detikcom. Jakarta. Kesadaran masyarakat untuk melakukan
kontrol pada pers kian tinggi. Banyak
media cetak maupun
elektronik yang didatangi demonstran
memprotes isi laporan.
Tak terkecuali Tabloid Detak.
Jumat sore, sekitar pukul 14.30 WIB,
sekitar 20 demonstran
yang tergabung dalam Generasi Muda Komite
Solidaritas untuk
Dunia Islam (GM KISDI) mendemo kantor
Detak di kawasan
Stadion Lebak Bulus, Jaksel. Para
demonsntran tidak puas dan
memprotes pemberitaan Detak edisi 1-7
Desember yang
menulis laporan utama Konspirasi di Balik
Tommy.
Dalam laporan itu, Detak menulis bahwa di
balik kerusuhan yang
terjadi di Banyuwangi, Semanggi, Kepatang,
dan Pinrang, ada
konspirasi politik tingkat tinggi. Dan,
kebetulan ada nama
Ahmad Sumargono SE disebut di situ. Ahmad
Sumargono
adalah Ketua Harian Pelaksana Kisdi.
Laporan itu, menurut para demonstran yang
dipimpin Yusuf
Algifari, adalah fitnah belaka. Dia
mengatakan demikian, karena
sudah menanyakan langsung pada Sumargono
yang baru saja
pergi Umroh ke Arab Saudi.
"Saya sudah lakukan pengecekan ini. Saya
tanya pimpinan kami
Pak Sumargono tentang laporan Detak itu.
Kalau memang
laporan itu benar, maka kami siap keluar
dari Kisdi. Tapi Pak
Sumargono mengatakan tidak benar. Berarti
apa yang dilakukan
Detak adalah fitnah," kata Yusuf yang
disambut teriakan Allah
Akbar oleh rekan-rekannya.
"Tidak benar Ketua kami berada di balik
Soeharto dan Tommy.
Kami selalu menghujat Soeharto. Laporan
Detak itu fitnah.
Memojokkan pemimpin-peminpin Islam. Maka
kami
menghimbau kepada seluruh media massa
berhati-hati dalam
membuat berita," Teriak Yusuf.
Dalam tabloid Detak, soal konspirasi
politik itu juga dituangkan
secara jelas melalui bagan. Di situ ada
dua bagan besar, satu di
pihak Habibie dan satunya di pihak
Soeharto. Nah, di pihak
Soeharto inilah Ahmad Sumargono
dicantumkan namanya
berjejeran dengan Tommy Soeharto. (lihat
bagan) Inilah yang
membuat GM Kisdi melakukan unjukrasa.
Dalam demonya, mereka menuntut untuk
ketemu dan dialog
dengan Pemred Detak Eros Djarot. Namun,
Eros sedang tidak
ada di kantor. Untuk itu, salah seorang
redaktur Detak M.
Thoriq menemui para demonstran. Thoriq
mengatakan, ada
mekanisme jurnalistik yang bisa ditempuh
bila sebuah media
massa dianggap melakukan kesalahan, yakni
dengan melakukan
hak jawab.
Hak jawab itu, kata Thoriq sudah dilakukan
oleh Adi Sasono
dan Ahmad Tirtosudiro yang namanya juga
dicantumkan di situ.
"Saya pikir Pak Ahmad Sumargono dan
rekan-rekan bisa
melaksanakan mekanisme ini. Kami akan muat
hak jawab itu
kalau ada," katanya.
Bahkan, menurut Thoriq, surat yang dikirim
Adi Sasono sudah
ada dan panjangnya melebihi porsi
pemberitaan yang dilakukan
Detak. "Kita akan muat selengkapnya, nggak
apa-apa," kata
mantan demonstran ini.
Para demonstran tampaknya tak puas jika
hanya diterima oleh
staf redaksi. Mereka menuntut bisa ketemu
Pemred Eros
Djarot. Setelah ditunggu beberapa lama,
Eros ternyata tak
muncul, maka para demonstran pun bubar.
Dialog yang
ditawarkan Detak ditolak karena tanpa
kehadiran Eros. Namun,
sebelum meninggalkan kantor Detak, mereka
mengancam akan
datang lagi dengan jumlah yang lebih
besar.
---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com
Indonesia without violence!