At 06:49 PM 1/20/99 -0500, you wrote:
>Ikut berduka cita.
>Mulai lagi dilakukan acara kerusuhan ini. Sakali lagi yang dipakai
>adalah kelompok Islam dan Kristen.
>Apakah akan ada lagi yang menyusul?? ataukah merupakan akumulasi semua
>ini, yaitu pengadu-dombaan kelompok Islam dengan Cina, Ambon, Batak dan
>Menado. Berhati-hatilah kita, hanya orang yang membenci agama saja yang
>mengadu domba antar agama?

Wah mengusik liburan saja.... Indonesia mau gila sampai kapan sih?
Kerusuhan dengan pola hampir sama, muncul di mana2, seperti menyisir peta
bumi saja. Kalau soal ABRI atau aparat lengah atau tak punya wibawa, atau
kasusnya hanya kriminal murni, mestinya tidak perlu sampai begitu. Dengan
kata lain, saya mau bilang: jelas ada yang memanas2i, ada dalangnya ada
provokatornya. Cuman siapa?
BTW, ada yang masih ingat 'ramalan' Gus Dur, tak lama setelah ide dialog
nasionalnya digembosi orang? Saya luipa2 ingat, tapi ada kalimat "perang
suadara" gitu yah?
Juga baik diingat, alasannya kenapa dia mengajak Soeharto ikut berdialog.
Nah sembari mengingat2, coba baca berita ini yang saya quote dari posting
Anton Sudarisman <[EMAIL PROTECTED]>
ke [EMAIL PROTECTED]


>Sekedar referensi dari Radio Netherland:
>
>
>* PIHAK CENDANA MEMBANTAH TELAH MENDALANGI KERUSUHAN AMBON DAN KUPANG
>Drs. Rusdy Muchtar dari LIPI mengatakan kepada pers Jakarta, jelas ada
>pihak yang memanas-manasi keadaan di Ambon. Sampai dimana keterlibatan
>militer di Ambon ?
>Kedamaian yang meliputi nusantara selama bulan Ramadan, meskipun
>terganggu dengan perkembangan di Aceh kini jelas diragukan
>kelestraiannya. Di Jakarta para pejaba tinggi, pemuka agama dan
>pemimpin-pemimpin suku berturut-turut mengeluarkan statement mengimbau
>masyarakat khususnya di Maluku agar tenang dan tidak menimbulkan perang
>saudara. Hal itu dinyatakan pejabat Ketua Umum Majlis Ulama Indonesia
>(MUI) KH Ali Yafie. Sekretaris Jenderal Persekutan Gereja-Gereja di
>Indonesia (PGI) maupun para pemimpin masyarakat Maluku di Jakarta
>menyatakan keheranan mereka bagaimana mungkin hubungan harmonis antar
>agama di Maluku yang sudah berlangsung ratusan tahun tiba-tiba bisa
>retak karena soal sepele.
>Meski Kapolri Letjen Polisi Rusman Hadi menyatakan bahwa kejadian di
>Ambon Maluku merupakan kriminal murni, namun Nuku Sulaiman, tokoh pemuda
>dari Maluku Utara berpendapat bahwa tentaralah yang berada di belakang
>kerusuhan SARA itu. Pendapat ini pun diaminkan banyak pihak yang melihat
>bagaimana hal itu sudah disinyalir Majalah Tajuk yang mengutip seorang
>perusuh di Kupang. Insiden Kupang direkayasa, demikian pula Ambon.
>Dikemukakan antara lain bahwa rencana kerusuhan Ambon direncanakan di
>Hotel Cemara Jakarta oleh para pendukung kelompok Cendana.
>
>Menurut Tajuk pertemuan dipimpin oleh SS, seorang wartawan harian
>terkenal di Jakarta. Di situ dibicarakan soal kerusuhan berskala
>nasional. Dana disediakan oleh SH, keluarga mantan presiden Soeharto.
>Menurut seorang saksi yang dikemukakan Majalah Tajuk sasaran berikutnya
>adalah Alor dan Ambon. Seorang provokator memang tertangkap di Alor tak
>lama setelah insiden Kupang. Karena itu Majalah Tajuk yang mengutip
>laporan suatu tim tehnis menduga insiden Kupang adalah bagian dari
>skenario konflik di tingkat elit nasional untuk membenturkan umat Islam
>dengan warga Kristen. Edisi Majalah Tajuk nomor 24 ini beredar seminggu
>sebelum peristiwa di Ambon.
>
>Namun baik Sugeng Suparwoto maupun Siti Hardiyanti Rukmana dan mantan
>KSAD Hartono membantah keterlibatan mereka dalam persiapan aksi-aksi
>kerusuhan itu. Namun demikian ada juga yang berani mengakui keterlibatan
>anggota-anggotanya. Ini diakui seorang tokoh ormas pemuda kepada
>kalangan wartawan ibu kota. Yang terbakar kan hanyalah gedung-gedung
>ibadah saja, katanya. Dan ini gampang dibangun kembali, ujar pendukung
>Soeharto itu dengan enteng.
>
>Tanggap 16 Januari yang lalu sebenarnya Kapolri Rusman Hadi meramalkan
>bahwa pasca Ramadan nanti keadaan Kamtibmas akan kian memanas.
>Perkiraannya itu didasarkan pada dua agenda politik yang akan digelar
>tahun ini, Pemilu dan Sidang Umum. Sementara itu tokoh-tokoh pemuda
>Maluku di Jakarta melihat kejadian di Ambon itu menunjukkan adat pela
>telah melemah atau oknum-oknum provokator itu terlalu kuat.
>
>Seperti diketahui menurut pers ibukota dalam peristiwa Kupang ada
>indikasi bahwa sejumlah oknum aparat keamanan terlibat. Pejabat ketua
>umum MUI Kyai Haji Ali Yafie pun berkomentar di televisi bahwa agama
>dikorbankan untuk kepentingan sesaat. Ada yang mengkambing-hitamkan
>agama, katanya. Iapun menyatakan para pemimpin agama samasekali tidak
>bisa bayangkan bagaimana mungkin pertikaian agama bisa terjadi di
>Maluku. Iapun bertanya mengapa baru sekarang terjadi.
>
>Sementara ini 4.000 pengungsi telah dievakuasi dan 22 orang telah tewas.
>3 masjid dan 3 gereja terbakar. 100 orang luka-luka. Kerusuhan sudah
>menjalar ke pulau Seram dan Sanana. Potensi kerawanan memang ada
>dimana-mana. Perusuh-perusuh terlatih dari Jakarta pun sudah menyebar ke
>seluruh Nusantara. Harian Manado Post pun memberitakan mengenai
>kerusuhan di Kakas pada hari Minggu dan di Bolaang Mongondow hari Senin
>lalu bersamaan dengan peristiwa Ambon.
>
>Namun perkelahian antar warga di Kakas - Minahasa dan Poyoa Besar -
>Bolaang Mongondow, tidak sempat menyebar. 11 orang tertembak di Kakas
>dan diungsikan ke rumah sakit Bethesda Tomohon. Sedangkan di Poyoa
>Besar, 9 rumah dibakar. Perkelahian di Poyoa Besar dimulai ketika Tony
>Kapoyos dicegat dan dipukul oleh Poping dan Santo. Maka terjadilah
>pertarungan antar warga Poyoa dan desa Tabang, dan 9 rumah dibakar serta
>18 rumah dirusak secara total.
>
>Di Minahasa yang terjadi adalah perkelahian rakyat desa Tonelet dan
>Pakeletan. Entah dari mana massa tiba-tiba muncul dengan membawa
>senjata-senjata berkaliber 4,5 milimeter. Maka jatuhlah korban di antara
>rakyat sesama Sulawesi Utara itu.
>
>Sementara ini diberitakan bahwa di perbatasan Minahasa - Bolaang
>Mongondow diadakan pemeriksaan bis-bis yang akan masuk kabupaten
>Minahasa. Sedang kapal-kapal yang tiba di Bitung diperiksa pula karena
>dikuatirkan para provokator akan menyusut terus ke Menado. Sebagian
>pemuda gereja di Menado pun ikut menjaga masjid-masjid di sana.
>Sebaliknya pemuda masjid menjaga gereja-gereja Menado.
>
>Tetapi sebagaimana dikatakan seorang penduduk Menado, bagaimana kita
>bisa mencegah masuknya orang-orang berdasi yang mendarat dengan kapal
>terbang dari Jakarta? Kini apapun yang dikatakan para pejabat pemerintah
>namun sulit untuk membantah pendapat masyarakat umum bahwa ada pejabat-
>pejabat tinggi sengaja melakukan kekacauan di propinsi-propinsi.
>Bukankah jika sepertiga wilayah Nusantara sudah kacau, keadaan darurat
>militer atau SOB sudah dapat dicanangkan, ujar seorang pengamat.
>
>Yang juga banyak dipertanyakan orang saat ini ialah apa saja yang
>dibicarakan Try Sutrisno, Wiranto dan Soeharto dalam dua pertemuan di
>Cendana menjelang lebaran?
>


@)&$%#@*(^%#$"
Printer not ready. Do you have a pen?
kj - ICQ  23276722






______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke