Memang ada beberapa sisi positif dan negatifnya...
walaupun harus diakui beberapa negara yang pernah dijajah oleh
inggris itu termasuk maju (walaupun di beberapa negara afrika seperti
rhodesia juga tidak jauh beda dengan indonesia :) ) tetapi sampai
sekarang pun orang asli negara tersebut masih menjadi golongan kelas
2 dibandingkan dengan orang kulit putih karena tetap adanya pemisahan
hak atau penggolongan kelas yang mungkin lebih ketat dijalankan oleh
inggris dengan politik apartheidnya.
Tetapi mungkin juga pada era kolonisasi inggris sudah termasuk negara
maju dengan administratif negara yang rapi dan dana hasil kolonisasi
tersebut sebagian di gunakan untuk membangun daerah koloni nya
sehingga menjadi lebih maju dan menghasilkan lebih banyak lagi.
Hasil terbaiknya tetap sebagian besar dibawa negaranya sendiri.
sedangkan belanda adalah negara kecil yang berulang kali kalah perang
dan dikuasai oleh negara2 eropa lainnya sehingga membutuhkan dana
lebih banyak untuk membangun negerinya sendiri lebih dahulu
dibandingkan membangun daerah koloninya. tapi hebatnya tetap bisa
mempertahankan daerah koloninya yang sangat jauh. Keterpaksaan ekonomi??
Bahasa inggris menjadi bahasa internasional juga merupakan salah satu
hasil dari kolonialiasi inggris :) di beberapa negara bekas koloni
belanda juga masih memakai bahasa belanda sampai sekarang. mungkin
ada yang bisa menceritakan kenapa bahasa belanda menghilang di
kehidupan sehari-hari orang Indonesia karena masih ada beberapa
golongan angkatan nenek saya yang masih fasih berbicara bahasa belanda.
Adis
On Oct 14, 2008, at 2:08 PM, ginanjar wibowo wrote:
Saya setuju dengan pendapat bu laura. Kita lihat saja negara2 eks
jajahan inggris umumnya pada maju dibandingkan dengan jajahan
belanda. Andaikan dulu kita dijajahnya sama inggris bukan sama
belanda, paling ga kita jadi terbiasa ngomong pake bahasa Inggris
yg notabene bahasa internasional.Hehe.....
Peace
----- Original Message ----
From: laura wikarma <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, October 14, 2008 1:24:51 PM
Subject: Re: [HISTORIA-INDONESIA] "Palagan" Surabaya 28–30 Oktober
1945
jujur aja..daripada di jajah belanda yg hny bs mengambil kekayaan
bumi kita aja..mendingan dijajah inggris..krn metode yg inggris
terapkan itu berbeda dgn belanda..
inggris berusaha memajukan negara yg dijajahnya..trus hasilnya bs
mereka nikmati..spt singapore,hongkong..
liat aja perbedaan hongkong dan RRC waktu blm diserahkan kembali ke
RRC...
dulu singapore itu hanya rawa2 dan org2nya primitif..lalu masuk org
inggris..merekalah yg membangun kota singapore seperti sekarang...
LAURENCIA
----- Original Message ----
From: hoesein <[EMAIL PROTECTED]>
To: abdul irsan <[EMAIL PROTECTED]>; aisah basri
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; anto gesek
<[EMAIL PROTECTED]>; Asep Kambali <[EMAIL PROTECTED]>; Asvi
Warman Adam <[EMAIL PROTECTED]>; bambang hidayat
<[EMAIL PROTECTED]>; Bambang L Gambiro <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED]; baskoro <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED]; Butet Kartaredjasa
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; Dharmawan Ronodipuro
<[EMAIL PROTECTED]>; DIAN ANGGRAINI <[EMAIL PROTECTED]>; didik
n towok <[EMAIL PROTECTED]>; dokar <[EMAIL PROTECTED]>;
Dorodjatun K-Jakti <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED]; Endang Basuki <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED]; Fediya Andina <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED]; FX Widiarso <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED]; Hans Pols <[EMAIL PROTECTED]>; Hikayat Dunia
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
indonesiaberdaya moderator <indonesiaberdaya-
[EMAIL PROTECTED]>; ips <[EMAIL PROTECTED]>; Ir Yuke
<[EMAIL PROTECTED]>; Isa Multazam <[EMAIL PROTECTED]>; Ismail
Alatas <[EMAIL PROTECTED]>; Jj Rizal <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED]; [email protected];
[EMAIL PROTECTED]; Louk Aznam <[EMAIL PROTECTED]>; lubis
nina <[EMAIL PROTECTED]>; luluk sumiarso
<[EMAIL PROTECTED]>; marissa haque <[EMAIL PROTECTED]>;
mediacare <[EMAIL PROTECTED]>; Mestika Zed
<[EMAIL PROTECTED]>; mohammad hadi winarto
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; mulyawan
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; negri kartun
<[EMAIL PROTECTED]>; Prayitno Ramelan <[EMAIL PROTECTED]>;
radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]>; ratna sarumpaet
<[EMAIL PROTECTED]>; restu gunawan <[EMAIL PROTECTED]>;
retno marsudi <[EMAIL PROTECTED]>; Ridho Ardhi Syaiful
<[EMAIL PROTECTED]>; Rini Oetoro <[EMAIL PROTECTED]>;
rositanoer.com <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED];
Siswanto <[EMAIL PROTECTED]>; Sorimuda Pohan Hakim
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; Tity Latief <[EMAIL PROTECTED]>; Toeti
Kakiailatu <[EMAIL PROTECTED]>; tossi20 <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, October 13, 2008 22:05:43
Subject: [HISTORIA-INDONESIA] "Palagan" Surabaya 28–30 Oktober 1945
<1.2049096872>
Oleh DAUD SINJAL
Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November adalah
untuk mengenang peristiwa heroik rakyat Surabaya melawan tentara
Inggris. Namun perlu pula dikenang peristiwa yang mengawalinya.
Pertempuran 28-30 Oktober 1945 merupakan "palagan" yang sebenarnya,
di mana pasukan Indonesia memaksa Inggris mengibarkan bendera putih.
Tentara Inggris mendarat di Surabaya untuk menegakkan ketertiban
dan keamanan, membebaskan semua tawanan perang Sekutu, mengevakuasi
interniran, melucuti, dan memulangkan tentara Jepang. Pasukan yang
dikirim ke Surabaya adalah Brigade ke-49, Divisi 23 India, di bawah
komando Brigjen Mallaby. Kekuatannya 4.000 orang, terdiri dari
batalyon Mahrattas dan Rajputana Rifles. Perwira-perwira
komandannya campuran, Inggris dan India.
Pemerintah RI di Jakarta, meminta pemerintah daerah, TKR (Tentara
Keamanan Rakyat) dan para pejuang di Surabaya menerima baik dan
membantu kelancaran misi Inggris. Karena goodwill ini merupakan
bagian dari langkah RI untuk mendapatkan pengakuan dari Sekutu,
pemenang Perang Dunia II.
Pimpinan tentara Inggris, dua kali bertemu dengan pimpinan
pemerintahan dan tentara Indonesia di Surabaya. Pertama pada hari
pendaratannya, 25 Oktober 1945 dan kedua, 26 Oktober. Pertemuan
berlangsung dalam suasana bersahabat. Namun pihak Indonesia
memperingatkan tidak boleh ada satu pun Belanda membonceng pasukan
Sekutu ini. Inggris menjamin hal itu tidak akan terjadi. Kedua
belah pihak sepakat bekerja sama menjaga ketentraman dan
ketertiban. Dan agar kerja sama bisa berjalan baik, dibentuk
Contact Committee.
Provokatif
Mentaati niat baik pemerintah pusat, pimpinan perjuangan di
Surabaya juga menunjukkan sikap yang luwes. Namun kelonggaran-
kelonggaran yang diberikan itu dimanfaatkan Inggris untuk
melebarkan dislokasi pasukannya sampai di luar kesepakatan bersama.
Mereka antara lain memperkuat posisi di tempat- tempat strategis
seperti lapangan terbang Tanjung Perak, perusahaan listrik ANIEM,
stasiun kereta api, kantor pos besar dan stasiun radio di Simpang.
Sikap baik RI ini disalahgunakan pula oleh satuan intel brigade
yang melakukan raid ke penjara Kalisosok, untuk membebaskan seorang
kolonel angkatan laut Belanda (yang ditangkap pemuda saat
menjalankan tugas untuk Sekutu) serta perwira-perwira dan staf
RAPWI (Rehabilitation of Allied Prisoner of War and Internees)
yang ditahan di situ. Inggris juga mengacau di Nyamplungan,
menangkapi sejumlah pemuda dan Ketua BKR setempat, serta menyerobot
kantor Polisi RI Bubutan dan penjara Bubutan.
Kepercayaan terhadap Inggris serta merta berbalik curiga, ketika
pada pagi 27 Oktober, sebuah pesawat Inggris menyebarkan pamflet
yang isinya menuntut rakyat menyerahkan kepada Inggris semua
senjata dan peralatan militer. Yang tidak mematuhinya akan dihukum
mati. Seruan ini dikeluarkan oleh Panglima Divisi ke-23, Mayjen
Hawthorn (bermarkas di Jakarta dan wewenangnya meliputi Jawa-Bali-
Lombok). Pihak Indonesia mencurigai keras Inggris tengah membuka
pintu untuk Belanda kembali ke sini.
Pemimpin-pemimpin RI di Surabaya memperingatkan Mallaby bahwa
leaflet Hawthorn dan perbuatan yang dilakukan pasukannya
mengingkari perjanjian yang telah disepakati. Para pemuda Surabaya
bereaksi dengan meringkus serdadu-serdadu Inggris yang menduduki
Nyamplungan dan Bubutan. Sejumlah prajurit Inggris dan India yang
sedang pesiar di kota juga diculik dan dibunuh. Sebaliknya, tanggal
28 Oktober, Inggris melakukan perampasan senjata dan mobil-mobil
pemuda.
Sore harinya, pimpinan TKR memutuskan melakukan serangan umum
terhadap semua posisi Inggris di Surabaya. Radio pemberontak
berulang-ulang mengumandangkan panggilan pada rakyat untuk
mengangkat senjata dan menyerang secara serentak kedudukan pasukan
Inggris. Sore dan malam hari itu juga pecah pertempuran sporadis di
berbagai tempat di kota.
Inggris Terjepit
Pertempuran besar meletus pagi 29 Oktober. Serangan fajar TKR
dibuka pukul 05.00. Tembakan pistol, senapan, senapan mesin berat
dan ringan sampai mortir saling bersahutan. Asap membumbung di atas
kota Surabaya. Para tawanan perang dan kaum interniran yang sudah
bergembira menunggu pembebasan mereka, kembali ciut hatinya, karena
terkurung di tempat-tempat penampungan yang sekitarnya telah
menjadi ajang pertempuran yang sengit.
Pasukan Inggris terjepit, bahkan seantero Brigade 49 ini terancam
musnah. Kesalahan mereka adalah menganggap enteng perlawanan rakyat
dan TKR, lalu menghadapinya dengan satuan-satuan kecil yang
terpecah-pecah di berbagai tempat. Perbekalan pelurunya juga hanya
untuk pertempuran garis pertama. Namun, begitu terdesak, mereka pun
sulit mendatangkan bala bantuan, karena pasukan besar Inggris
lainnya paling dekat berjarak 200 mil, yakni brigade yang berada di
Semarang. Amunisi dan logistik tambahan yang didrop dari udara
malah jatuh ke pihak RI.
Salah satu pertempuran dramatis berlangsung selama lima jam di
jembatan Wonokromo, sebelum akhirnya pasukan Inggris kehabisan
peluru. Dua peleton yang kebanyakan orang India terisolir dan
terkepung di situ. Mereka nyaris dihabisi oleh massa rakyat yang
tidak tahu hukum perang. Sejumlah serdadu India berteriak-teriak
"Muslim, muslim..!", memohon jangan dibunuh.
Personel TKR sekuat tenaga mencegah pembantaian tersebut. Sisa-sisa
pasukan Inggris-India itu dilarikan ke Tanjung Perak dengan truk
TKR yang mengibarkan bendera putih. Kekalahan di Wonokromo ini
membuat kekuatan Inggris terpotong dua. Satunya yang bertahan di
kota dan lainnya di sekeliling markasnya di Tanjung Perak
Kali Mas yang membelah kota menjadi saksi keganasan perang ini. Di
sungai yang keruh itu mengambang mayat-mayat tentara asing
tersebut, sebagian tanpa kepala atau anggota badan lainnya. Menurut
sumber Inggris, korban di pihak mereka 200 orang tewas atau hilang,
dan 80 luka-luka. Yang memilukan adalah nasib ratusan interniran
yang terdiri dari perempuan dan anak-anak. Konvoi truk yang
mengangkut mereka dari kamp Darmo terjebak di daerah pertempuran,
dan menjadi sasaran amukan laskar rakyat.
Panglima Tentara Sekutu di Indonesia (AFNEI - Allied Forces
Netherlands East Indies), Letjen Sir Philip Christison berusaha
menyelamatkan pasukannya di Surabaya dengan meminta pemimpin RI di
Jakarta turun tangan. Atas permintaan Christison, 29 Oktober petang
Presiden Soekarno, terbang ke Surabaya, didampingi Wakil Presiden
Hatta dan Menteri Pertahanan Amir Sjarifudin. Pagi 30 Oktober, Bung
Karno bersama Mayjen Hawthorn dan Brigadir Mallaby mengadakan
perundingan damai dengan para pemimpin pejuang di Gubernuran Surabaya.
Foto atas : Pertempuran Wonokromo 29 Oktober 1945
Dikutip dari "Menjadi TNI", buku biografi Himawan Soetanto yang
tengah disusun oleh penulis.
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan
@rocketmail. br> Cepat sebelum diambil orang lain!
Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.