----- Original Message ----- From: X-SEMPAKA To: X-SEMPAKA Sent: Monday, December 29, 2008 6:13 AM Subject: NEWS: Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1430 Hijriyah
28/12/2008 19:09
Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1430 Hijriyah
Tahun Baru Islam 1 Muharram 1430 Hijriyah kali ini diapit dua hari besar
internasional, yakni Hari Natal 2008 dan Tahun Baru
2009 Masehi. Tentu saja ini merupakan fenomena alam yang lumrah, mengingat
perhitungan tarikh Hijriyah dengan tarikh Masehi,
memiliki selisih sebelas hari setiap tahunnya. Ini lantaran masing-masing
tarikh, menggunakan patokan yang berbeda. Tahun Masehi
dihitung berdasarkan peredaran matahari (solar system) sedangkan tahun Hijriyah
diukur bedasarkan peredaran bulan (lunar system).
Peredaran matahari dan bulan yang tidak berbarengan, menyebabkan jumlah
hari dalam tahun Masehi dan Hijriyah, memiliki
perbedaan. Tahun Masehi berjumlah 365 hari, tahun Hijriyah 354 hari. Itu pula
sebabnya, pada kurun-kurun tertentu, tahun baru
Hijriyah akan berdekatan dengan tahun baru Masehi. Bahkan pada tahun 2008 yang
akan segera kita lewati ini, kita mengalami dua kali
tahun baru Hijriyah. Sebelumnya tanggal 10 Januari lalu, dan kini 29 Desember.
Sekali lagi, ini adalah fenomena alam yang lumrah. Tetapi di balik
fenomena alam yang lazim ini, kita bisa menyibak hikmah.
Diapitnya Tahun Baru Hijriyah, oleh Hari Natal dan Tahun Baru Masehi, semakin
mengingatkan kita bahwa kehidupan di atas semesta,
tidak bisa dilepaskan dari kemajemukan alias keberagaman. Seperti majemuknya
unsur-unsur alam yang kita tempati ini. Ada matahari,
bulan, bintang, awan, angin, hujan, laut, daratan, pepohonan, rerumputan, hewan
dan manusia, yang masing-masing memiliki ciri khas
berbeda. Namun kerjasama atau kebersamaan semua unsur alam ini, akan membuat
alam ciptaan Tuhan berada dalam keseimbangan alias
harmoni. Jika satu saja unsur alam tersebut berjalan sendiri dan tidak mau
berbagi, maka semesta ini akan dilanda disharmoni.
Celakanya, manusialah yang terkadang tidak mau berbagi dengan sesama
manusia lainnya. Seakan lupa bahwa manusia itu terdiri
atas berbagai ragam, baik secara fisik maupun pikiran. Secara fisik, muncul
rasisme. Dari segi pikiran, muncul orang-orang yang
menganggap pendapat dan keyakinannyalah yang paling benar. Pendapat dan
keyakinan yang berbeda dianggap sesat dan perlu diberantas.
Fenomena seperti ini sangat menggejala di tahun 1429 Hijriyah yang sudah kita
lewatkan atau tahun 2008 Masehi yang akan segera kita
tinggalkan.
Padahal, jika kita simak kembali perjalanan Hijrah Rasulullah Muhammad
SAW, yang menjadi "titimangsa" diletakkannya
penghitungan tarikh Hijriyah oleh Khalifah Umar ibnu Khattab, kita bisa
menemukan banyak sekali keteladanan Rasulullah dalam
menghargai dan menghormati keberagaman. Di Madinah, tempat Sang Nabi dan para
pengikutnya berhijrah, Nabi mengakui keberadaan semua
unsur masyarakat yang telah lama hidup di kota yang sebelumnya bernama Yastrib
itu. Ada kelompok suku Aus dan Khajraj. Ada kaum
Yahudi. Ada umat Nasrani. Belum lagi para pendatang dari Makkah yang disebut
Muhajirin (orang-orang yang berhijrah) dan penduduk
asli yang masuk Islam atau kaum Anshar (para penolong orang-orang yang
berhijrah).
Kesemua unsur masyarakat Madinah tersebut, memperoleh hak yang sama. Nabi
memerintahkan agar semua kelompok saling menghargai
dan menghormati asal-usul serta keyakinan masing-masing. Ada salah satu
peristiwa, yang mungkin bisa dijadikan contoh bagaimana
Rasulullah sangat menghormati kemajemukan itu. Pada suatu hari lewatlah
serombongan pengantar jenazah di hadapan beliau, yang ketika
itu tengah duduk berbincang dengan beberapa sahabatnya. Jenazah dan para
pengantarnya itu adalah orang-orang Yahudi. Seketika Sang
Nabi berdiri dengan takzim, menghormati jenazah yang lewat.
"Mengapa Anda melakukan itu Ya Rasul. Bukankah itu jenazah orang Yahudi?
Haruskah Anda menghormatinya?" tanya salah seorang
sahabat. "Dia adalah manusia juga, seperti kita, yang berpulang ke Rahmatullah.
Kita pun akan kembali padaNya," ujar Rasulullah.
Serempak para sahabat itu pun berdiri, mengikuti Sang Nabi, menghormati jenazah
orang Yahudi.
Pun, jangan lupa. Sebelum berhijrah ke Madinah, para pengikut Rasulullah
pernah pula berhijrah dalam dua gelombang ke sebuah
negeri bernama Abessinia (Ethiopia). Penguasa negeri itu, Kaisar Najasyi
(Negus) adalah seorang penganut Kristen. Begitu pula
sebagian besar rakyatnya. Orang-orang Muslim yang berhijrah ke Abessinia
mendapat perlindungan keamanan dari Sang Kaisar, sehingga
terbebas dari orang-orang Quraisy yang berniat membunuh mereka.
Rasulullah sangat berterima kasih kepada Sang Kaisar, yang telah
memberikan tempat terhormat dan melindungi para penganut
ajaran Islam. Sehingga bertahun-tahun setelah peristiwa tersebut, ketika Nabi
Muhammad SAW mendengar kabar duka bahwa Kaisar Negus
telah mangkat, beliau menangis. Lalu mendo'akan arwah Sang Kaisar, agar
diterima di sisiNya.
Tarikh Hijriyah, kini telah mencapai bilangan 1430 tahun. Ini berarti
sudah hampir 15 abad, secara turun temurun, umat Islam
di seluruh dunia memperingati peristiwa Hijrah Rasulullah. Peristiwa yang
mengandung banyak hikmah, terutama yang berhubungan dengan
interaksi antar-manusia (hablumminannas). Dan, tahun ini, secara kebetulan
tanggal 1 Muharram 1430 Hijriyah, berada sangat
berdekatan dengan Hari Natal dan Tahun Baru 2009 Masehi. Tidakkah ini
mengingatkan kita akan kemajemukan kita yang merupakan fitrah
atau sunnatullah? Tidakkah kita ingat akan keteladanan Rasululah dalam
menghargai keberagaman dan perbedaan? Bahkan Sang Kekasih
Allah itu selalu menganggap perbedaan sebagai hikmah.
Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1430 Hijriyah. Mari kita berhijrah
meninggalkan ketertutupan (eksklusivisme) menuju keterbukaan
(inklusivisme). Meninggalkan kesempitan pikiran menuju keluasan pandangan.
Sehingga kita pun tidak selalu merasa diri paling benar,
karena kebenaran ada di mana-mana.
Billy Soemawisastra
Kepala Pendidikan dan Pelatihan Liputan 6 SCTV
sumber: http://www.liputan6.com/news/
<<081228caprod.jpg>>
