Ada yang bisa bercerita berapa lama Bung Karno tinggal di rumah tersebut ? Menurut Giebels, Soekarno lahir di Surabaya dari Ayah bernama Soekemi Sosrodihardjo dan ibu bernama Nyoman Rai. Dia lahir tepatnya di Jalan Pasar Besar (sekarang Jalan Pahlawan) pada tanggal 6 Juni 1901. Tahun 1907 Soekarno ikut ayahnya tinggal di Mojokerto. Khabarnya sebelum itu Pak Soekemi pernah tinggal di Ploso dan Sidoarjo. Saat tinggal di Mojokerto pula Soekarno sering menginap di rumah kakeknya di Tulung Agung. Di Mojokerto keluarga Pak Soekemi pernah pindah rumah satu kali. Saya pernah bertemu seseorang kerebat Soekarno yang mengaku satu kelas sekolah dasar di Mojokerto. Jadi kemungkinan besar Soekarno sekolah dasar pribumi, baru sesudah itu pindah ke ELS (Eropeesche Lagere School) dengan tujuan bisa masuk HBS (Hogere Burger School). Dan memang pada bulai Mei 1916, Soekarno masuk HBS Surabaya. Soekemi sendiri mulai tanggal 5 Juli 1917 pindah ke Blitar karena diangkat menjadi guru pada sekolah guru pembantu untuk orang pribumi. Sejak di HBS Surabaya, Soekarno mondok di rumah HOS Tjokroaminoto, tepatnya di kampung Peneleh, jalan Peneleh VII no.29 dan 31. Disana Pak Tjokro tinggal bersama istri dan 4 orang anaknya. Anak tertua Utari, kemudian nanti jadi istri Soekarno yang pertama. Bukan mustahil ketika mondok, Soekarno sering pulang ke Blitar. Tapi Soekarno tidak pernah resmi tinggal di Blitar. Tahun 1921, setelah lulus HBS, Soekarno tinggal di Bandung karena diterima sebagai mahasiswa THS (Technische Hooge School). Di Bandung Soekarno mondok di rumah H.sanusi teman dari Pak Tjokro di jalan Kebon Jati Bandung. Seperti tertulis dalam sejarah, Soekarno lama tinggal di Bandung sebelum di penjara Di Sukamiskin tahun 1930 maupun nanti di buang ke Ende, Flores pada tahun 1933. Jadi kapankah Soekarno resmi tinggal di Blitar ?. Walahualam Bisawab.
--- Pada Sen, 20/10/08, AbSjam99 <[EMAIL PROTECTED]> menulis: Dari: AbSjam99 <[EMAIL PROTECTED]> Topik: [HISTORIA-INDONESIA] Jadikah Rumah Bung Karno di Blitar DIJUAL ? Kepada: [email protected] Tanggal: Senin, 20 Oktober, 2008, 5:25 AM APA KABARNYA YANg DI BLITAR INI YA....? Adakah info lebih lanjut...... . Salam Historia, ============ ========= ========= ===== Dulunya dari detik.com, dan milis tetangge.... 20/04/2008 12:32 WIB Akbar: Rumah Bung Karno Dijual Hilangkan Nilai Sejarah Melly Febrida - detikcom Jakarta - Rumah Bung Karno di Blitar sebaiknya dipelihara negara, jangan sampai jatuh ke tangan swasta. Sebab rumah tersebut mempunyai nilai sejarah. "Kalau dijual ke swasta artinya nilai sejarahnya menjadi hilang," kata politisi senior Partai Golkar Akbar Tandjung kepada detikcom melalui telepon Minggu (20/4/2008). Menurut Akbar, jika keluarga berniat menjual rumah tersebut, maka negara dapat mengubungi keluarga dan rumah itu dapat diberikan ke negara. "Dan rumah ini bisa dipelihara negara, seyogyanya pemerintah pusat. Keluarga bisa diberi pengganti yang setimpal tentunya," ujar Akbar yang sedang dalam perjalanan ke Purworejo untuk menghadiri haul Syekh Abdul Qadir Jailani. ( mly / djo ) Minggu, 20/04/2008 13:53 WIB Rumah Bung Karno Dijual Keluarga Keberatan Biaya Perawatan Ndalem Gebang Gendut Anto - DetikSurabaya Blitar - Ndalem Gebang di Kecamatan Kepanjen Kidul Kota Blitar tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Rumah yang pernah ditinggali Bung Karno ini akan dijual karena biaya perawatannya sangat besar. Sementara pemerintah sama sekali tak pernah membantunya. Saat detiksurabaya. com tiba, rumah di Jalan Sultan Agung No 59 ini suasananya senyap. Tidak ada warga atau wisatawan yang datang berkunjung di rumah bersejarah tinggi itu. Saat memasuki halaman rumah yang cukup luas, terlihat dua penjual mainan dan pedagang souvenir berjajar. Mereka menunggu pengunjung yang ingin melihat dari dekat rumah yang akan dijual Rp 50 miliar tersebut. Ndalem Gebang dijaga oleh Arum (26). Juru kunci yang masih muda ini tak lain anak menantu dari cucu Sukoyono. Sukoyono adalah anak pertama dari 4 bersaudara dari Sukarmini Wardoyo (kakak Bung Karno) yang menjadi ahli waris dari rumah keluarga Soekarno. Pada saat Bung Karno menjadi presiden dan meninggalkan kediamannya, rumah tersebut diberikan oleh kakak kandung Soekarno, Sukarmini Wardoyo. Kakak Soekarno yang memiliki 4 anak itu pun menjaga dan merawat rumah tersebut hingga sekarang. Hingga beberapa tahun kemudian, pengelolaan dan perawatan rumah ditanggung oleh keluarga besar Sukarmini. "Tanpa campur tangan pihak pemerintah," kata Arum kepada detiksurabaya. com, Minggu (20/4/2008). Karena besarnya biaya perawatan dan tanpa ada campur tangan dari pemerintah sepeserpun, kata Arum, mungkin akhirnya pihak keluarga memutuskan untuk menjual rumah yang hampir setiap bulan Juni ditempati untuk peringatan Haul Bung Karno ini. Meski tidak tahu pasti biaya perawatan rumah setiap bulannya itu, Arum mengaku untuk merawat dan menjaga rumah itu hanya melibatkan keluarga tanpa ada orang lain. "Bahkan keluarga tiap kali melakukan perawatan dan perbaikan, selalu ada urunan dari ahli waris yang merupakan anak Sukarmini Wardoyo," tegasnya. Arum mengakui jika rumah tersebut kondisinya banyak yang rapuh dan usang. Wajar bila keluarga Sukarmini Wardoyo hendak menjual rumah keluarga Bung Karno. "Karena butuh biaya besar untuk perawatannya, " kata Arum. (fat/gik) 20/04/2008 11:57 WIB Sejarawan: Pemerintah Harus Pertahankan Rumah Bung Karno Melly Febrida - detikcom Jakarta - Rencana penjualan rumah keluarga Bung Karno di Blitar memprihatinkan. Pemerintah seharusnya mempertahankan keberadaan rumah tersebut dan menjadikannya sebagai museum atau cagar budaya. "Kemampuan keluarga itu terbatas. Mereka tidak bisa mengelola peninggalan Bung Karno sepenuhnya. Seyogyanya pemerintah setempat yang melestarikan karena itu bukan tanggung jawab keluarga sepenuhnya," kata pengamat sejarah Asvi Warman Adam kepada detikcom, Minggu (20/4/2008). Asvi menjelaskan, dengan dipertahankannya peninggalan sejarah ini, masyarakat bisa melihat perjuangan proklamator sejak lahir hingga dewasa. "Seyogyanya pemerintah yang membeli atau menjadikannya cagar budaya milik pemda dengan mengganti kepada keluarga. Atau lebih baik dijadikan museum dibanding mal," imbuh dia. Namun saat ini, menurut Asvi, perhatian pemerintah tersita dengan persoalan ekonomi atau janji-janji pemilu yang belum terwujud. Apalagi hal-hal yang berbau sejarah terkesan tidak menarik. "Sejarah dalam pengajaran saja cenderung membosangkan. Itu yang mendorong akhirnya tidak kepedulian, apakah itu pemerintah pusat atau daerah," ujar dia. Selain itu yang tidak kalah penting, lanjut Asvi, dorongan komersial yang sangat kuat mengabaikan nilai sejarah. "Mengingat keuntungan yang diperoleh bisa merobohkan bangunan sejarah," kata dia. Menurut Asvi, masalah peninggalan sejarah ini bisa juga ditangani pemerintah daerah setempat sebagai bentuk perhatian terhadap sejarah. "Saya prihatin karena rumah Bung Karno tetap bangunan sejarah. Menurut saya, jika pemerintah pusat tidak melakukan, seyogyanya pemerintah daerah," pungkas dia. ( mly / djo ) Minggu, 20/04/2008 11:50 WIB Rumah Bung Karno Dijual Walikota Blitar: Belum Ada Kesepakatan Ahli Waris Budi Sugiharto - DetikSurabaya Surabaya - Pemerintah Kota Blitar mengaku mengetahui rencana penjualan rumah Bung Karno di Jalan Sultan Agung yang nilainya Rp 50 miliar itu sejak satu tahun lalu. Walikota Blitar, Jarot Syaiful Hidayat mengakui bahwa sudah lama dirinya menerima surat pemberitahuan tentang penjualan rumah bersejarah itu dari salah satu ahli warisnya. "Saya tahu perkembangannya dari internet. Tetapi setelah saya konfirmasi ke keluarga yang lain ternyata belum ada keputusan bersama untuk menjualnya," terang walikota saat dihubungi detiksurabaya. com, Minggu (20/4/2008). Walikota yang diberangkatkan PDIP ini sebenarnya tak merasa terkejut dengan kabar penjualan rumah tempat kelahiran presiden pertama tersebut. Sebab, kata dia, sudah lama dirinya mendapat surat dari ahli warisnya. "Saya lupa, surat itu ditandatangani dokter siapa dan satu lagi Ibu Retno Triani atau siapa gitu. Tapi sudah saya cek lagi ke yang lain. Karena ahli warisnya kan banyak, ternyata belum ada kesepakatan, " terang walikota. Seperti diberitakan, Retno Triani, cucu dari Soekarmini yang juga kakak Soekarno mengungkap keinginan menjual rumah di mana sang putra fajar itu tumbuh besar. Bisik-bisik harga yang ditawarkan cukup fantastis, Rp 50 miliar. (gik/gik) 20/04/2008 06:55 WIB Dijual, Rumah Keluarga Bung Karno di Blitar Muhammad Nur Hayid - detikcom Jakarta - Kabar datang dari Blitar, Jawa Timur. Rumah tempat proklamator RI lahir dan dibesarkan, Soekarno akan dijual. Padahal sejumlah nilai sejarah ada di tempat ini. "Rumah ini akan dijual, karena rumah ini sudah menjadi haknya ahli waris, kakak kandung Bung Karno, soekarmini," kata cucu Soekamirni, Retno Triani kepada detikcom, di Blitar, Sabtu (19/4/2008). Rumah yang terletak di Jalan Sultan Agung 56, Blitar ini pun tampak seperti museum sederhana. Terdapat peninggalan Soekarno seperti foto-foto Soekarno dan istri-istrinya, alat kesenian, keris, dan beberapa benda lainnya. "Ini tidak ada sangkut pautnya dengan keturunan Bung Karno. Karena Bung Karno dulu sudah mengikhlaskan dan sudah menyerahkan tanah yang di Blitar ini pada kakaknya," jelas Retno. Rumah dan tanah seluas 14 ribu meter persegi itu pun tampak asri dengan pohon kelapa di belakang rumah. Sebelumnya, Retno mengaku 10 ahli waris Soekarmini telah menawarkan rumah ini kepada pemerintah. "Karena mengandung unsur sejarah, kami menawarkan dulu pada pemerintah. Namun sayangnya sampai saat ini belum ada respons," lanjut Retno. Hal serupa pun pernah ditawarkan kepada Megawati Soekarnoputri. "Kami juga sudah menawarkan, tapi tidak ada respons," tandasnya. ( ndr ) 20/04/2008 07:09 WIB For Sale Rumah Keluarga Bung Karno Rp 50 M Muhammad Nur Hayid - detikcom Rumah Bung Karno (foto: M Nurhayid/detikcom) Blitar - Pewaris rumah keluarga Bung Karno di Blitar hendak menjual rumah di mana sang putra fajar itu lahir dan tumbuh besar. Bisik-bisik harga yang ditawarkan cukup fantastis, Rp 50 miliar. "Itu nanti saja mas, yang pasti namanya jual beli kan ya bisa ditawar," kata Retno Triani, cucu dari Soekarmini yang juga kakak Soekarno, kepada detikcom di Blitar, Sabtu (19/4/2008). Pembeli pun sudah ada berani yang menawar. "Sudah ada yang menawar dari swasta, tapi kami ingin agar pemerintah yang membeli agar dapat dilestarikan. Karena kalau dibiarkan seperti sekarang, tidak akan terawat seperti yang mas lihat sendiri," jelas Retno. Rumah seluas 14 ribu meter persegi ini memang strategis. Terdiri dari bangunan utama dan 6 rumah lainnya di sampingnya. Rumah ini terletak di Jalan Sultan Agung 56, Blitar. Hingga para ahli waris yang berjumlah 10 orang pun khawatir nantinya akan dijadikan pusat perbelanjaan. "Intinya kami tidak ingin setelah dijual nanti dibangun mal (pusat perbelanjaan) atau lainnya. Kami ingin tetap dijadikan sebagai tempat bersejarah," ujarnya. Sedikit bercerita, Retno menuturkan bahwa Bung Karno kecil dulu juga pernah tinggal dirumah ini sebelum sekolah di Surabaya. Demikian pula ibunda Bung Karno, sampai akhir hayatnya. "Yang pasti bagaimana tempat bersejarah ini tetap dapat terjaga," tutup Retno. ( ndr ) 20/04/2008 08:32 WIB Agung: Jangan Sampai Rumah Keluarga Bung Karno Jadi Mal Muhammad Nur Hayid - detikcom Rumah Bung Karno (foto: M Nurhayid/detikcom) Jakarta - Rumah keluarga Bung Karno di Blitar akan dijual. Sejumlah pihak swasta sudah mengajukan penawaran. Ketua DPR Agung Laksono pun meminta agar pemerintah bertindak cepat menyelamatkan peninggalan bersejarah. "Jangan sampai jatuh ke tangan seseorang yang tidak tahu riwayat, lalu dijadikan mal," kata Ketua DPR Agung Laksono saat berkunjung ke makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, kepada detikcom, Sabtu (19/4/2008). Agung menambahkan keluarga sudah menyampaikan hal ini kepada pemerintah, namun memang belum ada respons. Dia pun mendengar bila harga yang ditawarkan mencapi Rp 50 miliar. "Pemerintah bisa negosiasi soal harganya. Kalau bisa rumah ini dipertahankan jangan sampai jatuh ke tangan swasta," tandas Agung. Dia mengaku saat berkunjung ke Eropa, banyak di antara negara-negara tersebut yang melestarikan peninggalan rumah bekas tokoh-tokoh pimpinan di sana. "Dan dijaga keasliannya, " tandas Agung. ( ndr ) Minggu, 20/04/2008 12:32 WIB Rumah Bung Karno Dijual Rumah Bung Karno di Blitar Adalah Situs Sejarah Budi Sugiharto - DetikSurabaya Blitar - Penjualan rumah Bung Karno di Blitar Jawa Timur dikhawatirkan bisa melenyapkan situs sejarah, apalagi jika jatuh ke tangan swasta. Kekhawatiran itu diungkap Walikota Blitar, Jarot Syaiful Hidayat kepada detiksurabaya. com, Minggu (20/4/2008). "Menurut pribadi saya, rumah itu sebagai situs sejarah. Yang mendapat kesempatan pertama membeli jika memang ada kesempatan dijual adalah pemerintah. Bukan swasta!" tegas walikota yang diberangkatkan dari PDIP ini. Sebab, kata Jarot, apabila rumah yang sudah menjadi bagian penting bangsa Indonesia ini jatuh ke tangan swasta maka sangat tidak mungkin akan beralih fungsi. "Keinginan saya supaya keberadaan rumah itu tetap menjadi sejarah. Hanya saja memang belum ada kesepahaman soal itu (pemerintah yang mengambil alih)," kata Jarot. Jarot masih berharap agar keluarga besar Bung Karno tidak gegabah melepas rumah yang berdiri di Jalan Sultan Agung itu ke tangan swasta. "Kalau dibeli swasta kan bisa mungkin jadi pabrik kecap, kan celaka," kelakar walikota. (gik/gik) Minggu, 20/04/2008 13:11 WIB Rumah Bung Karno Lebih Sering Disebut Ndalem Gebang Budi Sugiharto - DetikSurabaya Surabaya - Rumah orangtua Bung Karno di Jalan Sultan Agung Kota Blitar biasa disebut Ndalem atau Istana Gebang. Rumah ini letaknya tidak jauh dari Makam Bung Karno kira-kira 2 km ke arah selatan, tepatnya di Jalan Sultan Agung Kota Blitar. Seperti dilansir website resmi pemkot Blitar, rumah ini sebenarnya milik Poegoeh Wardoyo suami dari Sukarmini, kakak kandung Bung Karno. Selain ditempati oleh kedua orang tua Bung Karno, ditempat ini pula Sang Proklamator pernah tinggal ketika masa-masa remaja. Ndalem Gebang, setiap tahun diadakan acara Haul Bung Karno yang menyedot ribuan bahkan jutaan orang. Misalnya, puncak keramaian pengunjung terjadi pada bulan Juni 1998. Saat itu, haul Bung Karno ini dijadikan ajang dukungan kepada Megawati Sukarnoputri yang saat itu disimbolkan sebagai pemimpin wong cilik. "Saya setiap Juni pasti ke Ndalem Gebang. Sebab biasanya selalu ada acara untuk mengenang Bung Karno," terang Agus (45), warga Kediri yang ditemui di Makam Bung Karno di Bendo Gerit Blitar, Minggu (20/4/2008). Agus adalah satu dari jutaan pecinta Bung Karno dengan ajaran Marhainnya. Dia khawatir jika Ndalem Gebang dijual, maka nilai-nilai sejarah milik Bung Karno akan hilang pula. "Jangan dijual lah. Bagaimana pun pemerintah harus mempertahankan saksi sejarah penting. Bagaimanapun caranya tetap menjadi milik bangsa ini," pintanya. Makam Bung Karno Sementara makam Bung Karno terletak di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sanan Wetan Kota Blitar. Makam Bung Karno, didampingi pada kiri kanan oleh Makam Ayahanda R. Soekeni Sosrodihardjo dan Makam Ibunda Ida Aju Njoman Rai. Di dalam komplek, terdapat cungkup Makam Bung Karno berbentuk bangunan Joglo yang disebut Astono Mulyo. Di makam Bung Karno itu pula, Pemkot Blitar telah membangun perpustakaan bertaraf Internasional ini terletak di sebelah selatannya, tepatnya di Jalan Kalasan No 1 Blitar. Perpustakaan Proklamator ini dikelola oleh Perpustakaan Nasional RI melalui UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno (PPBK) di Kota Blitar. Di samping bangunan perpustakaan yang menjadi pusat studi ini, PPBK ini diisi dengan 2 karya seni, berupa Patung Bung Karno yang terletak di tengah gedung A lantai 1, serta dinding relief berisi perjalanan hidup Bung Karno yang membentang di pinggir kolam dari arah perpustakaan ke arah makam. Relief itu bercerita tentang Bung Karno di masa muda, di masa perjuangan, serta di masa tuanya. ___________________________________________________________________________ Dapatkan nama yang Anda sukai! Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com. http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
