Terima kasih Bro Thoyib dan Bamstr,

Memang benar analisis anda tentang psikologi pengedara motor. Menurut saya
hal-hal seperti itu pun seringkali terbawa pada perilaku klub-klub motor dan
geng motor di jalanan umum. Saya bahkan melihat masih adanya arogansi
(mungkin akibat psikologi massa) pada beberapa/sebagian
anggota/aktifis/pengurus klub motor, yang selalu ingin diistimewakan dan
mendapat priviledge khusus di jalanan ketika konvoi/rolling/touring,
sehingga mengurangi dan bahkan mengganggu hak-hak pengguna jalan lainnya,
padahal itu adalah jalan umum, bukan jalan milik pribadi atau
nenek-moyangnya.

Koster, sebagai klub motor yang menurut saya lebih baik dibanding yang lain,
seharusnya juga bisa merubah citra buruk tentang klub motor tersebut, dan
mendidik para anggotanya, untuk lebih santun, rasional, berbudaya dan etis
serta beradab ketika menggunakan jalan umum, fasilitas publik. Sehingga
dapat menjadi teladan bagi yang lainnya. Semoga.

2008/10/22 <[EMAIL PROTECTED]>

>   
>
> *Memahami Psikologi Pengendara Motor*
>
> **
>
>
> Oleh Thobieb Al-Asyhar
> Dalam salah satu talk show di sebuah radio swasta tentang fenomena
> sepeda motor yang semakin semrawut, ada salah satu pendengarnya mengirim
> SMS yang berisi: bagi pengendara motor, disarankan agar membawa empat hal:
> (1) bawalah helm untuk melindungi kepala jika terjadi kecelakaan,
> (2) bawalah SIM dan STNK agar tidak ditilang,
> (3) bawalah jaket dan jas hujan untuk menghindari panas atau dingin, dan
> (4) bawalah ?otak? jangan sampai ketinggalan di rumah agar tidak celaka
> dan mencelakai.
> Isi SMS tersebut, ada satu hal yang cukup menarik, yaitu pesan nomor (4)
> tentang pentingnya pengendara motor membawa ?otaknya?. Maksud dari sang
> pengirim SMS tersebut adalah bahwa rata-rata pengendara motor,
> khususnya di Jakarta,
> lebih banyak tidak berhati-hati dari pada yang hati-hati, sehingga
> membahayakan orang lain dan dirinya sendiri. Tentu, SMS tersebut bukan
> hal yang mengejutkan buat kita. Karena pengendara motor di Jakarta
> seperti raja jalanan yang dianggap menggantikan predikat bus Metromini
> sebelumnya.
> Menurut pengendara mobil ketika diminta pendapatnya tentang pengendara
> motor, maka hampir dipastikan mereka berkomentar miring. Dalam beberapa
> kali
> kesempatan berbincang dengan sesama pengendara mobil, mereka rata-rata
> menjawab dengan penilaian yang bersifat simplistis bahwa pengendara
> motor itu dikatakan tidak berbudaya, tidak memiliki aturan, tidak
> memiliki pearasaan, ingin menang sendiri, dan seterusnya. Intinya, bagi
> pengendara mobil, mayoritas pengendara motor itu minta ?dipahami? oleh
> pengendara mobil.
> Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa pengendara motor itu rata-rata
> memiliki karakter yang sama ketika di jalan raya? Bahkan yang sebelumnya
> menggunakan berkarakter lembut, namun begitu menjadi pengendara motor
> aktif karakternya menjadi lebih agresif, galak, bahkan cepat marah,
> meskipun tidak berlaku bagi semua kasus. Jawaban dari peratanyaan
> tersebut adalah karena faktor psikologis yang mempengaruhi mentalnya.
> Penulis sendiri juga pernah menjadi pengendara motor selama kurang lebih
> 1 tahun setiap hari, dari rumah ke kantor dengan jarak tempuh 1 jam 15
> menit. Menurut pengamatan penulis, secara psikologis, pengendara motor
> itu menginginkan agar lebih didahulukan daripada mobil. Perasaan merasa
> benar pengendara motor itu selalu ada, khususnya ketika berhadapan
> dengan mobil. Rata-rata, dalam alam pikiran
> pengendara motor itu menganggap pengendara mobil itu lebih kaya, enak
> di dalam ada AC dan sebagainya, sehingga mereka harus mengalah dengan
> motor.
> Menurut Sarlito Wirawan dalam bukunnya Psikologi Prasangka orang Indonesia
> (2007), bahwa prasangka yang dibangun secara terus menurus dapat
> menimbulkan jalan pintas (heuristic) yang efeknya dapat memicu
> kasus-kasus sosial, seperti memuncaknya emosi yang tidak terkendali.
> Bagi sebagian pengendara motor memiliki prasangka terhadap ?lawannya?
> (mobil pribadi, bus, truk dll) yang menyebabkan pada sikap jalan pintas
> yaitu kesimpulan langsung yang tidak didasarkan pada pemikiran atau
> analisa yang mendalam. Pengendara motor berprasangka bahwa pengendara
> mobil itu enak, dingin karena ada AC, secara ekonomi cenderung lebih
> kaya dan mobil memiliki bodi yang lebih besar sehingga pantas untuk
> mengalah. Demikian juga bagi pengendara mobil berprasangka bahwa semua
> pengendara motor itu tidak tertib dan ingin menang sendiri, sehingga
> mereka tidak perlu harus dituruti kehendaknya. Akibat dari itu semua,
> maka terjadilah banyak kecelakaan, dan percekcokan antar mereka.
> Muncul pertanyaan, ada berapa persen pengendara motor yang baik? Jika
> dikalkulasi secara kasar, mungkin pengendara motor yang taat dibawah
> 10%. Maksudnya, pengendara yang baik adalah pengendara yang taat
> terhadap lalu lintas dan memiliki sopan santun dalam berkendara. Sopan
> santun berkendara itu meliputi menghormati pengguna jalan raya lain,
> tidak merasa menang sendiri, bersikap legowo terhadap kondisi dan tidak
> cepat emosi. Sedangkan selebihnya, sekitar 90% pengendara motor itu
> tidak taat rambu lalu lintas seperti menerjang lampu merah, mengendarai
> seenaknya seperti naik
> trotoar, main potong jalan meskipun sempit, lebih cepat emosi jika
> jalannya terganggu (meski posisi salah) dan merasa ingin menang
> sendiri. Akibat dari itu semua, kecelakaan di jalan raya tidak dapat
> dihindari hingga mencapai 70% yang diduga melibatkan motor.
> Ada sebuah cerita yang membuat bulu kuduk kita merinding. Cerita ini dari
> abang taksi yang kebetulan penulis mintai tanggapan tentang fenomena
> motor yang semrawut. Menurutnya, dia pernah dihina, diejek, dan
> dibentak oleh seorang pengendara motor di perempatan lampu merah.
> Intinya motor minta jalan, sementara posisi mepet sekali, sehingga
> abang taksi terpaksa tidak menggubris permintaannya. Karena taksi
> dianggap tidak memberi jalan, maka sang pengendara motor mencaci maki
> sambil menggedor-gedor body mobil taksi. Sebenarnya, si abang taksi
> sangat jengkel dan ingin melawan, tetapi karena kondisi tidak
> memungkinkan, maka dia lebih memilih menyimpan kejengkelan itu. Namun
> begitu lampu merah menyala hijau, si abang taksi menyimpan demdam
> dengan mengejar pengendara motor yang dinilai berlebihan. Sesampainya
> di jalan yang sepi dan dirasakan aman, si abang taksi kemudian
> menabrakkan mobilnya ke pengendara motor hingga si pengendara motor
> tersungkur
> Oleh karena itu, pesan SMS di atas menjadi sangat relevan agar pengendara
> motor lebih hati-hati, gunakanlah akal, pikiran, perasaan dan hati agar
> perjalanan aman dan tidak terjadi kecelakaan, baik diri sendiri maupun
> berakibat pada orang lain. Tentu ini juga berlaku bagi pengendara mobil
> untuk tidak mudah berprasangka dengan tetap menghargai pengendara
> motor. Karena motor itu sangat ringkih, menabrak jatuh, ditabrak jatuh,
> menyenggol jatuh, disenggol jatuh, bahkan mengerem agak mendadak
> sekalipun juga bisa jatuh. Sehingga terdapat kesimpulan simplistis
> bahwa mengendari motor itu seperti menyerahkan lebih dari 50% nyawanya
> kepada jalan raya
> __________________________________________________
>  
>

Kirim email ke