Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum wr.wb.
2/15] BINCANG-BINCANG DALAM DALAM SEBUAH SEMINAR IMAJINIER
Para pendengar seminar manggut-manggut tanda setuju dengan
uraian sang pembawa makalah. Hebat uga uraian ini pikir mereka.
Rupanya kawan ini muballigh juga dan pengetahuan keIslamannya
boleh juga bisik yang lain. Bagus juga jabaran ayat-ayat
yang dikupasnya komentar seorang insiyur muda dari ITB yang
baru beberapa bulan bergabung diperusahaan itu.
Ketika moderator mempersilakan peserta lain untuk menanggapi
makalah yang baru saja dibacakan itu, ruangan seminar itu hening
sejenak sampai seorang peserta lain mengacungkan tangannya minta
izin untuk bicara.Wajahnya serius memang, sambil membetulkan
letak pecinya yang agak miring ia maju kedepan. Dia mengucapkan
terima kasih kepada moderator karena diberi izin untuk
menanggapi makalah tsb. Dengan sedikit gugup dan gementaran
menahan perasaan penanggap ini melanjutkan bicaranya:
"Terima kasih atas waktu yang diberikan kepada kami untuk
menanggapi makalah Pak Mantiko (bukan nama sebenarnya) yang
isinya sepintas lalu cukup bagus sebuah tinjauan agar kita
intropeksi terhadap diri kita, sampai dimana kita sekarang ini
dan bagaimana kondisi kita. Apakah kita sekarang ini telah
telah menjadi UMMAT YANG TERBAIK (khairul ummati ukhrijat
linnasi) yang dibangkitkan Allah bagi manusia? Apakah kita
telah merasakan sebagai sebagai orang yang telah memperoleh
petunjuk (hudan), sekaligus memetik hasilnya yakni kemenangan
(muflihuun)? Itu saja komentar saya terhadap makalah Pak Mantiko.
Dia kemudian menutup komentarnya, sambil membungkuk minta
diri kepada moderator ia lalu bergegas kebelakang. Kemudian
kedengaran suara lenguhan lebah uuu.. ..uuh dari sebahagian
peserta seminar mengiringi Insiyur Malengko(bukan nama sebenarnya)
berjalan ketempat duduknya.
Suasana seminar kembali dicekam kesunyian. Berapa orang peserta
mulai memejamkan matanya sambil bersandar ketempat duduk.
Mungkin topik yang dibicarakan dalam seminar itu tidak menarik
bagi mereka.Atau temperatur ruangan yang sudah mulai terasa
panas karena peserta yang tidak diundangpun rupanya ada
yang datang untuk mendengarkan seminar itu, sehingga AC
pendingin tidak mampu lagi menyediakan hawa yang sejuk untuk
peserta yang datang diluar perhitungan panitia itu. Atau
kemungkinan tidak ada yang baru mereka rasakan dalam uraian
makalah tsb, sehingga rasanya tak ada yang perlu ditanggapi. Ada
sebahagian peserta yang mulai diserang kantuk sementara yang
lain berusaha pula untuk tidur dikursinya dan berapa
partisipan yang lain mulai gelisah dan mulai beranjak keluar
untuk mencari ruangan merokok.
Tiba-tiba seorang peserta lain yang memakai kemeja batik
dengan peci putih mengacungkan tangannya mohon minta izin untuk
bicara menanggapi dan memberikan komentar terhadap makalah tadi.
Setelah memperoleh izin dari moderator Pak Haji tadi maju
kedepan dan langsung memberikan komentar dan tanggapannya.
" Saudara - Saudara Kaum Muslimin kota ini, yang hadir dalam
seminar ini. Izinkanlah saya menangapi makalah Pak Mantiko
yang sepintas lalu memang bagus dan menyejukkan. Suatu
himbauan terhadap kita agar kita intropeksi terhadap diri kita
dan tinjauan terhadap keimanan kita. Kenapa Allah belum juga
menganugerahkan kita kemenangan, pada hal kita telah merasa diri
kita orang-orang yang muttaqiin. Apa salah kita? Apa salah kita
terhadap Allah, kok Allah belum juga memberi kita kemenangan
pada hal kita merasa telah mendapat petunjuk dariNya ? Itu saja
komentar saya semoga seminar yang berbahagia ini bisa memberikan
jawaban mengapa kita ummat Islam ini masih saja ketinggalan
dibandingkan ummat-umat yang lain. Itu saja tanggapan saya ",
katanya sambil ngerocos ketempat duduknya tanpa pamit
kepada moderator yang memandangnya dengan melongo.
Seorang lagi mengacungkan tangan, minta izin lagi untuk
bicara. Ditangannya ada sehelai kertas kecil yang barangkali
adalah sebuah catatan yang akan disampaikannya. Dengan
mengucapkan salam dan menoleh kepada moderator serta menebarkan
pandangananya kepada semua peserta seminar, iapun mulai
memperkenalkan dirinya. Pak Malin ( Orang Padang juga dia
barangkali) mulai melirik catatannya sambil berkata:"
Saudara - Saudara yang hadir dalam seminar ini baik yang
diundang secara resmi, ataupun yang diberi tahu lewat telpon
saja ataupun yang datang tanpa diundang yang kebetulan lewat
didepan gedung kita ini kemudian membelokkan kenderaannya
kesini. Kepada Saudara - Saudara semua yang hadir disini, para
karyawan dari level puncak sampai menengah, izinkanlah saya
menangapi uraian dari pembawa makalah yang dalam hal ini Pak
Mantiko. Pembawa makalah adalah kebetulan kawan kami sesama
anggota Kelompok Studi Islam Masjid..... yang kebetulan ketika
itu kami sama-sama jadi Pengurus. Tapi itu dulu sepuluh atau
lima belas tahun yang lampau ketika kami masih sama-sama muda dan
masih menjadi karyawan level bawah masa itu. Tapi itu dulu
........ lima belas tahun yang lampau sekarang keadaannya
sudah berubah. Saya masih tetap sebagai Pengurus Masjid
tetapi Pak Mantiko tidak aktif lagi seperti masa dahulu.
Kadang-kadang saya merindukan keadaan itu kembali, semacam
nostalgialah kira-kira. Tapi mungkinkah itu?", Pak Malin
nampaknya terdiam sejenak menahan semacam perasaan haru bercampur
sedih. Dan ruangan seminar terasa hening. Semua mata para
peserta tertuju kepada Pak Malin. Kemudian Pak Malin
melanjutkan tanggapannya:
" Saudara-Saudara itu dulu lima belas tahun yang lampau dan kini
keadaannya sungguh jauh berubah. Pak Mantiko kawan saya ini pada
siang yang berbahagia ini telah sengaja memancing suasana
yang nampaknya tenang menjadi suasana keributan. Pak Mantiko
pada kesempatan ini telah membacakan makalah yang
sesungguhnya mengundang kita untuk saling......... saling
bertengkar. Saudara lihatlah isi makalahnya tadi. Mungkin
saudara-saudara tidak awas dengan hal itu tapi saya....
saya... sudah menduga bahwa hal ini akan disampaikan oleh Pak
Mantiko dalam seminar ini."
Peserta seminar mulai agak ribut dan mereka mulai saling
berkomentar tentang apa yang akan disampaikan oleh Pak Malin
dalam tanggapannya itu. Berkali-kali moderator memukul-mukul meja
untuk menertibkan peserta yang nampaknya mulai saling membahas
makalah Pak Mantiko yang disinyalir Pak Malin mengundang
keributan itu. Setelah semua peserta diam dan ruangan kembali
agak hening, Pak Malin melanjutkan tanggapannya.
" Saudara lihat sendiri bagaimana Pak Mantiko menafsirkan ayat
4 Surat Al-Baqarah tadi. Pak Mantiko menafsirkan WALLADZI
NAYUK MINUNA BIMA UNZILA ILAIKA WAMA UNZILA MINQABLIK dengan
MEREKA YANG BERIMAN KEPADA APA YANG DITURUNKAN KEPADA ENGKAU
(MUHAMMAD SAW) DAN APA YANG DITURUNKAN SEBELUM ENGKAU (MUHAMAD
SAW). Tafsiran ini cocok dengan kita dan bisa kita terima dan
memang begini umumnya kita dan ulama-ulama kita menafsirkan.
Tapi ujung ayat 4 ini yaitu WABIL AKHIRATIHUM YUQINUUN telah
sengaja dipelesetkan oleh Pak Mantiko dengan KEPADA YANG
DITURUNKAN KEMUDIAN MEREKA ITU YAKIN. Pada hal kita sudah
sepakat bahwa TIDAK ADA YANG AKAN TURUN LAGI SESUDAH AL-QUR'AN
dan WAHYU SUDAH BERAKHIR SEPENINGGAL NABI MUHAMMAD SAW. Akhirat
pada ujung ayat ini tidak ditafsirkan dengan KAMPUNG AKHIRAT oleh
Pak Mantiko, sebagaimana selama ini kita menafsirkan. Semua ulama
kita berpendapat demikian juga Buya Hamka saudara-saudara.Saudara-
saudara lihat sendiri dan Pak Mantiko juga bukannya tidak
tahu bahwa tafsirannya itu berbeda dengan tafsiran kita.
Saya sebetulnya tidak ingin menanggapi makalah Pak Mantiko
dalam seminar ini tetapi karena tafsirannya itu disampaikannya
secara terbuka dihadapan ratusan orang perserta seminar ini,
adalah kurang proporsional lah kalau sanggahan saya ini
disampaikan kepada Pak Mantiko seorang tok tanpa setahu
peserta seminar ini. Saya merasa terpanggil untuk berdiri
didepan ini untuk meluruskan penafsiran Pak Mantiko ini. Itu
saja komentar saya dan Pak Mantiko mungkin bisa menjelaskan
alasannya kenapa dia dengan sengaja mempelesetkan arti AKHIRAT
disini dengan YANG DITURUNKAN KEMUDIAN. Pak Malin menyudahi
tanggapannya dan suasana semi nar kembali riuh dan masing-
masing peserta mulai membahas kata akhirat yang menurut Pak
Malin telah dipelesetkan artinya oleh Pak Mantiko itu.
Sementara seminar ditunda untuk untuk istirahat dan waktu Zuhur
pun sudah mulai masuk. Nanti sehabis sholat Zuhur akan ada acara
makan siang yang disediakan oleh Panitia yang selanjutnya kita
akan mendengarkan tanggapanPak Mantiko terhadap sanggahan Pak
Malin.
BERSAMBUNG...
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Nadri Saaduddin,
Jalan Rambutan B-32
Duri 28884,
Riau Daratan, INDONESIA
----------------------------------------------------------------------------
---------------------------
THERE IS NO GOD BESIDE ALLAH AND MUHAMMAD SAW IS HIS MESSENGER...
LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE....!
Hearken! The Messiah Has Come, The Messiah Has Come....
For further details contact Ahmadiyya Mission anywhere over the world.
----------------------------------------------------------------------------
---------------------------
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
** Jadual puasa Ramadhan @ http://www.indoglobal.com/puasa.html **
Indonesia without violence!