---------- Forwarded message ---------- From: musni umar <[email protected]> Date: 2009/6/3 Subject: [SuaraHati] Ramalan Pujangga Satrio Piningit dan Pilpres 2009 To: [email protected]
Rekan-rekan yang terbahagia di bawah ini saya sajikan tulisan saya: *Satrio Piningit dalam Pilpres 2009* Oleh Musni Umar, PhD *Sosiolog* Siapapun yang ingin menjadi Presiden RI, mau tidak mau harus memahami sosiologis masyarakat Jawa yang cukup unik. Ini penting karena Presiden RI dipilih langsung oleh seluruh rakyat Indonesia yang mayoritas adalah orang Jawa. Mereka bermukim tidak saja di pulau Jawa, tetapi di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Melalui program transmigrasi, orang Jawa berpindah keluar Jawa dan sekarang berada dimana-mana. Masyarakat Jawa ini, walaupun berada di negeri orang, tetapi bahasa ibu, tradisi dan adat-istiadat serta kepercayaan mistik warisan nenek moyang mereka tetap dilestarikan. Salah satunya ialah kepercayaan adanya “*satrio piningit*” (ratu adil). Mereka memercayai akan datang seorang pemimpin yang akan memerintah dan memimpin wilayah “bekas” kerajaan Majapahit yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tujuh Satrio Piningit Ronggo Warsito (1802-1873) mengemukakan dan meramalkan akan adanya tujuh *satrio piningit* yang akan tampil memimpin negeri ini. Orang Jawa memercayai kebenaran ramalan pujangga dan spiritualis Jawa itu. Dalam realitas memang telah terbukti, karena secara berturut-turut muncul pemimpin Indonesia seperti yang digambarkan dalam ramalan itu . Pertama, *Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro*. Tokoh ini * *akrab dengan penjara (Kinunjoro) karena keluar masuk penjara. Kelak akan membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu keterpenjaraan (Murwo Kuncoro) dan akan menjadi pemimpin yang sangat tersohor diseluruh jagad. Tokoh ini ditafsirkan sebagai. Presiden Soekarno, yang memimpin Indonesia dari 1945-1967. Kedua, *Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar*. Pemimpin ini berharta dunia (Mukti), dan berwibawa/ditakuti (Wibowo). Akan tetapi, akan mengalami suatu keadaan yang selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan - kesalahan (Kesandung Kesampar). Tokoh tersebut ditafsirkan sebagai .Presiden Soeharto, yang memimpin Indonesia dari 1967-1998), Ketiga, *Satrio Jinumput Sumela Atur*. Pemimpin ini dilantik/terpungut (Jinumput) untuk memimpin dalam masa jeda (transisi) sekedar menyelingi saja (Sumela Atur). Tokoh ini ditafsirkan sebagai Presiden BJ. Habibie yang memimpin Indonesia tahun 1998-1999. . Keempat, *Satrio Lelono Tapa Ngrame*. Tokoh ini suka mengembara/keliling dunia (Lelono). Dia juga seorang yang mempunyai tingkat kejiwaan religius yang cukup/rohaniawan (Tapa Ngrame). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden RI .keempat Berkuasa tahun 1999-2000. Kelima, *Satrio Piningit Hamong Tuwuh*. Pemimpin yang muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri, Presiden RI kelima. Berkuasa tahun 2000-2004. Keenam, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro. Pemimpin ini berpindah tempat (Boyong) dari Menteri menjadi Presiden, dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (Pambukaning Gapuro). Banyak pihak yang menyakini tafsir dari tokoh yang dimaksud ini adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampu mensinergikan dengan kekuatan *satria piningit* yang pernah memimpin negeri ini atau setidaknya dengan seorang spiritualis sejati yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercu suar dunia akan mulai terkuak. * ** *Ketujuh,* **Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu**. *Pemimpin yang akan muncul nanti amat religius. Digambarkan bagaikan seorang resi begawan (Pinandito), dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum/petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu). Dengan selalu bersandar hanya kepada Allah SWT, bangsa ini akan mencapai zaman keemasan yang sejati. *Capres** RI**. 2009* Menjelang pemilihan Presiden Juli 2009, bagi mereka yang memercayai ramalan Ronggo Warsito itu, akan memperhatikan dengan seksama apakah ada calon Presiden (Capres) yang bisa ditafsirkan sebagai *Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu* seperti dijelaskan di atas. Dari tiga Capres-Cawapres yang telah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai calon Presiden RI – calon Wakil Presiden RI, kita sudah mengetahui masing-masing calon yaitu Mega-Prabowo, SBY-Budiono dan JK-Wiranto, Ketiga calon tersebut siapakah yang paling mendekati dan masuk kategori yang dikemukakan Ronggo Warsito? Penilaiannya diserahkan sepenuhnya kepada publik siapa diantara ketiga pasang calon yang laing mendekati ramalan itu. Namanya ramalan bisa benar, dan bisa juga salah. Walaupun begitu, jika mendasarkan hasil pemilu legislatif 7 April 2009 yang dimenangkan Partai Demokrat (Partainya SBY). dengan peningkatan dukungan suara hampir 300 persen dari pemilu 2004, dapat ditafsirkan bahwa Presiden SBY masih diinginkan oleh sebagian rakyat Indonsia untuk menjadi *satrio piningit*untuk memimpin Indonesia periode 2009-2014. Akan tetapi, perolehan suara Partai Demokrat dalam pemilu legislatif yang hanya sekitar 21 juta suara, ditambah perolehan suara partai-partai menengah seperti PKS, PAN, PPP, PKB, serta partai-partai kecil yang semaunya berjumlah 23, jika dukungan semuanya solid, belum cukup untuk membawa kemenangan duet SBY-Budiono pada putaran pertama dalam Pilpres 2009 yang memerlukan dukungan sekitar 100 juta suara (56 persen). Oleh karena itu, JK-Wiranto, atau Mega-Prabowo masih berpeluang memenangkan Pilpres 2009, asalkan mampu melipat-gandakan dukungan suara yang diperoleh Partai Golkar dan Partai Hanura dalam pemilu legislatif 2009. Begitu juga, Mega-Prabowo tetap punya peluang untuk menang. Kemenangan sangat ditentukan oleh empat faktor yaitu, organisasi pemenangan Pilpres yang efektif, dana (uang) yang cukup, kerja keras serta izin Allah. Golongan yang kecil dengan organisasi pemenangan Pilpres yang terorganisir, didukung dana serta kerja keras, kemenangan acapkali diraih tanpa terduga. Allah menegaskan dalam al-Qur’an (S.2:249) “*kam min fiatin qaliilatin qalabat fiatan kathiiratan fiiznillah*” (Betapa sering terjadi, golongan yang kecil dengan izin Allah sering mengalahkan golongan yang besar). Maka, golongan yang besar, harus waspada, bersatu dan bekerja keras. *Wallahu a’lam bisshawab*. --- Pada *Sel, 2/6/09, Asad amiroel <[email protected]>* menulis: Dari: Asad amiroel <[email protected]> Topik: [SuaraHati] (unknown) Kepada: [email protected] Cc: "Abdul Hadi WM" <[email protected]>, [email protected] Tanggal: Selasa, 2 Juni, 2009, 8:59 AM Pancasila Sebuah Ideologi Rasional *Oleh: Amiroel* *Kekawatiran bahwa Pancasila telah diabaikan dan tidak lagi menjadi pembahasan serta diskusi publik mulai menyeruak. Paling tidak, begitulah menurut Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) RI Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, di mana banyak pejabat negara yang tidak lagi menempatkan Pancasila sebagai salah satu landasan dalam sebuah kebijakan. Kondisi ini sangat berbahaya kalau Pancasila tidak lagi menjadi perekat kebangsaan dan sebagai dasar negara yang kuat…. (Kedaulatan Rakyat, Minggu 31 Mei 2009).* Memang harus diakui kondisi saat ini teramat kontras jika dibandingkan dengan jaman Or-ba, ketika Pancasila tertanam sedemikian kuatnya di benak publik. Bahkan pada saat itu suara-suara berbeda yang ditengarai menyimpang dari Pancasila bisa dituding sebagai tidak Pancasilais sekaligus beresiko dituduh subversif. Namun mengkomparasikan pemahaman kita tentang Pancasila di era yang berbeda ini tidak lantas memberikan gambaran bahwa pada era Or-ba manusia Indonesia jauh lebih Pancasilais daripada era tahun 2000-an. * Malahan* patut disinyalir sejak kemerdekaan RI ––secara substantif–– bangsa Indonesia sebenarnya telah gagal untuk benar-benar sampai pada pemahaman utuh mengenai Pancasila (teori-praksis) sebagai sebuah ideologi. Memang benar, jika akhir-akhir ini Pancasila diabaikan. Namun pemahaman secara membabi-buta hingga sampai kepada sakralisasi, dogmatisme, penuh mitos dan pendewaan seperti jaman Or-ba, tetap saja menyesatkan bangsa ini hingga jatuh ke dalam kategori tidak Pancasilais pula. Kenapa bisa begitu?! Bangsa ini sejatinya belum pernah berhasil menjadi bangsa yang Pancasilais, selagi dalam perjalanan sejarah berbangsa dan bernegaranya tak pernah terbebas dari tarik-menarik antara dua kutub besar: Kalau tidak terlalu ke * kiri*, maka haluannya terlalu ke *kanan*. Ke kiri sampai hampir masuk ke jurang komunisme dan ke kanan hingga menjadi sangat kapitalis. Pancasila yang diabaikan membuat sistem yang dianut jauh dari Pancasila, sedangkan sakralisasi Pancasila yang berlebihan justru membuat Pancasila menjadi terlalu abstrak. Sementara dalam implementasinya sama-sama jauh dari nilai-nilai luhur Pancasila yang sesungguhnya. Kegagalan-kegagalan yang berulang ini membuat Pancasila tidak lebih sebagai jargon-jargon muluk dengan kesenjangan menganga terhadap realitas. Sebagai sebuah konsep, Pancasila menjadi terlalu sempurna namun tak pernah berhasil diimplementasikan ke wilayah kongkrit. Pancasila pernah menjadi sumber teror dan ketakutan yang bisa membuat orang dipenjara, di sisi lain (seperti saat ini) Pancasila justru disingkirkan jauh-jauh dan kita menjadi bangsa yang lebih kapitalis daripada bangsa-bangsa yang melahirkan kapitalisme! Tentu saja kegagalan ini selayaknya membuat kita berintrospeksi. Semuanya harus diletakkan pada porsinya. Pancasila bukanlah kumpulan nilai-nilai kosong, bukan pula kumpulan ayat-ayat penuh dogma. Harus ada pemahaman baru dengan semangat baru yang lebih masuk akal. Salah satu tawaran ide pendekatan baru terhadap Pancasila adalah: Memandang Pancasila dengan cara pandang rasional. Pada level rakyat, maka rakyat sejatinya terus-menerus dicerdaskan dan digiring untuk memahami Pancasila melalui pendekatan rasional ini. Sehingga perlu penjelasan memadai kepada mereka tentang sebuah logika berpikir: Bahwa Pancasila adalah sebuah sistem buatan bangsa ini untuk melindungi kepentingan mereka. Orang harus dibiasakan untuk memahami, bahwa *relasi* antara individu-masyarakat -bangsa terhadap ideologi Pancasila adalah sebuah * relasi* ‘kebutuhan’*.* Orang membutuhkan Pancasila karena membutuhkan sebuah sistem jitu yang bisa membebaskan mereka dari penindasan. Orang membutuhkan Pancasila karena ekonomi kerakyatan yang berlandaskan Pancasila akan mengentaskan mereka dari belenggu kemiskinan dengan konsep pemerataan yang berkeadilan. Orang membutuhkan Pancasila karena kebutuhan akan pentingnya sebuah ideologi moderat yang mampu mengayomi semua golongan, sehingga mempersatukan seluruh elemen bangsa ini menjadi persatuan satu bangsa yang kuat sekaligus berdaulat. Demikian seterusnya, yang pada pokoknya memberikan gambaran kongkrit bahwa Pancasila merupakan ideologi yang dibutuhkan oleh semua orang (Indonesia) sebagai hasil dari ciptaan bangsa sendiri untuk mengatur diri-sendiri pula. Maka selayaknya para pemikir menciptakan sistem-sistem yang mengatur perikehidupan berbangsa dan bernegara dengan mengacu pada nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila tersebut. Misalnya dari sudut politik, harus diciptakan sistem berdemokrasi yang kian matang, dst. Dalam bidang ekonomi perlu elaborasi lebih detail, termasuk ke wilayah praksis tentang pola ekonomi yang berazaskan Pancasila. Misalnya jika ekonomi kerakyatan dinilai sebagai manifestasi ekonomi Pancasila, maka para ekonom-teknokrat perlu merumuskan secara detail sistem ekonomi tersebut sampai ke tingkat implementasi yang riil. Sehingga kian bisa dibedakan mana ekonomi yang benar-benar Pancasilais dan mana yang murni neo-liberal atau minimal pseudo-Pancasilais. Pada akhirnya, Pancasila sebagai sebuah ideologi rasional bukanlah semata-mata menjadi objek filsafat yang idealistik. Tetapi lebih dari itu, dalam kacamata rasional maka Pancasila yang abstrak harus bertransformasi ke wilayah kongkrit. Alhasil Pancasila *an-sich* adalah *kongkrit.* Maka tak perlu lagi ada seorang pejabat negara yang merasa gusar saat dituduh sebagai seorang neo-liberal, sejauh dia bisa membuktikan dengan argumentasi logis-rasional sistem ekonomi yang dia anut apakah sesuai dengan amanah Pancasila atau tidak. Sebab jika sistem ekonomi yang berlaku ternyata hanyalah wujud implementasi tanpa reserve *structural adjustment *konsensus Washington semata, maka semua bantahan tadi menjadi gugur. Bagaimanapun juga, orang yang menggunakan rasio tidak mudah ditipu. ------------------------------ Berselancar lebih cepat. <http://us.lrd.yahoo.com/_ylc=X3oDMTFndmQxc2JlBHRtX2RtZWNoA1RleHQgTGluawR0bV9sbmsDVTExMDM0NjkEdG1fbmV0A1lhaG9vIQ--/SIG=11kadq57p/**http%3A//downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/> Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis)<http://us.lrd.yahoo.com/_ylc=X3oDMTFndmQxc2JlBHRtX2RtZWNoA1RleHQgTGluawR0bV9sbmsDVTExMDM0NjkEdG1fbmV0A1lhaG9vIQ--/SIG=11kadq57p/**http%3A//downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/>
