Kalau semua angkatan bersenjata di seluruh dunia dibubarkan, saya
setuju ABRI juga dibubarkan. Saya juga tetap menganut falsafah right or
wrong is my country. Wong saya membela negara, bukan membela pemerintahan.
Buat saya kedaulatan tetap penting. Ini bukan cuma pikiran dari saya yang
notabene memang dari negara berkembang. Wong Amerika yang sudah maju saja
anggaran militernya juga gede kok.
Salam,
Santi Hartono
At 12:58 PM 11/18/98 -0700, Samin wrote:
>Santi,
>
>Saya kira yang Anda pikirkan ini (soal diperlukannya tentara) adalah pikiran
>khas manusia negara berkembang yang masih hidup di Abad Kegelapan. Kadang
>kalao ngongong tentara kita akan ngomong soal bela negara, dan kalo ngomong
>bela negara kita akan bicara soal nasionalisme, lantas kalo bicara
>nasionalisme kita selalu terjerumus pada nasinalisme ala jaman Mataram
>(right or wrong is my country).
>
>Di jaman globalisasi peranan tentara telah direduksi sama yang namanya
>informasi dan modal. Bayangin aja modal asing tiba-tiba mengambil alih
>seluruh gedung-gedung pencakar langit sepanjang Jl Thamrin-Sudirman juga
>berbagai apartemen hanya kerena mata uang kita terpuruk. Ini bukan invasi
>tentara luar negeri yangt bisa dilawan dengan pertumpahan darah. Sepenuhnya
>pengambil-alihan damai menurut hukum ekonomi. Coba saja kita lihat
>penggalian emas dan timah dari Gunung Jayawijaya oleh Freeport yang sama
>sekali tak melibatkan unsur militer. Malah militer Indonesia menjaga
>sepenuhnya kepentingan Amerika di sana. Lantas apa relevansinya tentara
>kalau begitu.
>
>Saya justru mendukung Eka untuk merenungkan kembali sebuah masyarakat
>negara-bangsa tanpa tentara kayak Swiss atau Vatican. Di Swis, yang namanya
>tentara hanya dikenal namanya lewat jam tangan atau sejumlah produk industri
>logamnya yang berlabel "Swiss Army" demikian juga negara kecil macam Vatican
>yang ada di sana cuma polisi sewaan asal Swiss.
>
>Saya kira sekian "abad" bangsa kita ini hidup dalam ketakutan. Takut karena
>negara kita ini strategis, takut akan perpecahan, takut ada makar, takut
>mahasiswa marah, takut petani menuntut haknya, takut buruh mogok kerja dan
>seterusnya. Dan atas dasar ketakutan itu kekuasaan memperoleh legitimasi
>untuk membangun angkatan perang yang kuat. Coba saja lihat berapa anggaran
>negara (baik resmi maupun tak resmi) digunakan untuk membayar gaji aparatus
>negara. Coba lihat berapa uang dihamburkan untuk membiayai intelijen negara
>yang tak jelas juntrungannya, yang menyimpulkan Peristiwa 27 Juli adalah
>kerja PRD yang juga kerap membuat kesimpulan salah hingga muncul julukan
>negatif "intel Melayu".
>
>Saya bukan tak menghormati profesi tentara. Tapi saya kira menghormati bukan
>berarti takut untuk menggagas kemungkinan menghapus profesi tua manusia yang
>dalam sejarah kemanusiaan justru menjadi penyumbang kepunahan umat manusia
>paling besar. Coba saja bayangin, kita membayar pajak, merestui sekelompok
>manusia untuk menjaga keamanan kita. Kita setuju mereka memonopoli semua
>persenjataan mulai dari amunisi, pisau komando, sepatu lars, seragam,
>pistol, senapan, hingga tank, pesawat tempur dan kapal perang. Tapi coba apa
>yang didapat rakyat Indonesia? Ratusan, ribuan dan jutaan orang justru
>dibunuh dengan alasan "demi untuk ketertiban dan keamanan" atau "demi untuk
>persatuan dan kesatuan". Puluhan orang ditangkap dengan alasan sepihak (dari
>monopoli senjata ke monopoli kebenaran) dan diculik, dianiaya. Keamanan apa
>yang didapat?
>
>Seringkali justru musuh-musuh rakyat bermunculan karena adanya rekayasa.
>Barangkali kita memang butuh mempelajari kembali asal-muasal tentara,
>militerisme dan fasisme. Ketiganya ini saling bertautan satu sama lain. Dan
>awas jangan terjebak pada sloganis "prajurit pejuang" dan "pejuang prajurit".
>
>Saya percaya bahwa yang namanya tentara dalam sebuah negara damai (dimana
>ada masyarakat madani yang solid) tak dibutuhkan, yang dibutuhkan hanya
>polisi. Begitu juga di tempat kita, kecuali kita hidup dalam schrizophenia
>terus-menerus bahwa dalam hidup kita tak pernah ada kedamaian.
>
>Sebetulnya ada sebuah syair lagu bagus yang pernah dinyanyikan Victor Hara
>tentang tentara. Penyanyi asal Chile tersebut menyenandungkan tentang peran
>tentara yang tak lebih sebagai pisau pembabat. Penyanyi yang mendukung
>terbentunya masyarakat madani dibawah Allende itu mati akibat mengalami
>siksaan di kantor Koramil oleh tentara pendukung Jendral Pinochet. Saya
>sebetulnya ingin mengetiknya untuk Anda, tapi sayang buku tersebut tertumpuk
>di gudang saya yang berantakan.
>
>Samin
>
Himbauan: Hormati pahlawan REFORMASI, Pasang bendera setengah tiang !
---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com