal semacam pendidikan dan bisnis di
Internet.

Berikut ini beberapa contoh media yang di halaman cover-nya memberikan
informasi tentang pornografi di Internet :
06/1995 - Matra, Majalah : Internet, Pornografi Tanpa Sensor
04/2001 - Panji, Majalah : Waduh, Cybersex Lokal Makin HOT
04/2001 - Matra, Majalah : 100 Macam Situs Porno
10/2001 - Citra, Tabloid : 26 Artis Ternama "Bugil" di Internet
10/2001 - Aha, Majalah : Ditemukan! Situs Telanjang Presenter Berita
11/2001 - Bos, Tabloid : Bila Internet Dukung VCD Porno Bandung
11/2001 - Bisnis Komputer, Majalah : Rossa Ikutan Bugil di Situs Porno
12/2001 - HerWorld, Majalah: Affair Gaya Cyber, Bercumbu di Dunia Maya

Tentu saja kita tidak bisa secara serta merta melempar kesalahan kepada
media massa. Karena mau tidak mau, apa yang ditulis oleh media massa
merupakan pencerminan kondisi masyarakat, dan kondisi di masyarakat
dipengaruhi pula oleh media massa. Mencari siapa yang salah bagaikan
menghasta sarung, tidak akan ditemukan pada ujung dan pangkalnya. Sembari
kita sibuk memperluas penetrasi Internet, membangun warnet di daerah-daerah,
mengadakan seminar dan workshop tentang Internet, selaras dengan hal
tersebut kita lupa memberikan "manual book", lupa berpikir lintas sektoral
ke bidang sosio-kultur, dan lupa berpikir bahwa kita sedang mengubah budaya.
Perubahan budaya bangsa ke arah yang kita sendiri lupa atau tidak tahu akan
menuju kemana.

Yang jelas, masyarakat yang membaca headline informasi tersebut akan
tertanam dalam pikirannya tentang Internet sebagai hal yang pornografi, atau
setidaknya pornografi adalah hal yang sejajar dengan Internet itu sendiri.
Ibu rumah tangga akan melarang anaknya untuk mengakses Internet. Ini berarti
berkuranglah potensi peningkatan penggunaan Internet di rumah tangga. Anak
yang dilarang oleh ibu tersebut akan semakin penasaran dan mencari jalan
keluar. Salah satunya adalah melalui warnet.

Karena anak tersebut tidak dibekali dengan pemahaman Internet yang
proporsional, ditambah dengan larangan-larangan yang justru membuatnya
semakin penasaran, akhirnya anak tersebut bersedia meluangkan waktu dan uang
jajannya untuk mengakses pornografi di warnet. Akhirnya, di mata masyarakat
warnet dapat menjadi sebuah sarang pornografi. Kalangan pendidikan dan
orang-tua resah, karena anak usia sekolah banyak meluangkan waktu di warnet,
meskipun belum tentu anak tersebut mengakses hal-hal yang negatif di
Internet.

Warnet yang didirikan di tengah-tengah masyarakat, tidak akan menghasilkan
"sebuah budaya masyarakat" dan "sebuah warnet", tetapi akan menghasilkan
"sebuah budaya baru" di dalam masyarakat tersebut. Ibarat sesendok sirup
merah yang dituangkan ke dalam segelas air, tidak akan menghasilkan segelas
air bening dan sesendok sirup merah di dalamnya, tetapi akan menghasilkan
sebuah air manis yang berwarna kemerah-merahan.

Dalam laporan penelitian terkini tentang dampak Internet bagi masyarakat
yang dikeluarkan oleh UCLA pada bulan November 2001, terbukti bahwa pengguna
Internet mengurangi waktu menonton TV untuk mengakses Internet, dan tidak
mengurangi waktu bersama keluarga atau bersosialisasi. Itu adalah kenyataan
di Amerika yang TV bukan merupakan barang mewah dan sudah ada di setiap
rumah tangga. Tetapi jika kita tarik dalam sosio-kultur masyarakat
Indonesia, khususnya di kantung-kantung yang berpenghasilan menengah ke
bawah, maka TV masihlah barang mewah dan hanya beberapa rumah tangga saja
yang memiliki. Ini berarti mereka tidak punya yang disebut sebagai "waktu
nonton TV", dan kemungkinan diganti dengan "waktu beribadah", "waktu
 belajar" atau "waktu bekerja tambahan".

Jika saja Internet dipaksa-kenalkan kepada mereka dan mereka diminta untuk
menggunakan Internet dengan alasan yang bearagam, entah dengan alasan
mengurangi digital divide atau meningkatkan taraf hidup, maka "waktu" mana
yang sekiranya akan diambil? Menonton TV tidaklah sebaik belajar, beribadah
atau bekerja. Tapi apakah Internet sebaik belajar, beribadah atau bekerja?
Bisa saja menggunakan Internet sebagai sebuah bentuk belajar, beribadah dan
bekerja. Tetapi bukankah itu pemahaman yang dibentuk oleh masyarakat kota
yang lebih paham tentang Internet? Bagaimana kita bisa mengatakan Internet
itu positip, jika Internet diterjunkan ke tengah masyarakat umum tanpa
adanya panduan? Apakah mungkin masyarakat bisa percaya kepada Internet
ditengah-tengah kabar dan pemberitaan negatif tentang Internet?

Berangkat dari kondisi di atas, maka keadaan di Indonesia dapat disingkat
sebagai berikut:

a. Pengambil keputusan di rumah tangga akan melarang anaknya mengakses
Internet. Ini berarti berkurangnya potensi pengguna Internet dari
rumah-rumah. Ini berkaitan langsung dengan pangsa pasar ISP

b. Anak-anak yang dilarang akan semakin penasaran dan semakin tertanam dalam
pikirannya bahwa Internet itu pornografi, atau pornografi bisa didapat di
Internet. Maka dia akan menyisihkan waktu dan uangnya untuk mencari
pornografi di Internet, melalui warnet

c. Warnet akhirnya dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai tempat
mengakses pornografi dengan tarif yang murah. Semakin banyak warnet di
daerah-daerah dan semakin murah biaya sewanya, maka akan semakin besar pula
potensi penyebaran pornografi dan hal-hal negatif lainnya hingga ke pelosok
daerah. Hal tersebut menjelaskan pula mengapa terjadi kejadian sweeping
warnet oleh masyarakat umum ketika bulan puasa 2001 dan datangnya polisi ke
warnet untuk memperingati pemiliknya agar tidak menerima siswa berpakaian
sekolah.

d. Akhirnya, Internet bisa menjadi benar-benar tabu. Warnet bisa menjadi
tempat tabu. Jumlah pengakses Internet tidak akan bertambah, kalaupun
bertambah hanyalah dari sisi kuantitas, tetapi tidak secara kualitas.

Berangkat dari hal-hal di atas, maka dirasakan perlu untuk membuat program
komunikasi / kampanye publik secara serentak dan komprehensif yang
melibatkan berbagai pihak dan unsur masyarakat yang terkait. Program
komunikasi tersebut haruslah memiliki tujuan, obyektif, target, waktu dan
sarana yang jelas. Beberapa pihak yang diharapkan terlibat antara lain
adalah APJII, Awari, ISP, Warnet, Komunitas Pendidikan, Media Massa dan
sukarelawan.

Sekedang gambaran singkat:

- APJII akan diminta partisipasinya dalam menghimbau para ISP agar bersedia
memberikan semacam brosur informasi yang berisi (1). situs-situs Internet
bagi pendidikan dan (2). cara-cara memblok situs-situs negatif. ISP juga
diharapkan memberikan software untuk memblok situs, seperti NetNanny atau
CyberPatrol, dalam bentuk CD atau disket. Baik brosur maupun software
tersebut harus diserahkan kepada setiap pelanggan baru. Target: rumah tangga
yang baru menggunakan Internet.
- Awari akan diminta partisipasinya dalam menghimbau setiap warnet agar
bersedia menyediakan semacam brosur informasi tentang hal-hal positip di
Internet. Brosur tersebut harus diberikan kepada setiap penyewa Internet.
Awari juga diminta menghimbau kepada warnet-warnet yang baru atau akan
berdiri di suatu tempat, melakukan aksi sosial sebagai bentuk kepedulian
sosial. Aksi sosial tersebut bisa berupa pelatihan-pelatihan gratis dalam
jangka waktu tertentu bagi masyarakat sekitar ataupun memberikan brosur
informasi tentang sisi positip Internet secara door-to-door ke masyarakat
sekitar warnet tersebut. Target: rumah tangga (masyarakat umum) sekitar
warnet.
- Akan diadakan semacam pemberdayaan dan penyebaran informasi secara lebih
intensif kepada komunitas pendidikan. Target: anak usia sekolah dan pendidik
yang belum memahami Internet. Prioritas terbesar adalah melalui workshop.
- Akan diadakan kerjasama dengan media massa, baik berupa iklan layanan
masyarakat, kerjasama pemberitaan dan hal-hal lain yang memungkinkan.
Target: masyarakat umum, anak usia sekolah dan rumah tangga, disesuaikan
dengan segmen audience media massa tersebut. Prioritas terbesar adalah
majalah-majalah remaja atau acara-acara remaja.
=====


_______________________________________________
Milis Komunitas Sekolah2000 (A.K.A [EMAIL PROTECTED])
Untuk posting kirim email ke : [EMAIL PROTECTED]
Untuk mengubah mode langganan anda, berhenti langganan kunjungi:
http://milis.sekolah2000.org/mailman/listinfo/komunitas

Kirim email ke