Betul sekali kang Kumincir kalau menurut buku sejarah yang saya baca juga begitu, sangat berbeda dengan pendapat pak Kartono Mohamad.
Sekalian saya ingin menanggapi asal-usul nama Glodok dan Sangiang. Untuk wilayah dengan nama Glodok, dari pengucapan, rasa-rasanya sangat subjektif dan terlalu jauh perubahannya kalau kata glodok dianggap berasal dari kata grojok (basa Jaawa?). Menurut saya Glodok berasal dari kata golodog yang dalam bahasa Jakarta artinya penjara. Hal ini logis karena di sekitar Glodok ada penjara buatan Belanda. Sedangkan kata golodog dalam bahasa Sunda mempunyai arti batang kayu yang ditidurkan sebagai anak tangga menuju pintu. Hal ini juga logis mengingat lokasi glodok yang merupakan pintu masuk Jakarta dari laut / utara. Untuk daerah dengan nama Sangiang, saya meragukan kalau daerah Sangiang di Jatinegara berasal dari nama salah seorang saudara pangeran Purbaya (anak sultan Ageng Tirtayasa) yang beragama Islam. Kata Sangiang sendiri berbau agama Sunda wiwitan jadi agak meragukan kalau Sultan Ageng Tirtayasa yang muslim memberikan nama Sangiang kepada putranya. Berdasarkan dokumen perjanjian Sunda – Portugis tahun 1522 dan laporan J de Baros dalam bukunya Da Asia, bisa disimpulkan bahwa nama daerah Sangiang di Jatinegara ini merupakan nama kerajaan kecil bawahan kerajaan Sunda dengan rajanya pada tahun 1500-an adalah Surawisesa (anak Sri Baduga Maharaja / Siliwangi) yang diutus oleh Sri Baduga menemui bangsa Portugis di Malaka. Orang Portugis memanggil beliau sebagai King Samiao (dibaca Sangiang). Untuk sementara, sekian dulu dari saya. Salam, Aschev Schuraschev ________________________________ From: Kumincir Wikidisastra <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, October 27, 2008 4:53:27 PM Subject: Re: [HISTORIA-INDONESIA] Asal usul nama daerah di Jakarta Iya, Kang Asep... Kalo nggak salah, untuk nama2 Kampung Bali, Kampung Makassar, dsb, munculnya pada jaman sudah diduduki Belanda. Untuk Ragunan, lebih tepatnya Wiraguna. Kalo Wiroguno kan mestinya jadi Rogunon... :P Terus tentang Glodok dari bunyi air 'grojok', sepertinya kok jauh... Dalam bahasa Sunda ada Golodog, yg sepertinya menjadi asal ini nama: Golodog --> Glodog --> Glodok. Perubahan G jadi K di belakang sering ditemukan pada kata2 Sunda yg dieja oleh orang non-Sunda, terutama Jawa. Sebagai contoh, ayah saya yg Jawa tetap kesulitan menyebut endoG (telur), yg terucap tetap endoK. Kemudian Ciledug --> Cileduk. Atau, sebagaimana ramai disebut di jaman mudik lebaran kemarin, NagreG --> NagreK. Siapa yg salah nih? Wartawan? 2008/10/27 Aschev Schuraschev > > Yth. bapak Kartono Mohamad, memang benar bahwa sultan agung pernah menyerang > Batavia menggunakan bantuan dari beberapa bangsa. Namun pernyataan bapak > bahwa sang sultan menggunakan bangsa-bangsa Ambon, Bugis dan Makasar, saya > belum pernah membacanya dari buku sejarah. Yang saya tahu sultan untuk > menaklukkan Madura saja susahnya setengah mati, menaklukan Banten saja tidak > mampu, apalagi untuk menaklukan bangsa Ambon, Bugis dan Makasar (yang ada di > pulau yang sangat jauh dari Mataram) serta menggunakan bangsa-bangsa tersebut > untuk menyerang Batavia. Untuk itu, saya mohon referensi atas pernyataan > bapak. > ____________ _________ _________ __ > From: Kartono Mohamad > Konon dulu ketika Sultan Agung menegpung Batavia dengan menggunakan pasukan > dari berbagai suku, mereka mendirikan base-camp di berbagai tempat. Adipati > Wiroguno sebagai Panglima Perang bermarkas di tempat yang sekarang bernama > Ragunan (Wirogunan). Lainnya meninggalkan nama Kampung Ambon, Kampung Bugis, > kampung Bali, kampung Makassar, dan sebagainya sesuai dengan asa pasukan > tersebut. > KM > -------Original Message----- -- > > From: Letha > A. Glodok > Asalnya dari kata grojok yang merupakan sebutan dari bunyi air yang jatuh > dari pancuran air. Di tempat itu dahulu kala ada semacam waduk penampungan > air kali ciliwung. Orang tionghoa dan keturunan tionghoa menyebut grojok > sebagai glodok karena orang tionghoa sulit mengucap kata grojok seperti > layaknya orang pribumi.
