Sudah jelas-jelas itu menjadi tanggung jawab tiap-tiap prajurit.. Kalau
ingin tidur memeluk guling dan hidup teratur, jangan jadi tantara! Tapi
satu hal yang harus diingat: TENTARA TIDAK PERNAH DIBENTUK UNTUK MEMBANTAI
BANGSANYA SENDIRI !!!
Yang justru harus dipikirkan adalah perjuangan para mahasiswa yang rela
berjalan kaki puluhan kilometer, dipanggang terik matahari dan diguyur
derasnya hujan, makan dan minum seadanya dari pemberian masyarakat yang
simpati, tidur di emperan jalan dengan resiko dipukuli dan ditembaki oleh
saudara-saudaranya sendiri yang dibela secara tidak wajar dalam posting ini.
Belum lagi tuduhan-tuduhan goblog seperti 'makar', 'subversif', 'PKI' dan
tuduhan-tuduhan goblog lainnya yang bisa bermuara hilangnya kekebasan dan
hak-hak sipil mereka.
Satu hal yang harus diingat: TUGAS UTAMA MAHASISWA ADALAH MEMPELAJARI
BIDANG KEILMUANNYA! Jadi segala bentuk pengorbanan yang mereka lakukan
secara tulus demi Rakyat itu bukan kewajiban mereka, tapi secara sadar
mereka melakukannya demi Rakyatnya! Demi Bangsa dan Negara tercinta:
INDONESIA! Beda dengan tentara, mereka memang digaji untuk mematuhi
perintah atasannya yang notabene Jendral-jendral goblog keblinger
anjing-anjing Orba (Orde Babi) itu!
Walaupun mungkin cenderung subyektif, tapi sebagai perbandingan selama saya
turun 'di lapangan' selama sekitar sepuluh hari kemarin saya lihat
rekan-rekan prajurit korps Marinir yang mengalami 'nasib' yang sama masih
bisa selalu tersenyum ramah pada Rakyat dan mahasiswa bahkan tidak pernah
sekalipun menggunakan kekerasan dalam menghadapi aksi-aksi Rakyat dan
Mahasiswa! Mengapa Prajurit-prajurit TNI-AD dan Brimob tidak dapat
melakukan hal yang sama! Dasar prajurit-prajurit cengeng amatiran! Bisanya
cuma petantang-petenteng di hadapan Rakyat!
SIGIT WIDODO
===============
Vox Populi Vox Dei
===============
Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan!
-----Original Message-----
From: Harun Al-Wakhid <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 19 Nopember 1998 14:36
Subject: [kuli-tinta] Sisi Lain
Kamis, 19 November 1998
Sepenggal Kisah Seorang Prajurit Muda Belia
POLKAM
----------------------------------------------------------------------------
----
KOLONG Jembatan Semanggi, Sabtu (14/11) dini hari. Sejumlah tentara baik
dari kesatuan Kostrad, Marinir maupun Kodam Jaya tertidur di trotoar jalan.
Tidak ada selimut, bantal apalagi kasur. Prajurit yang rata-rata berpangkat
sersan dua ke bawah itu (sekitar 19 tahunan), tidak memeluk guling melainkan
bedil laras panjang.
Mereka tidak mengenakan piyama, tetapi seragam tentara lengkap dengan sepatu
botnya, helm, dan pentungan. Tetapi tameng, yang barangkali siang sebelumnya
digunakan untuk menahan laju gerakan mahasiwa, dini hari itu, digunakan
untuk menutup wajah guna menahan rintik hujan. Itulah sekelumit kehidupan
tentara, yang saat ini dikenal sebagai 'musuh besarnya' para pengunjuk rasa.
Sebagaimana dikatakan Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto, sesempurnanya
seorang prajurit, dia hanyalah segumpal daging dan tulang. Sekuat-kuatnya
mereka menahan rasa amarah, tetapi toh mereka juga masih manusia, bisa
marah, jengkel, tersinggung, dan lepas kendali. Ini merupakan kodrat
manusia. "Kita telah tanamkan kepada mereka bagaimana bersikap sabar dan
nrimo terhadap perlakuan para mahasiswa yang sedang unjuk rasa," ujar
Wiranto ketika mengunjungi pasukan sebelum Sidang Istimewa MPR digelar.
Tetapi, sesabar-sabarnya prajurit, toh, meletus juga apa yang kemudian
dikenal sebagai 'Insiden Semanggi'. Sedikitnya 13 korban tewas dan ratusan
lain cedera.
Memang, sangat susah untuk memberi maaf atas insiden itu. Tetapi, jika kita
ikuti kehidupan para prajurit itu, mungkin bisa sedikit paham, mengapa
mereka bisa juga marah.
Dari subuh ke subuh
Dari subuh hingga subuh lagi, mereka (para prajurit muda itu) terus siap
siaga di tempat. Menjaga keamanan sekitar Gedung MPR dan di dalam Gedung
MPR. Itulah tugas para aparat dalam menjaga gedung rakyat ini.
Sejak Sidang Istimewa MPR akan dilaksanakan, satu minggu sebelumnya mereka
sudah disiagakan lebih intensif. Mungkin masyarakat pun tak tahu apa yang
dialami para prajurit ini di balik gedung kokoh itu.
Di belakang Gedung MPR, hampir ruang-ruang yang kosong penuh dengan
barang-barang milik petugas. Jemuran bergelantungan, kompor, alat memasak,
dan peralatan mandi pun bertebaran di sisi-sisi gedung.
Baju mereka pun tak pernah digosok lagi. Baju licin seperti di markas tidak
lagi ditemui. Setiap hari mereka hanya berpakaian dinas dan kaos prajurit.
Bahkan mereka sendiri sudah tidak memperhatikan pangkat mereka. Pernah saat
Pangab melakukan inspeksi, masih ada prajurit yang memakai baju lama.
Padahal ia sudah naik pangkat, tetapi baju yang dikenakan merupakan baju
pangkat lama.
"Kita sudah hampir tiga bulan di sini. Dan kehidupan semacam ini sudah
terbiasa bagi kami. Maunya sih kita sudah ditarik lagi ke markas," kata
seorang aparat dari Brimob Kedunghalang, Bogor.
Bagi dia dan teman-temannya, demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan memang
telah menyita energi dan konsentrasi. Mereka harus terpusat pada setiap
demonstrasi dan meninggalkan kenikmatan-kenikmatan yang mestinya mereka
alami.
Kerinduan terhadap anak, istri, dan keluarga harus ditahan. Mereka hanya
bisa mengungkapkan lewat surat atau telepon interlokal.
Di atas pukul 21.00 WIB, wartel di dalam Gedung MPR selalu dipenuhi
prajurit. Mereka dengan sabar antre untuk sekadar memberi tahu keluarganya
bahwa mereka dalam keadaan sehat wal'afiat.
Sebagian dari mereka memang masih muda-muda. Umur mereka dengan umur para
mahasiswa yang berdemonstrasi hampir sama. Cuma jalan hidup yang mereka
tempuh berbeda jauh.
Makian yang mereka terima memang kadang mengusik hati sanubarinya. Tidak
menutup kemungkinan untuk bersikap emosi. "Kadang emosi itu ada. Kondisi
fisik kami juga tidak stabil. Namanya juga manusia. Apa kalau prajurit itu
harus tetap tegar dan siaga. Pasti ada rasa lelah seperti lainnya."
Cacian dan hujatan merupakan bagian dari risiko yang mesti mereka hadapi.
Mereka memang bertugas demi negara. Mereka tetap setia kepada komandan dan
tetap menuruti apa yang diperintahkan atasan.
Apalagi selama ini Polri dan TNI AD yang menjadi bahan hujatan dari
mahasiswa tidak membuat mereka sakit hati. Sesama teman saling memberikan
dukungan moril. "Kita ini sama-sama abdi negara. Kita harus bersatu.
Sama-sama tidak ada yang sempurna," kata petugas dari kesatuan Armed ini
sambil berkaca-kaca menahan rasa sedih. (Sundari/P-3)
an
----------------------------------------------------------------------------
----
Hak cipta � 1997-1998 Media Indonesia
____________________________________________________
"Spread the word - Free Email and Homepages!"
http://www.Pconnections.net
Email - [EMAIL PROTECTED]
Homepage - http://ppage.net/?wach
PCard - http://pcard.net/?wach
Himbauan: Hormati pahlawan REFORMASI, Pasang bendera setengah tiang !
---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com
Himbauan: Hormati pahlawan REFORMASI, Pasang bendera setengah tiang !
---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com