At 11:22 AM 11/19/98 +0700, you wrote: > > >Kalau semua angkatan bersenjata di seluruh dunia dibubarkan, saya >setuju ABRI juga dibubarkan. Saya juga tetap menganut falsafah right or >wrong is my country. Wong saya membela negara, bukan membela pemerintahan. >Buat saya kedaulatan tetap penting. Ini bukan cuma pikiran dari saya yang >notabene memang dari negara berkembang. Wong Amerika yang sudah maju saja >anggaran militernya juga gede kok. > >Salam, >Santi Hartono > Menurut saya "right is right" dan "wrong is wrong", tak ada hubungannya dengan my country. Barangkali saya perlu mengulang soal ini yang pernah ditulis dengan Bagusnya oleh Dr Liek Wilardjo. Ceritanya diambil dari ilustrasi "negara" Alengkadirha yang jadi setting Ramayana. Buntut dari penculikan istri Rama, Dewi Sinta, oleh Rahwana akhirnya berujung dengan bakal terjadinya perang besar. Rahwana tetap ngotot ingin mempersunting Dewi Sinta (secara paksa). Untuk menghimpun kekuatan melawan Sri Rama, Rahwana menghubung 2 saudaranya. Tokoh pertama adalah Wibisana (adik kandung Rahwana). Kepada Wibisana Rahwana menceritakan situasi negara Alengka sedang dalam ancaman akibat niatnya mengawini Dewi Sinta. Ketika Rahwana memuntut belanegara dari adiknya, Wibisana menjawab, "Kang Mas, saya kira Anda salah menculik istri orang. Sri Rama dalam hal ini adalah benar. Kang Mas harus mengembalikan Sinta pada suaminya." Rahwana mencak-mencak marah. Ia katakan adiknya tak punya nasionalisme. Rahwana meminta Wibisana agar memilih, mencitai negara yang selama ini menghudupinya atau memilih membela musuh negara. Wibisana yang tahu dirinya diusir mengatakan, "Kang Mas, bagi saya kebenaran itu universal. Kalau saua menyatakan Kang Mas salah itu justru karena kecintaaan saya pada Kang Mas. Tapi kalau Kang Mas meminta saya untuk memilih antara membela Kang Mas dan membela kebenaran, saya memilih untuk selalu kebenaran." Dengan demikian pergilah Wibisana dan di kemudian hari justru menjadi penasehat Sri Rama. Inilah yang saya sebut "nasionalisme" jenis pertama, yang tak membabi buta. Tokoh ke dua adalah Kumbakarna. Kumbakarna ini adalah paman Rahwana yang berpostur sebagai seorang raksasa. Kerjanya cuma molor, ia hanya bangun ketika lapar. Namun demikian ia tergolong sakti mandraguna. Rahwana yang butuh bantuan datang pada Kumbakarna dengan embawa berpikul-pikul makanan dan puluhan ekor hewan. Rahwana segera membangunkan Kumbakarna dan mempersilakan untuk memakan semua makanan yang dibawanya. Kumbakarna yang lapar langsung melahap habis. Ketika selesai Rahwana bercerita hal yang sama yang telah diceritakannya pada Wibisana. Apa reaksi Kumbakarna? Ia menyatakan, "Tidak. Saya tak mau membela Anda. Anda salah dalam hal ini." Rahwana marah besar. Ia memaki-maki pamannya dan mengingatkan bahwa pamannya berutang "nyawa" pada Alengkadirja dan dirinya. "Bukan kah selama ini saya yang memberi makan pada Paman?" gugat Rahwaba. Tak ayal, Kumbakarna merah padam. Semua makanan yang baru ditelan, dikeluarkannya lewat mulutnya. "Bah. Saya tak butuh makanan mu ini. Tapi kalau kamu memang memaksa saya memerangi Rama, saya akan memeranginya," teriak Kumbakarna yang segera berangkat mencari Sri Rama. Di kemudian hari, Kumbakarna gugur dalam pertempuran melawan Sri Rama. Ini lah nasionalisme ke dua yang masuk dalam ketegori "right or wrong is my country". Santi yang baik, mana yang Anda pilih?! Saya pernah wawancara seorang tokoh pemuda, anak pejabat tinggi (berlatar belakang budaya Jawa), saya tanya siapa tokoh wayang yang dia kagumi. Tahu apa jabarannya? Kumbakarna. Ketika saya tanya "why"? Dia jawab karena dia mau membela negaranya, tanpa melihat betul dan salah. Terus terang, saat itu juga, respek saya runtuh padanya. Santi, bisa saja Amerika hingga kini membelanjakan uangnya untuk persenjataan, tapi masalahnya apa kita mau seperti itu? Khususnya di jaman rakyat banyak yang kelaparan seperti sekarang ini? Saya kira saya adalah orang yang menolak pendekatan militer Amerika sebagai "polisi dunia" hanya karena dia satu-satunya negara adikuasa saat ini. Barangkali Anda juga perlu membaca buku tentang bagaimana industri Perang AS berkepentingan pada penjatuhan JFK hanya karena ia ingin mengakhiri perang Vietnam. Anda perlu mencari berbagai referensi (ada banyak) tentang penaklukan dunia ke tiga oleh AS hanya untuk kepentingan (kapitalis) industri perang di sana. Coba saja baca desertasi phd Arief Budiman tentang penjatuhan Presiden Allende yang menggunakan nama sandi "Operasi Jakarta". Anda perlu juga mempelajari sejumlah tulisan tentang setting Peristiwa 65 yang disinggung sedikit oleh Oliver Stone dalam film "JFK" yang diputar di Jakarta sekitar 2 tahun lalu. Sebagai catatan, yang saya gagas di sini adalah terobosan dalam cara berpikir. Kalau cara berpikir kita tak juga maju, bagaimana kita bisa menemukan arah reformasi saat ini. Beberapa tahun lalu, saya menemui seorang tokoh (wartawan tempo dulu) yang sehabis pulang haji mencoba melakukan perjalanan ke Yerusalem. Dia katakan kekagumannya pada negara Israel (terlepas dari politik Zionisnya ya!). Dia cerita bagaimana di sana yang namanya pejabat itu sangat sederhana, pakainnya sama dengan rakyat. kalaupun dia menggunakan jas saat acara resmi, bahannya terbuat dari bahan yang banyak dijumpai di pasar. Yang ini lebih penting, yang namanya tentara Israel itu sangat sederhana. Ia adalah masyarakat biasa. Di jaman damai, yang namanya tentara (kebanyakan pilot pesawat tempur) tak lain adalah sopir taxi, pegawai angkutan publik dan sebagainya. Nah, pada saat perang, mereka bisa dimobilisir dengan cepat dan jadi anggota pasukan profesional. Mereka tak pernah menyakiti rakyatnya sendiri. Coba lihat kita, apa yang terjadi? Di jaman damai (apa memang damai yha?), tentara berkeliaran di mana-mana, menggunakan seragam, menenteng senjata, mengawasi pertunjukan musik rock, sepak bila hingga kotbah politik. Coba lihat polisinya? Di mana ada mereka di situ pasti ada kemacetan. Begitu mereka berkerumun biasanya pasti ada tanda/rambu lalulintas yang disamarkan lantas mereka cari kesalahan penumpang dan dimintai uang pelicin dst. Coba setiap hari di negara kita ini ada ratusan ribu mahluk berseragam dengan tujuan dan pekerjaan tak jelas berkeliaran. Mereka harus ikut berbaris, apel pagi, berkeliaran lantas apel siang dan pulang. Begitu setiap hari dengan gaji rendah hingga (banyak tentara) hidup dalam garus kemiskinan. Ini satu-satunya profesi yang paling absurd di jaman globalisasi ini. Ingat di jaman dulu (sebelum jaman penaklukkan) tak ada yang namanya negara, tak ada yang namanya tentara. Semua manusia hidup damai, senjata dibawa hanya untuk keperluan berburu. Kenapa bisa? Di jaman itu yang namanya fasisme belum dikenal! Samin.- Himbauan: Hormati pahlawan REFORMASI, Pasang bendera setengah tiang ! --------------------------------------------------------------------- To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com
