Saya kira burung ini juga termasuk yang diperhatikan juga oleh beberapa
kawan2. Agak sulit memang, mengingat pemainnya juga para anggota organ
Pemerintah (?) yang bersenjata (tentara).
Sebenarnya untuk mengetahui hal tersebut, kita dapat melakukan secara
sederhana dengan memperhatikan rombongan tentara yang baru pulang dari
Maluku atau Papua. Biasanya dalam konvoi kendaraan mereka ada satu atau
beberapa kendaraan yang bak belakangnya ditutup terpal dan tidak ada
orangnya. Nahh ... di dalamnya pasti ada satwa dari daerah Maluku atau
Papua, termasuk Cendrawasih. Saya sendiri pernah menyaksikan hal tersebut.
Silakan mencoba mendatanya bagi kawan2 yang siap ketahuan dan digebuk pake
popor senapan. Itu pun kalau mujur, kalau tidak yaa berarti MATI ditembak.
Salam,
Hapsoro
----- Original Message -----
From: "Ujang Tamara" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, June 29, 2001 1:01 PM
Subject: [kukilo] Cerita : CENDRAWASIH - 1
> Pada akhir tahun 2000 saya ada mengunjungi beberapa kota di Papua.
> Dan saya sempat berkunjung kepedagang/pengumpul burung dan memang
> kondisi burung-2nya sangat menghawatirkan. Dan saya ada lihat
> beberapa Cendrawasih 2 ekor dalam kandang 1 meter.
>
> Apakah burung tidak ini tidak begitu diperhatikan dibandingkan Elang
> Jawa.
>
> UjangT
>
> Kompas, Selasa, 4 Juni 1996
> ------------------------------------------------------------------
> Cenderawasih di Irian Jaya Burung Surga Bernasib "Neraka"
> ADA dongeng rakyat Irian Jaya ... Suatu ketika, Logohu, seekor burung
> cenderawasih menggugat dewa. Dia iri melihat kecantikan burung lain.
> Logohu minta, agar dirinya dijadikan burung yang paling indah
> bulunya. Dewa pun terkejut dan berkata: "Logohu, kamu bodoh.
> Seharusnya kamu bangga dengan keadaanmu sekarang. Bulumu yang cokelat
> gelap, menyelamatkan kamu. Lihat burung lain yang bulunya indah,
> hidupnya diincar pemburu."
>
> Karena Logohu terus mendesak dewa. Dia ingin bulu badannya seindah
> pelangi. Dewa pun mengabulkan keinginan cenderawasih buruk rupa ini.
> Sekejap kemudian, Logohu berubah menjadi burung berbulu indah. Istri
> Logohu justru sedih. "Jangan dekat anak-anak. Keindahanmu akan
> mendatangkan bahaya bagi keluarga kita," katanya.
>
> Benar juga. Sejak itu, burung cenderawasih menjadi sasaran pemburu
> sejak zaman dulu, sampai hari ini. "Berapa populasinya, kami belum
> mampu menghitung. Pokoknya sudah mencapai titik rawan. Kalau
> dibiarkan terus, burung cenderawasih itu pasti punah di Irian Jaya.
> Indonesia bakal kehilangan burung terindahnya," kata Kepala Sub Balai
> Konservasi Sumber Daya Alam (KSDSA) Kanwil Kehutanan Irja, Ir
> Budiarto MSc.
>
> Bulu indah burung ini, memang sasaran pemburu dan maling burung.
> Sebab sampai kini, masih tetap bergentayangan pedagang burung
> cenderawasih opsetan. "Kalau burung hidup harganya lebih mahal. Kami
> lebih suka menjual yang sudah kering," kata pedagang keliling di
> suatu hotel di Jayapura, bulan lalu. "Di Jakarta, harganya lebih
> mahal lagi. Mau beli?"
>
> ***
> KEINDAHAN fantastis bulu unggas ini, memang memancing daya tarik
> beberapa manusia dungu. Jual beli burung cenderawasih, bukan mainan
> hari ini atau kemarin saja. Sejak berabad-abad lalu, kulit berbulu
> burung cenderawasih ini, sudah menjadi barang jual-beli pedagang.
> Dari beberapa pulau di Maluku, terutama Pulau Irian (saat itu masih
> berlum terpisah antara Irja dan Papua Niugini), burung ini kemudian
> menjadi komoditas "ekspor" ke beberapa kota bandar dagang di Eropa,
> dan Asia - termasuk Cina dan Jawa.
>
> Bulu burung ini, entah kapan, sudah termashur sebagai hiasan topi.
> Misalkan saja, pengadilan tinggi di Turki abad ke-15, anggota sidang
> memakai topi dengan juntaian bulu cenderawasih. Topi wanita ningrat
> di Paris, misalnya, pasti berhiaskan bulu warna-warni burung ini.
> Cenderawasih sendiri, saat itu belum dikenal asal muasalnya. Di
> Portugal, burung ini dinamakan passaros de sol atau burung matahari.
> Secara umum, burung ini disebut avis paradiseus alias burung surga.
>
> Dalam versi Jawa, burung itu disebut manuk dewata. Konon di zaman
> kekuasaan Pangeran Sabrang Lor dari Demak yang terkenal berani
> memerangi Portugis di Malaka, orang Demak sudah mengenal adanya
> burung dewata yang ditetaskan di surga. Kabar burung ini berasal dari
> pedagang Melayu yang pulang dari Maluku. Kontan saja, burung itu
> dilafalkan menjadi manuk dewata, serta laris dibeli pedagang Barat.
>
> Pedagang Portugis di Malaka, membawa pulang burung yang amat disukai
> untuk penghias topi. Bulu burung dagangan yang misterius itu,
> dinamakan ikut-ikutan bunyi manuk dewata juga, hingga jadilah nama
> Latin - manucodiata.
>
> Nama di zaman kapal kayu itu, terus dipakai dengan revisi menjadi
> manucodia. Akhirnya ada spesies burung cenderawasih mantel kilat
> bernama Latin Manucodia atra, Manucodia chalybatus (cenderawasih
> hijau) dan M jobiensis (cenderawasih jobi) dan M kerandrenii alias
> cenderawasih terompet. (Slamet Soeseno, Intisari - 1995)
>
> Kapan masuknya cenderawasih ke Eropa, diperkirakan sudah sejak
> ratusan tahun lalu. Ketika Antonio Pigafetta dari Venesia, kembali ke
> Sevilla dari muhibah pelayarannya keliling dunia bersama Magelhan,
> tahun 1522, ia membawa kulit cenderawasih kuning sebagai oleh-oleh
> dari Raja Bacan di Maluku, untuk raja Spanyol.
>
> Salah satu burung itu, diserahkan Raja Spanyol ini kepada Uskup
> Villadolid di Roma, untuk bahan telaah ilmiah. Pakar unggas di Italia
> saat itu, benar-benar terkejut dan terharu melihat burung itu. Sebab
> cita-cita mereka terkabul, melihat dengan bola mata sendiri, burung
> yang sudah lama mereka anggap sebagai sylphe atau sejenis peri udara.
>
>
> Semua burung cenderawasih yang tiba di Eropa, berupa kulit berbulu
> yang diawetkan dengan pengasapan. Juga semua burung opsetan itu, tak
> memiliki kaki. Kisah burung berbulu indah tanpa kaki ini, menjadi
> buah bibir berikut decak kagum bangsa Eropa saat itu. Padahal Antonio
> Pigafetta mengatakan, burung itu sebetulnya memiliki sepasang kaki,
> sepanjang tangan lelaki dewasa. Tapi pedagang burung, tetap
> mengkisahkan burung tanpa kaki dari kayangan, sebagai bumbu pemahal
> barang dagangannya.
>
> Legenda bulu indah asal burung tanpa kaki asal Timur, akhirnya
> mendapat nama keren demi perdagangan. Jan van Linschoten sekitar
> tahun 1598, menamakan unggas berbulu molek ini, burung kayangan. "Tak
> ada yang melihat burung ini hidup-hidup. Sebab unggas ini hidup di
> udara terbuka, beterbangan di sinar matahari. Burung hanya ke darat
> kalau mati, karena mereka tak punya sayap dan kaki."
>
> Memang saat itu, burung cenderawasih menjadi burung semi-mitologi.
> Katanya, satwa dirgantara ini hanya mengudara dan terbang terus.
> Mereka tak pernah hinggap di pohon, apalagi di tanah. Kalau mati,
> baru jatuh ke bumi. Mereka hanya mematuk embun sejuk dan awan halus,
> sebagai pakannya. Burung kayangan ini pun, hidup berpasangan dengan
> jodohnya sampai mati. Kalau mereka bercumbu, ya di udara. Kalau
> bertelur, sang betina meletakkan di atas punggung burung jantan,
> sambil mengerami telurnya di punggung sang suami. Kalau lelah, mereka
> beristirahat dengan mencantelkan ekornya ke cabang atau ranting kayu,
> lalu tidur bergantung macam kalong.
>
> Ilmuwan waktu itu, hanya mengernyitkan kening bingungnya, menanggapi
> beredarnya kisah seru itu. Mereka mau membantah berita tak nalar ini,
> namun terbentur bukti. Ilmuwan itu mau menyanggah, namun bahan
> sanggahannya kurang otentik. Sementara bulu dan kulit burung kayangan
> itu, tetap menjadi komoditas istimewa untuk hiasan kepala wanita
> Eropa. Makanya tak aneh kalau Carol Linnaeus, pakar taksonomi asal
> Swedia, memberikan nama Latin: Paradisaea apoda, alias burung paradis
> tanpa kaki, meski ilmuwan ini yakin burung itu pasti ada kakinya.
>
> Untungnya, pada tahun 1824, seorang awak kapal yang bertugas sebagai
> juru obat, Rene Lesson, mengetahui kalau habitat burung kayangan itu
> asalnya dari New Guinea. Lesson diperkirakan sebagai orang bule
> pertama di dunia, menjadi saksi hidup soal burung kayangan yang
> dilihatnya hidup-hidup, berkeliaran di sekitaran Maluku dan New
> Guinea. Dari laporannya, beberapa tahun kemudian, burung kayangan
> diakui punya kaki normal. Malah burung itu, disebut-sebut, memiliki
> sepasang kaki kekar dan berkuku tajam, sebagai anggota tubuh burung
> yang berbulu indah tanpa saingan.
>
> Temuan peneliti Barat dengan burung cenderawasih ini, makin jelas
> sejak laporan Sir Alfred Russel Wallace tahun 1869, di Kepulauan Aru.
> Wallace menulis begini: "Burung jantan itu menari-nari dari ranting
> ke ranting, sambil memamerkan getaran bulu-bulu indahnya. Di suatu
> pohon, terlihat belasan burung jantan saling adu pamer, di hadapan
> beberapa ekor cenderawasih betina ... keindahan tarian berahi
> cenderawasih, melebihi keindahan pameran kipas emas sekalipun.
>
> Penelitian Wallace makin lengkap, karena C Beccari dalam ekspedisinya
> ke New Guinea tahun 1878, juga menyaksikan kehidupan liar kawanan
> burung cenderawasih di salah satu hutan di sana. "Cara burung ini
> memikat betinanya, sungguh unik ... banyak sekali segi lain kehidupan
> burung ini, amatlah unik dan tak dapat disaingi unggas lainnya di
> dunia," tulis Beccari.
>
> ***
> SEJAK rahasia burung cenderawasih ini dikenal luas, pasaran bulu
> burung itu malah makin gila. Sebab burung cenderawasih makin banyak
> diuber-uber, dijerat, ditembak atau dipanah. Bulu burung itu tetap
> menjadi sasaran, karena makin digunakan untuk keperluan hiasan kepala
> manusia. Di awal kolonisasi Jerman di New Guinea, selama lima tahun
> saja, tercatat sekitar 50.000 burung cenderawasih diekspor menjadi
> barang dagangan untuk penghias topi.
>
> Padahal buat pribumi Irian Jaya dan Papua Niugini, bulu cenderawasih
> sejak berabad-abad, memang digunakan sebagai penghias kepala orang di
> sana. Jadi, burung ini sudah sekian lama, memang ditakdirkan menjadi
> buruan yang dibunuh hanya untuk kulit berbulunya saja. Sampai
> menjelang paruh pertama abad XX, burung cenderawasih menjadi incaran
> orang. Puluhan perusahaan dengan jaringan kerjanya, berlomba-lomba
> membunuh sebanyak mungkin burung cenderawasih. Demam cenderawasih,
> boleh dibilang sempat menyaingi demam emas.
>
> "Kalau pribumi New Guinea membunuh burung itu dengan perangkap atau
> panah tradisional, sebetulnya tak terlalu mengganggu populasi burung
> cenderawasih di sana. Namun masuknya perusahaan besar dengan senjata
> api dan perangkap modern, mereka merambah dan membantai burung itu
> seenaknya dan sebanyak-banyaknya. Selain merambah hutan New Guinea,
> mereka juga berekspedisi ke hutan di pulau sekitarnya. Kejadian itu,
> sebetulnya awal lampu merah bagi keselamatan dan kelestarian burung
> cenderawasih yang cuma hidup di sekitaran sana. Tahun 1924 pemerintah
> Australia New Guinea, melancarkan larangan keras pembunuhan
> semena-mena burung cenderawasih atau birds of paradise. Pemerintah
> Belanda di Indonesia, sejak tahun 1930, memberlakukan pula larangan
> berburu dan memperjualbelikan burung cenderawasih. Nasibnya kini,
> mungkin tetap buruk," tulis B Grzimek dan Th Schultze-Westrum, 1973.
>
> ***
> CENDERAWASIH dari subfamili Paradisaeinae, sejauh ini diperkirakan
> ada sekitar 42 jenis (26 spesies di Irja dan Papua Niugini, sisanya
> tersebar di Kepulauan Maluku dan Australia). Berukuran tubuh antara
> 17 sampai 120 sentimeter. Umumnya burung ini memakan bebuahan hutan,
> serta serangga. Burung cenderawasih jantan memiliki bulu jauh lebih
> indah, dibanding betinanya.
>
> Hampir semua bulu burung ini, dikiaskan memiliki susunan bulu sehalus
> sutera, selembut beluderu, dan seindah renda satin. Warnanya mulai
> hitam pekat atau merah legam dengan kilap macam logam metalik. Warna
> kuning emas, hijau, jingga, hitam kebiruan, cokelat kayu manis, atau
> putih keperakan, makin memashurkan keindahan burung ini.
>
> Di musim kawin, di saat embun dan matahari pagi masih lembut
> sinarnya, atau menjelang senja selama masih ada sinar temaram
> menjelang turun kabur malam, burung jantan selalu bersaing dengan
> tarian kepakan sayap, tegakan bulu, serta gerak akrobatiknya yang
> amat indah.
>
> Gaya dan lagak burung jantan ini, merupakan suatu upaya memikat
> betina pilihannya. Juga untuk menunjukkan kelebihannya, dibanding
> jantan saingan lainnya. Betina yang terpincut, segera dikawini sang
> jantan. Buah berahi pasangan unggas ini, umumnya menghasilkan telur
> di sarang yang berbentuk cawan (ada spesies lainnya bersarang di atas
> tanah), di sela ranting dekat pucuk pohon tinggi. Di sinilah telur
> itu dierami sampai menetaskan anakan cenderawasih.
>
> Begitu kira-kira siklus hidup cenderawasih. Amat sulit. Petugas KSDA
> Irja pun mengalami kesulitan meneliti tuntas burung ini. Di Irja,
> burung cenderawasih salah satu dari 41 jenis unggas yang dilindungi.
> "Dari semuanya, cenderawasih merupakan burung yang paling keras kami
> awasi, karena dia diincar pemburu, baik hidup atau mati," kata
> Budiarto. Begitu berlapisnya tingkat korservasi, sampai Presiden pun
> harus turun tangan."
> Menilik kisah, keadaan dan kenyataanya, burung cenderawasih di Irja
> sejak dulu memang sudah sial nasibnya. Meski namanya, burung surga,
> kenyataannya nasib burung sungguh ... neraka! (top/bd)
>
>
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Get personalized email addresses from Yahoo! Mail
> http://personal.mail.yahoo.com/
----------------------------------------------------------------------------
----
----------------------------------------------------------------------------
----
> ---------------------------------------------------------------------
> Mulai langganan: kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
> Stop langganan: kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
> Arsip ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
>
---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Arsip ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]