Sepertinya ini isu lama yang sudah saya gembar-gemborkan waktu saya SMU tahun 
1997, tapi faktanya emang generasi muda kita (indonesia) sepertinya lebih 
seneng dengan kapitalisme. Loh ??? Kok begitu ??? Faktanya:

Dalam pergaulan sebagian besar lebih senang berhura-hura, clubing, triping, 
dsb. So...akhirnya yang namanya pergaulan bebas tidak bisa dihindarkan, baik di 
kota besar, dan di pinggiran kota besar apalagi di pedesaan, ciuman, pelukan 
gandengan tangan, mojok di tempat gelap sudah bukan hal yg tabu lagi, mungkin 
bisa lebih parah.
Dari sisi orang tuapun karena faktor sayang dengan anak, akhirnya merekapun 
lupa, terlalu memanjakan dengan gemerlap harta/kapital, sehingga tanpa di 
sadari doktrin kapitalisme perlahan tertanam pada anak tersebut.
Di satu sisi, banyak pihak berkoar anti kapitalisme hanya sebatas karena ingin 
memperebutkan kepentingannya yang sedang di kejar. Namun tidak memberikan 
solusi yang terbaik dari kapitalisme itu sendiri. EKONOMI KERAKYATAN ??? rakyat 
yang mana ????? orang berkapital pun juga rakyat??? Rakyat kecil ??? semua 
orang mengaku rakyat kecil, oleh karena itu jika ada operasi pasar, semunya 
ngantri, bahkan yang mengantri itu lebih banyak yang ber kapital.
Pemerintah yang dahulu pun yang sering berkoar tentang marhaen (istilah yang 
sering digunakan Bapaknya jika berpidato) dan perlindungan UKM tapi gak pernah 
merealisasiakan tentang hal tersebut. Oh....iya saya lupa saat itu berhasil 
menciptakan harga beras (sembako) murah untuk rakyat, tapi.....dengan cara 
import beras dengan membebaskan bea masuk...... akhirnya petani padi menjerit.
Saya lupa ini kapan diresmikannya yaitu lembaga penjamin uang tabungan nasbah 
di bank, bahkan BI menjamin sebagian uang nasabah. Rakyat bergembira riya, dan 
akhirnya banyak yang menabung..... Rakyat bergembira ??? rakyat yang mana ??? 
Rakyat yang bisa menabung dan yang punya uang ??? 
Bingung saya....... uang nasabah dipake sama bank untuk kepentingan bank 
(Swasta). Lantas pada saat bank nya bangkrut, pemerintah menjamin dan 
menggantikan uang nasabah yang hilang karena banknya bangkrut. Lantas BI atau 
pemerintah itu menggantikannya pake uanga siapa ??? anggarannya dari mana ??? 
lagi-lagi uang rakyat secara keseluruhan. Andaikan uang sebesar itu tidak 
digunakan untuk menggantikan dana orang lain, kan bisa digunakan untuk 
kepentingan rakyat lainnya, seperti perbaikan fasilitas umum dsb.
Di satu sisi rakyat bergembira karena ada lembaga penjamin tabungan nasabah 
yang disuport oleh BI atau pemerintah, namun di sisi lain para UKM yang tidak 
bisa membayar cicilan hutang oleh pihak bank, tambak udangnya langsung di sita, 
aset usahanya langsung di sita. Lantas apakah itu ekonomi kerakyatan ??? Kenapa 
sewaktu dulu jadi presiden tidak dilaksanakan ??? Capeee dehhh....
Banyak elemen masyarakat dan mahasiswa mendemo pemerintah untuk tidak menerima 
hutang anti IMF dsb, tapi saya tidak pernah mendengar elemen masyarakat ataupun 
mahasiswa menuntut adanya audit di departemen keuangan ataupun instansi 
pemerintah yang menggunakan dana hutang. Ada kah ????? Nah... ini fakta bahwa 
pihak yang berkoar anti hutang dan IMF itu hanyalah emosi belaka yang digunakan 
pihak lain sebagai ujung tombak.
Para aktivis yang dahulu masih mahasiswa yang sering demo dan ditangkap polisi 
karena mendengungkan ekonomi kerakyatan, namun saat dia sukses dan menjadi 
anggota DPR, suaranya hilang.
Rakyat menangis di jawa timur sebab tidak ada satupun penyelesaian secara HUKUM 
terhadap Lapindo yang telah merusak sebagian wilayah NKRI. Ada apa ??? kenapa 
Lapindo sampai detik ini tidak pernah di tuntut atas kecerobohan eksplorasinya 
???? apakah Lapindo bebas hukum karena dekat dengan pejabat tinggi ??? lantas 
siapa yang dibela dan dikorbankan dalam kasus itu ???
Ada satu pertanyaan dalam batin saya terhadap salah satu pasangan calon 
presiden dan wapres, yang menggembar gemporkan sistem kerakyatan. Sistem 
kerakyatan yang bagaimana ? Sebab sistem sosialis komunis pun juga bisa 
dibilang kerakyatan, sistem ekonomi Pancasila juga kerakyatan. Mudah - mudahan 
sih sistem ekonomi Pancasila, tapi kok saya jarang mendengar tentang 
Pancasilanya yah .... 
Jadi hal ini adalah fakta, bahwasanya memang secara naruni mereka itu lebih 
senang dengan kapitalisme. 
 
Kalau kita sebagai generasi muda saat ini ingin bebas dari belenggu ini 
semuanya, mari kita kembali kepada UUD 1945 (Original) dan Pancasila.



Purwaning Baskoro
 


--- On Tue, 23/6/09, Ahmad Samantho <[email protected]> wrote:


 
















      

Kirim email ke