Ada apa dibalik jebolnya tanggul situ gintung?
Check this out!
FYI

----- Original Message -----
Subject: [Lingk] Bencana Situ Gintung: Banten Siap Digugat
Date: Tue, 31 Mar 2009 0:45:02
From: Erwin Usman <[email protected]>
To:  <[email protected]>, <[email protected]>, 
<[email protected]>, <[email protected]>, 
<[email protected]>, <[email protected]>, 
<[email protected]>, <[email protected]>, 
<[email protected]>, <[email protected]>,Milist SHI 
<[email protected]>,Milist FSI 
<[email protected]>, <[email protected]>, 
<[email protected]>

            http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/03/31/ 03425560/ 
banten.siap. digugat 

Banten Siap Digugat 
Selasa, 31 Maret 2009 | 03:42 WIB 

JAKARTA, KOMPAS- Pemerintah Provinsi Banten siap menerima gugatan 
masyarakat korban Situ Gintung. "Kalau memang mereka mau melakukan 
gugatan, ya kami siap saja. Namun, kami lihat dulu, masalah apa yang mau 
digugat," kata Wakil Gubernur Banten M Masduki, Senin (30/3). 

Masduki memimpin rapat koordinasi bersama Penjabat Wali Kota Tangerang 
Selatan M Shaleh dan sejumlah pejabat terkait di kantor sementara Wali 
Kota di kantor Kecamatan Pamulang. 

Masduki menjelaskan, selama ini pengelolaan dan perawatan Situ Gintung 
dilakukan oleh Balai Besar Ciliwung-Cisadane yang berada di bawah 
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum. Semua 
anggaran perbaikan dan rehabilitasi Situ Gintung dikucurkan oleh 
pemerintah pusat. 

Dalam kasus jebolnya tanggul Situ Gintung, Wahana Lingkungan Hidup 
indonesia (Walhi) akan menggugat pemerintah pusat dan daerah yang 
dianggap lalai terkait peristiwa ini. Pemerintah selama ini diyakini tak 
bertanggung jawab dalam merawat dan mengelola sumber daya air. 

Oleh karena itu, tragedi Situ Gintung bukanlah murni jenis bencana alam 
yang di luar kemampuan manusia untuk mengendalikannya. "Jebolnya tanggul 
itu tidak mungkin tiba-tiba terjadi begitu saja, tetapi pasti diawali 
dengan tanda-tanda. Warga setempat sudah memperingatkan hal itu. Nah, 
kenapa selama ini situ tidak dirawat dan dikontrol? Lalu mengapa kawasan 
yang lebih rendah dari situ yang seharusnya kawasan sabuk hijau 
diizinkan menjadi permukiman?" kata Direktur Eksekutif Nasional Walhi 
Berry Nahdian Forqan. 

Saderih (55), Ketua RW 11 Kampung Gunung, Cirendeu, mengatakan, sejak 10 
tahun terakhir Situ Gintung memang tak terawat dan sudah menunjukkan 
tanda-tanda kerusakan. Sementara satu dari dua pintu air tak berfungsi 
sama sekali. 

"Satu pintu air yang lainnya juga tidak berfungsi maksimal, bisa 
dibilang rusak. Sementara retak-retak di tanggul sudah muncul sejak 
lama. Warga saya sudah banyak yang protes, tetapi entah kenapa pemda 
belum juga merespons," kata Saderih. 

Berry mengatakan, Walhi kini tengah mengkaji rencana gugatan tersebut, 
baik secara perdata maupun pidana. Berry mengatakan, berdasarkan 
Undang-Undang Penanggulangan Bencana Nomor 24 Tahun 2007 Pasal 5, 
pemerintah dan pemerintah daerah menjadi penanggung jawab dalam 
penyelenggaraan penanggulangan bencana. 

"Yang dimaksud dengan penanggulangan bencana adalah termasuk upaya 
preventif, tanggap darurat, dan penanganan pascabencana, " kata Berry. 

Sementara itu, Direktur Amrta Institute for Water Literacy Nila 
Ardhianie mengatakan, pemerintah selama ini sangat kurang peduli, bahkan 
cenderung mengabaikan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. 

*Berkaca dari Bahorok* 

Berry juga mengingatkan tragedi banjir bandang yang menimpa kawasan 
Sungai Bahorok di Langkat, Sumatera Utara, yang menelan 167 korban jiwa. 
Ketika itu para penggiat lingkungan seperti Walhi meyakini, banjir 
terjadi karena adanya kerusakan lingkungan di hulu Sungai Bahorok serta 
akibat dari perambahan hutan di Taman Nasional Gunung Leuser dan Kawasan 
Ekosistem Leuser. Namun, gugatan Walhi ketika itu ditolak pengadilan. 

Berry mengatakan, selain menyiapkan gugatan, yang menjadi prioritas 
utama saat ini adalah memastikan pemerintah menangani masalah 
pascabencana secara optimal. Berkaca dari peristiwa bencana Bahorok, 
para korban justru terkatung-katung selama bertahun-tahun. Akibatnya, 
korban kembali menempati kawasan daerah aliran sungai tanpa terkendali 
demi mencari lahan pekerjaan. Kawasan itu pun dibuka kembali menjadi 
kawasan wisata tanpa manajemen bencana yang memadai. 

*Membantah* 

Sementara itu, M Shaleh yang ditanya terpisah mengatakan, pihaknya masih 
meneliti apakah pusat wisata di Situ Gintung memiliki perizinan atau 
tidak. "Namun, yang pasti, tidak ada pungutan yang masuk kas 
pemerintah," kata Shaleh. 

Shaleh membantah kabar yang menyebutkan warga pernah melaporkan retaknya 
tanggul Situ Gintung kepada aparat pemerintah. "Saya sudah cek ke 
Pemprov Banten dan Pemkab Tangerang, belum ada laporan soal Situ 
Gintung. Kabar yang beredar itu seolah-olah menyalahkan pemerintah telah 
lalai. Kalau saya ditanya wartawan, siapa yang salah dalam peristiwa 
itu, saya jawab tidak ada yang salah," ungkapnya. 

Menurut Shaleh, petugas Direktorat Jenderal Sumber Daya Air tahun lalu 
sudah mengecek pintu tanggul masih dalam kondisi baik sehingga pintu 
tanggul tidak diperbaiki. 

"Kamis malam, hujan deras turun, menyebabkan volume air di Situ Gintung 
penuh dan over-topping. Tanggul situ tak kuat menahan air sehingga 
tanggul jebol selebar 5 meter," ujarnya. 

Masduki menegaskan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari 
tempat untuk para pengungsi korban Situ Gintung. "Pemerintah akan 
membahas rencana membangun rumah sederhana di lokasi yang sama atau 
lokasi berbeda, atau membangun rusunawa," katanya. 

Namun, Shaleh menambahkan, pemerintah lebih dahulu akan meneliti status 
tanah. "Kami akan meminta bantuan Badan Pertanahan Nasional meneliti 
status tanah. Kalau tanah negara, sudah pasti tidak boleh dibangun 
kembali," ujarnya. (KSP/SF) 

-- 
Erwin Usman 
Head of Regional Empowering Department 
National Executive WALHI/Friends of the Earth Indonesia 
Jl. Tegalparang Utara No.14 Jakarta Selatan 12790 
Telp: +6221-7941672; 79193363   Fax: +6221-7941673 
Mobile: +62 815 8036003 
Email: erwin.usman@ walhi.or. id 
 blokpolitikhijau@ gmail.com  
YM: erwin_usman 
Website: www.walhi.or. id 

[Non-text portions of this message have been removed] 

     




      

Kirim email ke