Untuk berdemokrasi, sebenarnya sudah siap......
Perhatikan kebiasaan bermusyawarah di desa, di keluarga, atau di banyak tempat 
kerja lain....
Kegiatan Pemilu, pilkada juga sudah diakrabi..... tetapi bagaimana para pihak 
menyikapi HASIL PEMILU/PILKADA itu tergantung pada masing masing daerah dengan 
tingkat kehidupan, budayanya, taraf dan pola berfikir nya yang masih 
berbeda......

Secara gradual, Insya Allah   ...permasalahan sportivitas semua pihak 
menghadapi/menyikapi Pemilu/Pilkada pun akan tumbuh baik juga...terutama karena 
tertular oleh sportivitas yang tumbuh positif di beberapa daerah yang lancar 
dan mulus saja cara pelaksanaan Pemilu/Pilkada-nya....

Dan untuk hal yang satu ini saya bangga menjadi warga kota Bogor...yang dalam 
setiap Pemilu/Pilkadanya bisa melaksanakannya dengan cara yang tertib, jembar 
manah, lugas, rasionalitas tinggi berdasarkan wawasan pikir yang luas.... 

Salut dan selamat untuk warga kota Bogor....(termasuk semua partisan golongan 
politiknya)

Salam,


  ----- Original Message ----- 
  From: Abu Qosim 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Monday, October 27, 2008 6:42 AM
  Subject: [kota-bogor] Rindu ketenangan


  Kadang cara2 rezim Suharto bekerja ada baiknya. Misal eksekusi para pembunuh 
besar itu kalau jaman Suharto pasti sudah beres nggak pakai ramai2. Dulupun 
Kartosuwiryo yang sangat dihormati di Jawa Barat nggak ada kabarnya tau2 sudah 
dieksekusi, entah di mana, dikubur di mana pun orang nggak tahu.
  Sekarang Pemerintah dan pers terlalu banyak omong, takutnya terhukum yang 
telah membunuh ratusan orang dan melukai ribuan lainnya lama2 jadi pahlawan. 
Cara2 eksekusi atas mereka saja terlalu banyak dibahas, bagaimana cara yang 
tidak menyakitkan. Padahal mereka telah menyakiti ribuan orang.

  Jaman Suharto yang namanya isu "Sara" sangat dijaga. Nggak ada tuh petantang 
petenteng di pengadilan. Nggak ada orang ngomong seenaknya menghasut umat. 
Nggak ada konflik antar pendukung kepala daerah yang tak ada hentinya, yang 
membuat sebal melihatnya. Apa benar kita memang belum siap berdemokrasi?

  [Non-text portions of this message have been removed]



   

Kirim email ke