Rekan-rekan,
Salut untuk Firman dan Yuvan, juga teman-teman mahasiswa lainnya, yang di
usia muda memiliki inisiatif dan kesungguhan melakukan pengamatan atau studi
lapangan. Progress yang menggembirakan. Cukup banyak kalangan yang
meragukan kualitas dan wawasan mahasiswa saat ini, tetapi berita yang saya
terima dan cara Firman menyampaikan informasi (profesional) sudah cukup
membuat saya confidence untuk mengikis persepsi sebagian kalangan tersebut.
Di sisi lain cukup banyak pula kalangan, termasuk sebagian rekan-rekan
dosen, yang berpersepsi bahwa penelitian atau studi yang dilakukan mahasiswa
adalah "sekedar" latihan meneliti. Padahal fakta menunjukkan bahwa yang
adik-adik mahasiswa kerjakan ternyata memberikan kontribusi informasi yang
signifikan bagi terus berkembangnya khasanah pemahaman kita akan alam
lingkungan. Jadi, mereka melakukan suatu kegiatan yang benar-benar, bukan
sekadar latihan.
Pengalaman di BirdLife sendiri menunjukkan fakta tersebut. Sebagai contoh,
program kegiatan kami di Sumba, Flores, Sumbawa (NTT) dan Halmahera (Maluku
Utara) merupakan langkah tindak lanjut dari temuan-temuan penting yang
dihasilkan oleh kegiatan ekspedisi mahasiswa (Manchester Metropolitan Univ.
di Sumba, Cambrdige Univ. di Sumbawa dan Flores, dan Bristol Univ. di
Halmahera).
Menyikapi perkembangan yang menggembirakan ini, rasanya tidak berlebihan
bila nuansa feodalisme yang masih terkurung di dalam otak dan cara pemikiran
kita yang sudah beranjak tua (paling tidak diri saya pribadi) yang
beranggapan bahwa "yang tua itu yang lebih tahu" perlu segera dicairkan.
Ngaku aja deh, bahwa ada sepersekian ruang di memori dan emosi kita yang
agak-agak feodal begitu.
Bu Ani, tentunya akan sangat menarik bila bisa difasilitasi pertemuan
semiloka yang mengedepankan hasil-hasil pengkajian atau pengamatan
mahasiswa, berkaitan dengan burung dan habitatnya (boleh juga yang lain yang
berkaitan), sebagai media mahasiswa mengekspreskan pendapat dan meraih
eksistensinya, juga ajang saling-belajar antar-mahasiswa (student-to-student
extensions?) sekaligus ajang belajar kita semua, termasuk yang udah tua-tua.
Bentuknya bisa seperti LKTI, tetapi kemudian diekspose dengan mengundang
para praktisi lingkungan, aktivis LSM, dan birokrat. Ini kebalikan dari apa
yang saat ini umum dilakukan: mengundang orang dari luar dan mahasiswa jadi
pendengar. Jangan lupa didahului dengan prolog bahwa mereka-mereka para
mahasiswa itu pintar-pintar, tidak perlu digurui lagi, perlu dipandang
sebagai mitra sejajar, dan layak didengarkan.
Selain itu, perlu pula dipikirkan mekanisme dukungan, baik berbentuk bantuan
teknis (bila diperlukan) maupun membantu membuka akses ke badan dana, untuk
membangun iklim yang kondusif.
Daripada terus ngelantur, segitu dulu aja Bu Ani dan rekan-rekan. Mohon
tanggapannya.
Salam,
Odjat
-----Original Message-----
From: Konus <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 22 Mei 2000 9:57
Subject: [kukilo] Informasi Burung di Rancaekek, Bandung
Assalamu'alaikum.
Nama saya Firman Hadi, mahasiswa Biologi-Unpad. Saat ini
saya dan rekan , Yuvan Hadian, sedang melakukan penelitian
mengenai koloni berbiak kuntul kerbau (B. ibis) dan blekok
sawah (A. speciosa) di Rancaekek, Bandung, sebuah kawasan
pertanian dan industri di sebelah timur Bandung.
Di wilayah ini ada sebuah kampung, Rancasepat, dimana
kedua jenis burung itu dilindungi oleh masyarakat setempat.
Kedua jenis itu tinggal dan berbiak di rumpun bambu di halaman
rumah penduduk. Yang menarik, bila musim berbiak tiba dan
ada anak burung yang jatuh, penduduk memelihara anak burung
tersebut hingga dewasa. Bila sudah mampu terbang, mereka akan
melepas kembali burung tersebut. Dan bila ada orang luar yang
akan menembak burung itu, para penduduk akan dengan spontan
mengusirnya.
Catatan lain yang menarik adalah tentang beberapa jenis
burung air migran. Sejak Desember 1999 hingga saat ini,
kami menemukan tiga jenis burung air migran, yaitu
berkik (Gallinago sp.), trinil pantai (Tringa hypoleucos)
dan trinil (Tringa sp.). Jenis burung air lokal yang lain
adalah bambangan (Ixobrychus cinnamomeus), mandar
batu (Gallinula chloropus), tikusan merah (Porzana fusca)
dan belibis (Dendrocygna javanica).
Jenis burung lain yang saya pandang menarik adalah
keberadaan dua jenis burung raja udang, yaitu cekakak
Jawa (Halcyon cyanoventris) dan raja udang biru kecil
(Alcedo coerulescens) dan satu jenis burung endemik
Jawa, yaitu bondol oto-hitam (Lonchura ferruginosa).
Melalui milis ini, saya ingin meminta informasi dari
rekan pengamat burung lain tentang sebaran jenis-jenis
burung di atas, terutama mengenai raja udang biru kecil
dan bondol oto-hitam.
Terima kasih
Wassalam.
Firman Hadi.
---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Arsip ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]