Mungkin menarik untuk dicermati semangat bahkan kata demi kata, atau kalimat demi kalimat. Sudah ada yang komentar: pidato ini, sebetulnya bisa disingkat dengan dua kata: omong dan kosong, alias omongkosong! >From: [EMAIL PROTECTED] >Subject: [Pnet] Pidato pertanggungjawaban Pak Harto tgl. 1 Maret 1998 > > Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air; > > Kita harus memulihkan keadaan ekonomi dan moneter kita. > Kita harus membangkitkan lagi ketahanan ekonomi kita. Tugas > ini sangat berat. > > Tetapi kita tidak berkecil hati. Kita memiliki kekuatan, > pengalaman dan semangat. Kita telah membangun prasarana > maupun sumber daya manusia yang menjadi andalan kita untuk > kembali tegak berdiri dan melanjutkan pembangunan. > > Pelaksanaan Repelita VI masih tersisa satu tahun lagi. Tetapi, > banyak sasaran akhir Repelita VI yang telah kita lampaui. > Tentu saja, ada sasaran-sasaran yang belum dapat kita > wujudkan. > > Pada tahun-tahun terakhir Repelita V dan tahun pertama > Repelita VI, kita mencapai pertumbunan ekonomi yang > sedemikian tinggi sehingga dipandang perlu merevisi sasaran > laju pertumbuhan ekonomi menjadi rata-rata 7,1% per tahun. > Perkiraan jumlah investasi dan sumber-sumber pembiayaan > juga perlu disesuaikan. > > Pembangunan dalam Repelita VI tetap bertumpu pada Trilogi > Pembangunan. Ini berarti kita harus setepat-tepatnya > memadukan stabilitas, pertumbuhan, dan pemerataan. > > Stabilitas ekonomi diupayakan a.l. melalui pengendalian laju > inflasi dan defisit transaksi berjalan. Laju inflasi diperkirakan > akan membaik dari 8,6% turun menjadi 5% pada akhir > Repelita VI. Defisit transaksi berjalan akan berada pada > tingkat 1,9% pada akhir Repelita VI dibandingkan 1,8% pada > akhir Repelita V. Sedangkan salah satu sasaran pemerataan > yang penting adalah mengurangi jumlah penduduk miskin > menjadi sekitar 6% dari seluruh penduduk. > > Demikianlah, Saudara Ketua yang terhormat, sampai dengan > tahun ketiga Repelita VI, perekonomian nasional kita > memperlihatkan perkembangan yang mantap sesuai yang > diharapkan. Laju pertumbuhan ekonomi selama periode > 1993-1996 berturut-turut adalah 7,3%, 7,5%, 8,2%, dan 8%. > > Tetapi pada paruh kedua 1997, gejolak moneter tiba-tiba > datang menerjang. Pertumbuhan ekonomi kita pun melambat. > Angka sementara pertumbuhan ekonomi 1997 hanya 4,7%. > Padahal selama empat tahun Repelita VI, pertumbuhan > ekonomi 7,1% per tahun, yang berarti sama dengan sasaran > tahunan Repelita VI yang telah direvisi. > > Perkembangan ekonomi tadi didukung oleh meningkatnya > penanaman modal langsung sebagai sumber penggerak yang > penting bagi pertumbuhan ekonomi. Dibandingkan dengan > seluruh nilai persetujuan selama Repelita V, maka nilai > persetujuan PMDN selama empat tahun Repelita VI naik satu > setengah kali dan PMA naik tiga kali lipat. > > Laju pertumbuhan penduduk berhasil terus ditekan, sehingga > mencapai 1,54% dalam tahun 1997. Angka ini mendekati > sasaran akhir Repelita VI sebesar 1,51%. > > Dengan laju pertumbuhan ekonomi dan laju pertumbuhan > penduduk tadi, maka pendapatan per kapita Indonesia > meningkat. Dalam rupiah, nilainya meningkat dari Rp 2,7 juta > pada 1996 menjadi Rp 3,1 juta pada 1997. Dengan demikian, > realisasi pendapatan per kapita dalam nilai rupiah tahun lalu > telah melampaui sasaran pendapatan per kapita tahun keempat > Repelita VI sebesar Rp 3 juta per kapita. Dalam dolar AS, > pendapatan per kapita pada 1993 adalah US$842, kemudian > naik mencapai US$1.155 pada 1996, yang berarti melampaui > sasaran sebesar US$1.118. Dengan merosotnya nilai rupiah, > pendapatan per kapita 1997 turun lagi menjadi US$1.089. > > Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi sampai dengan tahun > ketiga Repelita VI diikuti pula dengan kestabilan internal yang > terkendali. Laju inflasi pada periode itu masing-masing adalah > 8,6%, 8,9% dan 5,2%, mendekati sasaran akhir Repelita VI > sebesar 5%. > > Seperti saya jelaskan, sejak pertengahan 1997 terjadi > kenaikan harga kebutuhan pokok. Gejala ini mulai terasa pada > September tahun lalu, dengan laju inflasi besar 1,3%. Inflasi > terus tinggi hingga pada Januari 1998 mencapai 6,9%. Laju > inflasi selama 1997 menjadi 11,1%, dan dalam 10 bulan > pertama tahun anggaran 1997/98 mencapai 16%. Laju > kenaikan harga ini juga dipicu oleh kekeringan yang panjang > yang menyebabkan turunnya produksi pertanian dan terjadinya > kenaikan harga-harga kelompok makanan. > > Di sisi kestabilan eksternal, pertumbuhan ekspor sejak tahun > 1993/94 secara umum lebih lambat dari pertumbuhan impor. > Laju ekspor yang tidak terlalu cepat ini disebabkan oleh > bertambah ketatnya persaingan, terutama untuk > produk-produk industri padat karya yang telah mulai banyak > dihasilkan oleh negara-negara pengekspor baru, dan juga > karena meningkatnya permintaan dalam negeri. Di lain pihak, > kegiatan ekonomi yang terus meningkat-termasuk > investasi-telah mendorong laju pertumbuhan impor. > > Akibat kecenderungan tadi adalah terus meningkatnya defisit > transaksi berjalan yaitu dari US$2,9 miliar pada 1993/94 atau > 2,1% dari PDB menjadi US$8,1 miliar pada 1996/97 atau > 3,5% dari PDB. Namun, depresiasi rupiah yang besar pada > pertengahan 1997/98 menyebabkan melambatnya impor. > Bersamaan dengan itu, ekspor terdorong meningkat, terutama > produk-produk yang komponen impornya kecil. > > Sebagai hasilnya, maka defisit transaksi berjalan membaik, > hampir separuh dari tahun sebelumnya, yaitu menjadi US$4,3 > miliar atau 2,2% terhadap PDB. Angka ini makin mendekati > sasaran pada tahun terakhir Repelita VI, yaitu sebesar 1,9% > terhadap PDB. > > Sementara itu, stok utang Indonesia yang secara keseluruhan > US$83,3 miliar pada akhir Maret 1994, meningkat menjadi > US$101,3 miliar pada awal Maret 1995, dan meningkat lagi > menjadi US$136,1 miliar pada akhir Desember 1997. > > Utang pemerintah menurun dari US$55 miliar pada akhir > Maret 1994 menjadi US$54,1 miliar pada akhir Desember > 1997, atau menurun dari 66,1% menjadi 39,8% dari > keseluruhan utang. Sebaliknya, utang dunia usaha swasta > meningkat dari US$28,3 miliar menjadi US$82 miliar, atau > meningkat dari 33,9% menjadi 60,2% dari seluruh utang. > > Selanjutnya, Debt Service Ratio (DSR) sektor swasta > meningkat dari 12,8% pada 1993/94 menjadi 27,4% pada > 1997/98. Sebaliknya DSR sektor pemerintah menurun dari > 19,1% pada 1993/94 menjadi 11,8% pada 1997/98. Secara > keseluruhan, DSR swasta dan pemerintah meningkat dari > 31,9% pada 1993/94 menjadi 39,2% pada 1997/98. Dengan > meningkatnya ke-wajiban pelunasan pinjaman swasta pada > tahun-tahun terakhir Repelita VI, maka sukar mencapai > sasaran DSR keseluruhan sebesar 24% pada akhir Repelita > VI. > > Beban pembayaran kembali utang luar negeri kita memang > berat. Tetapi, pemerintah mempunyai dana dan devisa yang > cukup untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya. Kita > memang sedang mengalami kesulitan ekonomi yang berat. > Tetapi, kita percaya bahwa dengan bekerja keras dan > melaksanakan program-program yang telah kita susun, kita > pasti berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan itu. > > Saya perlu menegaskan kembali bahwa Pemerintah Indonesia > akan tetap memenuhi seluruh kewajiban pembayaran kembali > pokok dan bunga hutang luar negerinya secara tepat waktu. > > Sidang Majelis yang terhormat; > > Indikator ekonomi makro yang saya kemukakan tadi memang > penting untuk mengukur apakah kita mencapai kemajuan atau > kemunduran dalam melaksanakan pembangunan. Tetapi yang > tidak kalah penting adalah apakah tingkat kesejahteraan > masyarakat kita bertamban baik ataukah malah merosot. > > Salah satu ukuran penting mengenai keadaan kesejahteraan > rakyat adalah jumlah penduduk miskin. Gambaran keadaan > masyarakat kita dewasa ini adalah seperti berikut. Pada 1970, > di antara kita terdapat 70 juta orang yang hidup miskin, atau > sekitar 60% dari seluruh penduduk tergolong miskin. Jumlah > penduduk miskin itu berkurang menjadi 27,2 juta orang atau > 15,1% pada 1990. Kemudian, menurun lagi menjadi 25,9 juta > orang atau 13,7% pada 1993. > > Sejak awal Repelita VI dikembangkan upaya tambahan yang > khusus tertuju hanya bagi kelompok penduduk miskin. > Program penanggulangan kemiskinan ini yang paling utama > adalah Inpres Desa Tertinggal. Hasilnya cukup > menggembirakan. Pada 1996, jumlah penduduk miskin turun > menjadi 22,5 juta orang atau sekitar 11,3%. Ini berarti bahwa > selama tiga tahun terjadi penurunan jumlah penduduk miskin > sebanyak 3,4 juta orang atau penurunan sebesar 2,3%. > > Program penanggulangan kemiskinan merupakan bagian dari > gerakan nasional penanggulangan kemiskinan untuk membantu > yang lemah dengan semangat kebersamaan, kepedulian, dan > kesetiakawanan. Dalam rangka itu, program ini diperluas > dengan program Takesra/Kukesra, yang menghimpun dana > dari anggota masyarakat lebih mampu. > > Dalam waktu satu setengah tahun saja, hampir seluruh 10,7 > juta keluarga Pra-Sejahtera dan Sejahtera I berhasil didorong > untuk menabung. Sementara itu, sebanyak 10,5 juta keluarga > mendapatkan kredit untuk usaha (Kukesra). Kelompok usaha > bersama (Kube) yang dibentuk melalui Program > Kesejahteraan Sosial juga telah mengembangkan usaha, > me-ningkatkan pendapatan, dan mempertinggi kesetiakawanan > sosial. > > Pengembangan usaha bagi kelompok-kelompok penduduk > miskin di desa tertinggal tambah terdorong karena telah > terbuka pasar lokal melalui Program Makanan Tambahan > Anak Sekolah (PMTAS) yang menyerap hasil produksi > Pokmas. Desa-desa tertinggal yang terisolasi juga mulai > membuka hubungan dengan ma-syarakat yang lebih luas > dengan adanya pembangunan prasarana desa tertinggal. > Pembangunan prasarana perdesaan ini sekaligus menciptakan > lapangan kerja dan alih teknologi bagi masyarakat desa > tertinggal. > > Erat kaitannya dengan upaya meningkatkan kesejahteraan dan > menanggulangi kemiskinan adalah penciptaan lapangan kerja. > Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi > selama 1993-1996, maka pertambahan angkatan kerja dapat > diikuti perluasan kesempatan kerja. Angkatan kerja meningkat > dari 81 juta orang pada 1993 menjadi 88,2 juta orang pada > 1996, atau bertambah 7,2 juta orang. Pada waktu yang sama, > jumlah pekerja meningkat dari 77 juta orang menjadi 83,9 juta > orang, atau bertambah 6,9 juta orang. > > Yang sangat membesarkan hati adalah meningkatnya > kemampuan tenaga kerja kita, yang berpengaruh pula pada > meningkatnya produktivitas. Sementara itu kesejahteraan > tenaga kerja diperbaiki dengan ditetapkannya upah minimum > regional (UMR). Pada 1997, UMR telah mencapai 95,3% > dari nilai kebutuhan fisik mini-mum (KFM). Perbaikan > kesejahteraan pekerja juga ditempuh melalui penerapan sistem > jaminan sosial tenaga kerja (Jam-sostek). > > Ukuran perbaikan kesejahteraan ma-syarakat lainnya adalah > ketersediaan energi dan protein, yang pada 1996 mencapai > 3.208 kilokalori dan 73,1 gram protein. Ini berarti tingkat > kecukupan yang dianjurkan dalam Repelita VI telah kita > lewati, yaitu 2.500 kilokalori dan 55 gram protein per kapita > per hari. Dewasa ini, konsumsi energi makin mendekati angka > yang dianjurkan dalam Repelita VI, se-dangkan konsumsi > protein bahkan telah melampauinya. Kondisi gizi masyarakat > juga terus meningkat. > > Masyarakat kita yang bertambah sehat tampak dari berbagai > kenyataan berikut. Angka kematian bayi menurun dari 58 per > seribu kelahiran hidup pada 1993 menjadi 52 per seribu pada > 1997. Angka ini mendekati sasaran akhir Repelita VI, yaitu 50 > per seribu kelahiran hidup. > > Selanjutnya, angka kematian ibu melahirkan menurun dari 425 > per 100.000 kelahiran hidup pada 1993 menjadi 390 per > 100.000 pada 1994. Angka kematian kasar menurun dari 7,9 > per seribu penduduk pada 1993 menjadi 7,5 per seribu > penduduk pada 1997, yang berarti telah mencapai sasaran > akhir Repelita VI. Sejalan dengan itu, angka harapan hidup > meningkat dari 62,7 tahun pada 1993 menjadi 64,2 tahun > pada 1997, mendekati sasaran akhir Repelita VI yaitu 64,6 > tahun. > > Untuk terus meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, telah > dilaksanakan penyuluhan gizi masyarakat perdesaan di seluruh > Posyandu yang kini berjumlah sekitar 257.000 unit. > > Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat > secara lebih meluas dan merata, maka sejak PJP I telah > dibangun jaringan Puskesmas dan rumah sakit. Pada 1997/98 > kita memiliki 7.106 Puskesmas dan 1.890 rumah sakit yang > tersebar merata di seluruh Tanah Air. Peningkatan sarana > pelayanan kesehatan tadi didukung oleh tenaga kesehatan > dalam jumlah yang terus bertambah banyak dan penyebaran > yang makin merata, terdiri dari belasan ribu dokter serta > 62.000 bidan desa dan tenaga paramedis lainnya. > > Pembangunan kesehatan dan kesejahteraan keluarga tidak > dapat lepas dari pelayanan Keluarga Berencana. Hingga > 1997/98, jumlah peserta KB aktif mencapai sekitar 26,8 juta > pasangan usia subur. Jumlah ini melebihi sasaran dalam > Repelita VI yaitu 26,2 juta pasangan. Itulah sebabnya, kita > berhasil mengendalikan pertumbuhan penduduk. > > Perbaikan kesejahteraan rakyat jelas harus disertai penyediaan > perumahan. Pembangunan rumah sederhana dan rumah sangat > sederhana mencapai lebih dari 550.000 buah, yang berarti > melampaui sasaran Repelita VI [500.000 buah]. Di samping > itu terus bertambah banyak pembangunan drainase, > pengelolaan persampahan, pengelolaan air limbah serta > pengelolaan air bersih yang menjangkau ratusan kota. > Demikian pula, makin banyak jumlah desa yang memperoleh > pelayanan air bersih. Langkah-langkah itu berarti perbaikan > lingkungan hidup yang sangat penting. > > Kemajuan besar lainnya adalah di bidang pendidikan. > Memasuki PJP II, Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar > Enam Tahun ditingkatkan menjadi Program Wajib Belajar > Pendidikan Dasar Sembilan Tahun. Langkah ini sangat penting > untuk membangun landasan yang kukuh bagi pembangunan > sumber daya manusia yang berkualitas pada tahap > pembangunan berikutnya. > > Dalam Repelita VI, kesempatan memperoleh pendidikan > bertambah luas. Mutu pendidikan meningkat pada semua jalur, > jenis, dan jenjang pendidikan. Pendidikan makin jelas > kaitannya dengan dunia usaha dan kebutuhan lapangan kerja. > > Ringkasnya, kesejahteraan rakyat secara keseluruhan > bertambah baik. Hal ini bisa terwujud karena kita berhasil > mencapai banyak kemajuan dalam pembangunan di bidang > ekonomi lainnya. > > Pembangunan industri telah memperkukuh struktur ekonomi > nasional. Kaitannya dengan sektor lainnya bertambah erat > serta telah memperluas lapangan kerja dan kesempatan > berusaha. Perkembangan sektor industri ikut mendorong > berkembangnya kegiatan berbagai sektor pembangunan > lainnya. > > Dalam Repelita VI, berkembang industri penghasil > barang-barang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan > kehidupan rakyat, industri berorientasi ekspor, industri > pengguna sumber daya nasional, industri yang memiliki nilai > strategis serta berdampak pada pengembangan industri > lainnya, dan industri yang dapat mengembangkan kegiatan > ekonomi di luar Jawa. > > Berdasarkan harga konstan 1993, industri pengolahan selama > empat tahun pelaksanaan Repelita VI tumbuh rata-rata > se-kitar 10,3% per tahun, sedangkan industri pengolahan > non-Migas tumbuh sekitar 11,4% per tahun. Laju > pertumbuhan itu melampaui sasaran pertumbuhan rata-rata per > tahun yang ditetapkan dalam Repelita VI, yakni 10,2% untuk > industri pengolahan dan 11,3% untuk industri pengolahan > non-Migas. > > Proses industrialisasi telah menghasilkan perubahan pada > struktur ekonomi nasional, dari titik berat pada pertanian ke > industri. Pada 1993, peranan sektor industri dalam Produk > Domestik Bruto (PDB) sebesar 22,5%. Pada 1996, peranan > sektor itu meningkat menjadi 25,5%. Angka ini mendekati > sasaran yang ditetapkan dalam Repelita VI, yaitu 25,9%. > > Hingga 1996, sektor industri menyerap 2,3 juta tenaga kerja. > Industri kecil menyerap paling banyak tenaga kerja. Industri > kita menghasilkan produk yang makin banyak jumlahnya, > makin beragam jenisnya, dan makin tinggi mutunya. > > Ekspor hasil industri pengolahan non-Migas cenderung > meningkat. Pada 1993, nilai ekspor bidang industri itu > US$23,3 miliar. Pada 1997, angka itu diperkirakan mencapai > lebih dari US$34 miliar. Pada 1997 itu pula, peranan ekspor > industri pengolahan non-Migas terhadap keseluruhan ekspor > nasional mencapai sekitar 65%. > > Pertumbuhan ekspor hasil industri terutama berasal dari > kenaikan cukup tinggi pada komoditas unggulan seperti tekstil, > kayu olahan, produk kulit dan sepatu serta alas kaki, besi > baja, permesinan dan otomotif, elektronika, produk karet > olahan, produk kimia dasar, emas, perak dan logam > mulia/perhiasan lainnya. > > Industri kecil makin besar peranannya dalam perluasan > kesempatan berusaha dan kesempatan kerja, pengembangan > ekonomi perdesaan, penanggulangan kemiskinan, bahkan juga > pada ekspor. Selama 1993-1996, ekspor industri kecil > meningkat rata-rata 4,4%. Pada 1996 nilai ekspornya > mencapai US$2,5 miliar. > > Meskipun peranan sektor industri makin penting, tidak berarti > sektor pertanian tidak penting. Sebaliknya, pembangunan > nasional tetap akan bertumpu pada pertanian. Yang perlu > dilakukan adalah meningkatkan produktivitas dan nilai > tambahnya. > > Produksi pertanian telah meningkat dan nilai tambah > komoditas pertanian juga bertambah besar. Antara 1993 dan > 1996, PDB sektor pertanian tumbuh rata-rata 2,9% per tahun. > Pertumbuhan ini masih di bawan sasaran pertumbuhan Repelita > VI sebesar 3,3%. Namun dalam tahun-tahun itu, pertumbuhan > perikanan 5,1%, perkebunan 4,7%, peternakan 4%, dan > tanaman pangan mencapai 1,6% per tahun. > > Pertumbuhan perikanan mendekati sasaran Repelita VI > sebesar 5,2%. Pertumbuhan perkebunan melampaui sasaran > Repelita VI sebesar 4,2%. Pertumbuhan tanaman pangan di > bawah sasaran Repelita VI sebesar 2.5%, karena musim > kemarau berkepanjangan pada 1994 dan terjadi lagi pada > 1997. Perkembangan itu menunjukkan bahwa perikanan dan > perkebunan menjadi sumber pertumbuhan baru dalam sektor > pertanian. > > Selama Repelita VI, jumlah tenaga kerja yang diserap sektor > pertanian cenderung turun. Pada 1993, sektor pertanian > menyerap sekitar 40,1 juta orang atau 50,6% dari jumlah > tenaga kerja. Pada 1996, jumlah itu turun menjadi 37,7 juta > orang atau 44% dari seluruh tenaga kerja. Namun dalam > waktu bersamaan, produktivitas tenaga kerja sektor pertanian > meningkat dari Rp 1,5 juta per orang pada 1993 menjadi Rp > 1,7 juta per orang pada 1996 atau naik rata-rata 4,9% per > tahun. Peningkatan produktivitas tenaga kerja pertanian ini > melampaui sasaran Repelita VI sebesar 2,4%. > > Menurunnya jumlah tenaga kerja di sektor pertanian dan > meningkatnya produk-tivitas tenaga kerja di sektor pertanian, > yang disertai dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja di > sektor industri dan jasa, menunjukkan terjadinya proses > perubahan struktur perekonomian nasional. Perubahan struktur > itu baik dan benar arahnya. > > Pertumbuhan sektor pertanian tidak terlepas dari > pembangunan prasarana pengairan. Pembangunan pengairan > telah meningkatkan luas areal sawah beririgasi dari 5,5 juta > hektar pada akhir Repelita V menjadi 5,9 juta hektar pada > tahun ke-empat Repelita VI. Sasaran akhir Repelita VI seluas > 6.3 juta hektar. > > Untuk mempertahankan swasembada pangan, telah dibangun > jaringan irigasi baru dan pencetakan sawah yang seluruhnya > seluas 161.000 ha, berada di luar Pulau Jawa. Untuk > mengatasi dampak keke-ringan sekaligus menunjang > peningkatan pendapatan penduduk di perdesaan, telah > dilaksanakan rehabilitasi jaringan irigasi perdesaan yang selama > Repelita VI mencapai 1,4 juta ha. Selain itu, diperluas pula > pembangunan jaringan rawa serta pengembangan lahan > gambut sebagai lahan produksi baru di Kalimantan Tengah. > > Kemajuan pembangunan pengairan dan irigasi erat kaitannya > dengan kegiatan di bidang kehutanan, terutama dalam > penyediaan sumber daya air secara lestari serta terkendalinya > erosi dan sedimentasi. Sampai dengan tahun keempat Repelita > VI, telah direhabilitasi hutan-hutan yang rusak dan lahan hutan > kritis seluas 2,6 juta ha. Pembangunan hutan tanaman industri > (HTI) meliputi lahan seluas 1,2 juta ha atau sekitar 94% dari > sasaran akhir Repelita VI. Pembangunan hutan rakyat > mencapai luas 474.400 ha, melebihi sasaran akhir Repelita VI > seluas 250.000 ha. > > Selanjutnya. saudara Ketua yang terhormat, pembangunan > transportasi darat diperkirakan mencapai sasaran Repelita VI. > Sebagian besar pembangunan transportasi darat ini adalah > program pembangunan prasarana jalan. > > Angkutan sungai, danau, dan penyeberangan bertambah baik > dengan bertambahnya jumlah dermaga dan kapal > penyeberangan. Angkutan sungai dan danau penting sekali > sebagai alat transportasi di daerah pedalaman dan daerah > terpencil. Kemajuan-kemajuan berarti juga tercapai dalam > pembangunan transportasi laut dan udara. > > Sementara itu, sektor pertambangan tumbuh rata-rata 6% per > tahun selama empat tahun Repelita VI. Pertumbuhan ini > melampaui sasaran pertumbuhan Repelita VI, yaitu rata-rata > 4% per tahun. Peningkatan menonjol adalah produksi > batubara, baik untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri > maupun untuk ekspor, yang meningkat dari 28,6 juta ton pada > akhir Repelita V menjadi 54 juta ton pada 1997/98. > > Peningkatan ini mengangkat Indonesia sebagai produsen > batubara terbesar ketiga di kawasan Asia Pasifik dan > pengekspor terbesar ketiga di dunia. Ekspor batubara pada > tahun keempat Repelita VI yang berjumlah 39,3 juta ton telah > melampaui sasaran akhir Repelita VI, sebesar 39,1 juta ton. > Produksi dan ekspor bahan tambang lain pada umumnya juga > menunjukkan peningkatan, meskipun harga di pasar > internasional tidak selalu menggembirakan. > > Produksi minyak dan gas bumi dapat dipertahankan sesuai > sasaran Repelita VI. Selain karena penemuan lapangan baru, > hal itu juga berkat pemanfaatan teknologi maju seperti > enhanced oil recovery. > > Dalam Repelita VI, kita mengupayakan penurunan pangsa > minyak bumi dalam penyediaan energi dan meningkatnya > pangsa energi non-minyak bumi. Sasaran pangsa minyak bumi > dalam penyediaan energi primer pada 1997/98 adalah 53,2%. > Sasaran ini telah tercapai, karena pada tahun itu pangsa > minyak bumi telah turun menjadi 53,1%. > > Pembangunan tenaga listrik diperkirakan dapat memenuhi > keperluan pertumbuhan ekonomi. Keperluan listrik untuk > daerah perdesaan ditunjang oleh penggunaan tenaga > mikrohidro dan energi surya. > > Sidang Majelis yang terhormat, > > Salah satu sektor unggulan dalam perekonomian nasional > adalah pariwisata. Kemajuan kepariwisataan tampak dari > meningkatnya jumlah penerimaan devisa dan dari jumlah > kunjungan wisatawan luar negeri. Selanjutnya, selama empat > tahun terakhir kegiatan kepariwisataan telah membuka hampir > 700.000 lapangan kerja. > > Kemajuan pesat juga tercapai dalam bidang Pos dan > Telekomunikasi, yang besar sumbangannya bagi kemajuan > pembangunan di sektor-sektor lain. > > Peningkatan pembangunan di segala bidang memerlukan > penguasaan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi > (iptek), terlebih lagi dalam memasuki era globalisasi dan > persaingan yang makin ketat. Pembangunan iptek memerlukan > biaya besar. Karena itu, pelaksanaannya kita sesuaikan > dengan kemampuan pembiayaan. Penguasaan iptek ini > mencapai kemajuan sangat besar, dibuktikan oleh kemampuan > putera-puteri Indonesia merancang dan membuat sendiri > pesawat terbang canggih dalam kelasnya, yaitu N-250. > > Sidang Majelis yang terhormat, > > Pemerataan merupakan segi penting dari pembangunan kita > yang harus kita wujudkan. Karena itu, kebijakan dan > dorongan pembangunan perlu sekali memperhatikan laju > pertumbuhan ekonomi regional. Selama tiga tahun pertama > Repelita VI, rata-rata kinerja pembangunan daerah untuk > semua provinsi telah mencapai sasaran Repelita VI. > > Beberapa provinsi di Kawasan Timur Indonesia ternyata > tumbuh lebih tinggi dibanding dengan yang di Kawasan Barat > Indonesia. Selain itu, penurunan angka kemiskinan di KTI > ternyata juga lebih besar dibanding di KBI. > > Dalam pada itu, program transmigrasi dalam Repelita VI > memberikan sumbangan penting terhadap penyebaran > penduduk, pengentasan kemiskinan, peningkatan pemerataan > pembangunan antardaerah, serta pengintegrasian masyarakat. > > Untuk mewujudkan pemerataan, lebih-lebih untuk > melaksanakan amanat Pasal 33 UUD 1945, maka peran > koperasi bertambah penting sebagai badan usaha dan wadah > ekonomi rakyat. Bidang usahanya meluas di berbagai sektor > produksi dan jasa, terutama dalam bidang usaha simpan > pinjam. Di wilayah perdesaan, koperasi berkembang menjadi > lembaga ekonomi utama masyarakat. > > Sampai tahun keempat Repelita VI, terbentuk lebih dari > 52.000 unit koperasi dengan nilai usaha Rp 13,6 triliun dan > jumlah anggota lebih dari 28 juta orang. Di antaranya, lebih > dari 12.000 koperasi telah berkembang menjadi koperasi > mandiri. Sekitar 4.700 koperasi-termasuk sejumlah koperasi > simpan pinjam-telah berkembang menjadi usaha berskala > menengah dan besar, dengan nilai usaha lebih dari Rp 1 miliar > setiap tahun. > > Pembangunan tidak mungkin membawa kemajuan, bila tidak > didukung kemampuan aparatur negara yang memadai. Dengan > segala kekurangannya, kemampuan aparatur negara kita jelas > meningkat dalam bidang perencanaan, pelaksanaan, dan > pengawasan tugas-tugas pemerintahan umum maupun > tugas-tugas pembangunan. > > Sidang Majelis yang saya hormati; > > Demikianlah secara menyeluruh pelaksanaan tugas Presiden > selama lima tahun lalu, yang telah dipercayakan oleh Majelis > kepada saya. Di dalamnya termasuk pelaksanaan > pembangunan yang diamanatkan oleh GBHN 1993. Laporan > pertanggungjawaban yang lengkap dan rinci mengenai > pelaksanaan pembangunan itu termuat dalam buku tebal, yang > menjadi lampiran dari laporan pertanggungjawaban ini. > > Sampai pertengahan tahun lalu, semuanya berjalan lancar. > Pembangunan kita berjalan mulus. Ada sejumlah sasaran > Repelita VI yang tercapai. Malahan ada pula yang berhasil kita > lampaui. > > Sejak pertenganan kedua tahun lalu, gelombang gejolak > moneter datang menghantam. Seakan-akan semua yang kita > bangun dengan susah payah, kadang-kadang dengan > kepedihan dan pengorbanan, tiba-tiba saja tergoyang-goyang. > Kita bukannya tidak tahu akan kemungkinan yang ternyata > datang itu. > > Di waktu-waktu yang lalu, saya beberapa kali mengatakan > bahwa mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, kita > pasti merasakan pengaruh menjadi satunya perekonomian > dunia. Pengaruh itu datang lebih cepat dari yang kita > perkirakan. Akibat-akibat buruknya jauh lebih besar dari yang > dapat kita bayangkan. > > Ternyata, ketahanan ekonomi kita tidak cukup kuat > menghadapi pukulan dari luar. Lagi pula, di samping pengaruh > dari luar, sebagian dari kesulitan yang kita derita hari ini >adalah > juga karena kelemahan dalam tubuh kita sendiri. > > Kita tidak perlu mencari kambing hitam. Juga tidak ada > gunanya mencari kambing hitam. Jauh lebih berguna kita > mawas diri. Kita mencari hikmah dari musibah ini. > > Dengan penuh kesadaran kita harus berani melihat kelemahan > dan kekurangan kita sendiri. Dari kelemahan itu kita cari > kekuatan. > > Jika kita berhasil keluar dari kesulitan ini, maka tubuh kita > sebagai bangsa akan lebih kuat. Sebab, kelemahan-kelemahan > yang ada selama ini akan terkikis. > > Kita harus bersedia melakukan apa saja yang harus kita > lakukan untuk membebaskan bangsa kita dari krisis ini. > Dengan penuh kesadaran kita harus mengutamakan > kepentingan nasional dan kepentingan bersama di atas > kepentingan kita masing-masing. > > Dengan hati mantap seperti itu, bangsa kita pasti dapat > mengatasi semua ujian berat yang sedang kita hadapi. > Selanjutnya, kita dapat meneruskan pembangunan sebagai > pengamalan Pancasila. > > Sidang Majelis yang saya hormati; > > UUD menegaskan bahwa kedaulatan adalah di tangan rakyat, > dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Per-musyawaratan > Rakyat. Penjelasan UUD mengingatkan bahwa Presiden yang > diangkat oleh Maje]is, bertunduk dan bertanggung jawab > kepada Majelis. > > Saya telah mengakhiri laporan pertanggungjawaban saya > kepada Majelis. yang mengangkat saya selaku Presiden. > Sekarang, saya bertunduk kepada Majelis yang akan menilai > pertanggungjawaban saya. > > Izinkan saya mengakhiri kata-kata saya, dengan mengajak > segenap bangsa kita untuk bersama-sama memohon kepada > Tuhan Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Pemurah kiranya > memberi kekuatan lahir batin kepada kita semua dalam > menghadapi cobaan berat yang sedang kita hadapi ini. > > Terima kasih. > > Jakarta, 1 Maret 1998 > > Presiden Republik Indonesia > > Soeharto > > > >_____________________________________________ >Get your free personalized email address at >http://www.MyOwnEmail.com [EMAIL PROTECTED] ICQ UIN 23276722 --------------------------------------------------------------------- To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com Indonesia without violence!
