Karena saya tunggu2 di koran tak muncul juga, saya fwd-kan dua posting dari
PNet ini untuk anda di kuli-tinta tentang kunjungan HMS and fam ke Solo
lebaran lalu.
Ada yang mau kasih komentar tentang 'keberanian' HMS bertemu wicara dan
melecehkan orde sekarang?


>Date: Thu, 21 Jan 1999 11:48:04 +0700 (JVT)
>From: Sunu <[EMAIL PROTECTED]>
>
>KEWAJARAN YANG BERBOBOT
>
>Mungkin apakah ini yang dimaksud "Neko-neko" oleh Amien Rais ketika ia
>melalui media massa berusaha memperingatkan Pak Harto agar kepulangannya
>ke Solo ini tidak dimanfaatkan untuk berbuat "neko-neko" (macam-macam).
>Namun demikian, sebagaimana wajarnya setiap orang mudik berlebaran ke
>kampung halaman, demikian wajarnya pula sebagai warga kampung Pak Harto
>bersilaturahmi dengan para tetangga. 
>
>Adalah Zainal Maarif yang meskipun seorang Wakil Ketua DPRD, ketua Fraksi
>Persatuan Pembangunan toh adalah seorang tetangga di Kampung Kalitan
>dimana Pak Harto tinggal. Dalam kapasitasnya sebagai warga yang dihormati,
>demikian wajarnya bila kemudian didaulat menjadi Ketua Panitia
>perayaan Sholat Ied di masjid Al Fajar, masjid kampung yang juga tidak ada
>salahnya berada di depan dalem Kalitan, menempel dinding dalem,
>karena disitulah tempat yang lumayan lapang. 
>
>Yang barangkali tidak biasanya adalah bila sebuah kepanitiaan berskala
>kampung, dihadiri oleh seorang bekas presiden. 
>
>Entah darimana datangnya wangsit, muncul inisiatif warga Kalitan
>melalui panitia perayaan tersebut untuk menyampaikan pertanyaan-pertanyaan
>tertulis kepada salah satu warga istimewanya, dalam kapasitasnya sebagai
>nara sumber. Pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang kegelisahan hampir
>setiap orang saat ini menyangkut situasi negara yang sedemikian.
> 
>Maka, digelarlah kemarin temu-wicara di dalem Kalitan.
>Ujubnya pertama, silaturahmi perkenalan, bukankah sudah semestinya sebagai
>tetangga yang telah lama hidup berdampingan untuk saling mengenal? Begitu
>kurang lebih penerimaan warga yang diundang dalam perjamuan itu.
>
>Kedua, memenuhi pertanyaan yang disampaikan warga setempat, perlulah
>kiranya Pak Harto menjawab. 
>
>Seorang warga yang hadir bertutur bahwa acara satu setengah jam tersebut
>lebih merupakan acara dengar-pendapat. Artinya mendengarkan pendapat Pak
>Harto mengenai sebab-musabab mengapa situasi negara menjadi runyam seperti
>ini.
>
>Dituturkan bahwa intinya Pak Harto tidak merasa menjadi sebab runyamnya
>keadaan saat ini. Menurutnya, selain karena goncangan krisis moneter,
>gejolak yang berkembang disebabkan karena mahasiswa dan masyarakat di
>provokasi oleh sementara pihak untuk melakukan unjuk rasa-unjuk rasa.
>Sehingga memicu kerusuhan dimana-mana. Menurutnya, kalau mau bisa saja dia
>mengatasi karena masih berkuasa. Sebagai Pangti, ABRI masih berada
>dibawah kendalinya, namun karena tidak ingin rakyat kecil yang menjadi
>kurban, maka dia memilih mengorbankan dirinya. 
>
>Kepada hadirin Pak Harto juga memperbandingkan, bukankan situasi seperti
>ini tidak enak. Lebih enak mana orde baru, orde lama dan saat ini? Memang
>cita-cita yang ingin dicapai adalah masyarakat adil dan makmur. Bukankah
>selama ordebaru kemakmuran sudah mulai tercapai, pembangunan pesat. Tetapi
>kalau buru-buru mempersoalkan keadilan, pemerataan, bisa saja merata, tapi
>apakah mau semua orang dibuat merata melarat semua, begitu kurang lebih
>selorohnya yang disambut tawa hadirin.   
>
>Intinya sebagai negarawan yang sudah lama berjuang untuk negara, Pak Harto
>merasa tidak bisa tinggal diam merasakan situasi seperti ini.
>
>(Bersambung ... karena ada pager kalau Kalitan sedang di demo saat ini.. )
>
>Sunu
>
>Date: Thu, 21 Jan 1999 17:29:16 +0700 (JVT)
>From: Sunu <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: [Pnet] Solo-Warga kedungombo demo ke Kalitan
>
>Sekitar seratus orang yang berasal dari wilayah Kedung Ombo siang tadi
>berduyun-duyun ke Dalem Kalitan meminta bertemu dengan Pak Harto.
>Kedatangan warga Kedung Ombo itu menurut salah seorang juru bicaranya
>tidak untuk berdemo-tidak untuk meminta uang akan tetapi sekedar ingin
>bersilaturahmi dengan mantan Presiden tersebut. Namun demikian kedatangan
>yang tanpa diundang itu tidak mendapat tanggapan sama sekali dari pihak
>Dalem Kalitan, bahkan mereka hanya bisa berteriak-teriak dengan megaphone
>dari Jalan Slamet Riadi di depan jalan masuk menuju Dalem Kalitan.
>
>Kerumunan warga Kedung Ombo yang tidak berhasil bertemu dengan Pak Harto
>tersebut akhirnya harus puas dengan membubarkan diri, dengan membawa
>pulang rasa kecewa. "Kalau para pejabat itu bisa diterima masuk untuk
>silaturahmi sedangkan kami rakyat jelata yang selama ini dipinggirkan
>tidak diterima, itu artinya dia "mBan cinde mban siladan" (menganak
>tirikan) kami, kata seorang warga dengan bersunbgut-sungut.
>
>Sunu 
>


@)&$%#@*(^%#$"
Printer not ready. Do you have a pen?
kj - ICQ  23276722






______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke