Berita Utama Sabtu, 9 Januari 1999 Theo Adukan Tabloid ''Abadi'' JAKARTA - Setelah diadukan karena kasus ceramahnya yang dianggap menyudutkan umat Islam, kini giliran mantan Pangdam Udayana Mayjen TNI (Purn) Theo Syafei mengadukan pencemaran nama baiknya oleh Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Tabloid Abadi, Hadi Mustafa dan Ahmad Sumargono, di Polda Metro Jaya, Jumat kemarin (8/1). Theo Syafei yang melapor di Pelayanan Masyarakat (Yanmas) Polda Metro Jaya pukul 10.00, didampingi Tim Pembela Demokrasi Indonesia, yaitu Dr Mr H Mustafa Juang Harahap, HM Yunus Lamuda, H Alfian Husien, HA Aryoso, RA Amalia SH, Drs H Muh Toha SH, dan Didik Supriyanto SH. Pengaduan tersebut berkaitan dengan materi tabloid Abadi No 08 Tahun I, 24 - 30 Desember 1998. Pada sampul depan tabloid tersebut tertulis ''Theo Syafei dan Kerusuhan Kupang''. Sedangkan pada halaman tiga disebutkan, rekaman pidato diperoleh oleh aktivis gereja di Kupang. Sementara di bukti lain yang ditranskripsikan, terdapat catatan redaksi yang menyatakan ceramah tersebut dilakukan di salah satu gereja di Kupang, NTT. Menurut Theo, pemberitaan tersebut secara tidak langsung menuduhnya sebagai provokator. Padahal sejak tidak lagi menjabat sebagai pangdam, ia tidak pernah ke Kupang, apalagi memberi ceramah. Salah seorang pengacaranya, Aryoso, menyatakan, Theo tidak pernah berniat menghujat umat Islam. ''Bila melihat penampilan, tingkah laku, dan tutur katanya, saya yakin ia tidak pernah menghujat Islam. Bila benar ia melakukan penghujatan, mengapa kasusnya tidak diteruskan tetapi justru ditranskrip dan diedarkan,'' ungkap Aryoso. Jangan Dibesarkan Sementara itu, Theo tidak banyak memberi komentar mengenai pengaduannya. Menurutnya, saat ini masih bulan baik (bulan Puasa, Red) dan berharap kasus ini tidak dibesar-besarkan. ''Ini masih Natal dan puasa, jadi masih bulan baik sehingga saya kira ini mereda, tetapi ternyata ada yang mendorong-dorong,'' ujarnya. Namun Theo menolak menyinggung materi ceramah yang diributkan kalangan Islam karena sudah ditangani kepolisian. Ia bahkan belum mengetahui ceramah mana yang diributkan. Menurut tim pembelanya, Theo Syafei terpaksa melaporkan kasus itu karena dinilai bukan saja telah mencemarkan nama baiknya, melainkan juga sudah berbahaya kalau tidak dituntaskan, apalagi kasus itu mengandung SARA. ''Untuk itu, Pak Theo melalui Tim Pembela Demokrasi Indonesia terpaksa mengadukan mingguan Abadi sebagai penyebar fitnah,'' katanya. Padahal, tabloid Abadi ketika menurunkan laporan tentang Theo Syafei, mengaku sudah mencari konfirmasi kepada Theo, tapi tak berhasil. Seperti diberitakan, Theo diprotes kalangan Islam (KISDI, DDII, HMI, KAHMI, PPMI) berkaitan dengan beredarnya kaset rekaman pidato dan transkrip atas dirinya yang diindikasikan mengandung SARA. Ia antara lain dianggap melecehkan umat Islam yang dituduh akan mendirikan negara Islam. Fitnah bagi PDI Kasus Theo ini mendapat tanggapan dari Sekretaris PDI Perjuangan Jateng Gunawan Wirasaroyo. Pernyataan Theo, menurutnya, tidak ada hubungannya dengan PDI. Kalau ada pihak-pihak yang berusaha mengaitkan keduanya, hal itu dapat dikatakan sebagai fitnah. ''Sejumlah keterangan menyebutkan, pidato yang dinilai melecehkan umat Islam itu diucapkan Theo sekitar bulan Juni 1997. Padahal pada saat itu dia menjabat Komandan Seskogab dan belum menjadi anggota PDI,'' tandasnya, kemarin. Theo bergabung dengan PDI pada Agustus 1998 dan menjadi salah satu ketua DPP. Ketika itu bersama sejumlah tokoh militer mempunyai komitmen terhadap partai, yaitu memberi salah satu nilai kejuangan. ''Yang menjadi pertanyaan, mengapa baru saat ini kasus pidato itu muncul ke permukaan? Apalagi dalam pidato tersebut tidak ada konteks dan hubungannya dengan PDI,'' katanya. Melihat hal itu, dia menduga telah terjadi konspirasi politik. ''Sehingga muncul tindakan-tindakan yang bermuatan politik dan berupaya menghantam serta menjelek-jelekkan PDI.'' Meski demikian, tambahnya, PDI tidak akan gentar atas kenyataan tersebut. Sebab, makin sering difitnah, partai akan makin berkibar. Karena itu, Gunawan menyatakan lebih baik Theo tidak perlu menanggapi munculnya pernyataan sejumlah pihak, karena hal itu hanya akan menimbulkan polemik. Untuk membuktikan kebenarannya, menurut Gunawan, harus dibuktikan lebih dulu apakah kaset dan transkrip ceramah tersebut sesuai dengan yang diucapkan Theo. Ditegaskan, PDI mendukung proses pengusutan terhadap Theo. ''Kalau memang ada kader PDI yang melakukan pelanggaran, silakan diusut.'' Menghadapi kasus itu, ia menegaskan, pihaknya tidak akan mengerahkan massa tetapi hanya mengarahkan massa. ''Saya yakin kader PDI tahu bagaimana harus berbuat. Termasuk menyikapi soal ini, sehingga rasanya tidak perlu partai mengerahkan massa,'' katanya. (bu,tn,F8-24,42c) ---------------------------------------------------------------------------- ---- Copyright� 1996 SUARA MERDEKA ------------------------------------------------------------------------ For the absolute lowest price on software visit: http://www.bottomdollar.com/egroups/ eGroup home: http://www.eGroups.com/list/reformasitotal Free Web-based e-mail groups by eGroups.com
