*Jalan Braga Berganti Rupa

*Kamis, 30 Oktober 2008 | 10:50 WIB

Bragaweg, Jalan Braga, masuk dalam kawasan lama kota Bandung. Jalan
sepanjang sekitar 600 meter dengan lebar 7,5 meter itu kini sedang porak
poranda. Kendaraan mampet di ujung jalan masuk. Setengah jalan itu kini
sedang direvitalisasi dari jalan aspal menjadi jalan berbatu andesit.
Alhasil, kendaraan harus antre lewat di separuh jalan lainnya dan pada
akhirnya menghasilkan kemacetan yang mengular.

Sepotong jalan ini punya kisah bertumpuk, tapi yang pasti, jalan yang
disesaki bangunan ala Eropa itu sempat dikenal sebagai kawasan belanja
bergengsi. Sampai suatu saat tiba pada titik di mana kawasan ini kalah pamor
dengan hadirnya tempat belanja modern yang menjamur di kota Kembang. Pemkot
Bandung merevitalisasi Jalan Braga untuk menghidupkan kembali ikon Bandung
sebagai kawasan wisata. Kini, warga Bandung harap-harap cemas menanti
hasilnya.

Jalan Braga punya sejarah panjang dan tak bisa terlepas dari awal mula
terbentuknya kota Bandung dan pembangunan jalan Anyer-Panarukan. Jalan
Anyer-Panarukan sepanjang 1.000 km merupakan ambisi Gubernur Jenderal Herman
Willem Daendels yang berkuasa pada 1808-1811.

Ada beberapa versi tentang nama Braga. Dalam situs Paguyuban Pelestarian
Budaya Bandung (Bandung Society for Heritage Conservation), disebutkan, ada
kalangan yang menyebut nama Braga terkait dengan sebuah perkumpulan drama
Belanda yang berdiri pada tahun 1882, di mana salah satu penulis naskah
dramanya bernama Theotilo Braga. Sebagian menganalisis nama Braga berasal
dari nama dewa puisi dalam mitologi Jerman, Bragi.

Sastrawan Sunda berpendapat lain, Braga bisa berarti Baraga yaitu nama jalan
di tepi sungai. Pendapat ini disesuaikan dengan lokasi Braga yang terletak
di tepi Sungai Cikapundung.

*Ide baru*

Sebelum nama Braga dipakai hingga kini, nama jalan itu adalah Pedati. Nama
tersebut sesuai dengan peruntukan jalan yang memang untuk jalan pedati yang
mengangkut kopi dari gudang kopi (Koffie Pakhuis) yang kini menjadi gedung
Balai Kota, yang berada sekitar 1 km dari Jalan Raya Pos. Jalan setapak itu
dulu lebarnya 10 meter dengan kondisi becek jika hujan. Jalan itu jadi jalan
penghubung dari gudang kopi ke Jalan Raya Pos (kini Jalan Asia-Afrika).

Sejarah Jalan Braga menyebutkan, tahun 1870 menjadi tahun titik balik jalan
itu menjadi kawasan elit. Toko kelontong de Vries ikut menyumbang
perkembangan Jalan Pedati menjadi Jalan Braga yang beken sebagai kawasan
wisata elit.

Petani Priangan (Preanger Planters) yang rata-rata berduit selalu membeli
kebutuhan sehari-hari di toko itu. Maka ramailah daerah itu. Perlahan,
pembangunan hotel, restoran, dan bank pun terjadi. Meski demikian, tak ada
data pasti kapan nama Braga dipakai menggantikan Pedati. Di jalan itu
perlahan pedati pun ditinggalkan, berganti sepeda, sepeda bermotor hingga
kendaraan roda empat.

Pro-kontra kini terjadi di Bandung, terkait penggantian jalan aspal dengan
batu andesit. "Jalan Braga enggak punya sejarah berbatu andesit. Ini ide
baru dari Pemkot Bandung untuk menghidupkan Braga lagi sebagai kawasan
wisata. Segala protes sudah dilayangkan tapi, ya, proyek itu jalan terus.
Kita lihat saja nanti bagaimana," kata Harastoeti DH, Ketua Bandung Society
for Heritage Conservation kepada Warta Kota suatu kali. Ya, warga Bandung
sedang harap- harap cemas menanti Bragaweg versi baru.

Pradaningrum Mijarto
http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/30/10505384/Jalan.Braga.Berganti.Rupa
.
*
Salam Historia,
A R I

*

Kirim email ke