--- Pada Kam, 2/4/09, Husein Kurniawan <[email protected]> menulis:


Dari: Husein Kurniawan <[email protected]>
Topik: Fwd: 7 Law of Happiness










Alam melimpah dengan kebajikan yang bisa diteladani. Inilah semesta
hikmah yang bisa ditimba dari dongeng tentang kodok yang tak pernah
puas diri.

Ada seekor kodok di pinggir kolam yang sunyi. Kodok itu, dengan
suasana hati senantiasa kacau, menunggu serangga terbang di atasnya.
Setiap kali ada lalat, ia segera mencaploknya.

Kalau sudah kenyang kodok itu ngorek (berbunyi), ?Rek, kek-kek, rek
kek-kek?. Namun, sering kali ia tidak menangkap apa-apa. Maka
bersungut-sungut ia dan beginilah gerutunya, ?Ko-ak, ko-ak?. Anak-anak
desa mendengar gerutu kodok. Mereka tidak tahu kalau kodok itu lapar.
Kata mereka, ?Dengarlah, si kodok minta hujan?.

Suatu pagi, kodok tampak gundah-gulana. Hanya lalat-lalat kecil yang
sempat dicaploknya. Sambil menggerutu, ko-ak-ko-ak, ia mengeluh dalam
hati, betapa malang nasibku. Sering aku pergi tidur dengan perut kosong.

Kodok rupanya iri dengan ikan-ikan emas yang hidup bersamanya di
kolam. Batinnya, sepanjang hari ikan-ikan itu hanya bermain-main saja,
berenang ke sana kemari, tak pernah bekerja. Toh mereka selalu
mendapat makan. Setiap pagi anak-anak datang melemparkan nasi ke kolam
dan dengan lahap ikan-ikan itu menyantapnya.

Tiba-tiba si kodok mendengar langkah manusia. Ia bersembunyi di balik
daun sambil mengintip anak yang biasanya datang memberi makan ikan. Ia
datang bersama seorang lelaki yang membawa jaring. Segera lelaki itu
melemparkan nasi ke kolam. Datanglah ikan-ikan emas berebut makanan.
Ikan terjaring dalam jumlah besar. Ikan besar dimasukkan ke dalam
keranjang. Yang kecil kembali dilepaskan ke kolam. Katanya, tunggulah
sampai ikan-ikan ini besar nanti. Ia bilang lagi, kali ini cukup. Mari
kita masak ikan-ikan ini dengan bumbu asam manis perasan limau
(orange) di dapur Haji Mangoes. Hari ini Pak Haji kedatangan tamu
istimewa. Bagi tamunya, mesti ada ikan bakar, nasi mengepulkan asap,
dan sambal mentah di meja hidangan.

Si kodok menyaksikan apa yang terjadi. Pula mendengar semua yang
dikatakan kedua manusia itu. Kodok menjadi ketakutan, tetapi ia tidak
menyesali diri dan nasibnya lagi. Katanya, ?Betapa saya bahagia bahwa
saya seekor kodok?.

Susah memaafkan

Tamsil kodok yang tak pernah puas diri sangat cocok buat mengapresiasi
buku Arvan Pradiansyah, The 7 Laws of Happiness. Motivator, penulis
buku laris Life is Beautiful ini, memaparkan tujuh rahasia kebahagiaan
otentik: sabar (patience), syukur (gratefulness), bersahaja
(simplicity), kasih (love), memberi (giving), memaafkan (forgiving),
dan pasrah (surrender). Tiga rahasia pertama bersifat menerima
berkaitan dengan kecerdasan personal. Tiga rahasia kedua bersifat
melepaskan ego berurusan dengan kecerdasan sosial. Satu rahasia
terakhir bersemayam di jantung kecerdasan spiritual.

Manusia cenderung kemrungsung, tergopoh, dan ruwet hingga susah
berdamai dengan diri sendiri karena terperangkap perasaan iri. Iri
hati adalah perasaan impoten yang membikin lumpuh usaha manusia untuk
meraih kebahagiaan otentik. Soalnya, segala sesuatu entah berupa
jabatan, kekuasaan, uang, mobil, rumah, dan tanah itu milik orang
lain. Manusia diamuk dengki karena penyesalan berlarut, gagal memiliki
obyek yang diinginkannya.

Manusia sulit mengasihi, memberi, dan memaafkan hingga susah berdamai
dengan sesama karena terjebak budaya bertahan hidup. Kesibukan
sehari-hari menjerumuskan manusia pada nitty-grity (tetek bengek)
penguras energi, patuh pada sistem yang membelenggu, mengelola
birokrasi yang tidak waras, dan menjalankan kepatuhan keras. Kerja
menjadi lubang hitam raksasa yang menyedot habis energi dan kesehatan.
Mereka sampai rela membayar kesuksesan dengan tukak lambung akut,
perkawinan kandas, dan pola hidup sinting. Bahkan, para dokter
sengsara di tempat kerja. Mereka menghabiskan seluruh hari buat
mengobati orang-orang yang sengsara akibat pekerjaan. Kegilaan
egosentris inilah yang oleh William James, Bapak Psikologi Modern,
disebut sebagai kelembekan moral demi kesuksesan banal.

Saat bahagia kita kurang berfokus pada diri sendiri, lebih menyukai
orang lain, dan ingin berbagi nasib baik kepada siapa pun. Sebaliknya,
ketika sedih, kita kurang memercayai orang lain, suka menyendiri, dan
secara defensif berfokus terhadap kebutuhan-kebutuhan sendiri. Bahagia
itu cermin pribadi yang terbuka (extrovertion). Murung itu gambaran
orang yang cenderung menarik diri dari pergaulan (introvert).

Kebahagiaan, menurut Arvan Pradiansyah, akan terwujud dengan
sendirinya bila orang gemar memberi. Memberi berarti melepaskan yang
kita miliki. Kita takut memberi karena memberi membuat kita
kehilangan. Memberi kesempatan mobil yang hendak mendahului sulit saja
kita lakukan. Kita acap bersikap kompetitif untuk hal-hal sepele ini.
Kita enggan didahului mobil lain karena kita menikmati kemenangan
remeh seperti itu.

Garuklah punggung kaum altruis maka darah kemunafikan bakal mengucur
deras. Apa pun yang dilakukan orang, selama masih mengandung standar
ganda, bukan dilandasi kasih sejati. Kita intens mendengarkan
pembicaraan orang penting tapi memotong pembicaraan kaum rendahan.
Kita begitu ramah kepada wartawan, tetapi dengan ketus menghardik
wiraniaga yang hendak menawarkan produk. Kita melayani pelanggan
dengan segenap hati, tetapi memperlakukan supplier secara kasar.
Relasi menjadi tidak tulus karena bergelimang kepentingan. Sudah
menjadi pemandangan jamak di pusat-pusat perbelanjaan, para majikan
bergegar-gegaran penuh derai tawa seraya menikmati hidangan lezat,
para pembantu sibuk melayani majikan tanpa mendapatkan air segelas
pun. Dus, kalau hendak melihat apakah seseorang memiliki kasih sejati,
perhatikanlah bagaimana saat berinteraksi dengan orang-orang yang
tidak penting.

Resep cespleng yang dikampanyekan Arvan Pradiansyah adalah menjadi
pemaaf. Memaafkan melepaskan sakit hati dan keinginan membalas
kejahatan. Permaafan melepaskan kita dari belenggu kesalahan masa lalu
dan akan membuat kita kembali kuat. Maafkanlah diri sendiri! Agar
perasaan malu dan penyangkalan diri tidak terlalu berat untuk dipikul.
Maafkanlah juga orang lain atas peran mereka dalam kekecewaan dan
kesedihan kita. Tujuan hidup manusia bukanlah untuk memikul segala
keluhan sesal melainkan untuk terus berkembang dan tumbuh. Memaafkan
berarti membebaskan seorang tawanan dan menyadari bahwa tawanan itu
adalah diri Anda sendiri.

Menyaring pikiran

Berbeda dengan memilih tindakan sebagai inti The 7 Habits Steven R
Covey. The 7 Laws lebih menukik ke relung jiwa terdalam dengan memilih
pikiran. The 7 Habits for Highly Effecttive People kitab perihal
efektivitas dalam memilih tindakan. The 7 Laws of Happiness merupakan
buku mengenai kebahagiaan dengan cara menyaring pikiran. Memilih
tindakan menghasilkan kesuksesan. Menyaring pikiran menghasilkan
kebahagiaan. Saat mendapat musibah, misalnya, renungkan hikmah apa
yang bisa saya timba dari kemalangan ini? Bukan menyiksa pikiran
dengan menyalahkan diri sendiri dan orang lain. Tuhan memberi rahmat
berupa persoalan rumit agar kita mampu mengendalikan diri sendiri.
Proses penemuan solusi inilah yang akan membuat kita tumbuh secara
spiritual.

Manusia punya kecenderungan tidak sabar dan tidak tahan menderita.
Manusia senantiasa mengejar kenikmatan. Kecenderungan para artis yang
gemar kawin-cerai merupakan kasus ekstrem manusia yang sangat dahaga
kebahagiaan. Bagai menenggak air laut, dahaga tak pernah bisa
dipuaskan. Mereka hanya mendapat kesenangan dan kenikmatan yang
menyamar sebagai kebahagiaan. Kesenangan dan kebaikan merupakan dua
jalan berseberangan arah. Kesenangan kendati tampak indah, menarik,
menggairahkan, mudah, dan menjanjikan menjauhkan manusia dari
kebahagiaan. Jalan kebaikan memang terjal, berkelok, mendaki,
berbahaya, dan penuh tantangan. Kebaikan adalah jalan menuju
kebahagiaan. Kesenangan selalu berujung kesengsaraan.

Saripati buku The & Laws of Happiness amat sederhana. Segala yang
dikerjakan manusia mesti berawal dari kesabaran dan berakhir pada
sikap pasrah. Hidup pada dasarnya a struggle to surrender?pergulatan
spiritual menggapai kepasrahan. Rumus kepasrahan adalah Do the best
and let God do the rest (Berusahalah sebaik mungkin maka Tuhan akan
menyempurnakannya)?.

Kisah-kisah bagaimana Arvan Pradiansyah, sebagai motivator,
mengamalkan apa yang dia anjurkan (practice what him preach) dengan
menerapkan tujuh rahasia hidup bahagia dalam tindakan keseharian
(living the 7 Laws) sungguh inspirasional. Buku yang ditulis dengan
gaya bertutur ikhlas mengalir ini sangat mencerahkan bagi masyarakat
Indonesia yang sedang kelimpungan didera zaman meleset akibat resesi
global.

J Sumardianta Guru Sosiologi SMA Kolese de Britto Yogyakarta, Penulis
Buku Simply Amazing: Inspirasi Menyentuh Bergelimang Makna




Lebih aman saat online. 
Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk 
Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!


      Selalu bersama teman-teman di Yahoo! Messenger. Tambahkan mereka dari 
email atau jaringan sosial Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/
--- Begin Message ---

--- End Message ---

Kirim email ke