Mungkin menarik untuk dicermati semangat bahkan kata demi kata, atau
kalimat demi kalimat.
Sudah ada yang komentar: pidato ini, sebetulnya bisa disingkat dengan dua
kata: omong dan kosong, alias omongkosong!


>From: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: [Pnet] Pidato pertanggungjawaban Pak Harto tgl. 1 Maret 1998
>   
>   Saudara-saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air; 
>
>   Kita harus memulihkan keadaan ekonomi dan moneter kita.
>   Kita harus membangkitkan lagi ketahanan ekonomi kita. Tugas
>   ini sangat berat. 
>
>   Tetapi kita tidak berkecil hati. Kita memiliki kekuatan,
>   pengalaman dan semangat. Kita telah membangun prasarana
>   maupun sumber daya manusia yang menjadi andalan kita untuk
>   kembali tegak berdiri dan melanjutkan pembangunan. 
>
>   Pelaksanaan Repelita VI masih tersisa satu tahun lagi. Tetapi,
>   banyak sasaran akhir Repelita VI yang telah kita lampaui.
>   Tentu saja, ada sasaran-sasaran yang belum dapat kita
>   wujudkan. 
>
>   Pada tahun-tahun terakhir Repelita V dan tahun pertama
>   Repelita VI, kita mencapai pertumbunan ekonomi yang
>   sedemikian tinggi sehingga dipandang perlu merevisi sasaran
>   laju pertumbuhan ekonomi menjadi rata-rata 7,1% per tahun.
>   Perkiraan jumlah investasi dan sumber-sumber pembiayaan
>   juga perlu disesuaikan. 
>
>   Pembangunan dalam Repelita VI tetap bertumpu pada Trilogi
>   Pembangunan. Ini berarti kita harus setepat-tepatnya
>   memadukan stabilitas, pertumbuhan, dan pemerataan. 
>
>   Stabilitas ekonomi diupayakan a.l. melalui pengendalian laju
>   inflasi dan defisit transaksi berjalan. Laju inflasi diperkirakan
>   akan membaik dari 8,6% turun menjadi 5% pada akhir
>   Repelita VI. Defisit transaksi berjalan akan berada pada
>   tingkat 1,9% pada akhir Repelita VI dibandingkan 1,8% pada
>   akhir Repelita V. Sedangkan salah satu sasaran pemerataan
>   yang penting adalah mengurangi jumlah penduduk miskin
>   menjadi sekitar 6% dari seluruh penduduk. 
>
>   Demikianlah, Saudara Ketua yang terhormat, sampai dengan
>   tahun ketiga Repelita VI, perekonomian nasional kita
>   memperlihatkan perkembangan yang mantap sesuai yang
>   diharapkan. Laju pertumbuhan ekonomi selama periode
>   1993-1996 berturut-turut adalah 7,3%, 7,5%, 8,2%, dan 8%.
>
>   Tetapi pada paruh kedua 1997, gejolak moneter tiba-tiba
>   datang menerjang. Pertumbuhan ekonomi kita pun melambat.
>   Angka sementara pertumbuhan ekonomi 1997 hanya 4,7%.
>   Padahal selama empat tahun Repelita VI, pertumbuhan
>   ekonomi 7,1% per tahun, yang berarti sama dengan sasaran
>   tahunan Repelita VI yang telah direvisi. 
>
>   Perkembangan ekonomi tadi didukung oleh meningkatnya
>   penanaman modal langsung sebagai sumber penggerak yang
>   penting bagi pertumbuhan ekonomi. Dibandingkan dengan
>   seluruh nilai persetujuan selama Repelita V, maka nilai
>   persetujuan PMDN selama empat tahun Repelita VI naik satu
>   setengah kali dan PMA naik tiga kali lipat. 
>
>   Laju pertumbuhan penduduk berhasil terus ditekan, sehingga
>   mencapai 1,54% dalam tahun 1997. Angka ini mendekati
>   sasaran akhir Repelita VI sebesar 1,51%. 
>
>   Dengan laju pertumbuhan ekonomi dan laju pertumbuhan
>   penduduk tadi, maka pendapatan per kapita Indonesia
>   meningkat. Dalam rupiah, nilainya meningkat dari Rp 2,7 juta
>   pada 1996 menjadi Rp 3,1 juta pada 1997. Dengan demikian,
>   realisasi pendapatan per kapita dalam nilai rupiah tahun lalu
>   telah melampaui sasaran pendapatan per kapita tahun keempat
>   Repelita VI sebesar Rp 3 juta per kapita. Dalam dolar AS,
>   pendapatan per kapita pada 1993 adalah US$842, kemudian
>   naik mencapai US$1.155 pada 1996, yang berarti melampaui
>   sasaran sebesar US$1.118. Dengan merosotnya nilai rupiah,
>   pendapatan per kapita 1997 turun lagi menjadi US$1.089. 
>
>   Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi sampai dengan tahun
>   ketiga Repelita VI diikuti pula dengan kestabilan internal yang
>   terkendali. Laju inflasi pada periode itu masing-masing adalah
>   8,6%, 8,9% dan 5,2%, mendekati sasaran akhir Repelita VI
>   sebesar 5%. 
>
>   Seperti saya jelaskan, sejak pertengahan 1997 terjadi
>   kenaikan harga kebutuhan pokok. Gejala ini mulai terasa pada
>   September tahun lalu, dengan laju inflasi besar 1,3%. Inflasi
>   terus tinggi hingga pada Januari 1998 mencapai 6,9%. Laju
>   inflasi selama 1997 menjadi 11,1%, dan dalam 10 bulan
>   pertama tahun anggaran 1997/98 mencapai 16%. Laju
>   kenaikan harga ini juga dipicu oleh kekeringan yang panjang
>   yang menyebabkan turunnya produksi pertanian dan terjadinya
>   kenaikan harga-harga kelompok makanan. 
>
>   Di sisi kestabilan eksternal, pertumbuhan ekspor sejak tahun
>   1993/94 secara umum lebih lambat dari pertumbuhan impor.
>   Laju ekspor yang tidak terlalu cepat ini disebabkan oleh
>   bertambah ketatnya persaingan, terutama untuk
>   produk-produk industri padat karya yang telah mulai banyak
>   dihasilkan oleh negara-negara pengekspor baru, dan juga
>   karena meningkatnya permintaan dalam negeri. Di lain pihak,
>   kegiatan ekonomi yang terus meningkat-termasuk
>   investasi-telah mendorong laju pertumbuhan impor. 
>
>   Akibat kecenderungan tadi adalah terus meningkatnya defisit
>   transaksi berjalan yaitu dari US$2,9 miliar pada 1993/94 atau
>   2,1% dari PDB menjadi US$8,1 miliar pada 1996/97 atau
>   3,5% dari PDB. Namun, depresiasi rupiah yang besar pada
>   pertengahan 1997/98 menyebabkan melambatnya impor.
>   Bersamaan dengan itu, ekspor terdorong meningkat, terutama
>   produk-produk yang komponen impornya kecil. 
>
>   Sebagai hasilnya, maka defisit transaksi berjalan membaik,
>   hampir separuh dari tahun sebelumnya, yaitu menjadi US$4,3
>   miliar atau 2,2% terhadap PDB. Angka ini makin mendekati
>   sasaran pada tahun terakhir Repelita VI, yaitu sebesar 1,9%
>   terhadap PDB. 
>
>   Sementara itu, stok utang Indonesia yang secara keseluruhan
>   US$83,3 miliar pada akhir Maret 1994, meningkat menjadi
>   US$101,3 miliar pada awal Maret 1995, dan meningkat lagi
>   menjadi US$136,1 miliar pada akhir Desember 1997. 
>
>   Utang pemerintah menurun dari US$55 miliar pada akhir
>   Maret 1994 menjadi US$54,1 miliar pada akhir Desember
>   1997, atau menurun dari 66,1% menjadi 39,8% dari
>   keseluruhan utang. Sebaliknya, utang dunia usaha swasta
>   meningkat dari US$28,3 miliar menjadi US$82 miliar, atau
>   meningkat dari 33,9% menjadi 60,2% dari seluruh utang. 
>
>   Selanjutnya, Debt Service Ratio (DSR) sektor swasta
>   meningkat dari 12,8% pada 1993/94 menjadi 27,4% pada
>   1997/98. Sebaliknya DSR sektor pemerintah menurun dari
>   19,1% pada 1993/94 menjadi 11,8% pada 1997/98. Secara
>   keseluruhan, DSR swasta dan pemerintah meningkat dari
>   31,9% pada 1993/94 menjadi 39,2% pada 1997/98. Dengan
>   meningkatnya ke-wajiban pelunasan pinjaman swasta pada
>   tahun-tahun terakhir Repelita VI, maka sukar mencapai
>   sasaran DSR keseluruhan sebesar 24% pada akhir Repelita
>   VI. 
>
>   Beban pembayaran kembali utang luar negeri kita memang
>   berat. Tetapi, pemerintah mempunyai dana dan devisa yang
>   cukup untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya. Kita
>   memang sedang mengalami kesulitan ekonomi yang berat.
>   Tetapi, kita percaya bahwa dengan bekerja keras dan
>   melaksanakan program-program yang telah kita susun, kita
>   pasti berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan itu. 
>
>   Saya perlu menegaskan kembali bahwa Pemerintah Indonesia
>   akan tetap memenuhi seluruh kewajiban pembayaran kembali
>   pokok dan bunga hutang luar negerinya secara tepat waktu. 
>
>   Sidang Majelis yang terhormat; 
>
>   Indikator ekonomi makro yang saya kemukakan tadi memang
>   penting untuk mengukur apakah kita mencapai kemajuan atau
>   kemunduran dalam melaksanakan pembangunan. Tetapi yang
>   tidak kalah penting adalah apakah tingkat kesejahteraan
>   masyarakat kita bertamban baik ataukah malah merosot. 
>
>   Salah satu ukuran penting mengenai keadaan kesejahteraan
>   rakyat adalah jumlah penduduk miskin. Gambaran keadaan
>   masyarakat kita dewasa ini adalah seperti berikut. Pada 1970,
>   di antara kita terdapat 70 juta orang yang hidup miskin, atau
>   sekitar 60% dari seluruh penduduk tergolong miskin. Jumlah
>   penduduk miskin itu berkurang menjadi 27,2 juta orang atau
>   15,1% pada 1990. Kemudian, menurun lagi menjadi 25,9 juta
>   orang atau 13,7% pada 1993. 
>
>   Sejak awal Repelita VI dikembangkan upaya tambahan yang
>   khusus tertuju hanya bagi kelompok penduduk miskin.
>   Program penanggulangan kemiskinan ini yang paling utama
>   adalah Inpres Desa Tertinggal. Hasilnya cukup
>   menggembirakan. Pada 1996, jumlah penduduk miskin turun
>   menjadi 22,5 juta orang atau sekitar 11,3%. Ini berarti bahwa
>   selama tiga tahun terjadi penurunan jumlah penduduk miskin
>   sebanyak 3,4 juta orang atau penurunan sebesar 2,3%. 
>
>   Program penanggulangan kemiskinan merupakan bagian dari
>   gerakan nasional penanggulangan kemiskinan untuk membantu
>   yang lemah dengan semangat kebersamaan, kepedulian, dan
>   kesetiakawanan. Dalam rangka itu, program ini diperluas
>   dengan program Takesra/Kukesra, yang menghimpun dana
>   dari anggota masyarakat lebih mampu. 
>
>   Dalam waktu satu setengah tahun saja, hampir seluruh 10,7
>   juta keluarga Pra-Sejahtera dan Sejahtera I berhasil didorong
>   untuk menabung. Sementara itu, sebanyak 10,5 juta keluarga
>   mendapatkan kredit untuk usaha (Kukesra). Kelompok usaha
>   bersama (Kube) yang dibentuk melalui Program
>   Kesejahteraan Sosial juga telah mengembangkan usaha,
>   me-ningkatkan pendapatan, dan mempertinggi kesetiakawanan
>   sosial. 
>
>   Pengembangan usaha bagi kelompok-kelompok penduduk
>   miskin di desa tertinggal tambah terdorong karena telah
>   terbuka pasar lokal melalui Program Makanan Tambahan
>   Anak Sekolah (PMTAS) yang menyerap hasil produksi
>   Pokmas. Desa-desa tertinggal yang terisolasi juga mulai
>   membuka hubungan dengan ma-syarakat yang lebih luas
>   dengan adanya pembangunan prasarana desa tertinggal.
>   Pembangunan prasarana perdesaan ini sekaligus menciptakan
>   lapangan kerja dan alih teknologi bagi masyarakat desa
>   tertinggal. 
>
>   Erat kaitannya dengan upaya meningkatkan kesejahteraan dan
>   menanggulangi kemiskinan adalah penciptaan lapangan kerja.
>   Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi
>   selama 1993-1996, maka pertambahan angkatan kerja dapat
>   diikuti perluasan kesempatan kerja. Angkatan kerja meningkat
>   dari 81 juta orang pada 1993 menjadi 88,2 juta orang pada
>   1996, atau bertambah 7,2 juta orang. Pada waktu yang sama,
>   jumlah pekerja meningkat dari 77 juta orang menjadi 83,9 juta
>   orang, atau bertambah 6,9 juta orang. 
>
>   Yang sangat membesarkan hati adalah meningkatnya
>   kemampuan tenaga kerja kita, yang berpengaruh pula pada
>   meningkatnya produktivitas. Sementara itu kesejahteraan
>   tenaga kerja diperbaiki dengan ditetapkannya upah minimum
>   regional (UMR). Pada 1997, UMR telah mencapai 95,3%
>   dari nilai kebutuhan fisik mini-mum (KFM). Perbaikan
>   kesejahteraan pekerja juga ditempuh melalui penerapan sistem
>   jaminan sosial tenaga kerja (Jam-sostek). 
>
>   Ukuran perbaikan kesejahteraan ma-syarakat lainnya adalah
>   ketersediaan energi dan protein, yang pada 1996 mencapai
>   3.208 kilokalori dan 73,1 gram protein. Ini berarti tingkat
>   kecukupan yang dianjurkan dalam Repelita VI telah kita
>   lewati, yaitu 2.500 kilokalori dan 55 gram protein per kapita
>   per hari. Dewasa ini, konsumsi energi makin mendekati angka
>   yang dianjurkan dalam Repelita VI, se-dangkan konsumsi
>   protein bahkan telah melampauinya. Kondisi gizi masyarakat
>   juga terus meningkat. 
>
>   Masyarakat kita yang bertambah sehat tampak dari berbagai
>   kenyataan berikut. Angka kematian bayi menurun dari 58 per
>   seribu kelahiran hidup pada 1993 menjadi 52 per seribu pada
>   1997. Angka ini mendekati sasaran akhir Repelita VI, yaitu 50
>   per seribu kelahiran hidup. 
>
>   Selanjutnya, angka kematian ibu melahirkan menurun dari 425
>   per 100.000 kelahiran hidup pada 1993 menjadi 390 per
>   100.000 pada 1994. Angka kematian kasar menurun dari 7,9
>   per seribu penduduk pada 1993 menjadi 7,5 per seribu
>   penduduk pada 1997, yang berarti telah mencapai sasaran
>   akhir Repelita VI. Sejalan dengan itu, angka harapan hidup
>   meningkat dari 62,7 tahun pada 1993 menjadi 64,2 tahun
>   pada 1997, mendekati sasaran akhir Repelita VI yaitu 64,6
>   tahun. 
>
>   Untuk terus meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, telah
>   dilaksanakan penyuluhan gizi masyarakat perdesaan di seluruh
>   Posyandu yang kini berjumlah sekitar 257.000 unit. 
>
>   Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat
>   secara lebih meluas dan merata, maka sejak PJP I telah
>   dibangun jaringan Puskesmas dan rumah sakit. Pada 1997/98
>   kita memiliki 7.106 Puskesmas dan 1.890 rumah sakit yang
>   tersebar merata di seluruh Tanah Air. Peningkatan sarana
>   pelayanan kesehatan tadi didukung oleh tenaga kesehatan
>   dalam jumlah yang terus bertambah banyak dan penyebaran
>   yang makin merata, terdiri dari belasan ribu dokter serta
>   62.000 bidan desa dan tenaga paramedis lainnya. 
>
>   Pembangunan kesehatan dan kesejahteraan keluarga tidak
>   dapat lepas dari pelayanan Keluarga Berencana. Hingga
>   1997/98, jumlah peserta KB aktif mencapai sekitar 26,8 juta
>   pasangan usia subur. Jumlah ini melebihi sasaran dalam
>   Repelita VI yaitu 26,2 juta pasangan. Itulah sebabnya, kita
>   berhasil mengendalikan pertumbuhan penduduk. 
>
>   Perbaikan kesejahteraan rakyat jelas harus disertai penyediaan
>   perumahan. Pembangunan rumah sederhana dan rumah sangat
>   sederhana mencapai lebih dari 550.000 buah, yang berarti
>   melampaui sasaran Repelita VI [500.000 buah]. Di samping
>   itu terus bertambah banyak pembangunan drainase,
>   pengelolaan persampahan, pengelolaan air limbah serta
>   pengelolaan air bersih yang menjangkau ratusan kota.
>   Demikian pula, makin banyak jumlah desa yang memperoleh
>   pelayanan air bersih. Langkah-langkah itu berarti perbaikan
>   lingkungan hidup yang sangat penting. 
>
>   Kemajuan besar lainnya adalah di bidang pendidikan.
>   Memasuki PJP II, Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar
>   Enam Tahun ditingkatkan menjadi Program Wajib Belajar
>   Pendidikan Dasar Sembilan Tahun. Langkah ini sangat penting
>   untuk membangun landasan yang kukuh bagi pembangunan
>   sumber daya manusia yang berkualitas pada tahap
>   pembangunan berikutnya. 
>
>   Dalam Repelita VI, kesempatan memperoleh pendidikan
>   bertambah luas. Mutu pendidikan meningkat pada semua jalur,
>   jenis, dan jenjang pendidikan. Pendidikan makin jelas
>   kaitannya dengan dunia usaha dan kebutuhan lapangan kerja. 
>
>   Ringkasnya, kesejahteraan rakyat secara keseluruhan
>   bertambah baik. Hal ini bisa terwujud karena kita berhasil
>   mencapai banyak kemajuan dalam pembangunan di bidang
>   ekonomi lainnya. 
>
>   Pembangunan industri telah memperkukuh struktur ekonomi
>   nasional. Kaitannya dengan sektor lainnya bertambah erat
>   serta telah memperluas lapangan kerja dan kesempatan
>   berusaha. Perkembangan sektor industri ikut mendorong
>   berkembangnya kegiatan berbagai sektor pembangunan
>   lainnya. 
>
>   Dalam Repelita VI, berkembang industri penghasil
>   barang-barang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan
>   kehidupan rakyat, industri berorientasi ekspor, industri
>   pengguna sumber daya nasional, industri yang memiliki nilai
>   strategis serta berdampak pada pengembangan industri
>   lainnya, dan industri yang dapat mengembangkan kegiatan
>   ekonomi di luar Jawa. 
>
>   Berdasarkan harga konstan 1993, industri pengolahan selama
>   empat tahun pelaksanaan Repelita VI tumbuh rata-rata
>   se-kitar 10,3% per tahun, sedangkan industri pengolahan
>   non-Migas tumbuh sekitar 11,4% per tahun. Laju
>   pertumbuhan itu melampaui sasaran pertumbuhan rata-rata per
>   tahun yang ditetapkan dalam Repelita VI, yakni 10,2% untuk
>   industri pengolahan dan 11,3% untuk industri pengolahan
>   non-Migas. 
>
>   Proses industrialisasi telah menghasilkan perubahan pada
>   struktur ekonomi nasional, dari titik berat pada pertanian ke
>   industri. Pada 1993, peranan sektor industri dalam Produk
>   Domestik Bruto (PDB) sebesar 22,5%. Pada 1996, peranan
>   sektor itu meningkat menjadi 25,5%. Angka ini mendekati
>   sasaran yang ditetapkan dalam Repelita VI, yaitu 25,9%. 
>
>   Hingga 1996, sektor industri menyerap 2,3 juta tenaga kerja.
>   Industri kecil menyerap paling banyak tenaga kerja. Industri
>   kita menghasilkan produk yang makin banyak jumlahnya,
>   makin beragam jenisnya, dan makin tinggi mutunya. 
>
>   Ekspor hasil industri pengolahan non-Migas cenderung
>   meningkat. Pada 1993, nilai ekspor bidang industri itu
>   US$23,3 miliar. Pada 1997, angka itu diperkirakan mencapai
>   lebih dari US$34 miliar. Pada 1997 itu pula, peranan ekspor
>   industri pengolahan non-Migas terhadap keseluruhan ekspor
>   nasional mencapai sekitar 65%. 
>
>   Pertumbuhan ekspor hasil industri terutama berasal dari
>   kenaikan cukup tinggi pada komoditas unggulan seperti tekstil,
>   kayu olahan, produk kulit dan sepatu serta alas kaki, besi
>   baja, permesinan dan otomotif, elektronika, produk karet
>   olahan, produk kimia dasar, emas, perak dan logam
>   mulia/perhiasan lainnya. 
>
>   Industri kecil makin besar peranannya dalam perluasan
>   kesempatan berusaha dan kesempatan kerja, pengembangan
>   ekonomi perdesaan, penanggulangan kemiskinan, bahkan juga
>   pada ekspor. Selama 1993-1996, ekspor industri kecil
>   meningkat rata-rata 4,4%. Pada 1996 nilai ekspornya
>   mencapai US$2,5 miliar. 
>
>   Meskipun peranan sektor industri makin penting, tidak berarti
>   sektor pertanian tidak penting. Sebaliknya, pembangunan
>   nasional tetap akan bertumpu pada pertanian. Yang perlu
>   dilakukan adalah meningkatkan produktivitas dan nilai
>   tambahnya. 
>
>   Produksi pertanian telah meningkat dan nilai tambah
>   komoditas pertanian juga bertambah besar. Antara 1993 dan
>   1996, PDB sektor pertanian tumbuh rata-rata 2,9% per tahun.
>   Pertumbuhan ini masih di bawan sasaran pertumbuhan Repelita
>   VI sebesar 3,3%. Namun dalam tahun-tahun itu, pertumbuhan
>   perikanan 5,1%, perkebunan 4,7%, peternakan 4%, dan
>   tanaman pangan mencapai 1,6% per tahun. 
>
>   Pertumbuhan perikanan mendekati sasaran Repelita VI
>   sebesar 5,2%. Pertumbuhan perkebunan melampaui sasaran
>   Repelita VI sebesar 4,2%. Pertumbuhan tanaman pangan di
>   bawah sasaran Repelita VI sebesar 2.5%, karena musim
>   kemarau berkepanjangan pada 1994 dan terjadi lagi pada
>   1997. Perkembangan itu menunjukkan bahwa perikanan dan
>   perkebunan menjadi sumber pertumbuhan baru dalam sektor
>   pertanian. 
>
>   Selama Repelita VI, jumlah tenaga kerja yang diserap sektor
>   pertanian cenderung turun. Pada 1993, sektor pertanian
>   menyerap sekitar 40,1 juta orang atau 50,6% dari jumlah
>   tenaga kerja. Pada 1996, jumlah itu turun menjadi 37,7 juta
>   orang atau 44% dari seluruh tenaga kerja. Namun dalam
>   waktu bersamaan, produktivitas tenaga kerja sektor pertanian
>   meningkat dari Rp 1,5 juta per orang pada 1993 menjadi Rp
>   1,7 juta per orang pada 1996 atau naik rata-rata 4,9% per
>   tahun. Peningkatan produktivitas tenaga kerja pertanian ini
>   melampaui sasaran Repelita VI sebesar 2,4%. 
>
>   Menurunnya jumlah tenaga kerja di sektor pertanian dan
>   meningkatnya produk-tivitas tenaga kerja di sektor pertanian,
>   yang disertai dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja di
>   sektor industri dan jasa, menunjukkan terjadinya proses
>   perubahan struktur perekonomian nasional. Perubahan struktur
>   itu baik dan benar arahnya. 
>
>   Pertumbuhan sektor pertanian tidak terlepas dari
>   pembangunan prasarana pengairan. Pembangunan pengairan
>   telah meningkatkan luas areal sawah beririgasi dari 5,5 juta
>   hektar pada akhir Repelita V menjadi 5,9 juta hektar pada
>   tahun ke-empat Repelita VI. Sasaran akhir Repelita VI seluas
>   6.3 juta hektar. 
>
>   Untuk mempertahankan swasembada pangan, telah dibangun
>   jaringan irigasi baru dan pencetakan sawah yang seluruhnya
>   seluas 161.000 ha, berada di luar Pulau Jawa. Untuk
>   mengatasi dampak keke-ringan sekaligus menunjang
>   peningkatan pendapatan penduduk di perdesaan, telah
>   dilaksanakan rehabilitasi jaringan irigasi perdesaan yang selama
>   Repelita VI mencapai 1,4 juta ha. Selain itu, diperluas pula
>   pembangunan jaringan rawa serta pengembangan lahan
>   gambut sebagai lahan produksi baru di Kalimantan Tengah. 
>
>   Kemajuan pembangunan pengairan dan irigasi erat kaitannya
>   dengan kegiatan di bidang kehutanan, terutama dalam
>   penyediaan sumber daya air secara lestari serta terkendalinya
>   erosi dan sedimentasi. Sampai dengan tahun keempat Repelita
>   VI, telah direhabilitasi hutan-hutan yang rusak dan lahan hutan
>   kritis seluas 2,6 juta ha. Pembangunan hutan tanaman industri
>   (HTI) meliputi lahan seluas 1,2 juta ha atau sekitar 94% dari
>   sasaran akhir Repelita VI. Pembangunan hutan rakyat
>   mencapai luas 474.400 ha, melebihi sasaran akhir Repelita VI
>   seluas 250.000 ha. 
>
>   Selanjutnya. saudara Ketua yang terhormat, pembangunan
>   transportasi darat diperkirakan mencapai sasaran Repelita VI.
>   Sebagian besar pembangunan transportasi darat ini adalah
>   program pembangunan prasarana jalan. 
>
>   Angkutan sungai, danau, dan penyeberangan bertambah baik
>   dengan bertambahnya jumlah dermaga dan kapal
>   penyeberangan. Angkutan sungai dan danau penting sekali
>   sebagai alat transportasi di daerah pedalaman dan daerah
>   terpencil. Kemajuan-kemajuan berarti juga tercapai dalam
>   pembangunan transportasi laut dan udara. 
>
>   Sementara itu, sektor pertambangan tumbuh rata-rata 6% per
>   tahun selama empat tahun Repelita VI. Pertumbuhan ini
>   melampaui sasaran pertumbuhan Repelita VI, yaitu rata-rata
>   4% per tahun. Peningkatan menonjol adalah produksi
>   batubara, baik untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri
>   maupun untuk ekspor, yang meningkat dari 28,6 juta ton pada
>   akhir Repelita V menjadi 54 juta ton pada 1997/98. 
>
>   Peningkatan ini mengangkat Indonesia sebagai produsen
>   batubara terbesar ketiga di kawasan Asia Pasifik dan
>   pengekspor terbesar ketiga di dunia. Ekspor batubara pada
>   tahun keempat Repelita VI yang berjumlah 39,3 juta ton telah
>   melampaui sasaran akhir Repelita VI, sebesar 39,1 juta ton.
>   Produksi dan ekspor bahan tambang lain pada umumnya juga
>   menunjukkan peningkatan, meskipun harga di pasar
>   internasional tidak selalu menggembirakan. 
>
>   Produksi minyak dan gas bumi dapat dipertahankan sesuai
>   sasaran Repelita VI. Selain karena penemuan lapangan baru,
>   hal itu juga berkat pemanfaatan teknologi maju seperti
>   enhanced oil recovery. 
>
>   Dalam Repelita VI, kita mengupayakan penurunan pangsa
>   minyak bumi dalam penyediaan energi dan meningkatnya
>   pangsa energi non-minyak bumi. Sasaran pangsa minyak bumi
>   dalam penyediaan energi primer pada 1997/98 adalah 53,2%.
>   Sasaran ini telah tercapai, karena pada tahun itu pangsa
>   minyak bumi telah turun menjadi 53,1%. 
>
>   Pembangunan tenaga listrik diperkirakan dapat memenuhi
>   keperluan pertumbuhan ekonomi. Keperluan listrik untuk
>   daerah perdesaan ditunjang oleh penggunaan tenaga
>   mikrohidro dan energi surya. 
>
>   Sidang Majelis yang terhormat, 
>
>   Salah satu sektor unggulan dalam perekonomian nasional
>   adalah pariwisata. Kemajuan kepariwisataan tampak dari
>   meningkatnya jumlah penerimaan devisa dan dari jumlah
>   kunjungan wisatawan luar negeri. Selanjutnya, selama empat
>   tahun terakhir kegiatan kepariwisataan telah membuka hampir
>   700.000 lapangan kerja. 
>
>   Kemajuan pesat juga tercapai dalam bidang Pos dan
>   Telekomunikasi, yang besar sumbangannya bagi kemajuan
>   pembangunan di sektor-sektor lain. 
>
>   Peningkatan pembangunan di segala bidang memerlukan
>   penguasaan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi
>   (iptek), terlebih lagi dalam memasuki era globalisasi dan
>   persaingan yang makin ketat. Pembangunan iptek memerlukan
>   biaya besar. Karena itu, pelaksanaannya kita sesuaikan
>   dengan kemampuan pembiayaan. Penguasaan iptek ini
>   mencapai kemajuan sangat besar, dibuktikan oleh kemampuan
>   putera-puteri Indonesia merancang dan membuat sendiri
>   pesawat terbang canggih dalam kelasnya, yaitu N-250. 
>
>   Sidang Majelis yang terhormat, 
>
>   Pemerataan merupakan segi penting dari pembangunan kita
>   yang harus kita wujudkan. Karena itu, kebijakan dan
>   dorongan pembangunan perlu sekali memperhatikan laju
>   pertumbuhan ekonomi regional. Selama tiga tahun pertama
>   Repelita VI, rata-rata kinerja pembangunan daerah untuk
>   semua provinsi telah mencapai sasaran Repelita VI. 
>
>   Beberapa provinsi di Kawasan Timur Indonesia ternyata
>   tumbuh lebih tinggi dibanding dengan yang di Kawasan Barat
>   Indonesia. Selain itu, penurunan angka kemiskinan di KTI
>   ternyata juga lebih besar dibanding di KBI. 
>
>   Dalam pada itu, program transmigrasi dalam Repelita VI
>   memberikan sumbangan penting terhadap penyebaran
>   penduduk, pengentasan kemiskinan, peningkatan pemerataan
>   pembangunan antardaerah, serta pengintegrasian masyarakat. 
>
>   Untuk mewujudkan pemerataan, lebih-lebih untuk
>   melaksanakan amanat Pasal 33 UUD 1945, maka peran
>   koperasi bertambah penting sebagai badan usaha dan wadah
>   ekonomi rakyat. Bidang usahanya meluas di berbagai sektor
>   produksi dan jasa, terutama dalam bidang usaha simpan
>   pinjam. Di wilayah perdesaan, koperasi berkembang menjadi
>   lembaga ekonomi utama masyarakat. 
>
>   Sampai tahun keempat Repelita VI, terbentuk lebih dari
>   52.000 unit koperasi dengan nilai usaha Rp 13,6 triliun dan
>   jumlah anggota lebih dari 28 juta orang. Di antaranya, lebih
>   dari 12.000 koperasi telah berkembang menjadi koperasi
>   mandiri. Sekitar 4.700 koperasi-termasuk sejumlah koperasi
>   simpan pinjam-telah berkembang menjadi usaha berskala
>   menengah dan besar, dengan nilai usaha lebih dari Rp 1 miliar
>   setiap tahun. 
>
>   Pembangunan tidak mungkin membawa kemajuan, bila tidak
>   didukung kemampuan aparatur negara yang memadai. Dengan
>   segala kekurangannya, kemampuan aparatur negara kita jelas
>   meningkat dalam bidang perencanaan, pelaksanaan, dan
>   pengawasan tugas-tugas pemerintahan umum maupun
>   tugas-tugas pembangunan. 
>
>   Sidang Majelis yang saya hormati; 
>
>   Demikianlah secara menyeluruh pelaksanaan tugas Presiden
>   selama lima tahun lalu, yang telah dipercayakan oleh Majelis
>   kepada saya. Di dalamnya termasuk pelaksanaan
>   pembangunan yang diamanatkan oleh GBHN 1993. Laporan
>   pertanggungjawaban yang lengkap dan rinci mengenai
>   pelaksanaan pembangunan itu termuat dalam buku tebal, yang
>   menjadi lampiran dari laporan pertanggungjawaban ini. 
>
>   Sampai pertengahan tahun lalu, semuanya berjalan lancar.
>   Pembangunan kita berjalan mulus. Ada sejumlah sasaran
>   Repelita VI yang tercapai. Malahan ada pula yang berhasil kita
>   lampaui. 
>
>   Sejak pertenganan kedua tahun lalu, gelombang gejolak
>   moneter datang menghantam. Seakan-akan semua yang kita
>   bangun dengan susah payah, kadang-kadang dengan
>   kepedihan dan pengorbanan, tiba-tiba saja tergoyang-goyang.
>   Kita bukannya tidak tahu akan kemungkinan yang ternyata
>   datang itu. 
>
>   Di waktu-waktu yang lalu, saya beberapa kali mengatakan
>   bahwa mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, kita
>   pasti merasakan pengaruh menjadi satunya perekonomian
>   dunia. Pengaruh itu datang lebih cepat dari yang kita
>   perkirakan. Akibat-akibat buruknya jauh lebih besar dari yang
>   dapat kita bayangkan. 
>
>   Ternyata, ketahanan ekonomi kita tidak cukup kuat
>   menghadapi pukulan dari luar. Lagi pula, di samping pengaruh
>   dari luar, sebagian dari kesulitan yang kita derita hari ini 
>adalah
>   juga karena kelemahan dalam tubuh kita sendiri. 
>
>   Kita tidak perlu mencari kambing hitam. Juga tidak ada
>   gunanya mencari kambing hitam. Jauh lebih berguna kita
>   mawas diri. Kita mencari hikmah dari musibah ini. 
>
>   Dengan penuh kesadaran kita harus berani melihat kelemahan
>   dan kekurangan kita sendiri. Dari kelemahan itu kita cari
>   kekuatan. 
>
>   Jika kita berhasil keluar dari kesulitan ini, maka tubuh kita
>   sebagai bangsa akan lebih kuat. Sebab, kelemahan-kelemahan
>   yang ada selama ini akan terkikis. 
>
>   Kita harus bersedia melakukan apa saja yang harus kita
>   lakukan untuk membebaskan bangsa kita dari krisis ini.
>   Dengan penuh kesadaran kita harus mengutamakan
>   kepentingan nasional dan kepentingan bersama di atas
>   kepentingan kita masing-masing. 
>
>   Dengan hati mantap seperti itu, bangsa kita pasti dapat
>   mengatasi semua ujian berat yang sedang kita hadapi.
>   Selanjutnya, kita dapat meneruskan pembangunan sebagai
>   pengamalan Pancasila. 
>
>   Sidang Majelis yang saya hormati; 
>
>   UUD menegaskan bahwa kedaulatan adalah di tangan rakyat,
>   dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Per-musyawaratan
>   Rakyat. Penjelasan UUD mengingatkan bahwa Presiden yang
>   diangkat oleh Maje]is, bertunduk dan bertanggung jawab
>   kepada Majelis. 
>
>   Saya telah mengakhiri laporan pertanggungjawaban saya
>   kepada Majelis. yang mengangkat saya selaku Presiden.
>   Sekarang, saya bertunduk kepada Majelis yang akan menilai
>   pertanggungjawaban saya. 
>
>   Izinkan saya mengakhiri kata-kata saya, dengan mengajak
>   segenap bangsa kita untuk bersama-sama memohon kepada
>   Tuhan Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Pemurah kiranya
>   memberi kekuatan lahir batin kepada kita semua dalam
>   menghadapi cobaan berat yang sedang kita hadapi ini. 
>
>   Terima kasih. 
>
>   Jakarta, 1 Maret 1998 
>
>   Presiden Republik Indonesia 
>
>   Soeharto     
>    
>
>
>_____________________________________________
>Get your free personalized email address at
>http://www.MyOwnEmail.com



[EMAIL PROTECTED]   
ICQ UIN 23276722

---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com 

Indonesia without violence!

Kirim email ke