Yaa. Allah lindungilah bangsaku dari kehancurannya. Kalau semua
peristiwa dan tragedi itu bagian dari cobaanMU. Cukup sekianlah Yaa.
Allah. Jangan biarkan kami makin tercabik-cabik. Limpahkanlah
petunjukMU pada kami. Ampunilah dosa-dosa kami. Amiin
----------------------------------------------------------------------
http://www.kompas.com/kompas-cetak/9812/01/UTAMA/keru01.htm
Selasa, 1 Desember 1998
Kerusuhan di Kupang
Kupang, Kompas
Aksi perkabungan yang dilakukan masyarakat Kristen Kota Kupang, NTT,
sehubungan dengan berbagai peristiwa di Tanah Air, Senin (30/11),
telah berkembang menjadi kerusuhan. Menjelang siang hingga petang,
massa bertindak di luar kendali. Mereka membakar sejumlah masjid dan
sejumlah bangunan lainnya di Kota Kupang.
Uskup Agung Jakarta Mgr Julius Kardinal Darmaatmadja SJ serta Uskup
Agung Kupang Mgr Petrus Turang Pr kepada wartawan di Jakarta,
kemarin, menyatakan, amat menyesalkan perusakan masjid dan rumah
warga di Kupang.
Kardinal meminta maaf atas kejadian tersebut. Dikatakan, apa pun
alasannya, perusakan rumah ibadah dan tindak kekerasan tak bisa
dibenarkan. Selain merugikan orang lain, perusakan rumah ibadah
mengoyak rasa kemanusiaan, dan tidak sejalan dengan ajaran gereja.
Perusakan tempat ibadat itu pun akan dapat merusak relasi antarumat
beragama yang berjalan baik selama ini.
"Ini memprihatinkan. Saya meminta maaf, dan berharap tidak ada lagi
kekerasan di negeri ini. Kekerasan tak akan selesai apabila dibalas
kekerasan, tetapi harus diselesaikan dengan rujuk," tandasnya.
Kardinal meminta umat Katolik bersatu, memberikan bantuan kepada
penduduk Muslim membangun kembali tempat ibadatnya.
"Saya akan menghimpun potensi untuk membantu pembangunan masjid itu
kembali. Saya meminta para uskup juga untuk menghimpun potensi
umatnya untuk ikut membantu pembangunan rumah-rumah ibadat itu,"
paparnya lagi.
Gubernur NTT Piet A Tallo mengutuk pelaku kerusuhan massa hari itu di
Kupang dan sekitarnya. Gubernur menegaskan, Pemda NTT siap
memperbaiki tempat ibadah yang dirusak massa.
Kepada wartawan, Gubernur Tallo menyatakan, peristiwa tersebut
merupakan keprihatinan semua pihak. "Peristiwa ini sangat memalukan
bagi orang yang hidup dalam suatu lingkungan masyarakat yang
harmonis. Suasana berkabung ternoda dengan kerusuhan massa ini,"
katanya. Sebelumnya, Gubernur Tallo meninjau lokasi dan beberapa
masjid yang dirusak massa.
Pawai
Upacara perkabungan dimulai pukul 06.30 Wita yang kemudian diteruskan
dengan pawai besar-besaran di seluruh kota sehingga semua kantor,
pertokoan, dan pasar tutup.
Kota Kupang sejak pagi lengang. Kebanyakan warga kota dan daerah
sekitarnya ambil bagian dalam aksi Gemakristi (Gerakan Perkabungan
Umat Kristiani) sebagai wujud rasa solidaritas atas berbagai
peristiwa, termasuk peristiwa Ketapang pekan lalu. Semua kendaraan
angkutan penumpang dan barang dalam dan luar kota, berhenti
beroperasi. Kantor pemerintah dan swasta, sekolah, pertokoan dan
kios, tutup. Begitu juga pasar rakyat praktis lengang tanpa
pengunjung.
Gemakristi diprakarsai oleh pemuda dan mahasiswa di Kupang.
Menurut Ketua GAMKI NTT David Radja, dalam pertemuan dengan Gubernur
dan pimpinan DPRD NTT akhir pekan lalu, perkabungan ini berlangsung
selama
24 jam, mulai Senin pukul 06.00 Wita. Perkabungan ini menurut rencana
akan ditutup dengan kebaktian Oekumene, Selasa pagi ini di GOR Oepoi,
Kupang.
Pemrakarsa sudah mengimbau seluruh warga yang akan ikut berkabung
supaya menghindari berbagai tindakan negatif seperti kekerasan,
perusakan, pembakaran, atau penjarahan. Warga tetap diperbolehkan
bepergian setelah disemati bunga.
Di bawah koordinasi puluhan koordinator, warga masyarakat menutup
seluruh ruas jalan umum dari jalan utama hingga gang sempit.
Kendaraan petugas atau pribadi sulit lewat karena warga membangun
blokade dari batu-batu dan material lainnya secara berlapis-lapis
dalam jarak yang sangat dekat.
Di sejumlah titik perkabungan di jalan-jalan dibangun blokade. Warga
menyekat jalan antara lain dengan peti mati, salib berukuran besar,
serta gambar Kristus bermahkota duri. Ini antara lain dapat
disaksikan di depan Gereja Kota Kupang, dan beberapa lokasi di Jalan
Soedirman, Kuanino.
Sekitar pukul 08.30 Wita, satu setengah jam setelah mulai acara
perkabungan dibuka, panitia penyelenggara mulai merasakan bahwa di
lapangan telah terjadi penyimpangan.
Sekitar pukul 09.00 Wita, massa ratusan orang dalam iringan konvoi
sekitar tujuh truk, beberapa mikrolet, dan sejumlah mobil pribadi,
yang bergerak dari arah luar kota mulai masuk kota Kupang. Namun,
massa itu masih tertib dan mengitari beberapa ruas jalan di Kota
Kupang seperti Jalan Ahmad Yani-Merdeka, Urip Sumoharjo, Moh Hatta
dan Sudirman Kuanino dan berbelok ke Jalan Pemuda-Jalan Cak Doko dan
Jalan Lalamentik menuju ke Oebufu.
Sekitar pukul 10.00, saat melewati ruas jalan Oebufu, massa itu mulai
melempari beberapa rumah, kios serta toko. Massa terus bergerak ke
arah Jalan El Tari II menuju ke Penfui dan kembali memutar ke arah
Oesapa.
Saat memasuki Jalan Adi Sucipto di kawasan Oesapa, beberapa rumah
pengusaha yang berada di simpang tiga menjadi sasaran pelemparan
sehingga kaca di bangunan itu berantakan. Hal yang sama juga terjadi
di sekitar wilayah Oesapa Kecil. Beberapa kios dan bangunan serta
sebuah sedan kacanya remuk dilempari batu.
Sekitar pukul 11.15 Wita, massa yang sudah tidak terkendali kembali
lagi ke kota Kupang dan memasuki kawasan Kelurahan Solor. Di daerah
ini juga terjadi saling lempar antara massa yang konvoi dengan warga
setempat.
Setelah terjadi aksi saling melempar di depan sebuah masjid, berita
menyebar dengan cepat. Akibatnya ratusan pemuda dari berbagai penjuru
berdatangan dan membalas provokasi, dan terjadilah saling lempar
dengan warga di belakang kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang.
Sebuah warung makan di samping Kantor Loka Binkra Kanwil Depperindag
NTT hancur dilempar massa. Sedangkan sebuah kios juga ikut terbakar.
Hingga pukul
15.00 Wita masih terjadi aksi saling lempar.
Sekitar pukul, 12.30 Wita, puluhan petugas pengendalian massa Polres
Kupang di bawah pimpinan Kepala Satuan Sabhara Lettu (Pol) Pace
Pelokilla dan Wakil Kepala Polres Kupang Wahyudi, mencoba menenangkan
massa dan memblokir kawasan yang rusuh.
Namun, satu jam kemudian, ratusan pemuda berdatangan dari arah
Kuanino menuju ke sebuah masjid di sekitar Markas Polres Kupang dan
merusak kaca bangunan tersebut. Beberapa pemuda yang cedera kena
lemparan batu dibawa ke RSU Prof dr WZ Johannes, Kupang.
Massa pemuda juga memblokir jalan menuju Pelabuhan Tenau, arah Barat
kota Kupang. Para pemuda memblokade jalan mulai dari jembatan Selam.
Semua orang dilarang sama sekali untuk lewat.
Sekitar pukul 17.00 Wita, massa bergerak menuju kampus Universitas
Muhammadiyah Kupang, namun dihalau pasukan keamanan.
Menurut informasi sementara hingga pukul 18.30 Wita, dua masjid
dibakar yaitu di daerah sekitar Kolhua dan di Bakunase. Tiga lainnya
dirusak, yaitu Masjid Raya Kupang, Masjid Attaqwa Naikoten, dan
masjid di sekitar kantor Kodya Kupang. Jumlah kerusakan masjid dan
bangunan lainnya sampai berita ini diturunkan masih belum terdata,
karena situasi kota yang masih belum memungkinkan untuk dilakukan
pemantauan secara menyeluruh. Sementara pihak Pemda belum
mengeluarkan data resmi.
Pembakaran lainnya menimpa Asrama Haji di Bilangan Oebufu, Kodya
Kupang, sebagian bangunan Pasar Inpres Naikoten II, SMP dan SMA
Muhammadiyah, serta sebuah perusahaan kayu bersama empat truk dan
sebuah mobil. Sebuah rumah makan di depan markas Polda NTT juga
dirusak.
Suasana kota hingga Senin malam mencekam. Warga kota terlihat saling
curiga antara satu dengan yang lainnya. Mereka rata-rata membawa
senjata tajam, pentungan dan lainnya.
Sekitar 100 pemuda Katolik dan Protestan di wilayah Perumnas Kodya
Kupang segera melakukan pengamanan terhadap semua rumah ibadah di
wilayah itu dari amukan perusuh yang datang hendak membakarnya.
Menurut Pengurus Masjid Baiturahman Perumnas, Saleh Orang, kepada Pos
Kupang
Senin malam, para pemuda tersebut mengamankan masjid itu dari amukan
para perusuh. Terwujudnya bantuan itu, setelah adanya kerja sama yang
baik antara pastor, pendeta dan ulama setempat.
Dokter Husein Pancratius, direktur RSU Prof Dr W Z Johannes Kupang,
menjelaskan ada 13 orang yang mengalami luka-luka akibat kerusuhan
itu datang berobat ke rumah sakit. "Tetapi semuanya sudah kembali dan
tidak ada yang dirawat," ujar Husein.
Di SoE juga
Aksi perkabungan nasional yang juga berlangsung di Kota SoE,
Kabupaten Timor Tengah Selatan, seperti dilaporkan Pos Kupang,
akhirnya juga dinodai aksi sejumlah oknum yang mengakibatkan sebuah
toko dan sejumlah rumah penduduk terbakar, serta satu masjid rusak.
Aksi yang terjadi secara tiba-tiba itu akhirnya dapat dihentikan oleh
aparat keamanan. Selain tiga rumah yang terbakar, dilaporkan puluhan
rumah lainnya mengalami kerusakan karena dilempari, serta beberapa
angkutan kota juga dirusak.
Massa mulai berkumpul mulai pukul 13.00 Wita dan mulai berjalan dari
kompleks pertokoan dan menuju Pasar Inpres. Saat berjalan tersebut
massa melakukan prosesi dengan bernyanyi. Namun, ketika memasuki
pasar Inpres, terjadilah aksi melempar. Hampir semua kios dan toko di
pinggir jalan tak luput dari lemparan. Massa terus berjalan menuju
masjid, dan berusaha mulai membakar. Namun api tak sampai merambat
karena berhasil dipadamkan aparat dan warga sekitarnya. Saat itu
aparat kepolisian sempat melakukan tembakan peringatan.
Pertinggi kewaspadaan
Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia menyerukan agar umat Islam di
seluruh wilayah Indonesia mempertinggi kewaspadaan dan tidak mudah
terpancing provokasi pihak tertentu, yang pada akhirnya dapat
mempersulit dan menyudutkan umat Islam.
Pernyataan itu juga meminta para ulama, kiai mubaligh dan da'i,
senantiasa memberikan siraman yang menyejukkan kepada umat, sehingga
bangsa Indonesia selamat dari segala mara bahaya, malapetaka,
kezaliman, kenistaan, dan selalu mendapat kekuatan dan kesejahteraan
bersama. (ans/tra/Pos Kupang)
....
---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com
Indonesia without violence!