Membaca posting dibawah ini saya jadi teringat pada satu cerita di tahun 60/70 an dari satu daerah tertentu yang terkenal dengan temperamen penduduknya yang mudah marah/emosional. Alkisah pada suatu hari terdapat kerumunan remaja tanggung di ujung sebuah gang. Umumnya dari mereka memang berada pada level pendidikan dibawah rata-rata. Semula mereka terlihat asyik bersenda gurau. Sampai pada suatu saat ada salah seorang dari mereka katakanlah bernama si X mengatakan: Kalau misalnya sendal aku yang ini (kaki kiri) adalah bapak nya si A dan sendal aku yang ini (kaki kanan) bapaknya si B, kau (maksudnya kepada si B) berani nggak nginjak sendal yang ini (kata si X sambil mengangkat kakikirinya). Lalu si B menjawab sekenanya sambil bertolak pinggang dan tertawa terbahak-bahak "ah kenapa nggak berani,itu kan cuma sandal " . Rupanya jawaban yang sekenanya dengan senda gurau itu diartikan lain oleh si A. Namun semula si A pun menanggapi dengan biasa biasa saja,walaupun roman mukanya sedikit berubah. Namun bukanlah si X kalau dia tidak bisa merubah suasana santai menjadi tegang. Tiba-tiba si X melepas sendal di kaki kirinya sambil berkata 'nih kalau berani'. Gayungpun bersambut.Si B dengan serta merta berkata 'ah siapa takut, cuma sandal aja koq' sambil di injaknya sendal kiri si X. Tanpa diduga oleh teman-teman yang lain ternyata Si A yang semula menahan diri,merasa tersinggung mendengar jawaban tersebut apalagi dilihatnya sendal itu diinjak dengan kedua kaki si B. Yang terbayang oleh si A adalah ayahnya sedang diinjak-injak oleh si B. Tanpa ngomong ba bi bu, ditonjoknya muka si B hingga hidungnya berdarah-darah. Lalu bagaimana dengan perasaan si B setelah di tonjok. Tentu bisa diduga. Si B melakukan pembalasan, dihajarnya si A hingga gigi depannya rontok 2 buah. Untunglah kemudian si X dan teman-teman yang lain segera menyadari kekeliruannya. Keduanya dilerai. Walaupun semula agak susah, namun setelah sama-sama merasa lelah akhirnya bisa didamaikan. Namun tetap ada kerugian baik bagi si A maupun si B. Bila disimak dari kejadian diatas, mungkin dapat dikatakan bahwa pada level pendidikan dibawah rata-rata kejadian yang dipicu oleh hal yang sepele bisa saja dengan mudahnya menjadi perkelahian.Yah karena mereka lebih mengandalkan pada emosi ketimbang nalar. Dari posting tsb. dibawah ini, walau mungkin tidak sepenuhnya benar adanya, namun bila toh memang ternyata ada yang demikian, hal ini membuat hati banyak orang menjadi semakin ciut. Bagaimana tidak. Ini artinya tak ada beda antara orang yang tidak berpendidikan tinggi dengan orang yang sedang atau pernah mengenyam pendidikan tinggi. Tentu bukan maksud untuk membandingkan kejadian yang satu dengan yang lainnya (demo yang digambarkan seolah-olah sudah tidak murni lagi ,sehingga berkesan ada yang mengadu domba). Tak terbayangkan apa yang akan terjadi bila kejadian seperti tsb. diatas justru dilakukan oleh level-level yang sudah semestinya lebih mengutamakan nalar ketimbang emosi. Pada level yang lebih mengutamakan nalar, tentu bila ada yang tidak cocok dengan pandangannya,bila ada friksi antara kelompok yang satu dengan yang lainnya, bila belum tercapai suatu kemufakatan antara pendemo dan yang didemo, tentu tidak akan mudah dikipasi oleh pihak ketiga yang tidak jelas motifnya, apalagi sampai beradu fisik, sehingga kerugian dari semua pihak dapat diminimize. Semua akan dipertimbangkan dengan masak sebelum sesuatunya dilakukan. Apakah untungnya dan sampai seberapa besar kerugian yang diakibatkan. Ada kedewasaan yang terpola pada setiap tindakannya. Sebagai contoh misal ada spanduk yang berisi tuntutan 'hilangkan dwi fungsi abri'. Tentu akan lebih bagus bila tidak hanya sekedar tuntutan yang dilontarkan tetapi juga perlu difikirkan bagaimana mekanismenya. Rasanya menghargai keberadaan abri masih lebih baik ketimbang menghujatnya. Minimal kita hargai profesinya, karena abri yang berdwifungsi itu pasti bukan abri kroco, tetapi abri yang juga pernah dengan tekun belajar dibangku perguruan tinggi. Bahwa ada banyak abri yang over acting,memperkaya diri ,itu bukan rahasia dan ini mungkin yang jadi dasar tuntutan masyarakat, namun bahwa ada lebih banyak lagi abri yang baik, jujur, sopan, terdidik dan loyal terhadap hukum mungkin sebaiknya patut disimak. Namun bahwa nanti akhirnya 'dwi fungsi abri' dihapuskan juga, tentu akan lebih baik asal jangan abri nya yang dihapuskan dari bumi Indonesia. Tetapi sekali lagi mungkin diperlukan mekanisme yang tidak sesederhana yang dibayangkan. Dan mengapa jangan ABRI nya yang dihapuskan ?. Jangankan dihapuskan. Akhir-akhir ini ketika abri seolah bak harimau tak bertaring, nampak orang semakin berani mengusik ketenangan orang lain.Bagai hutan tak ada yang jaga. Bisa dibayangkan bila abri dihapuskan dari bumi Indonesia, bisa jadi hukum rimbalah yang akan berlaku. Demikian pula dengan tuntutan-tuntutan lainnya. Marilah kita selalu berusaha untuk berpikiran jernih, sekali lagi 'jernih' seperti yang dilontarkan oleh Witular pada acara dialog bersama salah seorang pakar hukum / dosen UI di Indosiar tadi malam. Mungkin prinsip yang harus atau seyogyanya dipegang teguh adalah bahwa 'yang salah tetaplah salah' dan ' yang benar itu benar'. Dinegara kita yang saat ini sedang berupaya mengarah kepada perbaikan system untuk mencapai negara demokrasi yang berdasarkan hukum, sebaiknya bagi para calon cendekiawan dan yang sudah menyandang gelar sebagai cendekiawan/ilmuwan untuk memberi masukan kepada pemerintah, mungkin selain dengan jalan demo damai (kalau itu memang dianggap sebagai sarana untuk memberikan pressure ) juga akan lebih bermanfaat bila dilampirkan juga proposal-proposal / usulan perbaikan agar hukum dapat ditegakkan demi keadilan dan kebenaran. Dan satu hal yang ingin ditambahkan disini adalah, bila memang masih ada rasa kurang/tidak percaya kepada unsur penyelenggara negara saat ini, mungkin ada baiknya bila proposal/usulan2 tsb. disampaikan saja kepada khususnya kakak-kakak ex mahasiswa (yang dulu minimal pernah punya rasa dan pernah melakukan hal yang sama dengan para mahasiswa yang berdemo saat ini) yang pada dewasa ini sedang menjadi abdi masyarakat baik yang aktif didalam lembaga executive,legislatif ataupun yudikatif. Yah memang mau kemana lagi. Mungkin lebih baik masih ada satu atau dua orang yang bisa dipercaya daripada tidak ada yang dipercaya sama sekali. Memang dibutuhkan kesabaran dan jiwa besar dari semua pihak agar pesta demokrasi yang sungguh sangat diidam-idamkan oleh banyak orang yakni Pemilu yang JUJUR dan ADIL masih dapat direalisir. Sehingga pada masa mendatang hukum dapat diterapkan dengan sebenar-benarnya. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu yang mengetahuinya. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang selalu membimbing kita semua kearah jalan yang benar. Amin. robin ---------- > From: Lenteng Agung <[EMAIL PROTECTED]> > To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] > Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] > Subject: [reformasitotal] Anasir Radikal di Tubuh Gerakan Mahasiswa > Date: Monday, December 14, 1998 3:11 PM > > ANASIR RADIKAL DI TUBUH GERAKAN MAHASISWA > Sebuah catatan untuk Yeni Rosa Damayanti (Pijar), Sarbini (BPM Untag > Jakarta), Dandi Kusumo (STIE Perbanas Jakarta), dan Adian (Forkot). > > Apa yg telah saya kemukakan sebelumnya ttg kelompok2 tertentu dlm > gerakan mahasiswa di Indonesia dewasa ini, yg mulai membelokkan arah rel > reformasi menuju jurang kehancuran makin nampak nyata. Bukti2 terbaru > dengan gamblang terlihat pada dialog nasional yg diadakan Minggu malam > (13 Desember 1998) yg baru lalu. Dengan mudah kita melihat, betapa > tokoh2 mahasiswa yg meneriakkan penegakan demokrasi selama ini, ternyata > sangat bertolak belakang dengan tingkah laku mereka dlm forum tersebut. > Seseorang seperti Rendra yg kemudian menyatakan bahwa apa yg dilakukan > mahasiswa pada pertemuan tersebut sudah mengarah kepada fasisme (suatu > istilah yg mengingatkan kita semua pada kekejaman yg dilakukan tentara > Jerman, Italia dan Jepang pada Perang Dunia II). > > Andaikan Rendra bukan siapa2 tapi ia adalah seorang biasa seperti saya, > maka dia pasti sudah diteriaki sebagai seorang Soehartois, pendukung > status quo/Orba, dll yg sangat menyesakkan. Tapi Rendra adalah Rendra, > dan dia setidaknya mewakili suatu gambaran keresahan di sebagian > masyarakat kita akan kekhawatiran aksi2 mahasiswa yg digerakkan oleh > beberapa anasirnya untuk suatu tujuan2 yg jauh dari upaya reformasi. > Kemana lagi kalau bukan revolusi dan itu pula yg mereka nyanyikan selama > dialog nasional terjadi. > > Ingin saya ulangi sekali lagi, betapa sekarang ini terjadi suatu > ironisme dlm tubuh gerakan mahasiswa akibat ulah anasir2 yg > mengatasnamakan mahasiswa tsb. Ironi yg pertama adalah suara mereka > untuk menuntut demokrasi spt yg saya kemukakan di atas. Tapi faktanya > adalah demokrasi sebagai suatu bentuk pemaksaan. Anasir2 semacam ini > seperti yg dimotori Yeni's Pijar, Forkot, FKSMJ, dll hanya berpikir > bahwa demokrasi ala merekalah yg paling benar. Padahal inti demokrasi yg > utama adalah bagaimana menghargai suatu perbedaan. Kompromi adalah suatu > jalan utama. Entahlah apakah mereka menyadari bahwa sesungguhnya tidak > ada suatu kemutlakan di dunia ini. Tidak ada satu pihakpun yg mengklaim > dirinya mutlak benar, dan tidak ada satu pihak pun yg dapat diklaim > bahwa pihak mereka adalah mutlak bersalah. > > Ironi yg kedua adalah bahwa anasir2 mahasiswa semacam ini telah membuat > suatu pengelompokan antara "kita" dan "mereka". "Kita" adalah sesuatu yg > harus dibela, dan "mereka" adalah sesuatu yg harus dilawan baik dengan > pikiran maupun dengan kekerasan. Ironinya adalah bahwa mereka berteriak2 > persatuan demi rakyat, tapi entah disadari atau tidak mereka telah > membuat suatu pengkotakan dlm tingkah laku dan ucapan mereka. > Pengkotakan berarti membuat pemilahan. Pemilahan berarti berusaha > memisahkan, dan dalam konteks bangsa dan negara Republik Indonesia, itu > berarti suatu upaya pemisahan antara kelompok2 msayarakat yg satu dgn > lainnya. Bukti analisa ini adalah dukungan2 yg mereka berikan pada > gerakan2 yg nyata2 berupaya mengkhianati masyarakat dan bangsa ini. > Dukungan mereka terhadap upaya disintegrasi di Timor Timur, Aceh, dan > Irian Jaya adalah bukti kuat atas pemikiran dan aksi2 mereka selama ini. > > Ironi yg ketiga adalah pemboncengan tujuan2 mereka dengan apa yg > diperjuangkan mahasiswa selama ini. Bila kita perhatikan, apa yg > dilakukan mahasiswa belakangan ini lebih banyak dilakukan oleh > organisasi di luar kampus seperti Forkot, Poros Jakarta, FKSMJ, dll. > Gerakan2 yg dilakukan dari kampus sendiri sudah banyak berkurang, > seperti halnya yg dilakukan oleh UI, ITB, UGM, dll. Apakah fenomena yg > dapat kita tangkap di sini? Artinya bahwa aksi mahasiswa digerakkan oleh > anasir2 yg memang tidak memiliki suatu basis intelektual yg cukup. Apa > yg pernah saya kemukakan tentang beda mahasiswa PTN dan PTS menjadi > kenyataan. Dr Indria Samego dlm wawancaranya di majalah Ummat minggu yg > lalu, menyatakan bahwa memang harus diakui adanya kelemahan yg dimiliki > oleh mahasiswa PTS, dlm arti kemampuan intelektual dan logika mereka. > Dan memang dlm kenyataannya, mayoritas mahasiswa PTN adalah mereka yg > memang terpilih berdasarkan kemampuan, dan tidak didasari oleh berapa > besar mereka mampu membayar uang kuliah dan uang gedung. Akibatnya, > mayoritas PTS dewasa ini adalah mereka yg tidak tertampung dlm PTN. > Artinya adalah bahwa mereka memang tidak mampu untuk bersaing, dan lebih > jauh itu disebabkan ketidakseriusan mereka dlm sekolah di sekolah2 > menengah. > > Dlm masalah PTS ini kita semua tahu, bahwa terjadi suatu fenomena > lanjutan murid2 sekolah menengah yg gemar tawuran dan selalu membedakan > antara "kita" dan "mereka". Lihat saja, mengapa terjadi tawuran dan > seringkali tidak ada suatu jawaban pasti yg masuk akal. Yg ada cuma > bahwa keterlibatan mereka hanya didasari oleh rasa kesetiakawanan > sempit, tanpa memandang apa penyebab dari mereka terlibat dlm tawuran. > Nah, itulah fenomena yg sekarang ini menular ke dalam tubuh mahasiswa2 > PTS di Indonesia, terutama di kota2 besar semacam Jakarta. Bila kita > melihat demo yg dilakukan kelompok2 mahasiswa, nyata bahwa peserta > kebanyakan tertawa2, dan jarang kita temukan suatu aksi yg serius. Aksi > dilakukan dengan teriak2, hujatan2, sumpah serapah, dan kalau perlu > kutukan. Bila itu sudah mereka lakukan, mungkin yg ada hanyalah rasa > kepuasan dlm diri mereka. Bila mereka dilarang, maka mereka akan > menghadapinya, bukan dengan suatu diplomasi atau perundingan, tapi > dengan fisik!!! Nampaknya mereka perlu belajar, bahwa dlm dunia yg lebih > luas, Amerika yg adi daya saja tidak lantas suka gebuk negara2 yg kontra > dengan AS. Tapi diupayakan melalui perundingan, lepas apakah perundingan > itu gagal atau tidak. Tapi yg jelas bagi AS sendiri, perundingan adalah > jalan yg utama. > > > Ironi yg lain adalah suatu ironi kekanak-kanakan. Contoh nyata adalah > keinginan mereka agar seluruh tuntutan yg mereka ajukan dilaksanakan > sekarang juga dan cepat. Anasir2 semacam ini seringkali mengeluarkan > isu2 baru hampir setiap hari. Dari mulai ABRI, Soeharto, KKN, Pegawai > Negeri, Tanah, dll. Daftar itu sangat panjang, dan repotnya mereka > menuntut semua harus dilaksanakan berbarengan. Dlm sejarah bangsa2, mana > ada sih pemimpin suatu negara yg mampu melaksanakan seluruh tuntutan itu > dlm waktu yg cepat? Berpijak dari sinilah saya menilai bahwa mereka > sangat kekanak-kanakan dan tidak menunjukkan sebagai kelompok yg dewasa > dlm sikap dan berpikir. Oleh karenanya kita khawatir bahwa tuntutan yg > "childish" semacam ini akan sangat membahayakan, ibarat anak2 minta > makan sekarang juga padahal orang tuanya lagi bingung bgm menghidangkan > makanan yg baik dan dapat diterima oleh anak mereka tanpa mendapat > protes, sementara orang tua/wali si anak sedang bingung tidak punya uang > untuk memenuhi tuntutan makan dari si anak. Maka si anak mengancam akan > pergi dari rumah, atau mengancam akan mengusir si orang tua/wali dari > rumah akibat tidak terpenuhinya tuntutan mereka. (Catatan: perumpamaan > ini bisa diperpanjang, dengan saat yg berbarengan si anak minta > dibelikan baju, sepatu, perhiasan, uang jajan, kamar yg bagus, dll tanpa > pernah memperhatikan bahwa orang tuanya/walinya lagi susah!!). > > > Dari sementara empat ironisme di atas, tampaklah bahwa aksi2 mahasiswa > sekarang ini sudah tidak murni lagi. Mereka sudah tidak mendasarkan lagi > pada nalar dan pemikiran yg sehat. Apa yg mereka lakukan sudah menjurus > pada akibat2 yg merugikan masyarakat banyak. Maka perlu suatu tindakan > yg mengingatkan mereka bahwa tindakan mereka sudah menyalahi/menyimpang. > Kelompok2 non pemerintah sudah saatnya untuk menunjukkan jati diri yg > sebenarnya. Saatnya UI, ITB, UGM, Undip, Unair, dan PTN yg selama ini > menjadi panutan masyarakat luas memberikan posisi mereka menyikapi > langkah2 yg makin merugikan merugikan ini. > > Hati2 dengan arogansi. Reformasi jalan terus. Revolusi harus > dihancurkan!!!! > > INDARTI SUDIRO > > ______________________________________________________ > ------------------------------------------------------------------------ > Sponsored by NextCard Internet Visa. > > http://offers.egroups.com/click/137/1 > > > > Free Web-based e-mail groups -- http://www.eGroups.com Indonesia without violence! --------------------------------------------------------------------- To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com
