Zulfazli : Ketika saya kuliah dulu, teman-teman saya, mahasiswa yang aktivis lingkungan dan sosial, pernah beberapa kali mengadakan investigasi langsung ke jermal-jermal di sepanjang Pantai Cermin, Labuhan, sampai Tanjung Balai dan sekitarnya yang dimiliki oleh para tauke yang umumnya adalah keturunan Tionghoa. Hasil Investigasi mereka adalah bahwa anak-anak usia sekolah (SMP ke bawah) dipekerjakan di Jermal-jermal tersebut selama sekitar 3 bulan dengan upah yang sangat minimum sekali (dan kalau boleh dibilang hanya sekedar cukup makan 2 kali sehari). Menurut teman saya, mengapa mereka bisa sampai bekerja di jermal adalah : a. Mereka diberikan oleh orang tua mereka, sebagai penebus hutang-hutang sang orang tua ke para toke ataupun para makelar buruh anak tersebut. b. Mereka diculik oleh para makelar buruh anak yang mendapat imbalan dari para toke tersebut. c. Ikut-ikutan teman untuk mengadu nasib, karena kesulitan ekonomi keluarga (jumlahnya sedikit) Dan setelah tiga bulan di jermal tersebut, belum tentu mereka bisa pulang kembali, karena system yang dibuat oleh para toke tersebut adalah dengan memberikan upah yang sangat minim kepada mereka sementara biaya hidup mereka disana dianggap hutang kepada toke. Sehingga sampai tiga bulanpun mereka tetap berhutang kepada toke-toke tersebut, dan dengan demikian mereka harus tetap berada di jermal untuk melunasi hutang-hutang mereka. Di jermal juga terkadang dibuat acara permainan judi yang membuat anak-anak tersebut berupaya untuk mengadu uangnya di arena judi, namun mereka kerap sekali mengalami kekalahan yang akibatnya mereka tidak punya uang untuk melunasi utang-utangnya. Dan ada informasi walaupun masih belum dapat diteliti secara seksama adalah mereka (anak-anak tersebut) juga sudah diperkenalkan dengan minuman keras dan wanita yang didatangkan dari pantai (daratan). Kehidupan mereka disana sangat memprihatinkan. Makanan sehari-hari yang disediakan sangat dibawah standar gizi. Jam kerja mereka hampir sekitar 15 jam sehari, tanpa memiliki hari libur. Mereka juga rawan terhadap serangan perompak yang terkadang kerap melakukan aksinya di jermal-jermal karena potensi ekonomi di jermal-jermal tersebut (uang hasil penjualan ikan teri, peralatan elektronik, genset dll). Juga serangan badai di laut (walaupun agak jarang, karena badai di Selat Malaka tidak begitu ganas). Apakah ada yang melarikan diri ? Umumnya mereka tidak berani melarikan diri, karena selain jauh dari pantai (sekitar 3-4 mil dari pantai) yang tidak memiliki perahu atau boat untuk kepantai, juga bagi mereka yang ketahuan akan menerima hukuman rodam dan disiksa oleh preman-preman penjaga jermal tersebut. Keadaan disana dibuat seperti penjara Nusa Kambangan layaknya. Saya menduga anak yang mati tersebut seperti laporan KKSP adalah anak yang berusaha melarikan diri, atau memang karena kondisi kesehatannya yang sudah menurun drastis. Itulah sedikit informasi yang bisa saya sampaikan, sehingga cocok Anda menyebutkan Ikan Teri Medan adalah lambang Perbudakan Anak. Dan perlu anda ketahui juga bahwa data yang saya sampaikan ini adalah berdasarkan investigasi teman-teman kuliah saya sekitar 4-5 tahun yang lalu dan juga telah berlangsung sebelum kami mulai kuliah dahulu (sebelum tahun 90-an), dan berdasarkan beberapa kali pemberitaan di harian Waspada dan Analisa Medan serta beberapa harian di Medan, maka sampai sekarang hal ini masih berlangsung. Teman-teman saya saat ini sudah pada selesai semua, namun seperti kebiasaan di USU, masalah ini selalu diberikan/diperkenalkan kepada adik-adik baru pada masa perkenalan agar mereka dapat meneruskan perjuangan senior-seniornya. Sebagian aktivis-aktivis tersebut juga berkiprah di KKSP. Lembaga inilah selain aktivis USU dan juga Lembaga Advokasi Anak Indonesia (LAAI) di Medan yang tidak pernah bosan untuk meneriakkan bahwa terjadi perbudakan anak di abad modern di lepas pantai Sumatera di Selat Malaka yang dilalui oleh ribuan kapal-kapal niaga dan tanker setiap harinya. Tetapi pemerintah terutama pemda Tk I dan II Sumatera Utara serta mereka yang menyebut dirinya wakil rakyat di Sumatera Utara selalu berkilah bahwa yang ada adalah sisi positifnya terhadap pemberdayaan ekonomi rakyat dengan adanya perputaran uang yang tinggi dari hasil jermal-jermal tersebut tetapi menutup mata terhadap adanya perbudakan tersebut. Usaha Anda untuk menterjemahkan keadaan di jermal ke Media Asing, saya rasa merupakan suatu cara yang terbaik. Karena umumnya kebiadaban yang dilakukan oleh bangsa sendiri dan tidak dilirik oleh pemerintah kita, akan menjadi diperhatikan oleh pemerintah jika sudah menjadi issue di negara lain. Sebaiknya anda ungkapkan hal yang sebenarnya tanpa mengalami bias dari pihak pemerintah dan mereka yang mengaku wakil rakyat. Bahwa anda berhubungan dengan KKSP adalah hal yang sangat cocok, karena merekalah aktivis yang paling aktif terhadap masalah ini, sepanjang pengetahuan saya. Inilah sedikit informasi dari saya berdasarkan keterangan dari teman-teman saya 4-5 tahun yang lalu yang kebenaran informasinya saya rasa masih relevan hingga saat ini. Wassalam Zulfazli Thaib Lebe (bukan aktivis tetapi sangat bersimpati pada perjuangan teman aktivis dahulu dan KKSP serta LAAI) ---------------------------------- >From RDK in Kuli Tinta : Pada beberapa minggu yang lalu saya saya dimintai pertolongan oleh sebuah Televisi Jerman (Pro 7), untuk menterjemahkan dokumentar Film tentang Jermal kedalam bahasa Jerman. Kata Jermal bagi saya adalah sebuah kata yang asing dan dalam pembicara kami dalam telefon bahkan saya bertanya apakah yang di maksud Jerman. Setelah saya mendapatkan penjelas yang lebih mendetail, barulah saya mengerti, bahwa jermal adalah sebuah tempat yang berada ditengah laut dengan berukuran sekitar 50m2, bangunan ini dapat berdiri dengan menancapkan tiang-tiang kayu kedasar laut, ditempat ini anak-anak yang berumur sekitar 12 tahun bekerja secara praktis selama 24 jam dengan dengan kondisi yang sangat mengharukan, dengan gaji sangat minimal (sekitar 150.000Rp./bulan). Anak-anak ini bekerja siang dan malam untuk menangkap ikan (salah satu produksinya adalah ikan teri Medan), sampai dengan pengeringan dan pengepakan produksi tersebut. Anak-anak pekerja ini harus mengadakan kontrak secara lisan dengan pemilik Jermal, para bocah-bocah kecil ini tidak dapat kembali kedarat selama 3 bulan dan banyak diantara mereka yang tidak dapat dan belum pulang selama setahun lebih. Untuk membeberkan masalah PERBUDAKAN MODERN di JERMAL ini, saya memohon dengan sangat kepada KKSP FOUNDATION untuk mengirimkan E-Mail kepada saya, hal ini mengingat perjanjian saya denga TV Pro 7 Jerman, dari pihak saya untuk tidak mem-publikasikan, sebelum siaran di TV Pro7 Jerman tersiar dan waktu yang tepat akan saya beritakan disini. Perlu diresapi, ikan TERI MEDAN yang kita nikmati adalah hasil pemerasan dan perbudakan MODERN yang terjadi terhadap anak-anak kita di negara yang berdasarkan pancasila. saya penjelasan masalah perbudakan modern ini dari KKSP Foundation. eriyan unang ________________________________________________________________ > From: "KKSP Foundation" <[EMAIL PROTECTED]> > Date: Mon, 7 Dec 1998 10:53:52 +0700 JERMAL, SEKALI LAGI MEMBAWA KORBAN Pada pertengahan Nopember '98 yang lalu, telah meninggal dunia seorang buruh jermal, Toni, yang masih anak-anak (16 tahun), di sebuah jermal di kawasan perairan Tanjung Balai, Sumatera Utara. Dari keterangan yang dapat dihimpun ianya meninggal karena sakit yang sudah diderita selama 2 bulan, dan tidak mendapatkan perawatan yang semestinya. Kematian ini menambah deretan panjang korban jermal. Semakin menjadi tanda tanya besar, pandangan tim pemerintah bersama-sama dengan DPRD SU yang pada beberapa waktu lalu turun ke lapangan (jermal) dan hanya melihat bahwa jermal merupakan salah satu sumber penyumbang PAD, jika pajak dari industri ini dapat ditarik (menurut kalkulasi mereka pajak tersebut akan berjumlah +/- 3,2 Milyar setahun). Jumlah yang cukup besar memang, apalagi bila kita mengingat kondisi Indonesia dimasa krisis sekarang ini. Tapi pertanyaannya: APAKAH HANYA UNTUK 3,2 MILYAR TERSEBUT LALU PEMERINTAH MENGABAIKAN HAK AZASI MANUSIA? LEBIH KHUSUS LAGI HAK AZASI ANAK? ++++++ S A N G A T I R O N I S ++++++ padahal mereka melihat sendiri, dalam laporan yang ditulis oleh seorang wartawan daerah di harian Waspada, anak-anak yang bekerja sebagai buruh, tetapi tidak disinggung sedikitpun masalah yang mengelilingi buruh anak tersebut. Perlu dijelaskan disini, bahwa tim tersebut ditugaskan untuk merespons pandangan pemerintah pusat (Pak Habibie menyebutkan dalam sebuah rapat Tingkat Menteri, bahwa masalah buruh anak di jermal harus segera diselesaikan untuk dihapuskan. Tidak kurang sampai MENHANKAM PANGAB Jendral Wiranto, dan MENAKER Bapak Abdul Latif juga menyatakan hal yang serupa). yang mendapatkan tekanan dari internasional karena banyaknya anak-anak yang diperbudak di jermal-jermal. **** Yayasan KKSP (Pusat Informasi dan Pengkajian Hak Anak) **** ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ** Jadual puasa Ramadhan @ http://www.indoglobal.com/puasa.html ** Indonesia without violence!
