Ternyata ada jawabanya bro..........



hmmm....jelas selebaran ini akan menimbulkan keresahan pada umat...
dan untuk itu,bukan hanya sekedar mengingatkan tapi mengajak 
juga...apabila kita punya niat baik maka tempuhlah dengan jalan yang ahm 
san (baik) pula dengan beritiba' kepada Rosulullah saw...
berikut jawaban dari Dr. Yusuf Al-Qardhawi semoga bisa kita ambil 
ibrohnya,dan persatuan lebih di utamakan dari pada perpecahan.

Memang banyak orang yang  menanyakan  wasiat  tersebut.  Dan sebenarnya  
kemunculan surat wasiat ini bukan saja baru-baru ini, tetapi saya telah 
melihatnya sejak puluhan tahun  lalu. Surat   tersebut  dinisbatkan  
kepada  seorang  lelaki  yang terkenal  dengan  sebutan  Syekh  Ahmad,  
juru  kunci  makam Rasulullah saw.

Untuk  mengecek  kebenaran  berita  yang  disampaikan  dalam selebaran   
tersebut,   saya   pernah   menanyakan   kepada orang-orang  di Madinah 
dan di Hijaz. Saya mencari informasi mengenai  orang  yang  disebut  
Syekh  Ahmad   itu   beserta aktivitasnya.  Dari  informasi  yang 
didapat, ternyata tidak ada seorang pun di Madinah yang pernah melihat 
dan mendengar berita  mengenai  Syekh  Ahmad ini. Tetapi sayangnya, 
wasiat yang menyedihkan itu telah menyebar  di  negara-negara  umat 
Islam.

Wasiat  tersebut  dengan  segala  isinya  tidak ada arti dan nilainya 
sama sekali dalam pandangan agama.  Di  antara  isi wasiat  yang 
didasarkan pada impian Syekh Ahmad yang katanya bermimpi bertemu Nabi 
saw. itu ialah tentang telah  dekatnya hari kiamat.

Masalah  berita  kedekatan kiamat ini sebenarnya tidak perlu mengikuti 
impian Syekh Ahmad  atau  Syekh  Umar,  karena  Al Qur'an telah 
mengatakan dengan jelas:

"... boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat  waktunya." (Al Ahzab: 
63)

Begitu pula Nabi saw. telah bersabda:seperti ini. Beliau (mengatakan 
demikian) sambil memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari 
tengahnya." (Muttafaq 'alaih dari hadits Anas danSahl bin Sa'ad) 

Hal lain  dari  isi  wasiat  itu  ialah  bahwa  kaum  wanita sekarang  
sudah  banyak  yang  keluar rumah, dan banyak yang telah menyimpang 
dari  agama.  Masalah  ini  pun  sebenarnya tidak  perlu  mengambil 
sumber dari mimpi-mimpi, karena kita sudah mempunyai kitab Allah  dan  
sunnah  Rasul  yang  sudah memuaskan untuk dijadikan pedoman. Allah 
berfirman:

"... Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah 
Kucukupkan nikmat-Ku atas kamu, dan telah Kuridhai Islam menjadi 
agamamu ..." (Al Maa'idah: 3)

Orang  yang  beranggapan  bahwa   Din   Islam   yang   telah 
disempurnakan  Allah  ini  masih  memerlukan keterangan yang diwasiatkan 
oleh orang yang tidak dikenal itu,  berarti  dia meragukan  
kesempurnaan  dan  kelengkapan Dinul Islam. Islam telah sempurna dan 
telah lengkap,  tidak  memerlukan  wasiat apa pun.

Isi   wasiat   tersebut   justru   merupakan  indikasi  yang 
memperlihatkan kebohongan  dan  kepalsuan  wasiat  tersebut. Sebab,  
pewasiat  telah  mengancam  dan menakut-nakuti orang yang tidak mau 
menyebarluaskannya  bahwa  ia  akan  mendapat musibah  dan kesusahan, 
anaknya akan mati, dan hartanya akan habis. Hal ini tidak pernah 
dikatakan oleh  seorang  manusia pun  (yang  normal  pikirannya),  
terhadap  kitab  Allah dan Sunnah  Rasul-Nya.  Tidak  ada  perintah  
bahwa  orang  yang membaca  Al  Qur'an  harus  menulisnya  setelah itu 
kemudian menyebarluaskannya kepada orang lain; dan jika  tidak,  akan 
terkena  musibah. Begitu pula tidak ada perintah bahwa orang yang   
membaca   Shahih   Bukhari   harus   menulisnya   dan menyebarluaskannya 
kepada khalayak ramai, sebab kalau tidak, akan tertimpa musibah.

Kalau Al Qur'an dan Sunnah Rasul  saja  tidak  begitu,  maka bagaimana   
dengan  wasiat  yang  penuh  khurafat  itu?  Ini merupakan sesuatu yang 
tidak mungkin  dibenarkan  oleh  akal orang muslim yang memahami Islam 
dengan baik dan benar.

Kemudian  dalam  wasiat tersebut dikatakan bahwa si Fulan di negeri ini  
dan  ini  karena  telah  menyebarluaskan  wasiat tersebut  ia mendapat 
rezeki sekian puluh ribu rupiah. Semua itu merupakan khurafat dan 
penyesatan  terhadap  umat  Islam dari  jalan  yang  benar  dan  dari  
mengikuti  Sunnah serta peraturan Allah terhadap alam semesta.

Untuk memperoleh rezeki, ada sebab-sebabnya, ada  jalan  dan aturannya.  
Adapun  bersandar  kepada  khayalan dan khurafat seperti  dalam  wasiat  
itu  adalah  merupakan  upaya  untuk menyesatkan dan meyelewengkan akal 
pikiran umat Islam. 

Kita  perlu  menjaga  dan mengawasi kaum muslimin agar tidak membenarkan 
dan percaya kepada khurafat seperti ini dan agar tidak  mempunyai  
anggapan  bahwa orang yang menyebarluaskan wasiat palsu tersebut akan 
mendapat syafaat dari  Nabi  saw. sebagaimana yang dikatakan oleh 
penulis selebaran yang batil itu.

Sesungguhnya  syafaat  Nabi  saw.  juga  diperuntukkan  bagi umatnya 
yang pernah melakukan dosa-dosa besar. Hal ini sudah disebutkan  dalam  
hadits-hadits  sahih  (dan  tidak   perlu bersumberkan   pada   wasiat   
lewat   mimpi;  penj.)  bahwa Rasulullah bersabda:

"Orang yang paling berbahagia akan memperoleh syafaatku pada hari kiamat 
ialah orang yang telah mengikrarkan laa ilaaha illallah dengan perasaan 
ikhlas dan lubuk hatinya." (HR Bukhari)

Kami mohon kepada Allah Azza wa  Jalla  semoga  Ia  berkenan menjadikan  
umat Islam mengerti tentang agama mereka. Semoga memberi petunjuk dan 
bimbingan kepada mereka ke  jalan  yang lurus,   serta  melindungi  
mereka  agar  tidak  mempercayai berbagai khurafat, khayalan, dan 
kebatilan.



KHURAFAT DAN BOLEH MENJATUHKAN MURTAD


Majlis Fatwa Kebangsaan 1978 mengesahkan surat ini ditulis oleh paderi-
paderi biara Blessings of St Antonio, Texas, USA pada tahun 1974/75 
untuk mengelirukan umat Islam. Penulis asal surat ini ialah mendiang 
Father Francis Jose de Villa, seorang paderi Katolik dari Argentina 
berketurunan Arab-Syria (bekas penganut Islam, nama asalnya Mohamed 
Elias Skanbeg). Dia pernah bertugas di Instituto Sacristo Convocione 
Reliogioso di Brindisi, Itali sebagai mubaligh Katolik antara tahun 1966-
1968di bawah Cardinal Agostino Casaroli. Father de Villa meninggal dunia 
pada tahun 1980 di Texas dalam usia 54 tahun.

Menurut Allahyarham Sayyed Mohamed Raisuddin Al-Hashimi Al-Quraisy, 
penjaga makam Rasulullah SAW di Madinah antara tahun 1967- hingga 1979, 
tidak ada penjaga makam bernama Sheik Ahmad antara tahun 1881 hingga 
1979. Penjaga makam di Madinah ialah:

Sayyed Turki Abu Mohamed Abdul Razaque Al-Hashimi Al-Quraisy (1881-
meninggal dunia 1932), 

anaknya Sayyed Hashim Abu Faisal Abdul Jalil Al-Hashimi Al-Quraisy (1932-
meninggal dunia 1934), 

adiknya Sayyed Abdul Karim Mutawwi Al-Hashimi Al-Quraisy (1934-bersara 
1966) dan 

anak saudaranya Sayyed Mohamed Raisuddin bin Mohamed bin Abdul Razaque 
Al- Hashimi Al-Quraisyi (1967-meninggal dunia 1979). 

Bekas menteri besar Perak Allahyarham Tan Sri Mohamed Ghazali Jawi 
bertaubat dan mengucap kalimah syahadat sekali lagi di hadapan Kadi 
Daerah Kinta pada tahun 1976 setelah beliau mengaku pernah menerima dan 
mengirim surat ini kepada dua puluh orang kawannya. Peristiwa ini 
berlaku tidak lama sebelum beliau meninggal dunia. Bekas Kadi Daerah 
Kinta meminta beliau mengucap semula kerana bimbang beliau telah gugur 
syahadah (murtad).

Allahyarham Datuk Shafawi Mufti Selangor mengisytiharkan bagi pihak 
Majlis Fatwa Kebangsaan bahawa barang siapa dengan sengaja menyebarkan 
risalah ini adalah "melakukan syirik dan tidak mustahil jatuh murtad 
melainkan dia bertaubat dan menarik balik perbuatannya itu terhadap 
sesiapa yang telahpun dikirimkan risalah ini". (Surat Keputusan Majlis 
Fatwa Kebangsaan Malaysia Bil.7/78/I).

Keputusan ini diiktiraf oleh Majlis Raja-raja Melayu dalam mesyuaratnya 
di Pekan pada 16 Oktober 1978, dipengerusikan oleh Almarhum Sultan Idris 
Shah, Perak.

Menurut Majlis Fatwa Kebangsaan 1978, menyebar surat ini "termasuk dalam 
menyekutukan Allah S.W.T. dengan syirik yang amat besar (shirk-i-kubra) 
serta mempermainkan Rasulullah S.A.W. serta menyebar dengan niat tidak 
baik kekeliruan dan muslihat di kalangan umat Islam.". Lagipun,"surat 
ini menggambarkan pembohongan yang amat besar terhadap junjungan besar 
Nabi Muhammad S.A.W. serta ajaran baginda kerana menggambarkan SHEIK 
AHMAD sebagai perawi hadith sesudah kewafatan baginda".

Allahyarham Datuk Sheik-ul-Islam Mufti Kedah dalam Risalat Al-Aman 
1983/Bil 8, surat ini "paling kurang menimbulkan syirik kecil dan murtad 
secara tidak sengaja terkeluar dari Islam, serta syirik yang besar jika 
sengaja maka taubatnya tidak sah melainkan dibuat dengan sesungguhnya. 
Adapun jika seseorang itu menyalin surat ini kepada umat Islam lain, 
jatuhlah hukum ke atasnya mentablighkan perkara syirik dan khurafat. 
Sesungguhnya ulamak sependapat perbuatan itu sungguh besar syiriknya dan 
boleh mengakibatkan murtad walaupun tanpa sadar si-pengirim."

KUMPULAN BUKU
Fatwa-fatwa Kontemporer
- Dr. Yusuf Al-Qardhawi -

Gema Insani Press
Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740 Telp. (021) 7984391-7984392-
7988593 Fax. (021) 7984388 ISBN 979-561-276-X






      Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! Yahoo! 
memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba! 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke