Pada beberapa minggu yang lalu saya saya dimintai pertolongan oleh sebuah Televisi Jerman (Pro 7), untuk menterjemahkan dokumentar Film tentang Jermal kedalam bahasa Jerman. Kata Jermal bagi saya adalah sebuah kata yang asing dan dalam pembicara kami dalam telefon bahkan saya bertanya apakah yang di maksud Jerman. Setelah saya mendapatkan penjelas yang lebih mendetail, barulah saya mengerti, bahwa jermal adalah sebuah tempat yang berada ditengah laut dengan berukuran sekitar 50m2, bangunan ini dapat berdiri dengan menancapkan tiang-tiang kayu kedasar laut, ditempat ini anak-anak yang berumur sekitar 12 tahun bekerja secara praktis selama 24 jam dengan dengan kondisi yang sangat mengharukan, dengan gaji sangat minimal (sekitar 150.000Rp./bulan). Anak-anak ini bekerja siang dan malam untuk menangkap ikan (salah satu produksinya adalah ikan teri Medan), sampai dengan pengeringan dan pengepakan produksi tersebut. Anak-anak pekerja ini harus mengadakan kontrak secara lisan dengan pemilik Jermal, para bocah-bocah kecil ini tidak dapat kembali kedarat selama 3 bulan dan banyak diantara mereka yang tidak dapat dan belum pulang selama setahun lebih. Untuk membeberkan masalah PERBUDAKAN MODERN di JERMAL ini, saya memohon dengan sangat kepada KKSP FOUNDATION untuk mengirimkan E-Mail kepada saya, hal ini mengingat perjanjian saya denga TV Pro 7 Jerman, dari pihak saya untuk tidak mem-publikasikan, sebelum siaran di TV Pro7 Jerman tersiar dan waktu yang tepat akan saya beritakan disini. Perlu diresapi, ikan TERI MEDAN yang kita nikmati adalah hasil pemerasan dan perbudakan MODERN yang terjadi terhadap anak-anak kita di negara yang berdasarkan pancasila. saya penjelasan masalah perbudakan modern ini dari KKSP Foundation. eriyan unang ________________________________________________________________ > From: "KKSP Foundation" <[EMAIL PROTECTED]> > Date: Mon, 7 Dec 1998 10:53:52 +0700 JERMAL, SEKALI LAGI MEMBAWA KORBAN Pada pertengahan Nopember '98 yang lalu, telah meninggal dunia seorang buruh jermal, Toni, yang masih anak-anak (16 tahun), di sebuah jermal di kawasan perairan Tanjung Balai, Sumatera Utara. Dari keterangan yang dapat dihimpun ianya meninggal karena sakit yang sudah diderita selama 2 bulan, dan tidak mendapatkan perawatan yang semestinya. Kematian ini menambah deretan panjang korban jermal. Semakin menjadi tanda tanya besar, pandangan tim pemerintah bersama-sama dengan DPRD SU yang pada beberapa waktu lalu turun ke lapangan (jermal) dan hanya melihat bahwa jermal merupakan salah satu sumber penyumbang PAD, jika pajak dari industri ini dapat ditarik (menurut kalkulasi mereka pajak tersebut akan berjumlah +/- 3,2 Milyar setahun). Jumlah yang cukup besar memang, apalagi bila kita mengingat kondisi Indonesia dimasa krisis sekarang ini. Tapi pertanyaannya: APAKAH HANYA UNTUK 3,2 MILYAR TERSEBUT LALU PEMERINTAH MENGABAIKAN HAK AZASI MANUSIA? LEBIH KHUSUS LAGI HAK AZASI ANAK? ++++++ S A N G A T I R O N I S ++++++ padahal mereka melihat sendiri, dalam laporan yang ditulis oleh seorang wartawan daerah di harian Waspada, anak-anak yang bekerja sebagai buruh, tetapi tidak disinggung sedikitpun masalah yang mengelilingi buruh anak tersebut. Perlu dijelaskan disini, bahwa tim tersebut ditugaskan untuk merespons pandangan pemerintah pusat (Pak Habibie menyebutkan dalam sebuah rapat Tingkat Menteri, bahwa masalah buruh anak di jermal harus segera diselesaikan untuk dihapuskan. Tidak kurang sampai MENHANKAM PANGAB Jendral Wiranto, dan MENAKER Bapak Abdul Latif juga menyatakan hal yang serupa). yang mendapatkan tekanan dari internasional karena banyaknya anak-anak yang diperbudak di jermal-jermal. **** Yayasan KKSP (Pusat Informasi dan Pengkajian Hak Anak) **** ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ** Jadual puasa Ramadhan @ http://www.indoglobal.com/puasa.html ** Indonesia without violence!
